Life Priority

3 Comments
Life Priority

 

Halo semua, apa kabar?

Kami paling suka kalau buka email dan menemukan sharing cerita dari kamu-kamu. Dan ini salah satu sharing dari teman kita Theo (@ardhiantohp). Cerita ini sebenarnya ada di dalam time managementnya Steven Covey di 7 Habits of Highly Effective People. Di sini, sharing Theo mengingatkan kita saja… Apa sih sebenarnya yang paling penting dalam hidup ini? Atau kita hanya sibuk tanpa alasan? Atau malah sok sibuk? Atau menjadikan sibuk sebagai alasan?

—–

Ada yang pernah dengar cerita tentang seorang profesor filsafat yang ngajar kuliah pake toples, bola-bola golf, sebuah kotak berisi beberapa butir kelereng, sekantong pasir, dan dua gelas kopi? Gue udah. Buat gue sendiri, cerita itu bener-bener membekas dan akan terus gue inget, apalagi ketika gue ngrasa dibikin K.O. ama masalah hidup. For you who haven’t heard or read it, here is the story:

“Seorang profesor berdiri di depan kelas filsafat yang ia ajar. Di atas meja profesor itu ada sebuah toples, gak terlalu gede dan gak terlalu kecil. Di samping toples itu ada beberapa bola golf, sebuah kotak berisi beberapa butir kelereng, dan sekantong pasir.

Si Profesor bertanya ke para mahasiswanya,“Menurut kalian, bisakah semua barang yang ada di atas meja saya ini masuk ke dalam toples?”

Tidak berapa lama ada seorang mahasiswa yang menjawab,”Mustahil, barang-barang itu telalu banyak, toples yang Anda bawa terlalu kecil Prof!”

Sambil tersenyum kecil, Si Profesor kemudian mulai memasukkan bola-bola golf ke dalam toples. Ia bertanya ke mahasiswanya,”Apakah toples ini sudah penuh? Mahasiswanya serempak menjawab,”Sudah!” Kemudian Si Profesor mengambil sekotak kelereng dan mulai memasukkannya ke dalam toples. Ia menggoyang-goyangkan sedikit toplesnya sehingga kelereng-kelereng itu mulai bergerak turun mencari tempat kosong. Mahasiswanya mulai heran. Si Profesor bertanya kembali,”Apakah toples ini sudah penuh?” Kali ini, dengan suara yang agak ragu-ragu, beberapa mahasiswa menjawab,”Sudah.” Si Profesor kembali tersenyum kecil, ia mengambil kantong pasir di atas meja dan menuangkannya ke dalam toples. Ia goyang-goyangkan sedikit toples tersebut. Dengan sendirinya, pasir bergerak memenuhi tempat-tempat kosong di sela bola golf dan kelereng. Ada seorang mahasiswa yang spontan mengatakan,”Nah! Sekarang saya yakin toples itu sudah penuh!” Seluruh isi kelas tertawa. Profesor hanya tertawa kecil. Ia kemudian mengambil dua cangkir kopi dari bawah mejanya. Ia menuangkan satu cangkir kopi ke dalam toples itu, dan otomatis, seluruh isi toples terendam oleh kopi. Para mahasiswanya terdiam, mereka sedikit bingung dengan maksud dari profesor.

Ketika kelas mulai sunyi, Si Profesor berkata,”Saya ingin kalian menganggap toples ini sebagai hidup yang sedang kalian jalani. Bola-bola golf mewakili hal-hal paling penting di dalam hidup kalian: keluarga, teman karib, anak, kesehatan kalian, hal-hal yang paling kalian cintai, hal-hal yang akan tetap mengisi hidup kalian ketika hal-hal yang lainnya hilang. Kelereng adalah hal-hal lain yang sifatnya menunjang kehidupan kalian: pekerjaan, rumah, mobil. Bagaimana dengan pasir? It is everything else – the small stuffs.

Jika kalian menuangkan pasir terlebih dulu ke dalam toples, toplesnya akan langsung penuh, bola-bola golf dan kelereng akan kehabisan tempat. Begitu juga dengan hidup kalian. Jika kalian sibuk menghabiskan waktu dan energi untuk “the small stuffs”, kalian tidak akan sempat mengurus hal-hal yang paling penting dalam hidup kalian.”

The very first time I read this story, it felt like I was hit by Chris John! Gue sering banget ngeluh tentang hal-hal kecil, gue kurang peduli ama orang-orang di sekitar gue. To me, that story is like a revelation. It is about life priority. Akan selalu ada waktu untuk pergi bekerja, membersihkan rumah, membuang sampah, servis kendaraan, atau sekedar acara makan-makan. Tapi kadang kita, atau mungkin gue doang, lupa kalo seharusnya kita urus dulu hal-hal penting di hidup kita. Ngobrollah dengan orang tua kita, anak-anak kita, cek kesehatan kita secara rutin, dengerin curhat dari temen karib kita, atau sekedar nglakuin sesuatu yang paling kita sukai yang bikin kita ngrasa istilahnya “hidup kembali”. Kita urus dulu bola-bola golf kita, tentuin prioritas kita. Hal kecil lainnya? They will just fall into their own placesJ

Oiya, di akhir diskusi tadi, ada seorang mahasiswa yang bertanya ke profesor, ”Profesor, tadi Anda mengambil dua cangkir kopi, tapi hanya menuangkan satu cangkir ke dalam toples, bisa Anda jelaskan maksudnya?” Berikut jawaban dari Si Profesor, dan ini bagian favorit gue. Si Profesor meminum satu tegukkan dari secangkir kopi yang tersisa di atas meja, ia tersenyum kecil, kemudian ia menjawab:

“I’m glad you asked. It just goes to show you that no matter how full your life may seem, there’s always a room for a cup of coffee.”

 

Cheer up comrades!  🙂

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

3 Comments

  1. edhi -  September 26, 2014 - 1:45 pm

    Usul dong team the unlearn, mungkin ada icon di setiap artikel untuk share (twitter, tumblr, facebook dll..) sangat disayangkan kalau hal2 yg bagus dan inspiratif gak bisa dishare 🙂

    • edhi -  September 26, 2014 - 1:53 pm

      eh ternyata udah ada ding

      • The Unlearn -  September 29, 2014 - 9:19 am

        Hahaha. Km lucu deh. Thank you inputnya ya. Memang siih, kalau diliat via HP ga keliatan link-nya. Cb nnt kita coba pikirin enaknya gimana. Ada ide lain kah?

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *