Terjebak Dalam Kenyamanan

No Comment
Terjebak Dalam Kenyamanan

 

Hidup di Indonesia seakan membuat kita terbiasa menghadapi bencana. Mulai dari banjir tahunan di Jakarta maupun bencana alam seperti gempa bumi dan gunung meletus. Namun apa yang membedakan keduanya?

Banjir, seperti kita tahu, diakibatkan oleh intensitas hujan yang tinggi yang tidak diimbangi dengan pengelolaan pembuangan air hujan yang baik, sedangkan gempa bumi dan gunung meletus tidak pernah bisa kita prediksi kapan datangnya. Namun saya tidak akan berbicara mengenai lingkungan maupun sains di sini, melainkan reaksi-reaksi masyarakat yang lazim dijumpai ketika menghadapi bencana.

Menyalahkan Pemerintah.

Banyak yang menyalahkan pemerintah, mulai dari perizinan pembangunan berbagai vila di daerah Puncak – yang notabene seharusnya menjadi daerah resapan air – hingga tidak efektifnya gorong-gorong sebagai saluran pembuangan air. Tapi bukankah pemerintah, dalam hal ini kepala daerah, adalah orang yang kita pilih sendiri? Apakah kita turut serta membuat gorong-gorong dan saluran pembuangan air lainnya mampet dan tidak berfungsi dengan semestinya? Sangat mudah untuk menunjuk jari kita kepada pihak lain atas ketidaknyamanan yang kita alami.

Cukuup berdoa.

Lain halnya dengan bencana alam. Biasanya setelah bencana terjadi orang beramai-ramai melakukan doa bersama dan memohon ampunan dari yang Maha Kuasa. Salahkah itu? Tentu tidak sama sekali. Namun yang menjadi masalah adalah setelah selesai berdoa sudahkah tindakan kita sehari-hari berubah dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi? Setelah gempa bumi terjadi, sudahkah kita membangun rumah dengan benar? Sudahkah kita menyiapkan langkah antisipasi maupun SOP jika gempa kembali terjadi? Sudahkah kita mendidik anak-anak dan keponakan kita mengenai bagaimana mereka seharusnya bertindak jika terjadi gempa? Sayangnya dari pengamatan saya hal-hal tersebut tidak banyak dilakukan.

Menyalahkan orang lain.

Yang ada adalah ketika bencana kembali menimpa akan sangat mudah menunjuk jari kepada pihak lain yang tidak memberikan bantuan sebagaimana yang kita harapkan, sebagaimana yang kita pikir akan membuat ketidaknyamanan kita berkurang.

Ya, ketidaknyamanan, hal yang sangat mudah membuat kita gelisah, marah dan emosi. Seyogyanya manusia selalu mencari kenyamanan dalam hidup; penemuan kendaraan bermotor untuk kenyamanan berkendara, penemuan AC untuk kenyamanan saat udara sedang panas, hingga penemuan satelit untuk kenyamanan komunikasi antarpulau hingga antarbenua.

Do we blame others ketika kita mengalami ketidaknyamanan?

Hampir semua benda yang kita miliki didorong oleh keinginan kita untuk menjalani hidup yang lebih nyaman; mulai dari ponsel, sepatu, laptop hingga rumah. Akan tetapi sering saya jumpai dalam keseharian dimana usaha seseorang mengejar kenyamanan justru mengorbankan kenyamanan orang lain.

Tidak mentaati peraturan.

Bulan Januari yang lalu ketika saya sedang berlibur di rumah orang tua saya di Semarang saya mengamati suatu hal yang sering terjadi di lampu merah di dekat area tempat tinggal orang tua saya. Di sebuah persimpangan jalan berbentuk T, beberapa pengendara motor yang menunggu lampu merah di jalan yang tegak lurus dengan jalan utama memilih untuk berhenti melewati tiang lampu lalu lintas. Akibatnya ketika lampu merah berubah menjadi hijau mereka tidak mengetahuinya dan membutuhkan 3 – 4 detik hingga mereka menyadari bahwa lampu telah berubah menjadi hijau. Hal ini tentu mengganggu dan memperlambat pengendara lain yang patuh menunggu di belakang tiang lampu lalu lintas, apalagi lampu hijau hanya menyala selama beberapa detik saja.

Egois. Mau menang sendiri.

Contoh lain adalah antrean kendaraan di depan lampu merah dimana tidak jarang ada pengemudi yang menerobos lajur yang berlawanan untuk kemudian berusaha menyelipkan mobilnya di barisan depan dari antrian. Seringkali perilaku ini justru menghambat lalu lintas dari arah sebaliknya dan memperparah kemacetan.

Akan tetapi ketika kemacetan terjadi siapa yang biasanya kita salahkan?

Pernahkan melihat ke diri sendiri dan bertanya: apakah saya melakukan sesuatu yang memperparah kemacetan?

Memang pemerintah punya andil dalam membuat hidup warganya lebih nyaman, tapi bagaimana dengan kita sendiri? Sudahkah kita melakukan yang kita bisa, yang ada di dalam kontrol kita, tangan kita, untuk mengubah keadaan atau setidaknya tidak memperburuk keadaan?

Saya yakin bahwa di benak kita semua pernah terpikir mengenai hal tersebut. Namun apakah sudah dilakukan? Bagi yang sudah melakukan, apakah sudah konsisten? Bagi yang sudah konsisten, apakah sudah mengajak pihak lain untuk ikut melakukan?

Terkait makanan.

Contoh lain adalah mengenai makanan yang kita konsumsi. Semakin lama harga bahan makanan, tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia, semakin naik seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk yang berarti berkurangnya jumlah lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Kita selalu mengeluh setiap kali terjadi kenaikan harga makanan. Tapi tahukah Anda bahwa sepertiga dari seluruh bahan makanan yang diproduksi di seluruh dunia terbuang sia-sia?* Jika digabungkan, emisi CO2 yang dihasilkan dari seluruh makanan tak terpakai tersebut berada di peringkat ketiga setelah emisi yang dikeluarkan China dan Amerika Serikat. Apakah Anda turut andil dalam terjadinya hal tersebut? Seberapa sering kita membeli bahan makanan yang setelah berbulan-bulan akhirnya kita buang karena tidak kita gunakan? Seberapa sering kita mengambil makanan lebih dari yang kita mampu habiskan? Demand yang tinggi karena ketidakmampuan konsumen dalam melakukan perencanaan penggunaan bahan makanan ikut andil dalam kenaikan harga. Ingat, demand tinggi maka harga pun naik.

Terkait sampah.

Jika kita ke beberapa pantai di Bali saat musim hujan seringkali kita dibuat ngeri dengan tumpukan sampah yang tersapu ombak dan berakhir teronggok di pantai. Banyak dari sampah tersebut adalah plastik konsumsi rumah tangga; mulai dari botol plastik, bungkus makanan ringan, hingga wadah deterjen. We dumped them and they are coming back to us! Sudahkah kita terpikir untuk sebisa mungkin mencari tempat daur ulang plastik di kota kita? Atau lagi-lagi karena alasan kenyamanan kita memilih untuk membuangnya begitu saja, toh nantinya diangkut truk sampah atau terbawa air hujan. Saya harus menghela napas dalam-dalam ketika saya melihat seorang penumpang kapal yang membawa saya menuju Pulau Tidung dengan gampangnya membuang botol plastik air mineral ke laut. Sayangnya saya sedang menahan mual akibat mabuk laut saat itu sehingga saya hanya bisa melihat dengan ngeri.

Manusia sangat terdorong untuk melakukan segala sesuatu dengan nyaman – seringkali ditunjukkan dengan kemalasan dan ketidakpedulian, toh yang penting diri sendiri nyaman. But come on! Apakah mau menunggu hingga Jakarta tenggelam oleh banjir bercampur sampah? Apakah mau menunggu hingga kota-kota lain berangsur-angsur mengalami kemacetan parah setiap hari seperti halnya Jakarta? Apakah mau menunggu hingga pasir putih pantai-pantai yang indah tertutupi sampah sepenuhnya?

Not a few people would always blame others despite countless effort to raise our awareness to do what we can. Tapi kita punya pilihan, selalu punya pilihan, mau menjadi salah satu dari ‘not a few people’ tersebut? Atau melakukan apa yang kita bisa lakukan dan berhenti mengeluh?

Jika Anda bertanya kepada saya apakah saya sudah melakukan semua yang saya katakan di atas, jawabannya adalah belum. Namun dengan meningkatkan kesadaran kolektif kita bisa saling meng-encourage satu sama lain sehingga lambat laun akan terbentuk budaya untuk selalu bertanya “what can I do to change things?”

You live your own life, you live your own choices.

 

Harinda Bama
@harindabama

 

*Laporan Food and Agricultural Organization (FAO), Food Wastage Footprint: Impacts on Natural Resources, 2013.

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *