Pola Pikir Kaya vs Pola Pikir Miskin, Apa Bedanya?

No Comment

 

Masih menyambung pembicaan kita tentang Abundance Mentality, ini ada sebuah infographics sederhana yang membantu kita membedakan apakah kita memiliki pola pikir kaya, atau malah pola pikir miskin?

abundance scarcityContohnya:

1. Bersyukur vs. Merasa “ber-hak” atas sesuatu yang belum tentu haknya.
Sering kita mendengar, “Ih, pakai jalan kaya jalan punya neneknya.” Ini salah satu contoh ‘entitled’. Seperti banyak dari orang-orang yang baru pertama kali kerja, dan belum banyak pengalaman, tetapi tuntutannya banyak.¬†Akhirnya, ketika ‘nyelak’ supaya bisa paling cepat, masuk jalur busway supaya motong, bablas lampu merah karena takut ga kedapetan, ngambil banyak-banyak karena takut kehabisan… itu semua jadi contoh pola pikir miskin.

2. Memuji vs. Mengkritik
Mengkritik itu mudah sekali. Menemukan hal yang ‘salah’ di orang lain atau di sebuah situasi itu mudah sekali. Tetapi, kebalikannya, menemukan hal yang baik dan menangkap hal yang benar itu butuh ketrampilan. Seperti kita lihat di video Apresiasi: Seni Memanusiakan Manusia, kita bisa lebih baik lagi dalam mengapresiasi satu sama lain.

3. Memaafkan vs. Dendam
Gue pun belajar bahwa memaafkan itu tidak mudah. Terlebih kalau orang tersebut tetap melakukan hal yang sama berulang kali dan sudah minta maaf pula. And it’s okay. Butuh waktu untuk memaafkan. Yang perlu diperhatikan, sejauh mana rasa ‘kesel’ kita itu membunuh diri kita sendiri? Sejauh mana rasa ‘gemes’ itu malah membuat kita membalas dendam?

4. Ikut bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan vs. Menyalahkan orang lain untuk kesalahan orang lain.
Bertanggung jawab di sini bukan akhirnya selalu membereskan masalah orang lain, tetapi untuk tidak langsung menyalahkan orang lain. Selalu teringat kata: kalau kamu bukan bagian dari solusi, maka kamu adalah bagian dari masalah. Kesalahan terjadi, selalu. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapinya?

5. Senang berbagi vs. Hitung-hitungan/Pamrih
Ada orang yang takut sekali posisinya akan diambil orang lain. Ada orang yang pelit ilmu karena takut orang lain lebih jago dari dia. Ada orang yang takut idenya akan diambil orang lain. Ada orang yang percaya bahwa “tidak ada makan siang yang gratis” yang artinya, kalau ada orang membantu kita, itu pasti karena dia ingin sesuatu dari kita. Ada orang yang berbagi hanya karena supaya bisa pamer di socmed. Gue pun sering mendapati diri gue jadi hitung-hitungan juga ketika merasa sudah tidak mendapatkan ‘keuntungan’ dari sebuah relationship. Yang akhirnya pertanyaannya: hmm, gue hilangkan hitung-hitungan itu atau mungkin sudah saatnya mengakhiri relationship ini? Bagaimana gue tetapi bisa berbagi dengan nyaman?

6. Energi positif vs. Energi negatif
Kemarin melihat orang pesan calamari di restoran. Ketika sang pelayan bilang bahwa calamarinya sudah abis, reaksinya seperti dunia telah berakhir. Muka langsung cemberut, menggerutu dan ngambek gak mau pilih yang lain. Dalam setiap situasi, apa yang kita pilih, memberikan energi positif atau negatif? Atau malah kita menjadi orang yang menyebalkan tanpa kita sadari? Apakah malah kita yang negatif?

7. Ingin orang lain berhasil vs. Ingin orang lain gagal
Terlepas kita mengakui atau tidak. Terkadang, secretly, we want others to fail, karena itu mengagkat ego kita. Karena dengan orang lain gagal, kita menang. Karena kalau orang lain salah, kita benar. Dan sangat menyenangkan kalau bisa bilang, “I told you so!”

8. Memiliki “to-be” list vs. Tidak tahu ijin jadi orang yang memiliki kualitas seperti apa
Sering kali, kita lebih tahu ingin punya apa dibandingkan ingin jadi orang yang memiliki kualitas seperti apa. Gak salah, toh ya dari kecil yang selalu ditanyakan kan “Cita-citanya mau jadi apa?” Jadi kita jarang memikirkan kualitas apa yang kita ingin miliki atau perkuat sebagai manusia.

…. itu beberapa contohnya. Dari pengalaman kamu, seperti apakah Pola Pikir Kaya ataupun Miskin?

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *