ARTICLES Life

Ini cerita tentang Ibu Dewi

December 11, 2014

Ini cerita tentang Ibu Dewi, yang namanya benar-benar mencerminkan karakternya. Dimana mendengarkan ceritanya membuat saya malu dan juga terinspirasi.

Ibu Dewi Gili Trawangan

 

 

Siang itu selagi fasilitasi diskusi di aula kantor Kepala Dusun Gili Trawangan, saya tergoda bau makan siang yang sudah tertata rapi di belakang. Angin semilir seperti menggoda perut yang keroncongan membuat saya semakin gak sabar untuk mencicipi satu per satu. Ada seorang Ibu yang berdiri di sebelah meja makan mengatur sendok garpu dan saya pun bertanya, “Ibu yang masak semua ini?” “Iya betul,” katanya. Sesederhana itu, saya tidak berpikir lebih tentang si Ibu sampai saya memakan masakannya. Dan oh my God, ga tau saya kelaparan atau makanannya memang enak banget. Sambelnya juara, sayur lokal seperti gado-gado tetapi tidak menggunakan saus kacang dan hanya santan bernama olah-olah dan rawonnya membuat saya ingin makan terus.

Malamnya seusai acara, kami menikmati makanannya lagi. Dan oh itu sambal ayam taliwangnya, membuat kami semakin jatuh cinta ke Ibu Dewi ini. Semakin jatuh cinta lagi ketika Ia sudah berberes-beres untuk pulang, Ia mengatakan “Besok sarapan di warung saya, gratis untuk semua ya!!” Ini Ibu ya, belum juga kenal kita satu hari, tetapi kok bisa Ia baik sekali ke kita semua?

Tentunya paginya kami gak sabar untuk mengunjungi Ibu Dewi di warungnya, yang ternyata Ia juga memiliki kios dan juga penyewaan sepeda. Tetapi, bukan itu yang membuat saya memeluk erat Ibu Dewi sebelum saya pamit pulang.

Ternyata Ibu Dewi itu salah satu orang yang paling gigih, positif, baik hati dan cekatan yang pernah saya temui.

“Saya pertama kali pindah ke gili itu tahun 1989 mbak. Dulu belum ada apa-apa di sini. Dulu sebelum punya warung ini saya sempat kerja sama orang sebentar lalu jualan nasi pecel di pantai hanya dengan membawa satu meja saja.”

Dan akhirnya sekarang dia memiliki Warung Dewi, kios dan penyewaan sepeda dan bisa menyekolahkan 2 anaknya sampai kuliah saat ini seorang diri. Yes, seorang diri.

“Saya sakit hati banget sama suami saya. Pas hamil anak ke dua dia malah meninggalkan kami. Ya mau gak mau saya harus berusaha sendiri sampai sekarang.” Dan dua anaknya pun yang bernama Dika dan Deta, Ia bisa sekolahkan sampai kuliah di pulau Jawa.

“Nama anak ke dua saya itu diambil dari nama ayah saya, karena saya ingat sekali malam Jumat itu pas lewat tahun baru bapak saya meninggal. Dan ga lama kemudian ketuban saya pecah. Jadi ya malam-malam saya bawa tas dan jalan sendiri ke puskesmas untuk langsung melahirkan. Paginya saya sudah pulang, karena mau ikut menguburkan bapak saya.”

“Tetapi saya beruntung mbak, kelahiran anak-anak saya itu mudah sekali. Saya cuma merasa pinggang saya sakit, lalu saya langsung saja ke puskesmas. Di sana bidannya bilang ini kepalanya sudah kelihatan. Langsung deh melahirkan gitu aja gak pake sakit.”

Ini momen pertama saya ingin memeluk Ibu Dewi. Tidak hanya saya tidak tahu rasanya kehilangan bapak di waktu yang sama melahirkan anak kedua, saya juga terpesona dengan kemandiriannya melahirkan anaknya sendiri. Dan Ia pun tidak pernah mengeluhkan keadaannya. Memang ya, selalu ada yang dimudahkan apapun yang terjadi.

“Saya waktu kecil ga punya waktu bermain mbak. Dari kecil selalu membantu ibu di dapur untuk memasak. Sampai kalau ada teman mengajak bermain saya suruh bantu motong-motong.” Pantesan masakannya enak sekali Ibunyaaaaa.

Kelihatan memang sambil ngobrol-ngobrol ini pikirannya tajam sekali. Ketika ditanya tentang harga sambal yang naik reaksinya adalah, “Waktu harga cabe masih 5000 per kilo saya beli banyak lalu saya keringkan, jadi sekarang membantu banget ketika harganya bisa sampai 100.000 per kilo.”

Terpelongo lah saya, seorang Ibu yang seorang diri mengelola usaha demi anak-anaknya ini sangat kritis pemikirannya.

Gak heran banyak orang yang sayang dengan Ibu Dewi ini. Beberapa foto dirinya dengan selebriti Indonesia pun terpampang di warungnya yang sederhana.

Saya belajar banyak dari Ibu Dewi ini. Seorang Ibu yang kualitas dewi-nya sangat terasa bagi kami yang berinteraksi dengannya. Bukan untuk di-dewi kan, tetapi bagaimana hidupnya telah menginspirasi kami semua.

“Yuk foto yuk bu!” kata salah satu teman kami. “Itu kopinya mbak Ika belum habis lho,” ucapnya penuh perhatian. Bagaimana saya tidak memeluk si Ibu ini. Semoga semua kegigigihan dan kebaikannya dibalas oleb yang kuasa, dan Ibu selalu sehat, sukses dan bahagia ya. Karena Ibu telah membuat kami sangat bahagia. Terimakasih Ibu Dewi.

PS. Kalau mau mampir ke Warung Ibu Dewi tinggal tanya saja dimana kantor Kepala Dusun, lalu tinggal jalan 10 langkah sampai deh. ┬áSekitar 5 menit jalan dari Pelabuhan ­čÖé

@aristiwidya

    Leave a Reply