ARTICLES Self & Growth VIDEOS

The Art of Unlearning

March 4, 2013

[youtube]http://www.youtube.com/watch?v=lQRUz6bUsnE[/youtube]

“Empty your cup so that it may be filled; become devoid to gain totality.” – Bruce Lee

Dengan berjalannya tahun, kita semakin paham bahwa berbagai masalah terjadi bukan hanya karena apa yang telah kita pelajari, tetapi bagaimana cara kita menerima pembelajaran itu sendiri.

Pernah dengar cerita ini?

Nan, seorang guru filosofi sedang kedatangan tamu dari salah satu muridnya. Nan menuangkan teh ke cangkir muridnya, terus sampai si murid berteriak “Stop! Cangkirnya sudah penuh sekarang, gak ada yang bisa masuk lagi.” Nan menanggapi dengan, “Seperti cangkir ini, kamu pun telah penuh dengan spekulasi dan pendapat. Bagaimana saya bisa menunjukkan kamu apa arti Zen kalau kamu tidak mengosongkan cangkirmu terlebih dahulu?”

“Like this cup, you are full of your own opinions and speculations. How can I show you Zen unless you first empty your cup.”

Belajar sesuatu yang baru memang penting, tetapi bisa menanggalkan sesuatu yang telah kita pelajari juga penting.

Ini Unlearning yang dishare oleh Om Jim Copacino ketika sharing tentang Art of Unlearning di TEDxOverlake, yang mengatakan bahwa “ide-ide yang terbaik mengalir dengan bebas dari proses pembelajaran (learning) yang intensif dan langsung, yang kemudian dilanjutkan dengan keinginan untuk unlearn.”

Dan unlearning ini sebenarnya bukan ide baru.

Contohnya, Picasso mengatakan bahwa “Setiap anak kecil adalah seorang seniman. Tantangannya adalah bagaimana untuk terus menjadi seorang seniman setelah kita menjadi dewasa.”

Eckhart Tolle, penulis dan filsuf asal Jerman pun mengatakan “Setiap seniman, sadar atau tidak sadar, mereka menciptakan (karya) ketika pikirannya sedang kosong.” We create from a place of ‘no-mind’.

Sukses akhirnya datang saat adanya keseimbangan antara keahlian (expertise) dan kenaifan (purposeful naivete),yaitu keseimbangan antara learning dan unlearning, dimana unlearning yang membuka pintu untuk kreatifitas.

3 hal utama yang disampaikan oleh Om Jim tentang unlearning adalah:

1. Unlearning asks new questions

Walaupun Om Jim memberikan contohnya di dunia advertising, di sini saya mencoba mengaplikasikannya pada hidup, bagaimana membuat pertanyaan yang berbeda bisa membantu proses Unlearning. Contoh, kalau kita sedang menghadapi musibah atau frustrasi, kita terbiasa bertanya: “Kenapa gue sih yang kena musibah? Kenapa bukan orang lain? Emang gue salah apa?”

Mengubah pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi proses Unlearning. Contohnya: “Hmm, apa yang sebenarnya mesti gue pelajari dari kejadian ini ya?” “Opportunity apa yang ada dibalik musibah ini?”

Jadi next time kamu meratapi nasib, coba deh ganti pertanyaanya.

2. Unlearning revels in the random

Waktu saya tinggal di Amerika, teman-teman saya bingung ataupun melihat saya aneh ketika makan roti dengan coklat, pakai pisang dan keju. Belum-belum mereka bilang ewww, padahal belum pernah mencoba. Kalau dipikir-pikir, bagi mereka, mencampur roti, coklat, pisang dan keju memang sangat random. Tetapi setelah mencoba, sekarang mereka kangen dengan roti bakar buatan saya.

Kita tidak pernah tahu apa yang cocok dan tidak cocok bagi kita kalau kita tidak mencoba. Terkadang hal yang paling random yang kita lakukan yang akhirnya memberikan kita pembelajaran ataupun Unlearning terbesar.

When was the last time you did something for the first time? Kapan terakhir kali kamu melakukan sesuatu yang random?

3. Unlearning is fascinated with the “wrong” answer

Selama ini kita selalu terpaku untuk melakukan hal yang benar, memberikan jawaban yang benar, sehingga kita takut salah dan akhirnya malah jadi kurang kreatif. Seringkali dengan melakukan kesalahan itu kita akhirnya mendapatkan jawaban yang benar ataupun menemukan apa yang sebenarnya kita cari. This is how we stumble into happiness. Terkadang, melakukan hal yang dianggap ‘salah’ oleh orang lain adalah yang ‘benar’.

Kalau semua harus dilakukan dengan ‘benar’, maka tidak akan pernah ada Lady Gaga, Facebook, ataupun beberapa dari my most

amazing friends yang lahir karena ‘kecelakaan’. 😀

Inspiration from: positivepsyched.wordpress.com

 

    Leave a Reply