Meng’edit’ realita hidup, bagaimana caranya?

13 Comments
Meng’edit’ realita hidup, bagaimana caranya?

 

Sekarang mengedit foto sudah sangat mudah, apalagi dengan adanya Instagram yang memberikan kita akses untuk memotret realita kita dan kemudian memberikannya persepsi yang berbeda. Hidup itu mirip seperti itu, seperti yang dituliskan oleh Astra (@astra1304) tentang “Filtered Tree” di tulisan ini, yang bisa membantu kita melihat dunia dari ‘kacamata’ yang berbeda.

Coba, menurut kamu, apa yang kamu bisa dapatkan dari tulisan jeng Astra ini? Enjoy your reading 🙂

Ide awal tentang tulisan ini berasal dari sebatang pohon yang tidak istimewa, buah keisengan gue saat minggu lalu jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Melewati bagian Taman Mexico yang berisikan variasi tanaman seperti berbagai jenis kaktus dll (ketahuan banget pemahaman gue akan tanaman sangat minim..), gue iseng motret pohon yang bahkan namanya pun ku tak tahu.

Sampai di rumah, berhubung belum bisa tidur gue main handphone utak-atik foto pohon ini menggunakan aplikasi untuk photo editing. Gue pernah males banget dengan aplikasi semacam ini, karena menurut gue cuma seperti make up, membuat foto jelek jadi kelihatan mendingan karena sentuhan alat, bukan karena keahlian orang yang motretnya. Tapi yaa.. setelah gue mencoba sendiri, ternyata memang menyenangkan. Sesederhana itu. Foto bisa dibuat sangat berbeda dengan aslinya, dan bahkan bisa disesuaikan dengan tema yang kita inginkan terpancar dari foto tersebut. Cerah ceria, gloomy, misterius, anything you want you named it. Tinggal kreatif apa nggak aja sih ngeditnya ;p

Kemudian gue berpikir, alangkah serunya kalau mata gue bisa punya berbagai pilihan filter seperti ini. Setiap melihat pemandangan yang tidak enak atau tidak menyenangkan, gue bisa mengubahnya sesuai yang gue inginkan.

Selama beberapa saat gue sibuk mengkhayal, sampai akhirnya tersadar bahwa sebetulnya we do have those filters. Filter tersebut berupa cara pandang kita terhadap segala sesuatu yang kita alami dan apa yang kita lakukan untuk membentengi diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Contohnya, gue tidak ingat kapan terakhir kali nonton tayangan tv lokal. Gue suka nonton tv, tapi gue hampir selalu nonton tayangan tv asing dan benci tv lokal. Bukannya sombong, tapi menurut gue tidak ada yang bisa dipelajari dari tayangan-tayangan penuh pembodohan seperti infotainment, sinetron, dan acara musik yang penuh penonton bayaran. Belum lagi kalau nonton acara berita, banyak sekali hal negatif yang diekspose, bikin frustrasi dan gue selalu merasa tertekan setiap menontonnya.

I’m avoiding all those negativity so I can protect my sanity. I try to keep myself well informed with what is happening around the globe. But I don’t want to be  drawn and drowned in it. A li’l bit selfish I know, but hey, my life is happening right here and right now. Ga penting juga terlalu banyak ngurusin orang lain. Toh kalau gue waras dan bisa berfungsi dengan baik justru bisa berbuat lebih banyak lagi untuk lingkungan sekitar gue.

Pola reaksi juga menentukan seberapa kita bisa tetap santai saat mengalami kejadian buruk.

Let me ask you, pernah kehilangan dompet karena dicuri? Apa yang lo rasakan saat itu terjadi? Apa yang mungkin lo rasakan bila kejadian tersebut menimpa lo? Marah? Kesal? Nyumpahin orang yang ngambil supaya sial tujuh turunan? Yup menurut gue normal sih kalau merasa seperti itu.

Gue justru pernah merasa tidak normal saat kehilangan dompet dengan cukup banyak uang di dalamnya, and… I feel nothing. I feel fine. Gue ingat sempat panik saat tidak bisa menemukan dompet gue dalam tas, dan saat tersadar bahwa memang betul hilang, gue menarik nafas dan pasrah. Hilang.. ya sudah.. mau diapain lagi, memang gue yang salah karena tidak berhati-hati. And that’s it. Gue justru sebal karena jadi harus ngurus KTP dll. Tapi ya sudah.

Setelah situasi lebih tenang, gue ingat sempat duduk bengong karena merasa ada yang aneh. Kenapa gue tidak marah sama sekali, tidak sebal berkepanjangan, and so on.. and so on.. Sampai sekarang gue tidak tahu jawabannya. Mungkin saat itu gue belajar tentang arti pasrah yang sesungguhnya. Membiarkan saja apa yang terjadi, dan tidak memiliki ketakutan akan apa yang akan terjadi di kemudian hari. Tidak berpikir kalau gue tidak pegang uang sepeser pun, tidak memikirkan apa saja yang bisa gue beli seandainya uang gue tidak hilang, tidak memikirkan lagi kerja keras gue untuk mengumpulkan uang itu. Tidak memikirkan apapun. So, pasrah. I think that’s what helping me through that day.

Tidak mudah memang untuk bisa bersabar saat sedang mengalami kejadian yang tidak mengenakkan.

Gue sendiri juga masih terus berlatih untuk bisa melihat sisi positif dari segala hal. Masih ingat ga kapan terakhir kali lo merasa kesal terhadap sesuatu? Well, I do. Seseorang pernah mengatakan sesuatu yang sangat membuat gue tersinggung. Tuduhan tidak berdasar yang membuat gue tidak sekedar merasa sebal, bahkan sampai marah. Pada saat itu, bisa saja gue langsung memutuskan untuk menghapus orang tersebut dari hidup gue. But somehow, I just don’t want to burn the bridge. I know I’ll lose if I let my anger wins. So what I did, I was just tried to forgot it for a while.

Masalahnya mungkin tidak langsung selesai begitu saja, tapi paling tidak di hari itu gue cukup bangga karena berhasil menahan diri dan mengontrol kemarahan gue. I think it could be a one step forward toward maturity. If something terrible happens, instead of getting mad or frustrated, I think it is better if we can push the pause button and try to figure out what we can learn from that situation. Be calm, and when you’re ready, take a step forward with a chin held high. Be proud, since you have win over your ego. And that is how you have your filtered world. Clean from every negativity.

Sometimes we don’t realize that we actually have the  privilege to create our own rainbow. And we’re the only one who can let that rainbow shine within our hearts and coloring our life.

13 Comments

  1. devira -  January 13, 2014 - 11:24 pm

    Astra… aku suka tulisanmu ini, thank you for sharing.. jadi mengingatkan bahwa sebenarnya self control akan segala stimulus ada itu gimana kita sendiri yaaa.. the power of mind. Thank you Astra…….

  2. Bama -  January 17, 2014 - 2:20 pm

    Ini gue banget, ada kejadian apapun gue cenderung gak ambil pusing kalo memang sudah terjadi. Yang penting next-nya gimana. However gue juga belajar bahwa pola reaksi ini harus diselaraskan juga dengan orang lain. I can say everything will be fine, but when it comes to other people, gue juga harus menghargai pola reaksi mereka, dan mecoba menyelaraskannya, tanpa merubah pola reaksi normal gue.

    Nice write up, Astra!

    http://harindabama.com
    • Aristiwidya -  January 17, 2014 - 2:56 pm

      Eh ada Bama. Mencoba untuk tidak mudah goyah apapun reaksi orang lain ya. Harus semakin pandai memfilter apa yang kita ingin terima! Miss you darling. Apa kabar? Ditunggu tulisannya lho 🙂

      http://aristiwidya.com
  3. Andre -  February 13, 2014 - 6:00 pm

    Apa yang dirasakan Astra juga gue rasakan. Gue mengambil kesimpulan kalau gue ini bunglon. Berusaha beradaptasi dengan berbagai situasi dan lingkungan dengan dalih tujuan yang ingin dicapai. Gue berhasil menekan stres, at least buat diri sendiri. Tapi orang luar masih ngeliat gue secara negatif (misal keliatan stres, terlalu serius, atau karena jarang senyum jadi keliatan sombong). Gue ga ambil pusing penilaian orang lain. Tapi ada satu pertanyaan yang menggelitik gue:

    Apakah dengan begini gue ga punya karakter yang kuat?

    Gue membandingkan dengan orang-orang yang secara konsisten keras atau sebaliknya konsisten lemah/ cengeng. Gue nggak berada di satu kutub itu secara konsisten. Malah berusaha selalu di tengah. Gue memahami ini bukan soal benar salah. Hanya ketika gue melihat ke belakang, gue jauh berubah dari diri gue yang dulu. Perlu dipermasalahkan nggak sih?

    http://www.woleslane.wordpress.com
    • The Unlearn Team -  February 13, 2014 - 6:06 pm

      Hello Andre,
      Pertanyaannya keren. Beradaptasi atau lebih tepatny social awareness yang bisa memperkuat relationship management itu bisa memperkuat karakter karena yang diasah adalah EQnya Emotional Quotient. Mature itu bisa keras pada waktu yg tepat dan lembut di waktu yg berbed disesuaikan dengan situasinya. Jadi g masalah kepribadiannya seperti apapun selama peka terhadap lingkungan.

      Menjawab pertanyaannya ga? 🙂

      Thanks sudah mampiiiir. Share tulisan pengalaman dong. Mau?

    • Astra Ayuningputri -  February 16, 2014 - 8:32 pm

      Hai Andre, thank you comment dan sharing-nya.

      Menurut pendapat gue pribadi, ke-bunglon-anmu itu malah bisa jadi ciri kuat dari dirimu. Setuju denganmu yang bilang kalau karakter itu bukan masalah benar atau salah. In the end, kita sendirilah yang menilai apakah dengan karakter diri saat ini bisa menjadikan kita pribadi yang lebih happy atau tidak.

      Sharing sedikit, it took years for me untuk sampai bisa punya cara berpikir yang gue sampaikan dalam tulisan di atas. I used to be a very ‘keras’ person kalau ngikutin istilahmu, sampai temen-temen gue sendiri pada takut. Butuh sekian tahun untuk gue bisa jujur sama diri sendiri dan bilang kalau gue ga mau orang lain segan sama gue karena tampang gue jutek berat. Dan akhirnya butuh banyak niat dan latihan untuk bisa membuat gue bersikap lebih hangat dengan orang lain, dan jadi lebih santai.

      So, kalau memang merasa dirimu sudah berubah dari yang dulu, dengan perubahan tersebut kamu merasa lebih happy ga? Apakah menurutmu kamu bisa membuat orang lain merasa nyaman berinteraksi denganmu? Kalau semuanya sudah oke, then congrats, there’s nothing to worry about. Kalau belum, it’s okay. Seperti gelombang radio yang bisa kita geser-geser untuk cari frekuensi yang paling pas dan jelas, berarti PR untukmu adalah mencari ‘setelan’ yang paling pas, yang paling membuatmu happy dan sekaligus nyaman bagi dirimu dan juga orang lain.

      • The Unlearn Team -  February 17, 2014 - 9:22 am

        🙂

  4. Bram -  October 14, 2014 - 10:04 am

    Simple tapi jleb ya. Thank you 🙂

    • The Unlearn Team -  October 17, 2014 - 7:49 am

      Indeed 😉

    • The Unlearn Team -  January 23, 2015 - 10:42 am

      Hahahaha Buthong! Sama doooong. *ikutan ngaku*

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *