Teman-teman, cara terbaik menurunkan ego gimana ya?

17 Comments
Teman-teman, cara terbaik menurunkan ego gimana ya?

Hello You Occasional Silent Readers ;),

Minggu lalu, di grup forum tanya jawab theUnlearn, kita mendapatkan pertanyaan ini:

“Teman-teman, cara terbaik menurunkan ego gimana ya?”

Asli, gue seneng banget dapat pertanyaan ini. Dan menurut gue ini keren banget. Kenapa?

1. Biasanya pertanyaan itu selalu mencobamembuat orang lain yang berubah, seperti “Bagaimana membuat orang yang egonya tinggisadar dia memiliki ego yang tinggi?” atau”Bagaimana caranya menghadapi orang yangegonya tinggi?”Jujur pertanyaan ini bikin #jleb juga, karenague pun sering terjebak ingin mengubah oranglain dan bukan ngaca untuk menurunkan ego guesendiri.

2. Pertanyaan ini membuat gue ngaca danbertanya ke diri sendiri. Dimana ego guesekarang? Sudahkah gue mencoba memanage-nya?Apa yang gue lakukan untuk terus bisa awaredengan ego gue.

Naaah, kita sedang merangkai beberapa jawaban untuk pertanyaan ini. Agar jawabannya bisa lebih kaya, bolehkah kamu juga ikutan share jawaban kamu? Jadi kita bisa saling belajar dari satu sama lain. Setelah itu, jawaban-jawaban kamu akan kita jadikan satu artikel. Keren kan?

Langsung saja jawab di bagian komen ya. Thank you loves 🙂

,

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

17 Comments

  1. Sari Musdar -  November 24, 2014 - 10:15 am

    Hai

    Thanks udah nyolek. Ini pertanyaan sulit di jaman yang kenarsisan dan pamer ego bisa diturutkan ke tingkat tertinggi di medsos.

    Pernah ngalamin ngga saat ada cewek yang badannya sih kurus tapi upload fotonya dengan bikini, si setan dalam hati pun ngilik-ngilik ego kita “Ah badan ngga seberapa aja dipamerkan, badan kamu lebih keren dari dia”

    Ego kita pun langsung mencuat ke angka tertinggi, besoknya ngga mau kalah posting foto yang gaya.

    Susah juga nurunin ego saat kita ada di suatu grup/ kantor, di saat ada orang lain yang menurut kita ngga lebih OK kita tapi sombongnya minta ampun.

    Nah caranya gimana? ini sih mesti banyak latihan, lihat ke dalam diri sendiri, saat kita ngerasa diri kita lebih dari orang lain, ngaca, lihat sekeliling, masih ada orang yang lebih bagus di atas kita, kontemplasi, apa ini perlu, menyaingi orang lain?

    Jadi lihat ke dalam diri sendiri, Tuhan menciptakan kita sangat unik, dengan segala kelebihan dan kekurangan, tujuan hidup adalah memenuhi misi yang Tuhan kasih ke kita, jadi stay focus on our goal of life, kalau ada orang yang menggoda ego kita, anggap aja itu cara Tuhan untuk mendewasakan kita.

    Terutama saat kita berada di dalam grup/ kelompok kerja/ pertemanan, tekan ego serendah-rendahnya, lebih baik tunjukkin prestasi, orang yang prestasinya banyak atau sudah punya ‘nama’ ngga perlu ninggiin ego, karena orang udah tahu kualitas dia

    https://www.facebook.com/sari.musdar
    • The Unlearn Team -  November 24, 2014 - 11:04 am

      Ini keren Sari. “Focus on our goal of life.” Belajar memeriksa kembali, ketika dalam sebuah situasi, “Cara gue bereaksi ini sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan hidup gue gak ya?” Dan setiap momen itu menjadi “cara Tuhan mendewasakan kita” Yumm. Thank you for the insight 🙂

  2. Rachel -  November 24, 2014 - 11:08 am

    Hola,

    Kalau menurut pendapat gue, itu semua tergantung dari teman-teman disekitarnya sih.
    Kita nggak bakal tahu kita itu baik/nggak, ego tinggi/nggak, kalau kita nggak liat reaksi dari orang-orang sekitar kita terhadap diri kita.

    Jadi, alangkah indahnya kalau kita punya teman-teman yang bisa mengkritisi kita dikala memang itu dibutuhkan. Lebih indah lagi kalau kritik itu kritik yang mebangun.

    Berkaitan dengan cara terbaik menurunkan ego adalah cari temen yang bener. Temen yang mau nampar elo kalau lo lagi salah. Bukan berarti temen itu harus mengubah lo menjadi apa yang lo mau. Tapi lo butuh temen yang bisa ngasih rambu kalo lo udah kelewatan, yang bisa nge-rem lo supaya lo nggak terjerumus punya habit jadi orang berhati tinggi.

    Cheers! 🙂

    • The Unlearn Team -  November 24, 2014 - 11:27 am

      Nice. Itu namanya true friends ya Rachie. “Temen yang bener.” Duh semoga temen-temen gue bener deh. Karena gampang banget kesandung si ego ini. *gigitjari

      That’s a great advice btw. Thank you Rachiiiieeeee :*

  3. adhaningrum -  November 24, 2014 - 11:09 am

    Hi!

    Pertanyaan yang menarik dan rada ‘menampar’ 🙂

    Setuju banget sama jawabannya Mbak Sari Musdar tentang melihat ke diri sendiri dulu. Apakah kita memang sudah segitu hebat dan spektakulernya sampai bisa menganggap diri sendiri lebih datri orang lain? Dan, kalau memang iya, apakah pantas kita bersombong-sombong?

    Menurut aku, selain kita perlu punya kemampuan melihat ke diri sendiri, kita juga perlu banyak-banyak bergaul, banyak baca, banyak diskusi, banyak nonton, dan banyak-banyak melakukan kegiatan bermanfaat lainnya. Buat apa? Buat menambah wawasan. Biar pengetahuan sama cara berpikir kita nggak mentok disitu-situ aja. Buku-buku jaman sekarang keren-keren, dari yang tebel banget isinya teori yang bisa kita pelajari, buku novel yang sarat dengan nilai moral (apalagi buku cerita anak-anak!), sampai buku berisi motivational quotes yang lucu-lucu.

    Cari kenalan baru, cari kegiatan baru, mengunjungi tempat baru, dan semuanya yang baru-baru, deh! Memang nggak semuanya yang baru itu pasti menyenangkan, tapi seenggaknya ada hal yang bisa kita jadiin pelajaran. Pasti ada.

    Saya percaya, kalau kita banyak membuka dan memperkaya diri, jalan pikiran kita tentang bagaimana memandang ego pasti akan berubah juga. Berubah ke arah yang positif pastinya 🙂

    http://gravatar.com/adhaningrum
    • The Unlearn Team -  November 24, 2014 - 11:42 am

      “Kemampuan melihat ke diri sendiri.” Ini memang semakin diperlukan semakin ke sini ya. Mengingatkan gue sebuah artikel yang mengatakan “semakin seseorang membaca literary books, kemampuan empatinya pun semakin meningkat.” Terbuka untuk hal-hal baru untuk memperkaya diri. Thank you ibu guru untuk insightnya 🙂

  4. Rachel -  November 24, 2014 - 11:11 am

    maaf leave reply lagi hahaha, pas baca ada kalimat yang nggak make sense. Maksudnya “Bukan berarti temen itu harus mengubah lo menjadi orang lain yang bukan diri lo sendiri”. Gituuuuu. hehehe. caooO!

  5. Mega -  November 24, 2014 - 11:19 am

    Kalo gw lagi belajar ninggiin ego, krn kalo kerendahan jadi berasa ga worthy trs universe takutnya setuju gitu loh

    • The Unlearn Team -  November 24, 2014 - 11:33 am

      #jleb juga. Kamu keren ya. Ego yang sehat itu ketika kita bisa mencintai diri apa adanya kali ya. 🙂

  6. ahmad -  November 24, 2014 - 3:16 pm

    wah bener tuh ternyata kehidupan kita tidnah lepas dari ego/ egois, ntah yang terjadi pada diri sendiri maupun orang lain. tapi ada sedikit pengalaman sih ternyata seseorang menjadi ego atau tidak banyak dipengaruhi lingkungan, kebiasaan dan ada lagi makanan juga ikut berpengaruh.
    lingkungan…..> ketika lingkungan disekitar kita adalah orang-orang yang nggak pedulian, itu tu pasti bakal jadi kebiasaan kita untuk ikut ndak peduli juga, soalnya dah terbiasa hidup dilingkungan yang nggak pedulian
    kebiasaan….> kebiasaan-kebiasaan hidup sehari-hari juga berpengaruh tuh, misal terbiasa dimanjain, ya otomatis bakal mempengaruhi pola hidup tu orang
    dan makanan……> coba aja liat orang yang terbiasa makan sayur ma yang setiap hari makan daging, atau yang seneng makanan manis sama yang makanan pedes pasti berbeda tuh,(bisa di teliti di diri sendiri) hehehe, ya itu sedikit cerita tentang sesuatu yang mempengaruhi, tapi juga ni ada sedikit solusi buat nurunin ego buat diri sendiri dulu ya………
    1. kalao ego lagi memuncak coba wudlu (bagi yang agama islam), bagi non islam coba deh cucimuka trus sedikit usapkan air ke kepala
    2. duduk. dan atur nafas
    3. terus belajar berfikir positif ketika menghadapi masalah
    4. lihatlah kebawah dan renungkang betapa beruntungnya kita dari orang lain, karena masih banyak orang diluar sana tidak seperti kita yang bisa ini, bisa itu, bisa-bisa aja hehehehe
    gitu aja deh moga bermanfaat dan..
    semoga yang Maha Mempunyai Kelembutan melembutkan jiwa dan kehidupan kita amien….
    moga selalu bahagia

    http://www.sangpatih.blogspot.com
    • The Unlearn Team -  November 25, 2014 - 6:44 am

      Amin 🙂

  7. Senri -  November 24, 2014 - 4:59 pm

    Hmm…pertanyaan yang delicate…hehehe..Saya mau coba share pandangan saya aja ya. Bagaimana cara terbaik menurunkan ego, gitu kan pertanyaannya ya? Menurut saya, pertama, kita sama-sama setuju kan bahwa ego dalam kadar yang sehat tetap dibutuhkan, seperti komentar Mega di atas, supaya kita tetap punya sense of worthiness yang sehat. Memang bukan perkara gampang untuk strike the right balance supaya ego kita tetap dalam kadar sehat ini.

    Saya ambil contoh diri sendiri deh ya, pada saat saya merasa tersinggung atau terganggu dengan ucapan atau tindakan orang lain, saya suka bertanya sama diri sendiri, kenapa ya kok kelakuan si Anu atau ucapan si Itu membuat saya terganggu. Nggak jarang ternyata biang keroknya ya si ego ini. Misalnya, saya menawarkan bantuan pada seseorang, lalu orang ini menolak bantuan tersebut, padahal menurut saya dia sangat membutuhkan bantuan tersebut. Lalu saya sedikit (atau banyak deh ya..hehehe) merasa bete, karena tawaran saya ditolak. Nah…pada saat saya ngaca dan periksa diri, ternyata saya bete karena ego saya yang bertingkah. Saya merasa tahu apa yang dibutuhkan orang tersebut dan ego saya terluka pada saat orang yang menurut saya membutuhkan bantuan tersebut, menolak bantuan saya. Pelajarannya untuk saya: kalau mau nolong harus tulus, jangan ada sedikit rasa yang nyelip karena saya yang butuh merasa berguna untuk orang lain.
    Dalam lain kesempatan, bisa jadi ada alasan yang valid untuk kita merasa tersinggung. Misalnya, seseorang berkomentar yang sifatnya merendahkan kita, di depan orang lain. Dalam hal ini, mungkin orang yang berkomentar itu melakukan hal tersebut untuk menaikkan egonya. Dia perlu merasa dirinya lebih baik dari orang lain, dengan cara merendahkan orang lain. Nah..kalau kasus yang ini, menurut saya, wajar kita merasa tersinggung. Walaupun demikian, bukan berarti kita harus berantem sama orang itu. Kalau untuk saya, jika hubungan kita cukup dekat, saya akan kasih feedback (in private), supaya dia tahu apa yang kita rasakan dan tidak mengulanginya. Tapi kalau kalau hubungannya hanya sekedar kenalan biasa (baca: bukan orang yang terlalu penting buat saya), catet dalam hati aja deh, lain kali nggak usah terlalu banyak berurusan sama dia.

    Jadi, kalau untuk saya, cara yang tepat untuk menjaga si ego ini adalah dengan sering-sering melakukan introspeksi dan berani jujur sama diri sendiri, untuk menyadari apa sih sebetulnya motivasi kita dalam melakukan sesuatu. Buat saya, bagian yang paling menantang adalah berani jujur sama diri sendiri. It takes a lifetime to learn 🙂

    • The Unlearn Team -  November 25, 2014 - 6:49 am

      Bisa jujur ke diri sendiri. Berani jujur ke diri sendiri. I wonder, kalau ego gue sedang tinggi, apakah gue akan bisa menyadarinya? Atau malah tidak sadar bahwa I am also in a denial.

  8. The Unlearn Team -  November 26, 2014 - 7:42 am

    Ini dari teman kita Adzka yang menjawab via email:

    Hemh menarik sekali pertanyaan yg diajukan mengenai ego. Imho, ego erat kaitannya dengan gengsi individu tsb. Kalo konteksnya utk nurunin ego ya berarti harus dibarengin dgn nurunin gengsi juga kali ya. Ego sering muncul ketika terjadi selisih pendapat atau selisih kepentingan jadi sebaiknya berusaha utk “legowo” menerima perbedaan yg ada dan ubah mindset kalo kita lah yg selalu benar, coba utk open-minded dgn pendapat orang lain. Di satu sisi, ego tetap diperlukan dalam hal sesuatu yg kita yakini atau kita prioritaskan namun baiknya cara utk mendeliver ego tsb yg tidak memaksa ke orang lain. Thats all jawaban dari gua, semoga nyambung ya sama pertanyaanya dan sedikit banyaknya bisa membantu 🙂

  9. The Unlearn Team -  November 26, 2014 - 7:47 am

    Ini dari Bani:
    Hehehe untuk nurunnin ego yang ssngat dominan alias egosentrisnya tinggi aku pikir orang harus belajar rendah hati. Itu satu satunya kunci untuk mendapatkan mau menghargai orang lain.Semoga bermakna.

    Ini dari Rasyid:
    Kalo menurut saya, orang yang egois adalah orang yang ingin semua keinginannya terpenuhi oleh orang tuanya, lebih mirip kayak anak kecil. Yang membedakan anak kecil dan orang yang sudah dewasa adalah, orang dewasa enggak melihat bahwa semua keinginan dia harus terpenuhi oleh orang tuanya. Ego berhubungan sama keinginan kita. Jadi untuk menurunkan ego, adalah kita melihat apa keinginan kita yang jadi tanggung jawab kita, mana keinginan kita yang jadi tanggung jawab orang tua kita. Atau bahkan, dari artikel tentang passion yang saya baca di Unlearn, Penulisnya menyarankan supaya kita juga berusaha mewujudkan passion kita dengan usaha ktia sendiri, hubungannya dengan konteks ego adalah kalo kita punya keinginan, sebisa mungkin kita mewujudkan itu sendiri. Karena itu adalah keinginan kita, dan kitalah orang yang bertanggung jawab atas tercapai atau tidak tercapainya keinginan kita tersebut.

    Ini dari Inez:
    Buat aku sadar ketika kita sedang egois itu ga banyak yang bisa, bahkan mungkin orang bisa berpikir seperti itu ketika orang lain negor kita yang terlalu egois. Nah, sadar dengan sendirinya buat aku itu good point sendiri, karna itu berarti kita dengan secara sadar mengerti diri kita sendiri.

    Kadang aku suka telat sadar kalo yang barusan aku lakuin adalah egois, dan ketika aku sadar itu yang pertamaaku lakukan adalah minta maaf dan mulai mendengar kan orang lain di situasi itu. Sofar, cara mendengarkan itu bisa menurun kan keegoisan ku, karna aku jadi mengerti posisi orang lain yang menjadi efek keegoisan aku. 🙂

    Ini dari Meifina:
    Well…kalo aku nurunin ego dgn cara :
    1.Tarik nafas dalem2
    2.Empaty
    3.Positive thinking
    Sejauh ini aku berhasil melakukan itu semua…semuanya balik lagi ke orang nya masing2 siih. I hope it will work with u all…

  10. Erik -  November 29, 2014 - 9:46 am

    Hallo teman-teman dengan saya Erik:

    saya share pendapat tentang menurunkan ego.
    1. Untuk mengelola mental, kita harus menyadari terlebih dahulu keadaan atau kondisi kita saat ini, dalam hal ini teman kita telah menyadari ada masalah pada dirinya yaitu ego yang tinggi.
    2. Ego tinggi menurut pengalaman saya disebabkan karena kita memiliki kekurangan-kekurangan pada diri yang harus kita tutupi agar tidak diketahui oleh orang lain demi menjaga image yang kita bangun.
    3. Kemauan/kerelaan diri untuk sembuh dari ego yang tinggi, sembuh dalam pengertian dapat mengontrol ego bukan tidak punya ego, karena ego masih tetap kita butuhkan namun dalam batas kewajaran.
    4. Tarik nafas dan buang secara perlahan, dan lakukan 5x untuk mengendurkan ketegangan sehingga kita dapat berpikir dengan tenang.
    5. Tentukan pilihan tindakan yaitu “menang untuk kepuasan diri mengalahkan orang lain” atau “menang untuk mencapai tujuan utama kebaikan bersama”.
    6. Menahan keinginan berbicara/menyerang, dan belajar mendengarkan serta memahami dari sudut pandang yang berbeda, dan terus menggali pemahaman yang kuat dengan bertanya menggunakan tools 5W 1H sehingga bisa mendapatkan solusi.
    7. Selalu mengupdate pengetahuan kita sehingga wawasan kita semakin luas dan terus berlatih step-step diatas dalam keseharian hidup kita sehingga menjadi perilaku yang otomatis.
    Demikian sharing pengalaman saya, semoga dapat bermanfaat untuk teman-teman. Dan bila ada kata-kata saya yang kurang tepat atau menyinggung teman-teman yang membaca harap dimaafkan sepenuhnya, karena saya hanya ingin berbagi dan belajar.

  11. Pramm -  December 5, 2014 - 1:28 pm

    Cara terbaik menurunkan ego ya adalah jangan pernah menaikkan ego.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *