Malala, Sudah Kenal?

No Comment
Malala, Sudah Kenal?

 

Kalau kamu mengikuti berita, tentunya kamu sudah mengenal Malala Yousafzai sebagai pemenang nobel termuda dalam sejarah. Di usianya yakni 17 tahun, Ia memenangkan nobel perdamaian. Wow!!!!

Jadi mikir memang, bukan karena dia memenangkan nobel perdamaian ini yang membuat Malala ini WOW banget. Dan juga bukan karena Ia memenangkannya di usia yang sangat muda. Tetapi kalau ada beberapa hal yang bisa kita patut contoh dari Malala, yaitu:

1. Seberapa kita sangat percaya terhadap sesuatu dan berani memperjuangkannya.

Karena jujur saja. Most of us hidup cukup nyaman dan merasa hal-hal yang kurang menyenangkan di sekitar kita itu bukan tanggung jawab kita. Macet? Bukan tanggung jawab kita. Sampah dimana-mana? Bukan tanggung jawab kita. Masih banyak orang di Indonesia yang masih hidup dibawah batas kemiskinan? Bukan tanggung jawab kita. Pendidikan kita jelek? Cukup komplain saja. Malala berbeda. Dia menjadikan ‘masalah’ ini menjadi tanggung jawabnya.

Pertanyaan untuk kita adalah: Apa yang kamu sangat percayai/inginkan dan kemudian memperjuangkannya?

 

2. Menyuarakan pendapat dan pikiran dengan positif.

Yang diceritakan Malala bukan lalu complain dan menghakimi Taliban. Ia pun kemudian tidak menjadi bitter dan memaki-maki Taliban. Ia pun tidak demo dan menggunakan kekerasan. Ia bisa dengan positif menyuarakan pikirannya dan menjadi suara anak-anak di negaranya.

Pertanyaan untuk kita adalah: Sudahkah kamu menyuarakan pendapat dan pikiranmu dengan positif? Atau masih mudah komplain dan mengkritik?

 

3. Dampak terjadi bukan karena kita menginginkan dampak yang besar, tetapi sejauh mana kita sudah mengikuti hati nurani.

Malala tidak pernah punya mimpi untuk bisa menginspirasi orang banyak dan memberikan dampak besar di dunia — sampai membuat seluruh dunia bangkit. Yang Ia lakukan adalah cukup mengikuti hati nuraninya setiap hari, terlepas dari apa yang orang lain katakan. Dan untuk bisa jujur ke diri sendiri ini yang menjadikannya Ia sangat berani.

Pertanyaan untuk kita adalah: Sejauh mana kamu sudah jujur ke diri sendiri? Melakukan sesuatu bukan karena orang lain tetapi karena suara hatimu?

 

4. Mengubah musibah menjadi berkah.

Again. Ini topik yang terus muncul di orang-orang yang menginspirasi. Mereka jago banget turn anything into something good. Dan ini lebih dari sekedar optimis dan positive thinking.

Pertanyaan untuk kita adalah: Setiap kali ada musibah/masalah, tanyakan “Bagaimana gue bisa mengubah ini menjadi sesuatu yang baik?”

 

Kamu belajar apa dari Malala?

Berikut sedikit latar belakang tentang Malala dari selasar.com untuk kamu-kamu yang belum ter-up-to-date 🙂

Hari ini, dunia mengenal Malala Yousafzai sebagai pemenang nobel termuda dalam sejarah. Bersama pejuang hak asasi manusia asal India Kailash Satyarthi, Malala menerima nobel perdamaian ketika usianya masih sangat muda, yakni 17 tahun. Siapa sesungguhnya Malala ini?

Cerita tentang Malala dimulai pada 2009, di sebuah lembah di wilayah Pakistan yang dahulu merupakan daerah tujuan wisata yang terkenal, Lembah Swat. Di bawah kekuasaan Taliban, pendidikan bagi anak-anak perempuan menjadi sesuatu yang terlarang di Lembah Swat. Taliban menganggap hal tersebut bertentangan dengan ajaran islam (meskipun di kemudian hari mereka membantah melalui publikasi sebuah surat terbuka pada Juli 2013 lalu).

Malala kemudian menuliskan kisahnya dalam sebuah buku harian. Ia menggambarkan bagaimana Taliban melarang anak-anak perempuan untuk bersekolah. Kejadian yang dialami ini mempengaruhi kehidupan sang penulis dan teman-teman sekelasnya.

Tulisan-tulisan tersebut untuk pertama kalinya dipublikasikan secara daring dalam situs BBC versi Bahasa Urdu oleh sang penulis dengan menggunakan nama samaran “Gul Makai”. Tulisan yang sama juga kemudian terbit melalui surat kabar lokal.

Pemerintah Pakistan, yang ketika itu sedang terlibat perang sipil untuk memusnahkan kekuasaan Taliban, memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan Malala. Perdana Menteri Yousuf Raza Gilani menganugerahinya National Peace Award Pakistan, dan menganggap Malala sebagai inspirator terhadap perjuangan anti-Taliban.

Malala kemudian menjadi semakin aktif memperjuangkan hak-hak anak perempuan di Pakistan untuk menempuh pendidikan. Seperti yang dilansir oleh The Guardian, ia bahkan berniat untuk terlibat aktif dalam politik dan mendirikan sekolah sendiri guna mendukung perjuangannya.

Segera saja Malala yang pada saat itu masih seorang gadis remaja 12 tahun, menjadi salah satu musuh terbesar Taliban di Pakistan. Pada Oktober 2012, seorang anggota Taliban naik ke bus yang ditumpangi Malala sepulang sekolah dan menembaknya tepat di bagian belakang kepala.

Tapi tidak seperti perkiraan sang penembak, hari naas itu ternyata bukan akhir kisah Malala. Setelah melalui proses pemulihan yang panjang, Malala berhasil bertahan hidup tanpa mengalami kerusakan otak atau syaraf yang serius. Lebih dari mempertahankan hidupnya, Malala juga kemudian mempertahankan perjuangannya. Ia bersuara bahkan lebih keras dari sebelumnya.

Pada 2012, Majalah Time menobatkan Malala menjadi salah satu runner-up dalam daftar person of the year bersama Tim Cook, Fabiola Gianotti, dan Mohamed Morsi. Tahun lalu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-16, Malala berpidato di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang pentingnya pendidikan serta bagaimana hal tersebut masih menjadi persoalan di berbagai belahan dunia. Minggu lalu, ia menjadi pemenang nobel perdamaian. Sejarah kini akan mencatat nama Malala bersama nama-nama seperti Martin Luther King Jr., dan Bunda Teresa.

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *