ARTICLES Inspiration Self & Growth

KW atau Original?

April 6, 2014

 

‘Tips membedakan tas KW SUPER GRADE AAA dengan KW Biasa.’ Ini adalah judul sebuah artikel yang saya temukan di internet, ketika saya mencoba mencari apa sebenarnya arti KW itu. Yang saya temukan malah berbagai situs yang menjual tas super premium atau replika, lengkap dengan tips-tips bagaimana membedakannya dan merawatnya.

Teori supply vs. demand pun jadi teringat kembali, apakah mungkin sebanyak itu yang menginginkan produk-produk replika ini sehingga baik di Trade Centers, pasar, pinggir jalan maupun internet pun banyak yang menyediakannya? Apakah demi sebuah fashion statement, kita rela dengan replika? Menjadi replika? Rela untuk kelihatan lebih keren walau kita sendiri tahu itu palsu? Atau kebalikannya, demi sebuah fashion statement, kita rela berhutang dan menghabiskan simpanan kita?

it takes courage to be authenticKalau tas-tas replika itu bisa berbicara, I wonder what they would say.

  • Sebenarnya sih saya tidak mau jadi replika, tapi apa boleh buat. Kan saya tidak punya kuasa dalam membuatnya.
  • Kalo gue sih bangga, mendingan jadi replika dibandingkan gak bermerek sama sekali. At least gue dikenal.
  •  Jujur gue malu. Apalagi kalau ketemu yang asli. Dia ga ngomong apa-apa sih, hanya tersenyum simpul. Malah ramah dan menyapa saya. Tapi saya yang malah ingin sembunyi.
  • Saya cuek. Walau replika, banyak yang mau kan? Yang penting kan laku. Jadi bisa membantu si penjual juga.

I wonder what I would say if I were a KW. Am I a KW? Or am I an original? Jujur, I’m not so sure.

Lebih mudah menjadi KW dibandingkan menjadi Original. Karena lebih mudah mendengarkan orang lain dibandingkan mendengarkan diri sendiri. Terlebih kalau kita tinggal di Indonesia, apalagi Jakarta. Suara-suara tidak hanya muncul di kepala kita sendiri tetapi juga di sekeliling kita. Suara-suara seperti apa?

  • “Aduuh, kamu hitam sekali. Makanya jangan sok suka berjemur ah.” Karena perempuan yang cantik adalah perempuan yang memiliki rambut panjang dengan kulit putih bening.
  • “Kamu gemukan ya?’ Karena lebih baik  menjadi kurus dan tidak berotot
  • “Makanya, sekolah itu jangan tinggi-tinggi, nanti susah mendapatkan jodoh.” Dan ini pun dikomunikasikan di acara pernikahan saudara.
  • “Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan?”
  • “Jadi perempuan tidak baik pulang malam-malam, nanti apa kata tetangga.”
  • “Eh lihat deh, dia pakai baju yang itu lagi. Padahal kan itu sudah pernah dipakai sebelumnya.”
  • “Gue dong ada di edisi Tatler bulan ini.”
  • “Apa? Berhenti dari Bank untuk kerja di NGO? Kan karir kamu sudah bagus sekali.”

So many voices, perceptions, expectations, sehingga kita pun lupa untuk bertanya, what is it that actually matters most?

Premium Brand is based on Values.  Do you know, Louis Vuitton tidak pernah memberikan sale untuk barang-barang yang sudah tidak dipasarkan lagi. Semua produk yang belum terjual akan ditarik kembali ke pabrik untuk kemudian dihancurkan. This is what I love about premium brands, the philosophy behind the product. Yang terlihat di kita memang harga, kualitas dan brand-nya. Tetapi semua itu ternyata dibentuk dari values. Our values are what makes us premium, terutama sebagai manusia.

Premium Brand will not jeopardize its Price, Quality and Image. Mudah menilai barang dari harga, kualitas dan image. Tetapi untuk sesama manusia, bagaimana mengukurnya?

  • Apa yang membuat diri kita berharga? Apakah seberapa mahal barang-barang yang kita kenakan, latar belakang kita, seberapa tinggi pendidikan kita, seberapa bonafit pekerjaan kita? Atau seberapa kita sudah bermanfaat untuk orang lain ataupun seberapa kuat prinsip hidup yang kita pegang?
  • Kualitas-kualitas apa yang kita miliki? Tidak hanya sekedar kuat, pintar dan berpengalaman tetapi juga seberapa itu dirasakan oleh orang lain?
  • Bukan hanya sekedar seberapa terkenalnya kita, tetapi kita dikenal sebagai apa? Bagaimana kita selalu konsisten dengan values dan reputasi kita?

Being premium has nothing to do with being famous. Ini yang saya rasakan ketika saya melihat tas buatan Eyang. Yang kalau dinilai dari ‘harga’, seperti tidak ada harganya. Kalau kualitas, juga bukan jahitan yang terbaik. Dari image, tidak ada mereknya sama sekali. Tetapi saya merasa tas ini lebih berharga dibandingkan tas-tas bermerek yang saya miliki. Why? Mungkin karena ini adalah tas satu-satunya peninggalan Eyang. Mungkin karena saya tahu banyaknya cinta yang dituangkan Eyang dalam tas ini. Mungkin karena saya bangga punya Eyang yang kreatif. It’s an original. She is an original, because she gives meaning to my life.

… and so I learn. Not to be KW, but to be Premium. Like my Grandmother. By knowing my VOICE.

V – To learn to trust myself by living my VALUES. To feel really safe in my own skin. Untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain. Untuk memahami apa yang membuat diri saya berharga dan menarik. Untuk menerima hal-hal yang menjadi kelemahan diri. Untuk tahu nilai-nilai yang akan selalu pegang teguh. Untuk berani bertanya “what would the best version of me do?”

O – To express my ORIGINAL VOICE. Nyaman untuk mengutarakan isi pikiran dan hati. Tidak hanya seputar setuju dan tidak setuju, tetapi juga apa yang menjadi concern bagi diri kita, apa yang paling penting untuk diri dan sekitar. Untuk mengekspresikan diri tidak hanya via kata-kata, tetapi juga perilaku, karya dan juga fashion 😉

I – To know who I am and what I stand for. Apa yang saya suka, apa yang saya tidak suka. Apa yang menggerakkan saya. Apa yang menjadi concern saya. Apa yang saya representasikan. Apa yang menjadi my true brand, dan kemudian mengekspresikannya secara konsisten dan kongruen.

C – To be COURAGEOUS to be me (not only when convenient). Berani menjadi berbeda, berani diktritik, berani untuk kalah dan lemah, berani untuk melakukan sesuatu yang baru, berani untuk bereksperimen, berani untuk membuat kesalahan. Because then I really learn to be me.

E – To show my EXCELLENCE, my best. Bukan karena ingin menjadi yang terbaik (even though that’s nice too), tetapi karena ingin mengekspresikan kualitas yang ada dalam diri. Karena ingin bermanfaat untuk orang lain. Karena tidak ingin menjadi KW.

And so my friend, memandangi tas-tas yang berjejer di lemari, dari yang bermerek dan yang tidak, dari yang paling mahal sampai yang Rp. 50.000,-, dari yang paling baru sampai yang paling lama, I’m thankful I get to learn from them. Bahwa bukan hanya tas bermerek yang merupakan sebuah fashion statement, but I am also a fashion statement.

    Leave a Reply