Menjadi sahabat untuk diri sendiri

No Comment

 

Apakah kamu menyukai dirimu sendiri?
Apakah kamu mencintai dirimu sendiri?
Would you like you, if you meet you?

Dulu gue gak terlalu menyukai diri gue sendiri. Dulu, terlepas dari apapun yang orang lain katakan, gue lebih mudah melihat hal-hal yang jelek di diri gue dibandingkan yang bagus-bagus. Sekarang kalau ditanya, jawabannya adalah “I’m getting better and better at taking care of myself.” Karena gue juga masih terus ingin lebih baik lagi menjadi sahabat untuk diri gue sendiri.

do you love youWhat? Jadi sahabat untuk diri sendiri? Yes. Kalau kita sendiri tidak suka sama diri kita sendiri, bagaimana bisa mengharapkan orang lain suka dengan kita? Ini sebabnya kita banyak mengharapkan cinta dari orang lain.

MINTA dincintai, tanpa belum tahu bagaimana caranya MEMBERIKAN cinta. Ini sebabnya cinta dari orang lain tidak pernah cukup, karena kita sendiri belum bisa mencintai diri sendiri. Akhirnya kita punya ekspektasi banyak dari pasangan, jadi needy ataupun obsesif. (<– gue jaman dulu banget deh eeuuuy. Kasian pacar-pacar gue. -red)

Anyways, akhirnya gue agak sadar dikit dan mulai belajar menyukai diri gue.

If I don’t love me, who will?

1. Belajar menerima pujian dengan baik.

Ini saja gak mudah. Sering kali ketika kita dipuji, apapun itu, jawaban yang paling sering saya dengar adalah “Ah masa sih? Enggak ah!” Lucu kan, kita saja menolak dipuji. Ada perbedaan antara rendah hati dan rendah diri. Kalau menolak dipuji itu rendah diri. Jadi mencoba untuk tersenyum dan mengatakan “Terima kasih.”

Try it.

2. Memuji diri sendiri.

Kalau gak ada yang memuji, sebaiknya kita memuji diri kita sendiri. Lucunya, ketika harus memuji orang lain, rasanya lebih mudah dari memuji diri sendiri. Apa lagi kalau lagi ngaca. Sampai gue punya temen yang gak suka kalau ada kaca, karena dia gak nyaman melihat tampilan dirinya di kaca.

Masa sih gak ada 5 hal yang keren tentang diri loe? Coba deh ngaca. Kalau orang lain bisa melihatnya, mungkin sudah saatnya kamu bisa melihatnya juga.

Gak cuma fisik ya. Walau paling mudah memang mulai dari fisik. Seperti contohnya, gue tahu hidung gue bukan hidung paling mancung sedunia (which that would be scary too), tetapi gue semakin suka sama mata gue. Gigi gue boleh gak rata, tapi senyum gue lumayan menghanyutkan. <— Namanya juga muji diri sendiri, boleh dong.

Walaupun seperti itu, gue pun mencoba mengenali kekuatan-kekuatan gue. Lucunya, pernah gue fasilitasi para managers/leaders dan bertanya siapa yang tahu top 3 kekuatannya dan hanya 15% yang tahu. Sedih kan?

3. Berhenti self-talk yang merendahkan diri sendiri.

Gue inget suka sadar gak sadar mengatakan hal-hal seperti:
– Apapun yang gue lakukan itu pasti not good enough
– Gue gak tau mesti ngapain
– Gue bodoh banget sih
– Gue salah terus, percuma kasih 100%
– Kayaknya gue gak bisa deh
… dan lain-lain

Pernyataan ini sepertinya memang harmleess, tetapi kalau dipikir-pikir, akankah kita mengatakan hal-hal ini ke sahabat atau anak kita? Kok bukannya mendukung malah menjatuhkan ya?

Dan yang kita gak sadar adalah, setiap kita mengucapkan hal-hal ini, semua terekam di alam bawah sadar kita. Dan semakin sering kita mengucapkannya, kita akan semakin percaya tentang hal tersebut.

4. Tidak berlama-lama menenggelami diri dalam kesedihan, kemarahan, kritik

Energi negatif itu hanya menggerogoti diri kita dari dalam. Seperti virus dan penyakit. Jadi, kalau kita berlama-lama dalam kesedihan, kemarahan, sakit hati, iri dengki dan semua sahabat-sahabatnya, sebenarnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri dengan pikiran-pikiran kita sendiri.

Jadi, secara gak sadar, kita bunuh diri pelan-pelan. Yikes!

However, bukan berarti terus mereject perasaan-perasaan ini. Tetapi belajar untuk bersahabat dengan emosi-emosi ini. Menerima mereka apa adanya.

5. Mengubah cerita hidup

You are the story you tell. Teringat lagi ngopi sama temen gue, dan selama 2 jam ke depan dia cerita tentang semua hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupannya. Gue gak ingat 1 pun hal baik yang diceritakan.

Sering kali kita gak sadar kalau kita menjadikan diri kita VICTIM dalam hidup kita sendiri. Dan setiap kali kita melakukan hal ini, kita memberikan energi negatif ke diri kita sendiri.

Jadi, kalau ada kejadian buruk. Boleh sih diceritakan ataupun komplain, tapi dikasih batasan waktu. Dan gak perlu diceritakan lagi dan lagi dan lagi ke orang lain seperti mencari simpati. Kalau mau diceritakan bukan kejadian buruknya, tetapi apa yang kita pelajari dari kejadian tersebut.

6. Mengubah ‘harus’ ‘mesti’ dan ‘sebaiknya’ menjadi ‘ingin.

Suka ngomong gini ga?
– Gue mesti kerja nih
– Gue harus nganter pacar
– Gue sebaiknya baca buku dibandingin nonton tv

Gak salah, tetapi kenapa maksa diri sendiri. Never go against yourself.

Akhirnya mencoba untuk mengatakan, “Iya, gue gak ikut makan malam deh, karena mau (bukan harus) menyelesaikan pekerjaan dulu ya.” Kasihan dong kamu selalu melakukan harus, mesti, sebaiknya seperti tidak ada control dalam hidup kita sendiri.

7. Do more of what you love.

Even memilih makan siang. Bisa saja sekedar makan, gak perlu mikir apapun, yang penting kenyang. Atau, pergi ke tempat apapun dan bertanya “Hmm, makanan yang mana yang membuat gue paling happy hari ini ya?”

Bangun pagi dan bertanya ke diri sendiri, “Bagaimana gue akan membuat diri gue happy hari ini?”

Memilih kerjaan, “Mulai kerjain yang mana dulu yang membuat gue paling happy ya?”

… Anything.

8. ___________________ <—- Kamu yang isi.

 

 

Like I said, “I am getting better and better at taking care of myself.” Jadi memang butuh proses untuk setiap hari semakin nyaman dengan diri sendiri dan bisa menjadi sahabat untuk diri sendiri. Sejauh ini, seberapa kamu telah menjadi sahabatmu sendiri?

 

 

xo,
@aristiwidya

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *