Merasa kesindir apa artinya?

No Comment
Merasa kesindir apa artinya?

Di #kopdartheunlearn awal bulan ini, salah satu teman kita sempat cerita tentang dirinya yang mencoba sharing tentang website theUnlearn.com ke teman-temannya. Dan tidak berhasil.

“Gue sudah mengirimkan beberapa artikel dari theUnlearn ke mereka dan mengajak mereka ke acara kopdar ini. Tetapi reaksinya memang berbeda. Mereka malah nanya balik ke gue ‘Emang elo sudah mendapatkan manfaat dari baca-baca artikel ini?’ ‘Emang elo sudah berubah?’

Gue merasa, dengan membaca artikel-artikel di theUnlearn, mereka merasa tersindir. Trus in denial begitu jadinya.

Walau, gue pun akhirnya juga bertanya ke diri sendiri. Apakah selama ini gue sudah berubah dengan membaca theUnlearn? Well, paling tidak gue sudah mencoba mengaca dan memperbaiki diri sih. Tapi mungkin memang theUnlearn bukan untuk semua orang.”

Ini membuat saya berfikir sih. Menarik sekali mendengar orang yang merasa tersindir ketika membaca theUnlearn. Lucunya, salah satu teman lain yang datang di acara #kopdartheunlearn malah menimpali “Hihihi, saya salah satunya yang kesindir.” Tetapi dia datang. Dan mau terus membaca dan belajar lebih jauh. Saya pun sering tersindir ketika membaca artikel-artikel ataupun buku. Ini yang biasanya saya share dengan bentuk #jleb #nampardirisendiri, hihihi.

Yang saya perhatikan, ada kita-kita yang tersindir dan menjadikannya sebuah kritikan negatif dan ada kita-kita yang juga tersindir tetapi menjadikannya sebuah motivasi dan pembelajaran. Yang satu merasa diserang, yang satu lagi merasa diingatkan. Kok bisa ya berbeda? Kok bisa tulisan yang sama menimbulkan hal yang berbeda di orang-orang yang berbeda?

Bagi saya, dua reaksi ini sah-sah saja. Toh kita pun ada di fase hidup yang berbeda-beda.

Dulu, setiap mendengar kritikan, saya selalu merasa diserang. Semakin ke sini, semakin menjadi hal yang mengingatkan saya. Mungkin dulu saya merasa ‘the world is against me’, tidak ada yang bisa mengerti saya, saya sudah melakukan semuanya tetapi tidak cukup juga. Saya merasa, kalau masalahnya ada di orang lain, kenapa saya yang harus berubah? Saya merasa, tidak ada hal yang perlu diubah tentang diri saya. Tidak sadar, saya menjadikan diri saya sebagai victim. Dan ini yang menyebabkan saya merasa diserang. Dan ini ternyata sangat melelahkan, karena saya telah menjadi negatif, tetapi tidak sadar. Hahahahaha…. Pinter ya.

Semakin ke sini, mencoba semakin ngaca saja. Setiap kali merasa kesindir jadi senyum-senyum sendiri. Yes, itu ego saya yang lagi kena. Apalagi setelah membaca The Four Agreements. Kesindir, kritikan dan sakit hati menjadi pembelajaran yang berharga. Karena setiap kali saya bisa senyum terhadap hal tersebut, lalu bukannya merasa diserang tetapi lebih diingatkan, itu menunjukkan bahwa saya sudah semakin ingin berubah menjadi lebih baik. Sedikit lebih dewasa. Ciyeeee…

Mungkin salah satu alasan mengapa kita sakit hati atau merasa tersindir itu karena hati kita telah mengeras, menjadi kaku, karena kumpulan semua kekecewaan dan rasa sakit. Belajar untuk melepaskan kekecewaan dan rasa sakit itu yang akhirnya menjadi penting agar kita tidak terus menjadi bitter dan apatis.

Ini benar-benar mengingatkan saya terhadap apa yang disampaikan oleh Leo Tolstoy, “Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself.” Semua orang ingin mengubah dunia, tetapi tidak berfikir untuk mengubah dirinya sendiri. Semua orang ingin orang-orang di sekitarnya berubah, tetapi tidak terpikirkan untuk mengubah dirinya sendiri. Fascinating.

change myself

So, yes. Mungkin theUnlearn bukan untuk semua orang. And that is okay. Tetapi begitu kita merasa siap untuk berubah atau belajar atau lebih open-minded, theUnlearn siap untuk menjadi teman diskusi.

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *