Menghilang Untuk Menemukan Diri

3 Comments

 

Setiap orang nyaman dan terbiasa untuk membuat rencana. Pada umumnya kebanyakan orang terbiasa untuk merancang hal-hal yang mereka impikan, sukai dan nyaman untuk melakukannya. Seberapa banyak orang yang terpikir untuk mau melakukan atau menjalani sesuatu hal yang mereka tidak impikan, tidak mereka sukai dalam hidup?

Saya rasa tidak banyak… hehehehe

Dengan hal ini saya kembali bertanya kepada diri saya sendiri:

“Apakah saya pernah membuat rencana untuk hal-hal yang tidak saya sukai, tidak nyaman bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya”?

menghilang untuk menemukan diriJawabannya: tidak, saya selalu memilih untuk merencanakan hal-hal yang saya nyaman dan saya sukai.

Terkadang kita terjebak dengan mudah melakukan ‘judgement’ jika kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai ataupun belum pernah melakukan sebelumnya merupakan sesuatu yang useless, menakutkan.

JIka ada satu hal yang paling saya takuti, saya tidak nyaman dalam hidup adalah perasaan ‘over-anxiety’ (rasa cemas yang berlebihan). Perasaan cemas berlebihan muncul biasanya muncul dari rasa takut. Ketakutan akan kegagalan, takut sendiri ataupun takut melakukan sesuatu hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Di pertengahan tahun ini, saya belajar menyusun rencana yang sebenarnya saya tidak nyaman untuk melakukannya sebagai bentuk upaya self-therapy.

Pernah mendengar istilah:

“Sometimes you just have to travel spontenously without fear to know where you are heading in life”

Yes, saya memilih untuk pergi berlibur sendiri tanpa melakukan perencanaan. Satu kalimat yang selalu saya ulang untuk memberanikan diri saya melakukan hal ini adalah: “Yang terjadi yaaa terjadilah.. no need to worry about”.

Sengaja memilih tempat berlibur yang tidak ramai dan sama sekali tidak ada orang yang saya kenal ditempat yang dituju.

Dari perjalanan liburan sendiri, saya mendapat beberapa insights yang ingin saya shared boleh ya teman-teman 🙂 :

1. Re-assessing Self not LIFE.

Terkadang kita lebih sering melakukan evaluasi hidup dibandingkan dengan melakukan evaluasi diri. Mengapa ini begini.. mengapa ini terjadi pada saya *ngaca diri sendiri*. Dalam hidup terlalu banyak faktor eksternal yang kontrolnya bukan di tangan kita dan kita banyak menghabiskan waktu, energy dan mengeluh untuk hal tersebut. Sehingga kita lupa menilik ke dalam diri sendiri. Seberapa sering kita mempertanyakan atau melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri?

Terkadang kita tidak nyaman untuk melakukan dialog dengan diri kita sendiri. Kita lebih memilih untuk bertanya kepada orang lain, mempertanyakan keadaan tanpa melihat lebih dalam dari diri kita apa yang dapat kita lakukan untuk membuat kita lebih happier.

2. Learning to be alone.

Bersepeda mengelilingi pantai kemudian duduk sendiri makan siang fruit salad & rum raisin ice cream. Sit with my thought and feels okay with them and when I think I can’t sit alone any longer, go for walk and letting the waves hit my legs and recess. SIMPLY HAPPY!

3. Relying on the kindness of strangers.

Selama ini saya merasa saya merupakan individu yang ekstrovert, nyaman melakukan interaksi dengan siapa saja tanpa rasa takut. Entah kenapa, saya merasa tidak nyaman untuk mengajak orang berbicara terlebih dahulu pada saat itu. Memberanikan diri untuk menanyakan judul buku yang dibaca oleh orang lain ketika breakfast pagi dihotel menjadikan saya punya teman baru. Beruntungnya saya ternyata ia seorang expertise people development dari dari negara lain dan saya banyak mendapaykan sharing cerita darinya.

4. Enjoying the moment.

Untuk benar-benar bisa menikmati moment, saya memilih untuk firm untuk tidak menyalakan push email kantor, mem’block no telp kantor, dan mencoba untuk tidak setiap saat bermain social media ataupun menghubungi teman. Alhasil… saya merasa lebih belajar untuk memaknai apa yang terjadi sekarang daripada cemas akan apa yang akan terjadi kedepan ataupun apa yang sudah terjadi di masa lampau.

Yuk.. teman-teman rencanakan sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh teman-teman sebelumnya.. dan kami tunggu insight-nya 🙂

 

– Devi RA
@dvyra

 

 

3 Comments

  1. mariskova -  December 31, 2013 - 12:52 pm

    Tulisan ini, terutama learning to be alone, mengingatkan saya pada satu tempat. Saya pernah beruntung tinggal di satu tempat yang tenang. Setiap kali kepala sedang penuh, saya bisa keluar dan duduk di pinggir danau. Niatnya mengerjakan sesuatu di laptop yang dibawa. Kenyataannya malah hanya bengong. But it was so refreshing. Sebelumnya saya tidak pernah menyediakan diri untuk duduk diam di satu tempat tanpa melakukan sesuatu karena takut menyia-nyiakan waktu. Sekarang saya malah susah mendapatkan kesempatan seperti itu lagi.

    Salam kenal 🙂

    http://www.mariskova.com
    • The Unlearn Team -  December 31, 2013 - 2:35 pm

      Dear Mariskova,
      Salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir dan sharing pengalamannya. Memang kadang kita masih sulit membedakan antara buang2 waktu dan investasi waktu. Menemukan keindahan sambil recharge energi tanpa melakukan apapun sebagai investasi juga. Semoga tahun 2014 semakin banyak waktu utk diri sendirinya.
      Xo.

  2. Dee -  August 21, 2016 - 1:50 pm

    Saya sekarang ngerasa bener bener sendiri. Nggak ada seorangpun yg peduli. Solusinya gimana mbak? Apa harus ngurung diri dikamar buat merenung?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *