The Four Agreements

3 Comments

 

Kalau ada satu buku yang menurut saya praktis dan juga penuh dengan wisdom, buku itu adalah The Four Agreements karangan Don Miguel Ruiz. Sangat praktis karena kalau kita mengaplikasikan 4 hal ini dalam keseharian, terasa sekali bagaimana hidup kita bisa berubah. Namun, praktis tidak berarti mudah. Karena hidup kita sudah terkondisikan sedemikian rupa sebagai ‘orang dewasa’ sehingga banyak sekali kebiasaan-kebiasaan yang harus kita tanggalkan terlebih dahulu sebelum bisa merasakan perubahannya.

You need a very strong will in order to adopt the Four Agreements – but if you can begin to live your life with these agreements, the transformation in your life will be amazing. You will see the drama of hell disappear right before your eyes. Instead of living a dream of hell, you will be creating a new dream – your personal dream of heaven.

 

 

We have many agreements that make us suffer, that make us fail in life. If you want to live a life of joy and fulfillment, you have to find the courage to break those agreements that are fear-based and claim your personal power.

 

 

 

 

 

Speak with integrity. Say only what you mean. Avoid using the Word to speak against yourself or to gossip about others. Use the power of your Word in the direction of truth and love.

 

 

 

 


When you are impeccable with your word, you feel good; you feel happy and at peace.

 

 

 

 

 

 

 

You take it personally because you agree with whatever was said.

 

 

 

 

 

Personal importance, or taking things personally, is the maximum expression of selfishness because we make the assumption that everything is about “me”.


 

 

 

 

 

Immunity to poison in the middle of hell is the gift of this agreement.

 

 

 

 

 

The problem with making assumptions is that we believe they are the truth.

 

All the sadness and drama you have lived in your life was rooted in making assumptions and taking things personally.

 

We make all sorts of assumptions because we don’t have the courage to ask questions.

 

 

 

 

 

 

Under any circumstance, always do your best, no more and no less. But keep in mind that your best is never going to be the same from one moment to the next.

 

Your best will depend on whether or not you are feeling wonderful and happy, or upset, angry, or jealous.

 

 

 

 

Doing your best is taking the action because you love it, not because you’re expecting a reward.

If we like what we do, if we always do our best, then we are really enjoying life.

When you do your best you learn to accept yourself.

 

 

 

 

 

When you honor these four agreements together, there is no way that you will live in hell. There is no way.

 

 

 

 


the four agreementsKalau kata Om Ruiz, kita butuh niat yang sangat kuat untuk bisa mengaplikasikan 4 Persetujuan ini. Tetapi, kalau kita bisa, maka akan terjadi suatu transformasi yang luar biasa. Kita akan mulai melihat drama hilang dari kehidupan kita dan mulai menciptakan surga di dunia.Wow. Masa sih om? Dibuat penasaran juga sih.

Apa gunanya 4 Agreements ini?

Untuk melepaskan kita dari The Domestification of Human.

Apa om? Apa itu?

Tanpa kita sadari, seumur hidup kita, kita telah menerima berbagai macam informasi dari ayah, ibu, guru, teman, lingkungan yang akhirnya membentuk kepercayaan dan juga pola pikir kita. Kita diajarkan bagaimana hidup yang ‘benar’ dan perilaku-perilaku apa yang ‘benar’ juga. Kita memiliki konsep benar dan salah, dan akhirnya belajar untuk mulai menghakimi, baik ke diri sendiri dan juga orang lain. Banyak sekali peraturan-peraturan yang diajarkan ke kita melalui sistem reward dan punishment. Yang akhirnya kita belajar untuk melakukan sesuatu demi mendapatkan reward (walaupun hanya untuk mendapatkan perhatian) dan takut terhadap penolakan. Kita telah banyak menerima berbagai agreements, peraturan, kondisi yang sebenarnya belum tentu sesuai ataupun kita setujui. Kita telah di domestifikasi (dijinakkan), seperti binatang liar yang sudah lupa terhadap jati diri dan instingnya.

Nah, 4 Agreements inilah yang bisa melepaskan kita dari domestifikasi tersebut. Dimana kita bisa kembali menemukan kekuatan diri kita yang sesungguhnya.

 

#1: Be Impeccable With Your Word

Gunakan kata-kata dengan integritas. Katakan hanya apa yang benar-benar kamu maksudkan. Hindari penggunaan kata-kata yang merendahkan diri sendiri ataupun orang lain, termasuk gosip. Gunakan kata-kata untuk mengekspresikan kejujuran dan kasih sayang.

Apa yang kamu katakan bisa mengubah hidupmu. Begitu kuatnya kata-kata, ia bisa mengubah dunia menjadi lebih baik ataupun menghancurkannya.

Impeccable artinya “without sin” – tanpa dosa, dimana dosa disini maksudnya adalah hal-hal yang kita lakukan yang bertolak belakang dengan diri kita sendiri, seperti menyalahkan atau menghakimi diri sendiri ataupun orang lain. Menjadi impeccable artinya kita mengambil tanggung jawab atas apa yang kita lakukan tanpa menyalahkan ataupun menghakimi diri kita ataupun orang lain. Ini sebabnya gosip adalah racun.

Dosa dimulai dengan membuat penolakan terhadap diri sendiri. Jadi setiap kali kita bilang “Aduh gue gendut banget ya. Gue bodoh banget deh. Gue gak mungkin bisa seperti itu. Gue jelek banget sih.” Itu artinya kita tidak impeccable.

Kita bisa mengukur impeccability dari kata-kata kita dari ukuran self-love. Kalau kita benar-benar mencintai diri kita sendiri, menyukai diri kita sendiri, ini terlihat dari kualitas dan integritas kata-kata kita. Karena orang yang mengasihi dirinya sendiri tidak akan menyakiti diri sendiri ataupun orang lain. Kalau kita sudah impeccable dengan kata-kata kita, kamu akan merasa lebih baik; merasa bahagia, dan damai. Rasanya tentram.

Ehm. *ketampar*

Karena selama ini sudah terbiasa kalau ngomong ya ngomong aja. Gak perlu dipikirin banget-banget gitu ya. Walaupun bercanda, tetapi selalu ada ‘truth’ dibalik becandaan itu. Setelah baca ini, gue jadi lebih hati-hati menggunakan kata.

#2: Don’t Take Anything Personally

Yang artinya adalah… Gak penting untuk merasa tersinggung. Gitu aja kok dimasukin hati.

Apapun yang terjadi di sekitarmu, gak usah dimasukin ke hati. Contohnya, kalau kita ketemu di jalan dan saya bilang, “Eh, elo goblok banget sih” tanpa mengenal dirimu terlebih dahulu… ini bukan tentang kamu; ini tentang saya. Kalau kamu tersinggung atau dimasukin ke hati, mungkin sebenarnya kamu percaya kalau kamu memang goblok. #eh Lalu mulai mikir “kok dia bisa tahu ya?”

“Kalau kamu tersinggung atau sakit hati, artinya kamu setuju dengan apa yang orang lain katakan.”

Oh juaraaaaaaaaaaaa!!!!

Tunggu, ada satu lagi nih.

“Personal importance, atau sakit hati ini adalah bentuk tertinggi dari keegoisan manusia karena kita berasumsi bahwa semuanya adalah tentang ‘SAYA’.”

Mau mati kan dengernya. Ini membuat gue berpikir, setiap kali gue tersinggung atau sakit hati, sebenarnya gue lagi egois. Lalu, tanpa disadari malah setuju dengan hal yang sebenarnya gue gak suka itu. Lalu, ngapain juga pake tersinggung. Apapun yang orang lain lakukan itu bukan tentang kita, tetapi tentang diri mereka sendiri.

Their actions are reflections of them. Not of us. Just like our actions are reflections of us.

*ketampar lagi*

Kalau kita masukin ke hati, artinya kita memakan semua sampah emosi orang tersebut yang sekarang jadi sampah kita juga. Tapi, kalau kita tidak take it personally, kita jadi kebal terhadap hawa neraka.

Kalau ada orang marah, itu cara mereka menghadapi apa yang terjadi dengan mereka. Kita hanya menjadi alasan untuk marah. Orang marah karena takut. Kalau kita tidak takut, tidak mungkin kita marah atau sebel sama orang lain. Kalau kita tidak takut, tidak mungkin kita merasa sedih atau iri.

Aaaarrrgggghhhh. Jadi selama ini sedih atau iri itu karena takut?

Jadi, kata Om Ruiz, kalau kita bisa melakukan Agreement no 1 dan 2 dengan baik, maka kita sudah menanggalkan 75% dari berbagai agreements sebelumnya yang telah membuat kita terjebak di neraka. Jadi, kita bisa saja ada di tengah-tengah neraka tetapi tetap merasakan ketentraman.

#3: Don’t Make Assumptions

Jangan pernah berasumsi!

Karena dengan berasumsi, kita jadi PERCAYA bahwa hal itu adalah benar, padahal belum tentu. Terus kita jadi sakit hati. Terus menghakimi dan menyalahkan orang lain. Jadilah kita bikin masalah sendiri. Jadilah kita menciptakan drama di dunia kita sendiri, tanpa sadar.

Kita berasumsi karena kita takut untuk bertanya dan mengklarifikasi. Yang ada malah kita berpegang teguh terhadap asumsi tersebut dan mencoba untuk membuat orang lain yang salah.

Kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat, mendengar apa yang kita ingin dengar. Jarang kita melihat sesuatu apa adanya.

Ini sebabnya banyak relationship yang berantakan, karena terlalu banyak asumsi. Dimana kita berasumsi orang lain tahu apa yang kita pikirkan dan kita pun tidak menyampaikan apa yang kita inginkan. Karena kita pikir, bertanya itu tidak sopan. Dan kalau orang cinta sama kita, mereka mestinya tahu dong apa yang kita inginkan dan rasakan.

Kita berasumsi orang lain melihat dunia sama seperti kita. Ini yang menjegal kita.

Kata Om Ruiz, cinta itu menerima orang lain apa adanya tanpa mencoba untuk mengubahnya. Kalau kita mencoba mengubah mereka, artinya kita tidak benar-benar suka dengan mereka. Hihihi. Bisa aja si Om.

*nampar diri sendiri* (Eh, gak boleh, ini gak sesuai Agreement #1) *elus2 diri sendiri*

 

#4: Always Do Your Best

Selalu melakukan yang terbaik.

Walaupun apa yang terbaik di saat ini pun bisa berbeda di saat yang lain. Terkadang yang terbaik adalah bangun pagi dan datang ke kantor.

Apapun kualitasnya, selalu lakukan yang terbaik – gak lebih gak kurang. Kalau kamu mencoba terlalu keras maka kamu akan menghabiskan terlalu banyak energi dari yang dibutuhkan, membuat kamu selalu merasa yang terbaik tidak akan pernah cukup. Yang akhirnya, kamu menghukum badanmu sendiri dan bertolak belakang dengan diri sendiri.

Kalau kita melakukan yang terbaik, kita tidak mungkin bisa menghakimi diri kita sendiri. Dan kalau kita tidak menghakimi diri sendiri, kita tidak akan merasa bersalah, menyalahkan diri, ataupun menghukum diri sendiri.

Melakukan yang terbaik adalah melakukan sesuatu bukan karena kita mengharapkan reward tetapi karena we love it. Karena kita memang menyukai dan menikmatinya.

Oh, itu toh artinya.

Selama ini gue percaya bahwa doing my best adalah mengerahkan seluruh tenaga, energi, waktu, darah, daging, dan lain sebagainya. Ternyata kata kuncinya ada di ‘enjoy’. Dan trying too hard itu bukan doing my best.

Banyak dari kita yang bekerja mati-matian, bukan karena suka tetapi karena harus. Harus dapat uang. Harus membuktikan diri. Dan ketika dapat uang pun tetap gak happy juga. Yang akhirnya kita tidak menyukai kehidupan yang kita miliki. Yang akhirnya, kita jadi menyakiti diri sendiri ketika kita tidak menyukai diri ataupun kehidupan kita.

Kita tahu kita sudah melakukan yang terbaik ketika kita bisa menikmati apa yang kita lakukan, dan apa yang kita lakukan tidak berefek negatif ke diri kita sendiri. Kita menerima diri kita sendiri. Kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Kalau kita terpaksa melakukan sesuatu, gak mungkin kita bisa melakukan yang terbaik.

Kata Om Ruiz, cara terbaik untuk mengatakan “I love you, God” adalah dengan selalu melakukan yang terbaik dalam hidup. Cara terbaik untuk mengatakan “Terima kasih, Tuhan” adalah dengan melepaskan masa lalu dan hidup di masa sekarang, right here and now.

 

Transforming Hell Into Heaven

Kata Om Ruiz, kalau kita bisa melakukan 4 Agreement ini, maka kita akan mengubah neraka menjadi surga.

…. Menjadi diri kita yang sebenarnya. Menemukan freedom. Kebebasan. Kebebasan untuk menjadi diri kita sendiri, yang paling otentik.

I love this.

Thank you Om Ruiz untuk semua wisdomnya. Saya banyak tertampar (walau gak dimasukin hati kok) tapi senang. Karena proses menuliskan pembelajaran dari buku ini pun menjadi praktek 4 Agreements.

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

3 Comments

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *