Tragedi Bintaro = Kurangnya Self Respect

No Comment

Jujur kesel, marah dan sedih sekali mendengar tragedi Bintaro ini. Asap lebatnya terlihat dari gedung dimana saya sedang mengajar hari itu, dan mulai kepikiran orang-orang yang hidupnya dalam 1 hari ini tiba-tiba berubah dan direpotkan.

Mudah kalau kita mau salah-salahan ataupun mempertanyakan nasib. Mungkin tragedi ini terjadi untuk kembali mengingatkan kita untuk lebih sadar tentang hal-hal berikut yang sudah menjadi ke’biasa’an kita:

 

Tragedi Bintaro

 

1. Tidak mau bersabar/menunggu giliran

Ini terlihat sekali baik di lampu merah, di tikungan, ambil bagasi di airport, naik ke pesawat, turun dari pesawat, maupun antrian di kamar mandi. Sudah beberapa kali saya melakukan eksperimen di pesawat, berdiri di depan kursi melihat orang berdesakan turun dari pesawat, menunggu apakah akan ada yang berhenti untuk memberikan saya jalan. Padahal saya sudah berdiri dan menunggu. Sampai saat ini belum pernah ada yang mau kasih jalan. Kalau saya mau turun dari pesawat, saya mesti memotong orang-orang yang jalan dari belakang pesawat. Seperti kita ingin memotong rejeki orang lain, yang sebenarnya memotong rejeki diri sendiri juga. Aneh memang.

2. Takut kehabisan

Seperti kalau lampu merah baru berubah hijau, langsung deh klakson berbunyi. Seperti ketika ada yang gratis, langsung ingin dihabiskan semuanya. Kebalikannya juga, diberikan barang bagus tetapi tidak dipakai, lebih baik disimpan karena takut rusak — yang akhirnya sepatu hanya menjadi pajangan, kekecilan dan tidak bisa dinikmati. Tidak sadar bahwa ini adalah Pola Pikir Miskin. Aneh juga.

3. Meremehkan peraturan

Tidak sadar begitu kita meremehkan peraturan, meremehkan proses, meremehkan orang lain, kita pun sedang meremehkan diri sendiri. Kita tidak memiliki self-respect. Dari terlambat 15 menit. Kerja asal-asalan. Banyak spelling mistakes. Kasar ke pembantu/supir.  Mengambil jalan pintas. Mengambil yang bukan hak-nya. Well, semuanya bisa dibilang korupsi sih, tidak sadar harga diri kita yang menjadi taruhannya. Banyak yang nyaman. Aneh juga.

Pertanyaanya, kita sadar kah ketika melakukan hal-hal yang merendahkan diri kita sendiri?

Coba baca Artikel dari Kompas di bawah ini, menurut kamu apa yang masing-masing dari diri kita bisa lebih sadar?

———————————————————

MENTALITAS PENYEROBOT
Sarlito Wirawan Sarwono

Hari Senin 9 Desember 2013 yang lalu, sekitar jam 11.30, sebuah kereta api komuter, jurusan Serpong-Tanah Abang, KRL 1131, menabrak truk pengangkut BBM, di perlintasan Pondok Betung, Ulujami. Tabung gas langsung meledak, terbakar, membunuh sedikitnya lima orang, termasuk masinis dan TKA (Teknisi Kereta Api), serta ibu-ibu di gerbong pertama khusus wanita. Sopir dan kenek truk BBM termasuk korban luka-luka.

Peristiwa yang sangat mengerikan, hanya gara-gara truk menyerobot jalan k.a. Banyak orang di TV (saksi mata, reporter TV, pakar) mencoba menganalisis kronologi kejadian untuk mencari siapa yang salah. Ada yang menyalahkan pintu k.a. yang tidak turun, ada yang menyalahkan pemerintah yang tidak membangun rel bawah tanah atau di jalan layang, ada yang menyalahkan masinis dsb. Tetapi jelas, kalau terjadi tabrakan dengan kereta api, yang salah pasti si korban, karena korban menyerobot haknya kereta api. Undang-undang (dan juga akal sehat) no.  22/2009 tentang LLAJ (Lalu Lintas dan Angkutan Jalan) menyatakan bahwa diperlintasan jalan kereta api semua harus berhemti kalau k.a. akan lewat (Pasal 296 jo pasal 114 huruf a). Kereta api bukan sepeda ontel yang bisa berhenti seketika itu juga kalau ada hambatan. Kereta api dengan kecepatan 80 km per jam, belum tentu bisa berhenti dalam jarak 100 m kalau direm mendadak.

***

Orang mati karena menyerobot jalan kereta api, bukan hanya sekali dua-kali. Hampir setiap hari ada saja yang tewas karena menyerobot jalan kereta api. Dari pejalan kaki, penumpang bus metro mini, pengendara motor sampai truk BBM. Tetapi tidak ada efek jera sedikitpun. Maka jangan heran kalau koruptor juga tidak kunjung jera walau sudah banyak contoh koruptor yang diganjar hukuman tinggi oleh KPK, karena korupsi adalah perbuatan menyerobot juga, yaitu menyerobot hak orang lain, menyerobot hak rakyat. Bahkan isteri atau suami orang juga diserobot (kalau gak percaya, silakan nonton infotainment). Pokoknya kalau sudah serobot-menyerobot, orang Indonesia paling hobi.

Coba tengok di jalan raya. Pengemudi saling serobot. Kaki lima (jalurnya pejalan kaki), diserobot pemotor dan pedagang, pemotor melawan arus (menyerobot hak pengendara dari arah yang berlawanan). Demikian pula bantaran sungai dan jalur hijau diserobot untuk dijadikan pemukiman liar. Tanah kosong diserobot untuk tempat tinggal atau tempat usaha, walaupun jelas-jelas ada pemiliknya. Bahkan antrian juga diserobot, sehingga di kalangan turis manca negara, bangsa Indonesia terkenal sebagai sebagai bangsa yang tidak punya disiplin mengantri. Padahal sebenarnya mentalitas orang Indonesia bukan sekedar tidak mau antri tetapi berhobi tukang serobot.

Inti dari mentalitas tukang serobot adalah tidak adanya tenggang rasa, tidak menghargai hak orang lain, tidak bisa ikut merasakan penderitaan orang lain, tidak mampu bersimpati pada orang lain, kurang hablun minanas, yang semua itu dalam bahasa psikologi disebut tidak ada empati. Tidak adanya empati ini sudah merasuk ke berbagai sektor kehidupan masyarakat, apalagi di dunia pemerintahan, birokrasi, dan politik. Wujudnya bukan lagi hanya saling serobot, tetapi sudah berupa ego-sektoral, sombong dan congkak (adigang-adigung-adiguna), merasa pintar sendiri, tidak menghargai orang tua/senior dll.

***

Mengurangi mentalitas tukang serobot bukan dengan memberi efek jera (karena pasti tidak efektif). Yang mesti dilakukan adalah membangun sistem untuk memperkecil kemungkinan perilaku menyerobot. PT KAI sudah berhasil melenyapkan antrian jelang lebaran dengan memberlakukan sistem e-tiket. Busway berhasil disterilkan dengan pengawalan ketat, pemberlakuan denda maksimal dan publikasi melalui media massa. Kantor Samsat (Sistem Manunggal Satu Atap) bebas antrian dan bebas calo, sejak diberlakukan pelayanan prima. Walikota Surabaya, Risma, membuat sistem untuk memonitor langsung pegawai-pegawainya dari HPnya sehingga kalau  ada tender mandek, dia bisa langsung menegur pegawai yang mengurusnya. Pokoknya jangan nunggu sampai bangsa ini punya empati. Langsung saja dibuat sistem yang tidak memungkinkan perilaku serobot-menyerobot yang egoistik itu.

KOMPAS, 11 desember 2013

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *