ARTICLES Life

Turning Point: cara hidup berbicara ke kita

January 5, 2014

“In every life there is a turning point. A moment so tremendous, so sharp and clear that one feels as if one’s been hit in the chest, all the breath knocked out, and one knows, absolutely knows without the merest hint of a shadow of a doubt that one’s life will never be the same.”
? Julia Quinn, When He Was Wicked

Saya percaya, kalau kita tidak mendengarkan hidup dengan baik, terkadang Ia datang dan menampar kita langsung di muka atau menohok kita di ulu hati. Pertanyaannya, kita momen-momen ini terjadi, apakah kita mulai mendengarkan hidup?

Dalam setiap hidup ada sebuh titik balik.
Momen yang sangat besar, tajam dan jelas.
Dimana dada terasa sehabis ditempa, dimana nafas telah ditarik dari raga.
Dimana kita tahu, tanpa sedikitpun keragu-raguan.
Bahwa hidup kita tidak akan pernah sama kembali.

There is something great that exists within us.

Ketika saya bertanya ke teman saya Amelia yang mendapatkan moment Turning Pointnya dia ketika perjalanannya ke Afrika, dimana Ia menyadari ada yang lebih dari hidup dari hanya sekedar bekerja, tetapi bagaimana bisa membantu orang-orang disekitarnya. Disitu Ia menyadari her ‘calling’. Tetapi yang memorable bagi saya, ketika Ia mengatakan Turning Point adalah sebuah momen dimana “it triggers something great that already exists within you.”

Menyadari bahwa, “there’s something great that exists within us.” Bahwa ada sesuatu yang indah, kuat, megah, besar dalam diri kita, yang mempropel kita ke sebuah perjalanan baru.

Bersahabat dengan ketidaknyamanan.

Bagi seorang Ike Dahlia (@IkeDahliaC), pelopor Brownies Gandum, salah satu turning pointnya beliau adalah ketika keluarganya sudah terjebak hutang hampir Rp. 2M dan pernikahannya pun terancam. Di suatu malampun Ia mendapatkan momen Turning Point ini dengan menyadari “Iya, suami jelek ini karena saya. Kita kan sama-sama pintar, pasti ada sesuatu yang bisa kita lakukan. Untuk bersahabat dengan ketidaknyamanan.” Dan dari situlah terbentuk Brownies Gandum yang belum 1 tahun sudah ada penjualan 100 loyang per hari dan juga terbentuknya @IDMomPreneur. Jadi, belajar dari Mbak Ike, setiap kali kita merasa tidak nyaman, galau, resah, bingung, mari kita bersahabat dengannya, karena mungkin ini sedang mengarahkan kita ke arah yang lebih baik, tanpa  kita sadari. Seperti autopilot.

Kita bersyukur atas apa?

Hal-hal yang positif atau juga hal-hal yang negatif? Kapan terakhir kali kita bersyukur atas kejadian ‘negatif’ yang terjadi? Padahal, kalau melihat ‘sejarah’ – banyak perubahan terjadi karena hal-hal negatif, bukan hanya positif. Sekedar mengalami kejadian ‘positif’ atau ‘negatif’ itu biasa, tetapi untuk bisa mentransformasikannya menjadi sebuah Turning Point, dimulai dari mana? Bagaimana mengubahnya menjadi sebuah kesempatan?

Apa saja situasi-situasi turning point kamu dalam hidup?

Setelah teman-teman memikirkan, menyadari dan mungkin telah menuliskan 1-3 Turning Points dalam hidup, apa yang teman-teman pelajari dari Turning Points masing-masing? Bukan masalah di trigger oleh situasi positif atau negatif, tetapi:

  • Apa yang moment itu coba ajarkan/sampaikan ke kita?
  • Apakah kita mendengarkan pesan tersebut? Atau malah kita abaikan? Sudahkah kita bersahabat dengannya?
  • Apakah kita harus menunggu untuk sebuah kejadian besar untuk terjadinya sebuah perubahan?
  • Untuk tidak terjebak dalam ‘momen’ tersebut, tetapi kemudian bertanya, apa yang bisa saya lakukan sekarang?

Bagi saya, 2 milestones/turning point yang saya benar-benar ingat dalam hidup, mengajarkan saya 2 hal:
1. Siapa saya, yaitu apa values yang ingin/harus saya perkuat
2. Kemana saya harus melangkah, a sense of direction of where I’m supposed to go.

… sehingga tanpa harus menunggu my next Turning Point, saya bisa terus menanyakan 2 hal tersebut.

Bagaimana dengan teman-teman semua?
Apa yang teman-teman pelajari dari Turning Point teman-teman?

 

 

  • Reply
    Zeanny
    November 3, 2015 at 8:28 am

    thankyou for inspiring me this morning 🙂

  • Reply
    kopinuhideung
    April 21, 2016 at 12:42 pm

    Tulisannya bagus2 sekali. Banyak blog yg hanya membicarakan hal ‘mainstream’ anak muda jaman sekarang atau hanya menjadi media curhatan penulis, but its ok. Dengan tampilan dan gambar menarik dan tulisan yg ‘seakan’ menarik. Tapi sepi.

    Sampai saya temukan blog ini dari kaskus dan buka link blog nya. Sederhana tapi ternyata isinya bagus sekali. Untuk ‘kaum minoritas’ seperti saya. Ya dengan ‘penyakit.hati’ akut mungkin 🙂

    Izin untuk terus mengikuti tulisannya 🙂

Leave a Reply