How will you measure your life?

5 Comments

 

Bagaimana kamu mengukur hidup kamu? (Ih berat juga ya.)

Ketika masuk ke toko buku, buku ini benar-benar memanggil saya. How Will You Measure Your Life? yang ditulis oleh Clay Christensen. Kalau kamu baru lulus kuliah, atau hidup kamu terasa kurang fulfilling, atau merasa hidup kamu masih gini-gini saja, atau kurang bahagia dengan apa yang kamu lakukan sekarang, coba deh baca buku ini.

Oom Clay dengan pengalamannya mengajar di Harvard Business School menceritakan apa yang membuat perusahaan yang sukses menjadi gagal, dan kenapa kita dalam hidup cenderung ‘gagal’ juga.

how will you measure your life bookBerikut adalah hal-hal yang saya dapatkan dari membaca bukunya:

1.  Pursuit of Achievement.

Selama ini kita telah dididik untuk menggapai prestasi. Dan yang dimaksud dengan prestasi adalah “hal-hal yang memberikan bukti nyata yang tercepat.” Contohnya seperti: menang sesuatu, mendapatkan bonus, mendapatkan apresiasi, jabatan, sekolah di sekolah ternama ataupun bekerja di perusahaan yang prestis. Sayangnya, ini semua menjadi investasi jangaka pendek dan akhirnya kita melupakan investasi jangka panjang seperti keluarga, kebahagiaan ataupun karakter yang kuat.

Gak heran ketika saya bertanya kepada anak-anak semester 7 & 8 tentang arti SUKSES bagi mereka, kebanyakan memang menyatakan hal-hal seperti ini. Gak salah, hanya pertanyaannya, apakah itu hal-hal yang paling penting dalam hidup?

2. What would God measure?

Sering kali kita mengukur dari kaca mata orang lain, kaca mata perusahaan maupun kacamata orang-orang yang kita sayangi. Padahal, apakah Tuhan akan mengukur berapa banyak prestasi, harta, uang, power yang kita miliki? Karena di dunia ini, sering kali kita melihat orang-orang yang memiliki jabatan, harta dan kekuatan adalah orang-orang yang lebih ‘baik’ dari kita. Memang kita dikondisikan dari kecil sudah seperti ini. Ini menjadi hal yang agak aneh dalam cara berpikir kita.

Salah satu cara yang Oom Clay perkenalkan untuk mengukur hidupnya adalah:

“Bagaimana kamu telah membantu orang lain menjadikannya orang yang lebih baik?”

Nice one, Oom.

3. Purpose vs. Priorities

Sering kali kita membedakan antara Purpose dan Priorities. Sering kali kita juga mengatakan bahwa keluarga adalah prioritas kita, tetapi kita jarang meluangkan waktu yang berkualitas dengan mereka. Intinya adalah untuk menanyakan apa sebenarnya Purpose kita dan menyelaraskannya dengan Prioritas.

Bagi saya, Prioritas adalah hal-hal dimana kita telah menginvestasikan waktu dan tenaga kita. Dan Purpose adalah hal-hal yang paling penting untuk kita.

4. Sibuk vs. Dampak

Sering kita mengatakan bahwa kita “Sibuk.” Coba saja hitung dalam 1 minggu seberapa sering kamu mendengar atau mengatakan “Sibuk.” Intinya, kita semua punya hal-hal yang harus atau ingin kita lakukan, tetapi pertanyaannya adalah sejauh mana hal-hal yang kamu lakukan itu berdampak positif di kehidupanmu?

5. What we want rather than what is important to the other person.

Sering kita juga mengatakan “Saya ingin A, B, C, ….” Tetapi jarang kita menanyakan “Apa sih yang sebenarnya penting untuk orang lain?”

Paling gampang adalah ketika kerja, yang paling diinginkan adalah naik jabatan, naik gaji, bonus. Tetapi, pernahkah bertanya ke anak anda apa yang paling penting untuk mereka? Bisa sih, kamu argue bahwa uang lebih itu bisa untuk rumah yang lebih besar atau untuk liburan bersama dimana bisa lebih ada waktu berkualitas. Bahwa hidup itu akan lebih bermakna kalau uangnya. Really? Lebih mudah mungkin, tetapi lebih bermakna?

6. Who, not what, do you want to be?

Coba tanya ke diri kamu, bukan ingin jadi APA, tetapi ingin jadi orang yang seperti apa? Yang memiliki kualitas-kualitas seperti apa?

“You need to decide what kind of person you want to be and what you stand for – and how often you want to stand for it; not some of the time, not most of the time – but all the time.”

7. 3 Most Important Questions

Dalam kelasnya, Oom Clay menanyakan 3 pertanyaan ini ke murid-muridnya. Coba deh kamu tanyakan ke dirimu sendiri:

  • Can you explain why your life is the way it is today?
    Bisakah kamu menjelaskan kenapa hidup kamu itu saat ini seperti ini?
  • Can you predict what will happen in your life if you keep doing what you’re doing now?
    Bisakah kamu memprediksikan apa yang akan terjadi dalam hidupmu ke depannya kalau kamu terus melakukan apa yang kamu lakukan saat ini?
  • What do you need to change so that your life can be the life you hope to live?
    Apa yang sebaiknya kamu ubah agar hidupmu pun menjadi hidup yang kamu inginkan?

 

Thank you Oom Clay.

Jadi, what do you think?

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

5 Comments

  1. Senri -  January 9, 2014 - 11:38 pm

    Nice one Ika! Pertanyaan saya: Oom Clay ini mengajar mata kuliah apa sih? Seru juga kayaknya kalau punya dosen kayak dia ya 🙂

    Nah sekarang soal bagaimana mengukur hidup nih ya, kalau menurut saya, yang paling mendasar adalah sebaik apa saya mengenal dan menerima diri saya, lengkap dengan segala plus minusnya. Dengan mengenal dan menerima diri itu artinya kita sudah bisa jujur pada diri sendiri mengenai nilai-nilai apa yang penting untuk kita, yang paling bermakna untuk kita. Dan ternyata nggak mudah dan perlu proses lho untuk bisa (dan berani) jujur sama diri sendiri itu. Contoh sederhana: Di tengah budaya yang sebagian besar masyarakatnya mengukur sukses dengan benda-benda merk tertentu, bekerja di bidang-bidang tertentu, liburan ke tempat-tempat tertentu, makan di restoran-restoran tertentu dan seterusnya. Sejauh mana kita berani jujur kepada diri sendiri untuk tidak mengikuti ukuran-ukuran tersebut jika ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita? Mobil saya warnanya oranye, karena itu warna favorit saya, dengan merk yang tidak populer di Indonesia. Banyak orang bilang saya ngaco beli mobil seperti itu, tapi saya suka karena mobil itu ‘gue banget’. Contoh lainnya: Salah satu pos belanja saya yang terbesar adalah jalan-jalan, ke tempat-tempat yang bisa memberikan pengalaman unik untuk saya, misalnya tidur di luar tenda di tengah gurun sahara, beralas karpet Berber di bawah langit yang disinari cahaya bulan purnama. Disuruh tuker sama tidur di hotel bintang 5 di Paris juga saya belum tentu mau deh. Jangan salah ya, bukan berarti salah kalau ada teman-teman yang gemar koleksi barang-barang bermerk, sepanjang itu dilakukan karena dia memang suka. Kalau saya memang sampai sekarang belum bisa mengerti nikmatnya memakai tas yang harganya senilai rumah sangat sederhana. Buat saya tas ya tas aja, sepanjang fungsional, estetis dan nyaman dipakai ya sudah cukup baik untuk saya.

    Kenapa saya bilang bahwa mengenal dan menerima diri sendiri itu adalah ukuran yang paling mendasar? Karena jika kita sudah bisa melakukan hal itu, kita bisa memberi kontribusi yang maksimal untuk lingkungan kita. Coba bayangkan: orang yang hidupnya jujur terhadap nilai-nilai yang dia percayai pasti melakukan segala sesuatu yang dia lakukan dengan sepenuh hati, with passion gitu lho. You can not fake passion, that’s it. Segala sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati pastinya hasilnya juga baik 🙂

    Sepertinya komentar ini sudah terlalu panjang ya, jadi saya sudahi saja deh, hehehe…

    • The Unlearn Team -  January 12, 2014 - 5:11 pm

      OMG I love it Mbak Senriiiiiiii.

      Sama sekali gak kepanjangan malah dapat insight yang keren banget karena dapat 1 lagi hal dimana bisa mengukur hidup — “Seberapa otentik sih diri kita?” “Seberapa kita bisa jujur ke diri sendiri?” Karena seumur hidup selalu ingin terlihat keren di mata orang lain, gak sadar malah kita menutupi ke’keren’an diri kita sendiri. Akhirnya malah kita ‘keren’ untuk hal-hal yang semu dan bukan real. Terjebak dalam ‘mainstream’ ya :p

      Thank youuuuuuu. Ditunggu lagi insight dan komen selanjutnya. Btw, kirim tulisan doooon 😀

      xo.

    • The Unlearn Team -  January 12, 2014 - 5:25 pm

      Trus lupa jawab, Oom Clay ngajar MBA, kelas2 management gitu. Ih, pengen banget masuk kelas dia. Apa kita undang dia nanti? 😉

  2. edhi -  December 8, 2014 - 2:45 pm

    cari buku ini dimana ya? di gramedia saya gak nemu. mungkin ada yang punya info

    • The Unlearn Team -  December 8, 2014 - 7:20 pm

      Gue belinya waktu itu sih di periplus/kinokuniya kalau ga salah deh.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *