Kerja sampai mati vs. Kerja memicu hidup

No Comment
Kerja sampai mati vs. Kerja memicu hidup

 

Miris, sedih, marah mendengar cerita tentang Mita Diran, seorang copywriter muda, yang meninggal karena bekerja terlalu ‘keras’, seperti yang diceritakan di berita Kompas minggu lalu. Antara bekerja non-stop selama 30 jam, keinginan untuk terus berprestasi, ikutan diet OCD, sambil konsumsi minuman penambah energi, mudah untuk kita saling salah menyalahkan, tetapi, apa yang bisa kita pelajari bersama dari sini?

1. Make a living vs. Create a life.
Selama ini kita diharapkan untuk bisa ‘bekerja dengan baik’ tetapi jarang sekali kita belajar untuk ‘hidup dengan baik’ — hidup yang sehat dan happy yang akhirnya pun bisa lebih produktif dan berkontribusi. Seperti seumur hidup kita dipersiapkan untuk bisa bekerja dan bukan untuk bisa hidup. Make a living = bekerja tanpa mendengarkan rasa. Create a life = merasakan sehat dan kebahagiaan dalam berkarya.

2. Apa yang kita banggakan vs. Apa yang paling penting.
Kerja lama-lamaan? Lembur paling banyak? Prestasi? Ujung-ujungnya apa yang kamu banggakan? Apakah itu yang paling penting? Boleh bangga terhadap diri sendiri, diseimbangkan dengan kesadaran what matters most? Apakah kerja sudah menjadi hal yang paling penting? Really? Sering melihat profesional yang mengatakan keluarganya yang paling penting, tetapi berapa banyak quality time yang diluangkan untuk keluarga? Robin Sharma sering mengatakan, “Show me your schedule, and I’ll show you what your priorities are.

3. Work life balance = Are you taking care of you?
Akhir-akhir ini kita juga sering mendengar perdebatan tentang Work Life Balance dengan berbagai macam definisi dan tuntutan. Bagi saya simple. Apapun yang kita lakukan, apakah kita take care diri kita sendiri? Menjaga kesehatan fisik, mental dan emosional dalam prosesnya?

Kerja boleh keras. Hidup pun bisa terasa keras. Tetapi, apakah kita harus selalu “keras” untuk merasa hidup? Thank you Mita yang sudah mengingatkan kita semua dengan caramu sendiri.

Dari semua tweetnya Mita, ini favorit saya:

mita-tweet

Kamu belajar apa dari kisah teman kita Mita ini? Let’s talk about life. Let’s talk about HOW WE LIVE.

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *