Manusia Super dari Stasiun Pasar Anyar

2 Comments
Manusia Super dari Stasiun Pasar Anyar

Sharing #ceritainspirasi dari teman kita Armiliandi, yang juga adalah seorang kaskuser dan ceritanya  mengingatkan kita tentang semangat dan dedikasi untuk hal yang disukai. Walaupun terkadang hidup memang tidak adil karena tak memberikan kesempatan untuk orang-orang yang kurang beruntung.

*****

 

Beberapa hari ini hujan menghantam-mampus kota Tangerang. Terkadang kecil dan terkadang amat deras. Bahkan menyebabkan di beberapa tempat Kota Tangerang tergerus banjir. Saya tak terlalu mengambil pusing dengan kondisi cuaca yang labil ini seperti kondisi kesompralan harga BBM yang belakangan ini Naik-Turun. Namun kebetulan mobil yang biasa saya gunakan sedang berada di bengkel untuk diperbaiki, lantas saya menggunakan motor untuk sementara menjalankan kegiatan, disinilah semua hal menyenangkan itu terjadi.

Salah satu bagian yang tak bisa dihindari menggunakan motor di penghujung musim hujan begini ialah: kehujanan pastinya. Dengan volume hujan yang deras begini mustahil rasanya melihat jalanan dengan baik, apalagi kontur jalan di Kota Tangerang amatlah “MULUS”. Belum lagi ada beberapa box berisi pamflet yang saya bawa, mustahil pula rasanya bisa menebas hujan tanpa merubah tumpukan kertas ini menjadi bubur. Maka, menepilah saya pada sebuah stasiun yang penuh-sesak dengan berbagai macam orang, dengan segala profesi, serta kesibukan mereka. Stasiun Pasar Anyar – Tangerang, begitu stasiun ini dinamakan.

Saya agak lupa dan sedikit samar kapan terakhir kali saya mampir ke Stasiun ini. Dahulu sekitar 3 – 4 tahun yang lalu, tempat ini merupakan tempat yang sering saya kunjungi untuk berbagai hal, dari menjadikannya tempat menyendiri, titik pertemuan teman dan beberapa organisasi, sampai menjadi saksi dalam berbagai Tragedi. Namun dari begitu banyak hal yang pernah ada, ada satu hal paling saya ingat dari stasiun ini. Ya, terkadang ketika kita berdiam diri suatu tempat atau menepi sejenak bahkan hanya sekedar ‘numpang lewat’, itu bisa menjadi suatu hal yang membuat kita dapat melacak balik jauh ke dalam setiap moment di ujung-ujung ingatan kita.

Dahulu di tempat ini saya sering kali berkumpul bersama kawan, dalam berbagai kegiatan atau bahkan ketika harus menyendiri. Memesan kopi dan melahap beberapa gorengan ‘dingin’, dari membicarakan beberapa mixtape hiphop terbaik di akhir tahun, buku-buku yang kami pinjam dari kawan langganan Ultimus, hingga menertawakan kesompralan hidup kami. Ya, 3-4 tahun yang lalu adalah masa-masa jingga kami, masa-masa kala itu semua tak ada garis kanan atau kiri, tak ada batasan, yang ada hanyalah saling menjaga punggung dan merangkul tangan kawan di hadapan mocong senjata maka kami saling berdekapan. Meski masa-masa itu mungkin takkan kami jalani lagi di hari ini, tapi kenangan apa yang pernah terjadi mungkin akan selamanya hidup di stasiun ini sebagai totem yang takkan mungkin lenyap.

Di tempat stasiun ini dulu ada seorang pemuda yang biasa menemani saya yang saya kenal, beberapa kawan-pun mengenalnya. Saking mengenalnya kami sering mengajak ia ikut bergabung dalam beberapa aktifitas yang biasa kami rangkum di stasiun ini sebagai basecamp.

Adalah Baedowi, seorang pemuda penjual kopi asongan yang biasa berdagang di stasiun ini. Ia tinggal memang tidak jauh dari stasiun ini, lebih tepatnya dibelakang stasiun. Saya sering kali memesan secangkir atau dua cangkir kopi padanya, bahkan mungkin memang selalu pada dia saya memesan, namun jika ia Absen ‘kerja’ itu memaksa saya untuk memesan kepada yang lain.

Baedowi hanya pemuda tanggung seperti saya, seperti remaja umumnya. Bedanya pada saat itu hanyalah pada cara hidup yang kami jalani, mungkin. Ia putus sekolah, hanya mengecap pendidikan sampai 2 SMP saja karena faktor ekonomi dan harga pendidikan yang melambung tinggi. (persetan wajib belajar 12 tahun! persetan pula mencerdaskan kehidupan bangsa!) dan menghabiskan waktunya ketika itu dengan berdagang kopi asongan, ikut membiayai kebutuhan dapur rumahnya, karena Ayahnya hanyalah buruh tani penggarap lahan orang lain, sedangkan Ibunya hanya buruh cuci keliling di pagi hari. Sedangkan dalam keluarga Bae (begitu biasa kami menyapanya), ia adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Ia harus ikut bekerja demi menyumbang sisa-sisa nyawa keluarga demi adik-adiknya. Ia tak mau adiknya memiliki nasib yang sama atau bahkan lebih buruk darinya, maka ia berjuang keras mengangkat punggungnya lebih tegap demi melanjutkan keberlangsungan kebutuhan adik-adiknya.

Tak ada yang istimewa bagaimana nasib mempertemukan dan memperkenalkan saya pada Bae, hanya sebatas pelanggan dan penjual. Namun intensitas kami berkegiatan di stasiun ini lah membuat kami jadi saling mengenal, mencuri-curi waktu untuk bercakap-cakap. Bae pemuda yang hebat dan cerdas menurut saya, ia menjalani sebagian hidupnya sebagai penjuang kelas bawah dimana usianya yang masih terbilang sangatlah muda. Lantas dari mana saya tahu bahwa ia cerdas? kalian bisa tersenyum atau tertawa jika saya menceritakan ini.

Pernah di suatu malam sebelum stasiun hendak tutup, saya dan beberapa kawan berkumpul, membahas beberapa kegiatan yang harus kami rangkum. Beberapa diantara kami memesan kopi dan mereka saling membawa buku kegemaran mereka masing-masing. Lalu Bae ikut berkumpul dan ia melihat buku yang sedang dibaca kawan. Lantas ia bertanya dan ingin tahu apa buku itu, maka teman saya memberikannya secara cuma-cuma kepada Bae dan ia menyuruh Bae untuk membaca buku itu sampai habis. Buku yang diberikan teman saya merupakan buku Filsafat yang sebenarnya agak berat bacaannya. Itu adalah ‘Bersabdalah Zarathustra’ milik Nietzsche.

Beberapa minggu terlewati sejak malam itu, saya-pun bermain ke stasiun lagi, tapi kali ini hanya sekedar menyendiri saja dan menikmati suasana stasiun di sore hari. Seperti biasa saya memesan kopi kepada Bae dan membeli beberapa gorengan dingin. Niat hanya ingin menyendiri namun Bae duduk disebelah saya dan dia mulai berbicara mengenai buku yang ia baca dari teman saya ketika malam itu. Tak mungkin saya menghindari, karena saya-pun justru tenggelam dan terjebak hingga merasa asyik dengan perbincangan waktu itu. Beberapa selaan, beberapa definisi, hingga pola pikir-pun kami sematkan. Ibarat dalam pencarian jawaban, kami bagai seorang Musafir yang sedang berada dalam padang pasir dan haus untuk mencari OASIS, begitu ingin, begitu berhasrat untuk mencari-cari lagi perihal kebenaran pada Zarathustra.

Luar biasa. Hanya itu yang saya dapat setelah banyak berbicara dengan Bae mengenai buku Nietzsche. Seolah-olah ia hafal betul apa yang telah ia baca, hampir segala sisi ia lahap hingga tuntas. Rasa keherananpun muncul dalam otak saya, mengapa Bae harus tumbang di pendidikannya yang begitu (maaf) rendah. 2 SMP. Saya berpikir Bae memang layak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun itulah hidup, Ia tidak diciptakan untuk menyenangkan dan berlaku adil pada semua pihak.

Setelah pertemuan itu kami akhirnya saling meminjamkan buku, namun yang luar biasanya lagi adalah Bae ternyata sering berburu buku semacam ini setelah membaca karya Nietzscche. Dari Lenin, Trotsky, Ali Asgar, Samuel Huntington, hingga Gramsci. Seperti biasa dia punya cara membuat saya keheranan, ia pun Khatam dengan semua itu, bukan hanya Khatam namun seolah ia begitu paham betul jiwa-jiwa pada buku-buku tersebut, seolah-olah ada penggambaran ia telah mendewai semua nyawa dalam kalam-kalamnya. Ada rasa yang sulit dipercaya namun takjub jika harus melacak balik siapa Baedowi yang notabene-nya hanya lulusan 2 SMP.

Hubungan Bae dengan nasibnya memanglah unik, seolah-olah ia menolak untuk diasingkan takdir, maka ia melawannya dengan menjadi semacam pribadi yang seunik mungkin. Begitu banyak kesempatan yang dia habiskan pada hidupnya menjadi individu luar biasa, dari mematangkan daganganya di pagi hari, menjadi kakak yang hebat, hingga menjadi penyair mabuk tentang kehidupan di malam hari. Di kala kehidupan di kendalikan oleh para pemasang saham, di kala sulit menentukan hidup untuk memilah-milih mana yang namanya Industri mana yang namanya Sodomi. Baedowi berdiri tegap dengan kesederhanaanya menjadi pribadi yang jujur, apa adanya. Ia menjalani hidupnya dari hari ke hari, dari mil per mil. Menikmatinya sebagai petualangan tanpa arah, membiarkan kesompralan dunia sebagai kompas yang membawanya, namun berniat pula menantangnya.

Namun dari semua itu, Baedowi hanyalah pribadi manusia biasa. Tentu ada waktu dimana ia harus mengistirahatkan dirinya, berhenti sejenak, membakar rokok kreteknya dan menenggak satu atau dua botol yang setiap malam ia cekik dan tenggak. Mengutuk malam tentunya.

Pasca 2011, semenjak Tragedi penggusuran tanah oleh PT.KAI di belakang stasiun saya sudah tak lagi bertemu dengan Baedowi, banyak yang bilang ia diculik lalu terbunuh karena melakukan perlawanan, namun ada pula yang mengatakan ia pulang ke Madiun, adapula yang bilang ia masuk pesantren disalah-satu pesantren Jawa-timur, bahkan ada yang sampai sompralnya mengatakan bahwa Baedowi direkrut polisi dan menjadi intelijen mereka (untuk yang satu ini akan saya anggap sebagai anekdot saja). Meski apapun itu Baedowi sekarang, saya akan mengingatnya sebagai Manusia Super dari Stasiun Pasar Anyar.

Sudah lama saya tak lagi menghabiskan waktu di stasiun ini. Perlahan kenangan tentang Bae, banyak atau dikit tak lagi saya rampung teringat. Meski demikian memoar Baedowi sebagai penjual Kopi, sebagai kawan lama takkan mungkin redup dengan mudah. Mungkin ada masa di mana saya harus kembali lagi bertapa di stasiun ini, sengaja menelantarkan diri dan terjebak ketika hujan, lalu memesan kopi hangat untuk mengingat momentum apapula yang pernah ada di tempat ini dan memasangnya sebagai marka pengingat untuk menjaga kewarasan-kewarasan saya di samping kegilaan ditengah kesibukan kota.

Meski masa-masa itu mungkin takkan kami jalani lagi di hari ini, tapi kenangan apa yang pernah terjadi mungkin akan selamanya hidup di stasiun ini sebagai totem yang takkan mungkin lenyap.

TULISAN INI SAYA DEDIKASIKAN UNTUK KAWAN-KAWAN LAMA DAN KHUSUSNYA BAEDOWI.

Source : Manusia Super dari Stasiun Pasar Anyar

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

2 Comments

  1. lintang -  January 27, 2015 - 7:17 am

    Kayaknya kenal nih siapa yang nulis

    Mbak kenal sama kang herry “morgue vanguard” sutresna?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *