True Friends…

2 Comments
True Friends…

 

“I am thankful for many things… but mostly for good wine and my exquisite taste in friends.”

Kutipan yang tertuliskan di kartu ulang tahun saya yang ke-33 itu memang mengingatkan saya kembali betapa beruntungnya saya yang dikelilingi oleh teman-teman yang simply exquisite. Yang bilang ‘diamonds are a girl’s best friend’ tentunya belum bertemu sekumpulan teman-teman yang satu ini. They are indeed one life’s greatest treasure.

Bagi saya, pertemanan itu bukan hanya sekedar sudah kenal lama atau sudah kenal dekat. Terkadang baru ketemu seseorang 5 menit, orang tersebut sudah menjadi sahabat kita dalam 5 menit itu. Walau setelah itu tidak pernah bertemu lagi. Pertemanan bukan sejauh mana kita sering bertemu dengan orang tersebut, tetapi sejauh mana pertemanan tersebut membuat kita menemukan diri kita juga. Pertemanan bukan hanya sekedar masa-masa indah, tetapi siapa yang hadir ketika kita mengalami susah. Dan pertemanan bagi saya juga bukan tentang ekspektasi, bahwa mereka harus A, B, C, tetapi sejauh mana kita juga bisa nyaman mengatakan ‘tidak’, berbeda persepsi dan bisa menerima perbedaan tersebut. Mereka gak harus selalu ada, tetapi keberadaannya selalu terasa.

Berikut beberapa hal yang saya pelajari tentang pertemanan 🙂

1. Amazing friendship happens, if you allow it.

Persahabatan yang indah terjadi dengan sendirinya, ketika kita terbuka untuknya.

Saya bertemu Mira di sebuah acara speed dating event. Yup. Bukan akhirnya menemukan pria idaman, kita malah menemukan satu sama lain. Dan lucunya, tidak lebih dari 5 menit kita berbincang-bincang, menemukan bahwa kita sama-sama type-A person, Mira langsung mengatakan “I like you. Give me your number. We have to hang out!” Just like that. She picked me up, tanpa mengetahui bahwa kita baru saja dipertemukan dengan each other’s angels.

2. Friendships are lent, not given.

Pertemanan itu dipinjamkan, bukan diberikan.

People come and go. Pertemanan pun sama. Dalam perjalanannya penuh dengan persimpangan, polisi tidur ataupun pot-holes. Ada beberapa orang dalam hidup saya yang saya cukup sedih bahwa kita sudah tidak berteman baik lagi sekarang. Ada beberapa teman yang sampai sekarang cukup dekat tetapi tinggal di seberang dunia. Bagi saya, setiap orang yang datang dalam hidup saya seperti buku yang dipinjamkan. Saya diperkenankan untuk belajar sesuatu dari buku tersebut dan setelah pesannya tersampaikan, buku itu pun untuk kita kembalikan ke perpustakaan pertemanan agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Tetapi seperti kita masing-masing punya buku favorit, well I have my favorites too 😉

 3. Friendship gives you an idea of YOU.

Pertemanan memberikan gambaran siapa diri kita sebenarnya.

Karena ‘birds of a feather flock together’ (burung dengan bulu yang sama terbang bersama – red), kita cenderung untuk berteman atau berasosiasi dengan orang-orang yang mirip dengan kita. Kalau melihat sepintas, 3 teman terdekat saya dan saya hampir tidak memiliki persamaan apapun. Yang satu yang adventurous, yang satu lagi  selalu penuh dengan energi, satu lagi kritis dan saya yang seperti the lost hippy :p. But, we get along so well. Kok bisa? Gue percaya karena kami memiliki values yang sama. Kami sama-sama memilih hidup yang membuat kita merasa hidup, sesuai dengan our passion. We are creating the life we love.

Jadi saya belajar, kalau saya ingin tahu saya orangnya seperti apa, saya mencoba melihat orang-orang yang terdekat dengan saya. Ini sebabnya pertemanan berubah, karena kita pun berubah. Our surroundings reflect who we are.

4. True friends inspire you.

Kalau memang sahabat, dia akan menginsipirasi kita.

Teman-teman terdekat saya tidak hanya teman bagi saya, tetapi juga role-models, mentors dan juga sumber inspirasi. Kedengarannya memang cliché, tetapi they inspire me to want to be a better human being. Beneran karena mereka, saya ingin menjadi orang yang lebih baik.

5. True friends have this thing amazing ability to lift weights off your shoulder without doing anything.

True friends memang seperti punya super power yang bisa mengangkat beban ataupun kesedihan kita tanpa melakukan apapun juga.

Teringat malam dimana saya dan dua teman berkumpul untuk sekedar berkumpul sambil menikmati dombrut dan beer. Pembicaraan pun mengalir dengan sendirinya dari pekerjaan, relationship, makanan, pilkada, dan lain sebagainya. Empat jam berlalu begitu saja, dengan cepat, tanpa saya ingat apa sebenarnya yang kita bicarakan. Tetapi saya ingat sekali pulang malam itu dengan energi baru – seperti di recharge.

6. True friends keep you real.

Salah satu pembicaraan yang saya ingat adalah ketika salah satu teman saya bilang ke saya “Ika, kamu egois sekali.” At first, itu menyakitkan sekali, dan kaget juga mendengarnya. Siapa sangka teman bisa mengatakan sesuatu yang sangat frontal. But you know what, I appreciate that. Karena dia memilih untuk mengatakannya langsung kepada saya dan bukan malah membicarakan saya behind my back, atau diam-diam menghilang tanpa mengatakan apapun. Berani berantem, karena kita sama-sama peduli. They will call on your bullshit.

Trus setelah berantem, kita saling minta maaf. That’s us being real. Menghadapi realita.

Jadi beruntunglah saya punya teman-teman yang gak cuma memanjakan atau memuji saya, tetapi juga membantu saya ‘ngaca’.

7. True friends are a source of positivity.

Mereka juga penuh dengan positivity. Bukan malah bikin kita semakin negatif dan galau.

Tidak berarti mereka tidak pernah sedih, dilema ataupun galau karena kita semua pasti melalui hal tersebut. Mereka tidak hanya sekedar menghisap semua energi kita ketika bersama, tetapi juga memberikan kita energi positif.

Waktu saya sedang flu dan ada di kantor, tiba-tiba datanglah sebuah kiriman dalam sebuah box Sinar Dunia. Di atasnya tertuliskan “Dear Ika yang lagi di kantor, a package to boost your energy and mood while I’m gone. M.” Dengan kreatifnya ada post-it yang menuliskan “Ika adalah.. SINAR DUNIA.” Isinya apa? Dari madu, sup, antangin, kit-kat, dan semua hal-hal yang membuat saya tersenyum.

Sampai saat ini malah saya yang selalu berfikir, sejauh mana saya sudah menjadi source of positivity untuk teman-teman saya ya?

8. True friends are there for you, 100%.

Saya cukup jarang bertemu dengan teman-teman saya. Kalau bisa bertemu sekali dalam sebulan itu sudah menyenangkan sekali. Malah dengan tersebarnya kita dalam berbagai benua, skype menjadi tempat favorit kita untuk bertemu. Tidak masalah 5 menit atau 2 jam,  …

Saya ingat suatu malam ketika Amelia mampir ke rumah saya. Amelia itu an Operation Director di organisasinya. Tetapi ketika tahu saya sedang sedih, setelah selesai dengan harinya, dia mencari ojek lalu mampir ke rumah saya, menyuruh sang ojek menunggu, mendengarkan saya bercerita, gave me the biggest hug, lalu pulang. They don’t just make time, they make sure they give you 100% of their attention. Mereka ga cuma memberikan waktu, tetapi juga perhatian 100%.

Dan memberikan atensi 100% itu gak mudah. Perhatikan deh orang-orang yang ngobrol di coffee shop atau restaurant. Sejauh mana yang kamu perhatikan itu sudah benar-benar ‘hadir’ dan memberikan atensi 100%? Kadang saja kita ngobrol gak lihat mata ya…

9. True friends are your cheerleaders, devils’ advocates and instigators at the same time.

Mereka itu juga penyemangat, penantang dan juga instigator (untuk hal-hal yang baik tentunya)

Ketika saya harus memutuskan apakah saya ingin meninggalkan perusahaan yang saya bangun sendiri, teman-teman saya membantu saya melihat dari berbagai perspektif dan mengingatkan sekali lagi apa yang paling penting bagi saya. As cheerleaders, mereka mengingatkan saya untuk percaya dengan diri sendiri, that I can do whatever I want. As devil’s advocates, mereka memastikan saya sudah melihat dari berbagai macam sisi. Dan sebagai instigator, membantu saya brainstorm hal-hal yang bisa saya lakukan. Gila mereka semua. Gila amazingnya.

10. Be an amazing person, then you’ll attract amazing friends

Jadi, gimana caranya untuk punya teman-teman yang gila amazingnya? Gue gak tau. Gue cukup beruntung. Walau kalau saya lagi labil dan bertanya ke mereka “Kok kalian mau sih berteman dengan gue?” Jawaban mereka pun simple, “Loe gila apa? Gue yang bingung elo mau berteman sama gue!” Hahaha, memang sama-sama gila berarti kita ya.

Saya tahu, kita tidak bisa menjadi an amazing friend untuk semua orang. Tetapi kita bisa menjadi teman yang baik untuk beberapa orang. Saya menuliskan ini bukan karena saya teman terbaik di dunia, tetapi untuk mengingatkan saya untuk bisa selalu menjadi teman yang baik untuk mereka di sekitar saya.

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

2 Comments

  1. naelil16 -  October 27, 2014 - 1:49 am

    Setuju sama postingan, Kak. Keren, Kak! (y)
    “Pertemanan bukan sejauh mana kita sering bertemu dengan orang tersebut, tetapi sejauh mana pertemanan tersebut membuat kita menemukan diri kita juga.”

    http://naeliltheclimber.wordpress.com
    • The Unlearn Team -  October 27, 2014 - 8:59 am

      Naelil!

      Salam kenal. Agak sok tau nama kamu Naelil sih ya. Thank you for the comment. Sampai lupa pernah ada postingan ini, hahahaha. Yes nih,

      Eh btw, nemu website kita dari mana? Semoga enjoy tulisan-tulisannya ya. Kalau kamu suka nulis dan mau ikutan kontribusi nulis di sini boleh juga lho. Email kita aja di mail@theunlearn.com

      Take care 🙂

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *