Kita Pantas Punya Pemimpin Cupu

No Comment

 

Artikel yang satu ini sempat di share di Facebook oleh salah satu teman kita Senri, yang ditulis oleh Rima Olivia (@rima_olivia) di kompasiana.com yang ketika saya baca berasa seperti abis ditampar-tampar dan membuat refleksi diri. Coba deh kamu baca dan share efeknya di kamu seperti apa? 🙂

Enjoy!

————————-

rima oliviaPemilu legislatif semakin dekat. Selain jalanan penuh dengan tempelan wajah-wajah caleg. Di media-media online, timeline twitter, penuh dengan status cacian, keluhan sindiran, tentang caleg capres yang menurut mereka, “nggak banget.” Saya pun, dalam hati, mungkin terbentuk opini oleh media, juga berpendapat demikian.

Latar belakang caleg dengan pekerjaannya semacam tukang parkir, tambal ban (dengan segala hormat pada profesi yang dijalaninya) sulit dibayangkan akan memperjuangkan kepentingan saya, mempelajari pasal demi pasal untuk kepentingan Negara dan bangsa. Yang incumbent? Bagaimana bisa meyakinkan kita dengan rekam jejak absen yang kosong melompong itu?

Begitu pula capres dengan latar belakang yang .. ah sudah lah.

 

Tulisan ini diniatkan untuk menggairahkan semangat menyumbang kebaikan dan berorientasi tindakan. Jadi, sebelum berubah menjadi jurnal keluhan maka, mari kita lihat ‘salah siapa’ dengan stok (calon) pemimpin yang minim itu.

Orang bijak berkata, kita tidak diberi masalah secara random oleh Tuhan. Pemimpin yang baik itu juga rejeki. Rejeki kita pun tidak mungkin tertukar. Rejeki kita, adalah hasil kerja kita, adalah hasil usaha kita, adalah dampak dari perbuatan-perbuatan kita.

Jadi, kalau kita memang mendapat pemimpin yang cupu, mendapat pemimpin yang tidak jujur, cek ke dalam deh, apa sih yang sudah saya perbuat? Bersediakah kita introspeksi, dosa kolektif apa yang telah kita perbuat sehingga kita layak dihadiahi pemimpin yang cupu, yang egois, yang mudah menipu, yang pesolek, sulit ambil keputusan, pemarah dan semua karakter buruknya.

Apa yang kita lihat di luar, adalah cerminan dari apa yang ada dalam diri kita.

Ya, saya tahu, “Kok salah saya? Salah teman-teman dan keluarga saya?”

Well, iya.

Sebelum lebih jauh mari kita periksa ke dalam. Apakah kita juga menjadi pemimpin yang baik bagi rekan-rekan kita? Apakah kita senantiasa melayani, menjadi teman dengan orientasi solusi, menjadi pelopor perubahan? Betah mengawasi kebijakan di lingkungan RT, RW, Kelurahan. Bicara Pemimpin dalam skala luas, yang kata kita gak becus itu, becus kah kita mengurusi sampah agar tidak jadi sebab banjir di sekitar rumah, menegur orang yang tidak mengantri? Memberi masukan pada ketua RT/RW dan seterusnya. Sepenjangkauan tangan kita saja. Sudahkah?

Kita pun cerminan dari pemimpin penipu dan cupu yang sering kita hujat di media sosial. Dalam hati kita pun, terlintas:”Asal bukan gue yang repot.”Gimana sih itu orang?” Pernahkah bertanya, dalam skala yang sangat kecil, berperan kah kita pada kejadian semacam itu? Setidaknya, pengabaian terhadap kecurangan yang terjadi di depan mata?

Di rumah Anda, apakah Anda orang yang melayani? Orang yang memperhatikan kebutuhan ‘rakyat kecil’ dan marjinal. Anak-anak misalnya, apakah mendapatkan haknya, berbicara dengan kehadiran penuh Anda tanpa kehadiran smartphone di genggaman? Apakah Orang tua Anda mendapatkan kunjungan dengan perhatian dan kasih sayang penuh dari Anda? Bagaimana pendidikan Asisten Rumah Tangga Anda? Anda memperhatikan pendidikan, kelangsungan kesehatan tetangga kanan kiri? Saya sih belum.

Lalu, dalam skala yang lebih kecil lagi. Bagaimana dengan dunia dalam kita? Apakah kita berhasil menjadi pemimpin bagi aspek-aspek diri kita? Apakah tangan, kaki, mata, telinga pikiran kita di bawah kendali penuh kita? Apakah kita terus saja dikuasai kebiasaan buruk sehingga berhenti melawan kebiasaan negatif diri sendiri masih gagal? Apakah kita sudah berhasil mengendalikan bagaimana rakyat kita bekerja tepat waktu, dengan tidak ngaret, tidak menunda, berorintasi solusi dan produktif.

Saudara, sampai di sini, pantas kah kita mengatakan: “Mana pemimpin?” sementara kita pun belum pantas jadi pemimpin kecil bagi diri kita, belum pantas mendapat pemimpin keren, berkharisma, bermartabat di depan bangsa lain, visioner, merakyat dan sejuta tuntutan tidak masuk akal dalam diri satu orang lainnya. Jadi tidak masuk akal, karena jauh dari kualitas diri kita sendiri. Bangsa yang pemalas dan egois ini, berharap dilayani, tetapi melayani anak, adik, rekan, atasan, orang tuanya saja belum.

Kita belum menciptakan pemimpin-pemimpin keren melalui anak-anak kita, menciptakan pemimpin visioner dalam diri asisten rumah tangga kita, pemimpin jujur dan merakyat dalam diri keponakan. Satu orang satu saja menciptakan pemimpin di rumahnya, maka suatu saat ketika Pemilu berlangsung, kita akan kesulitan mencari pemimpin best of the bests, bukan terbaik dari yang ada, atau bakan terbaik dari yang buruk. Dan lebih mengerikan lagi, best of the beasts.

Mari mulai dengan apa yang kita bisa, bukan yang apa yang kita harap kita bisa. Mulai sekarang, menjadi pemimpin bagi diri sendiri, bagi adik, kakak, teman, siapapun yang Anda temui. Kerja baik, akan dibalas baik, demikian semesta bekerja. Kerja masih sangat panjang memang. Lahirkan pemimpin baik. Sekarang.

 

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *