Takut membuat kesalahan?

Posted at : 09 - 03

- 2015

Mistakes-are-the-growing-pains-of-wisdom

Saya menerima email yang sangat panjang dari mantan siswa saya, meminta saya untuk membantu dia memutuskan antara empat tawaran pekerjaan yang Ia dapatkan. Ia begitu pintar. Ia sudah menuliskan semua pro dan con untuk setiap pekerjaan. Ia telah bertanya ke begitu banyak orang tentang bagaimana sebaiknya menghadapi keputusan ini dan masih tidak bisa memutuskan. Ia bertanya apakah saya bisa membantu memutuskan, karena dia begitu takut bahwa ia akan membuat pilihan yang salah dan membuat kesalahan. Karena Ia teringat kesalahan di masa lalunya yang membuatnya merasa menyesal.

Dan tentu saja, saya tidak dapat membantunya.

Mengapa kita begitu takut membuat kesalahan?
Apakah agar kita tidak pernah menyesal?
Apakah kita takut bahwa setiap kesalahan akan mendefinisikan siapa kita?
Apakah kita takut terlihat buruk dan memalukan?
Apakah kita takut melewati kesempatan, lalu malah membuang-buang waktu dan energi?
Atau, apakah kita takut untuk memutuskan dan mempercayai diri kita sendiri?

Apabila kesalahan adalah “tindakan atau penilaian yang keliru atau salah”, saya tahu saya telah salah berkali- kali. Tapi, ketika seseorang bertanya pada saya apa kesalahan yang telah saya buat dan kesalahan yang paling saya ingat, saya tidak bisa menjawab itu. Dan itu membuat saya merasa sangat arogan, gak peduli atau in denial, seperti ada sesuatu yang salah dengan saya. Saya yakin saya membuat banyak kesalahan. Tapi mengapa saya tidak bisa mengingatnya?

Saya ingat saat saya mencuri uang dari kotak uang keluarga ketika saya masih kecil. Saya tahu bukan hal yang baik untuk membentak Ibu sendiri. Saya tahu berpartner dengan orang yang itu tidak berakhir baik. Saya tahu saya kehilangan banyak uang dari beberapa investasi. Saya tahu bahwa seseorang telah membuat saya patah hati dan butuh waktu bertahun-tahun untuk pulih. Saya tahu betapa tidak nyamannya untuk bangun di ruangan yang tidak saya kenal dengan kepala yang pusing karena mabuk. Saya pernah membeli barang-barang mahal yang akhirnya saya tidak gunakan. Saya telah berbohong, berpura-pura bahkan sampai menyakiti perasaan beberapa orang. Tapi kenapa saya tidak menghitung itu sebagai kesalahan?

Mungkin itu karena ayah saya mengatakan “Kamu tidak akan pernah tahu keputusan kamu benar atau salah. Tapi selama kamu bisa mengubah itu menjadi sesuatu yang baik, itu tidak pernah jadi sebuah kesalahan.”

Saya tidak ingat kapan Ia mengatakan itu kepada saya. Tetapi ada sesuatu dari kalimat itu yang terus terngiang di telinga saya. Contohnya…

Kesalahan itu memang terjadi. Tetapi, begitu saya mengambil tanggung jawab atas kesalahan tersebut, meminta maaf, memaafkan diri sendiri, melanjutkan hidup dan mendapatkan pembelajaran dari kesalahan itu, hal tersebut bukan lagi sebuah kesalahan. Setiap pembelajaran yang saya dapatkan dari sebuah kesalahan, kesalahan tersebut telah transformasi menjadi kearifan (wisdom).

Kesalahan itu adalah proses yang tidak nyaman menuju pribadi yang bijak. Kesalahan akan terus menyakitkan sampai kita dapat mengubahnya menjadi kebijaksanaan. Itu akan terus menghantui kita dari sampai kita bisa membiarkannya pergi. Itu akan terus memicu rasa takut dalam diri kita sampai kita dapat melangkah ke dalam rasa takut itu.

Bagaimana saya tahu jika kesalahan telah berubah menjadi kebijaksanaan? Ketika saya tidak memiliki penyesalan atas hal itu. Ketika saya mengerti bahwa itu perlu terjadi. Ketika saya dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang baik.

Bagaimana saya tahu jika kesalahan tidak berubah menjadi kebijaksanaan? Ketika saya terus mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi. Ketika saya menyeret orang lain membuat kesalahan dengan saya. Ketika saya membenci kenyataan yang ada. Ketika saya membenci diri saya sendiri. Ketika saya merasakan banyak kesedihan, malu, kemarahan, dan hal-hal yang buruk.

Ini semua mengajarkan saya bahwa “kesalahan terburuk yang bisa kita buat adalah terlalu takut untuk membuat kesalahan,” Dan bagi saya, kesalahan terburuk yang kedua adalah membiarkan kesalahan tetap sebagai kesalahan dan tidak mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik.

Saya berterimakasih kepada ayah saya, dia telah mengajarkan saya salah satu keterampilan yang sangat penting dalam hidup ini. Ia telah mengajarkan saya bagaimana menjadi sangat baik dalam melakukan kesalahan. Dia mengajari saya tentang menjadi fierce – bukan hanya keberanian untuk membuat kesalahan, tetapi juga keberanian untuk bisa naik kelas.

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

1 Comment

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *