Kalau ada masalah dengan teman, Harus melakukan apa?

No Comment
Kalau ada masalah dengan teman, Harus melakukan apa?

Halo Unlearners! πŸ™‚
Dapat email dari teman yang gak perlu disebut namanya,
Coba buat diskusi, bantu jawab dan kasih pendapatnya teman-teman ya, yuk!

======

Sebelumnya perkenalkan saya A. Seorang mahasiswi, Saya perantauan di Jakarta.

Selama kuliah saya cukup makan hati dengan lingkungan saya. Tidak, tetapi tidak tentang akademi. Melainkan tentang teman kos saya.

Kos pertama kali saya diisi oleh beberapa orang yang belum bisa menerima saya dengan alasan saya kotor, saya apalah apalah. Well, saya pikir alasan tersebut sangat klise, karena 3 dari penghuni kamar tersebut hanya saya lah selama 3 bulan yang memegang sapu dan pel sepanjang hari. Tidak lama dari situ saya di forum 8 lawan 1. Saya pikir hak mereka apa menilai saya? Toh saya pun bayar di kos itu.

Karena saya tidak sanggup, saya pindah ke sebuah kos kumuh namun itu hanya sekedar pelarian saya karena hampir seluruh kos disekitar kampus saya penuh.
Tidak lama kemudian teman saya sesama dari kampung halaman menawarkan saya untuk tinggal sementara dikosannya, karena ia tidak tega melihat saya dikosan kumuh tersebut. 2 minggu berselang, salah satu penghuni kosan teman saya pindah. Awalnya teman saya keberatan saya pindah ke sana menggantikan penghuni kos tersebut, alasannya takut berantem ketemu terus. Tapi saya meyakinkan nya terlebih saya sdh tidak kuat dikosan kumuh tersebut. Saya pindah ke kamar yang isinya berdua, kebetulan room mate saya teman sekelaas saya dikampus.

Hari-hari saya jalani dengan ceria, saya bahagia Tuhan mengirimkan saya teman satu kampung halaman yang sama-sama merantau di Jakarta. Sampai satu ketika teman sekamar saya harus pindah karena satu hal. Lalu saya sendiri dikamar tersebut. 1 bulan berganti, teman saya sebut saja bunga, mengalami sebuah musibah, dia berantem dengan satpam kost tersebut. dan ia berniat untuk pindah.

Saya bersama teman saya yg dari satu kampung halaman sama2 berniat membantu bunga untuk mencari kost yang terbaik. Pilihannya jatuh pada kosan yang memang saya akui memiliki fasilitas ala hotel. Namun, yang saya sayangkan penghuni kos tersebut rata2 anak2 yang kepribadiannya jauh berbeda, terlebih lagi ibu kost yang bawel karena bunga tipikal orang yang berani melawan.

Malam nya saya tawarkan ia sebuah kosan fasilitas hotel bintang 5 namun jauh dari kampus. Tidak lama dari situ, bapak bunga menelpon bahwasannya bapaknya Bunga mengancam ibu kost akan membunuh satpam penjaga kosannya dulu sehingga Ibu kost nya mengusirnya. Malam itu juga Bapaknya Bunga dengan Bunga janjian disatu tempat untuk membicarakannya. Akhirnya hasil keputusan Bapaknya Bunga menitipkan Bunga dikamar saya.

Namanya pertemanan saya dengan teman yang sama2 dr satu kampung sebut saja “L” itu pasti ada kurang sregnya, sampai satu ketika saya curhat tentang L ke Bunga. Tidak disangka seluruh curhatan saya akhirnya bocor ke L.Bunga berpendapat bahwasannya dia ingin “memperbaiki” saya dengan L. sampai detik ini saya dengan L tidak berteguran. Jika bertemu L membanting pintunya.

Jujur selama saya sekamar dengan Bunga. Saya selalu makan hati, mulai dari kesok tauan nya, sampai saya tidak bisa berkonsentrasi untuk belajar karena ia berisik sungguh diluar dugaan saya, dulu saya kira orangnya asik.

Dan yang lebih memuncakkan emosi saya, memang dia ingin kamar sendiri tidak berdua dengan saya maka saya membicarakan nya dengan tante kos saya mengenai harga. Alih2 kmrn dia BBM saya dan berkata “kmu blg sm tante km ga cocock sm saya?” padahal jelas2 tante kos saya hanya bertanya “kamu kenapa pindah? ga cocok?” hanya itu.

Pertanyaannya :

Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban dari teman-teman #theUnlearn:

Aristiwidya :

Seringkali kalau ada cerita begini dan gue gagal paham sih, dibanding gue kasih komen, gue malah kasih tugas. Hehe.


Sekarang kan si penulis ini menjadi “victim” dari cerita ya. Jadi, tantangannya adalah, bagaimana si penulis bisa mengganti ceritanya menjadi “pahlawannya”. Jadi kita melatih merubah posisi kita dari victim ke hero.
Caranya?
Menceritakan pembelajaran dari situasi tersebut. Kalau itu bisa diulang, apa yang bisa dilakukan berbeda?

Contoh:
“Selama kuliah awalnya cukup makan hati dengan teman kos. Tetapi di situ saya mendapat pelajaran yang penting.

Ketika mereka tidak menerima saya dengan alasan saya kotor, awalnya saya defensif, toh karena saya selalu megang sapu dan pel. Walau 8 lawan 1, gue cukup bangga ketika gue ga langsung menyerah tetapi bertanya langsung mereka kotornya itu dimana dan seperti apa.
Etc etc”
Yaaaa, kira2 gitu deh yaaaaaaaaaaa.

Dan, Seringkali kita denial aja tentang defensif. Tanda paling gampangnya itu kalo udah ngomong
“Dia kira dia siapa?”
“Gue gak gitu kok!!”
“Tau apa loe bisa ngomong gitu?!”
“Gue sakit hati.”
Beneran sakit hati atau egonya tersakiti? Itu sih yang selalu gue cek setiap gue merasa sakit hati.

Gimanaaa? Ada tambahan??????

 

Astra :

Nambahin dr sudut pandang gue masalahnya di relationship. Yang harus dilakukan ya berkomunikasilah kalian bertiga.

Sekian.

Hahahaha.. gampang kan..

Milady :

Dear A, saya mengerti perasaan A. Semoga diberi kesabaran yah.
sekarang gini aja, dari pada stres karna problem dg bunga, mending cari kosan lain dan jangan sekamar dg bunga-bunga lainnya, untuk menghindari resiko pertengkaran yang memakan banyak energ
i yang seharusnya bisa A alokasikan ke kegiatan lain yang manfaat. coba ingat tujuan awalmu ke Jkt, untuk apa?
jangan habisin waktu buat stres dg masalah yang sebenernya bisa kok dihindari. nah selama A sendiri, mungkin A jadi punya banyak waktu buat berfikir lebih jernih, to clean up your ego

Khoirina :

Aku setuju dengan jawabannya Mbak Astra,

Baru aja minggu lalu kena yang kayak beginian, terus di komunikasikan. Yaudah beres. Gampang kan? Hahaha

Kok bisa? gue awalnya minta maaf duluan sih. eh yang lain malah ikutan minta maaf juga.

Gue inget ketika Mbak Ika bilang di video perkenalan theUnlearn, “Dunia gak berubah kalo kita gak berubah.” Kenapa? ya disini awal masalahnya karena gue gak terima dengan temen gue ini ambil keputusan sendiri dan gak sesuai dengan yang udah disetujui bersama, karena kerjaan tim juga. Gue ngerasa gak dihargai, gue ngerasa gak dianggep. Daaaan itu hanya ego dan perasaan ternyata.
Hahahaha

Ya, itu akan jadi masalah kalau sikap kita tetap sama seperti yang kemarin.

Sebelum selesai perkara ada notifikasi dari 4greement di kaskus, karena gue subscribed threadnya.
Don’t make assumptions.
*Jedeeerrrrr*
mau mampus rasanya setelah baca itu lagi.

udah ah ceritanya, dijadikan pembelajaran aja πŸ™‚

Astra :

Nambahin aja buat A, janganlah masalah-masalah kaya gini dijadiin beban berat. Sebagai mantan anak kos, kejadian-kejadian yg kamu alami ini adalah pembelajaran menuju kedewasaan. Kamu berada di kota baru, tinggal terpisah dari keluarga, harus merasakan tinggal bersama orang-orang baru dengan berbagai karakter. Intinya belajar beradaptasi dan bertoleransi.

Memang ga semua orang menyenangkan. Tapi di lingkungan manapun nanti kamu juga bisa menghadapi yang seperti ini. Ya dengan pacar, ya teman kerja, dengan atasan.. yang namanya manusia rentan dengan kesalahpahaman, apalagi kalau memang cara berkomunikasinya juga tidak berjalan 2 arah.

Ketika kamu kurang sreg sama L, kenapa ngomongnya ke Bunga, bukan ke L? Ya sesederhana itu. Sekarang masalahnya sudah terjadi, ya ngobrol lah bertiga, sama-sama. Bukan untuk membela diri ya, ini nanti terkait dengan soal ego. Tujuan komunikasi adalah untuk memahami masalah dan mencari jalan keluar. Ga usah mikirin nantinya bakal dimaafin atau ga, hubungan kalian akan membaik atau ga, yang penting adalah ketemu dulu, supaya kamu juga ga misuh-misuh dibelakang.

Hubungan pertemanan kadang bisa membaik lagi, kadang tidak. Ini juga pembelajaran untuk menjadi lebih dewasa. Tapi, meskipun suatu hal tidak berjalan dengan baik, jangan pernah dendam. Dendam bisa muncul dari asumsi, dan dari perasaan menjadi “korban”. Tuntaskan dulu masalahnya, soal ke depan mau gimana ya lihat saja nanti. Meskipun tentu kami semua disini berharap semoga masalahnya terselesaikan dengan baik. Kamu juga lebih happy dengan teman-temanmu ya. Percaya deh, kalo kamu punya skill yang jago dalam hal conflict resolution atau resolusi konflik, ke depannya kamu bisa lebih luwes dalam menjalani kehidupan sosial. Dinikmati aja ya proses belajarnya πŸ™‚

Well, Jawabannya sudah banyak dari teman-teman theUnlearn. Sedikit tambahan untuk “A” agar lebih jelas dengan hal-hal yang disebutkan diatas, bisa baca beberapa post berikut :

Are you hero or a victim?
The Four Agreements
Cara terbaik menurunkan ego bagaimana ya?

======

Apa advise/perspektif/insight yang kamu bisa berikan untuk A?

Yuk bantu! langsung share di komentar ya πŸ™‚

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *