Untuk Selalu Merasa Diuntungkan

6 Comments
Untuk Selalu Merasa Diuntungkan

 

Ketika ibu saya terbaring di tempat tidurnya, mencoba mengalahkan kanker yang ke-2 kalinya, dimana dokter pun rasanya juga sudah menyerah, tidak banyak yang bisa saya lakukan. Untuk merasa bersyukurpun juga terkadang membingungkan, karena bagaimana saya bisa merasakan syukur ketika menyaksikan seseorang yang saya sayangi sedang menderita?

It was tough.

Mendengarkan nasehat-nasehat dari semua tamu-tamu yang datang pun juga tidak mudah. Karena memang nasehat itu datang dari sudut pandang mereka, bukan mencoba memahami terlebih dahulu apa yang kita alami ataupun rasakan.

Sampai suatu hari, kami kedatangan tamu salah satu teman tante saya. Bilang saja namanya tante Tini, dimana beliau pun ditinggalkan almarhum suaminya sekitar setahun sebelumnya.

Yang menyenangkan, ketika Ia datang, kita gak ngobrolin masalah. Tetapi kita malah ngobrol santai sambil bertukar tawa. Dan akhirnya, ada 1 filosofi yang saya terus terapkan sampai saat ini.

Saya ingat bertanya ke Tante Tini ini, “Tante, yang tante paling kangenin dari almarhum apa Tan?” “Yah uangnya lah ya…,” ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. Jujur benar ini tante, sambil ia melanjutkan.

“Well, ada 1 hal dari almarhum yang bagi saya itu hebat banget. Sampai saya sendiripun masih belum paham bagaimana Ia bisa benar-benar percaya hal tersebut. Ia percaya bahwa, apapun yang terjadi dalam kehidupannya bahwa dia sedang diuntungkan.”

“Contohnya, dia pernah ditipu oleh temannya dengan jumlah yang tidak sedikit. Gue dong yang marah. Eh, dia gak marah. Dia cuma bilang ‘It’s okay, saya sedang diuntungkan di sini.’ Kecurian? Sedang diuntungkan. Masalah di kantor? Sedang diuntungkan. Supirnya minta macem-macem? Sedang diuntungkan. Gak ngerti juga sebenarnya kenapa dia percaya seperti itu, tetapi itu yang membuat dirinya kaya. Karena dia percaya dia sangat diuntungkan, dalam situasi apapun.”

Yah, kira-kira itu yang saya ingat.

Setahun kemudian, saya masih ingat percis kejadian itu, duduk di meja bundar dan mengatakan ke diri saya sendiri, “I want to be like that.”

Karena gak pernah ketemu langsung dengan almarhum, agak bingung juga bagaimana mempraktekkannya. Tetapi, lucunya, semakin saya banyak mencoba, saya semakin paham.

Ini salah satu contohnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya sedang dalam perjalanan ke bandara bali untuk terbang ke Surabaya. Dan saya sudah menghitung waktu mundur dan yakin banget bahwa waktunya akan cukup. Mulailah saya mengemudi mobil dan menuju airport.

Tidak lama kemudian, jalan Sunset Road, jalan utama menuju ke airport tiba-tiba macet total. Tidak bergerak. Saya tunggu 10 menit. 20 menit. Tidak bergerak juga. Saya pun mulai panik. Ini bagaimana kalau saya telat? Kalau ketinggalan pesawat? Padahal sesi di Surabaya kan gak mungkin ditunda lagi. Setelah panik beberapa saat saya teringat… “Hey Ika, ingat… kamu sedang diuntungkan.” Toh kalaupun telat atau ketinggalan pesawat terus mau apa? Yah di luar kontrol juga kan. Yang saya bisa lakukan hanya memantau waktu, mengabari orang-orang kalau memang telat dan menikmati saat ini. Ingat, sedang diuntungkan.

Di saat itu saya langsung mendengarkan radio, relax karena bagaimanapun saya sedang diuntungkan. Dan betul, tidak lama kemudian, jalananpun mulai terbuka dan saya langsung ngebut menuju airport.

Sampai di airport, teman saya yang mestinya mengambil mobil telat. Hmmpppffff. Kesel rasanya. Lalu ingat lagi, “Ingat, sedang diuntungkan.” Yes, jadilah saya menunggu di sebelah mobil clingak clinguk melihat orang berlalu lalang, ketika di kejauhan ada yang teriak-teriak memanggil saya. Oh thank God, teman saya sudah datang.

Karena waktu juga masih agak mepet, saya langsung lari ke dalam. Dan Anda tahu dong, dari pintu depan sampai kounter check-in itu jauh sekali. Untung saja bawaan saya gak banyak. Lari masuk ke dalam untuk menemukan bahwa antrian check-in itu sekitar ada 15 orang di depan saya. Hmmmpppfffff. Mau gimana lagi?

Gak cuma itu, saudara-saudara…. tiba-tiba ada seorang bapak, istri dan anaknya tiba-tiba memotong di depan saya tanpa permisi dan langsung berdiri di depan saya. Baruuuuu saja saya mau menegur sebelum berfikir, “Yah, apa bedanya 1 orang lagi di depan saya… Toh, saya sedang diuntungkan kan ya? Ya kan?”

Yes. Di saat itu saya memilih untuk diuntungkan. Untuk berdiri tenang, memperhatikan orang-orang di sekitar saya yang wajahnya pun terlihat lebih stress dari saya. Untung saya suka people watching, jadi gak terlalu mengganggu untuk menunggu.

Sekitar 5 menit berlalu, salah satu mbak di kounter berteriak, “Siapa yang bertujuan ke Surabaya?” Saya sempat kaget, clingak clinguk sebentar karena ga ada yang mengangkat tangan. Akhirnya saya angkat tangan dan Ia memanggil saya langsung ke kounter. Oh wow, saya baru saja melewati 15 orang di depan saya.

Si mbak kounter langsung melakukan proses check-in, dan tanpa bertanya-tanya, saya langsung diberikan boarding pass. Ini dimana keberuntungan mulai terasa.

1. Ketika saya melihat nomor kursi saya, ternyata saya benar-benar diuntungkan, karena tanpa diminta, saya mendapatkan kursi favorit saya di pesawat. Woooohooooowwwww.

2. Pesawat pas boarding pas ketika saya selesai minum kopi di kafe dekat pintu boarding.

3. Dan yang duduk di sebelah saya adalah bapak-bapak pasangan gay yang dengan baiknya menawarkan sarapan yang mereka buat di rumah.

I don’t know. I am pretty lucky, don’t you think? Dan ini baru salah satu contoh cerita diuntungkan. Semakin hari semakin banyak hal-hal yang mendukung bahwa… setiap kali kita merasa diuntungkan, maka kita pun akan sering diuntungkan.

What we resist persists. Sering kali, ketika ada kejadian yang ‘tidak menyenangkan’ di mata kita, kita malah menolak kejadian itu, bukan menerimanya dengan hati besar. Mungkin ini yang dimaksudkan dengan “selalu merasa diuntungkan,” bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, terima saja, syukuri karena itu memang sedang diuntungkan. Jadi, ketika kita menolak suatu kejadian, malah kejadian itu tidak hilang-hilang.

We attract what we feel. Karena dengan merasa diuntungkan, yang kita RASAkan itu adalah tentram, nyaman, syukur — mungkin itu juga akhirnya yang didatangkan dalam kehidupan kita. Ketika kita selalu merasa dirugikan, maka yang datang ke kehidupan kita pun yang jelek-jelek juga. Mungkin kalau selama ini kamu kurang beruntung, coba deh ubah analisa pikiran dan rasa-mu. Sedang diuntungkan atau dirugikan? Empowering atau limiting?

Faith gets stronger by exercising it. Memperkuat kepercayaan atas Tuhan ataupun the universe. Bahwa, apapun yang terjadi, kita selalu dilindungi. Selalu. Walaupun kita sering lupa.

Ketika kamu sedang dirugikan, bisakah tetap merasa diuntungkan?
Ketika hidup sedang melempar ‘musibah’, bisakah kamu merasakan berkah-nya?
Ketika kamu menolak hal-hal yang jelek, bukankah artinya kamu juga menolak hal-hal yang bagus? Rejeki kok pilih-pilih.
Ketika kamu sedang meratapi nasib, akan semakin banyak hal-hal yang akan kita ratapi juga.
Ketika kamu sedang mensyukuri hal-hal yang terasa ‘jelek’, hal-hal tersebut akan berubah sendirinya menjadi indah.
Hidup ini indah atau jelek tergantung dari cara kamu melihatnya.

Saya mesti berterima kasih ke tante Tini, karena di masa-masa di mana energi dan harapan semakin tipis, Ia kembali mengingatkan bahwa, bukan saja saya banyak beruntung, tetapi memang selalu diuntungkan. Dan ini menjadi mantra saya sekarang. Setiap kali apapun yang terjadi baik difitnah, ditipu, disakiti, terjadi delay, macet ataupun hambatan… saya tahu… bahwa sayapun sedang diuntungkan ketika itu terjadi.

Coba deh, saya ingin tahu sejauh mana kamupun bisa merasa untuk selalu diuntungkan. The world is so kind. Believe it.

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

6 Comments

  1. Ade Putri Paramadita -  August 6, 2014 - 5:43 pm

    Biarpun nggak selalu bisa merasa diuntungkan, sebisa mungkin sih gue selalu mencobanya.

    Once, I was going to meet a friend at her school. Taunya bus yang gue naiki, mengubah rute. Terpaksa turun di tengah jalan, untuk mencari bus lain. Itu udah ngeselin sih sebenarnya. Terus, 2 patas AC yang lewat juga bahkan nggak mau berhenti. Sedangkan bus berikutnya nggak juga lewat. Huhuhuuuu. Tapi kemudian, ya itu, gue mencoba untuk merasa diuntungkan. At that time, yang gue pikirkan, “Pasti ada rencana Tuhan yang baik di balik ini.”

    Bus ketiga akhirnya lewat. Dan ketika gue naik, ternyata teman gue ada di dalam bus itu juga, di bangku paling belakang (my favorite spot!), dengan 1 bangku kosong di sampingnya 🙂

    http://www.adeputri.com
  2. Adela -  October 28, 2014 - 10:08 am

    sebenarnya kalau menurut saya, sebagian dari kita (orang Indonesia) secara tidak langsung, sudah menerapkan “untuk selalu merasa beruntung” terutama dalam sebuah musibah contonhya, ketika kita tidak sengaja menjatuhkan gelas kadang secara spontan kita sebut “untung gak pecah…” kalau kita jatuh ditempat umum tapi gk ada yg liat “untung gk ada yg liat kan malu” padahal kakinya keseleo. dan dibanyak kasus lain. saya sendiri sih begitu. 🙂

    • The Unlearn Team -  October 31, 2014 - 10:23 am

      Betul sekali Adela. Ini salah satu budaya Jawa yang wisdom-nya keren banget. Dan ini mendalami kembali wisdom yang kita kenal dengan ‘untung gak….’ — agar kita benar-benar paham maksudnya apa. Banyak sebenarnya wisdom Indonesia yang belum ke-ulik. Kalau kamu menemukan beberapa share ke kita juga yaaaa. 🙂

  3. Ratih -  December 8, 2014 - 8:33 pm

    Wooow… thanks a lot for sharing this to me… made me happy… very inspiring.

    • The Unlearn Team -  December 8, 2014 - 8:43 pm

      It’s our pleasure 🙂

  4. loftycastle -  September 17, 2015 - 8:58 am

    Bener banget. saya juga akhir2 ini mempraktekkan untuk merasa selalu beruntung ini. Dan herannya, tiap kali merasa beruntung terus, keberuntungan dan rejeki bakal datang ke saya susul-menyusul. Thanks for sharing!

    http://chintamisora.wordpress.com

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *