How to Unlearn

No Comment
How to Unlearn

Dengan banyaknya hal yang sudah kita pelajari selama ini, semuanya terakumulasi menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Menjadi sebuah kebiasaan. Namun tetap ada cara untuk kita bisa Unlearn hal-hal tersebut. Bukan karena apa yang kita pelajari sebelumnya adalah hal yang buruk, tapi kadang beberapa hal bisa kita lakukan secara berbeda agar hasilnya lebih baik. Mengubah berbagai kebiasaan lama kita yang kurang efektif dan memberi ruang untuk membentuk kebiasaan baru yang bisa bermanfaat untuk situasimu saat ini.

Saya terinspirasi oleh Nilofer Merchant, seorang kontributor di Harvard Business Review, yang berbagi pengalamannya dalam melakukan Unlearn melalui 5 langkah berikut:

LANGKAH 1 – Admit something is wrong. Berani mengakui saat sesuatu tidak berjalan dengan baik

We’d rather believe things were great.

Tidak mudah untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang salah ataupun kita sudah melakukan suatu kesalahan. Tidak hanya untuk kesalahan yang berdampak besar sampai merugikan banyak pihak, tapi juga untuk kesalahan kecil yang mungkin hanya kita yang mengetahuinya. Umumnya kita berusaha menganggap keadaan baik-baik saja. Bahwa tidak ada yang salah dengan kita, hanya kebetulan kondisinya saja yang tidak menguntungkan. Nah, pola pikir seperti inilah yang justru membuat kita cenderung cepat puas, dan tidak terpacu lagi untuk mengembangkan diri.

Pernah merasa sedikit sedih saat presentasi yang kita bawakan tidak selancar yang diharapkan? Atau ketika pekerjaan sudah selesai namun rasanya kita tidak puas dengan hasilnya? Apa yang biasanya muncul dipikiran kita? Tenggat waktu yang mepet membuat kita tidak bisa mengerahkan usaha yang maksimal sehingga kurang persiapan, atau rekan kerja kita yang tidak kooperatif mengacaukan semuanya? Berjuta alasan bisa muncul saat kita mulai menyalahkan hal-hal diluar kendali kita.

Sebelum mulai mencari siapa yang salah, cukup berhenti dulu sampai pada perasaan tidak nyaman yang kita rasakan saat sesuatu tidak berjalan dengan benar. Jangan acuhkan perasaan tidak nyaman tersebut. Akuilah bahwa ada sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, dan sudah saatnya kita melakukan sesuatu untuk memperbaikinya.

LANGKAH 2 – Ask what specifically went wrong — and get help if you need it.

Bertanya pada diri sendiri mengenai apa yang sebenarnya terjadi (dan cari bantuan dari orang lain bila kamu membutuhkannya)

Untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang salah dengan kita, mulailah dengan melakukan refleksi dan jujurlah pada diri sendiri. Apakah kita telah melakukan hal yang seharusnya tidak kita lakukan? Atau justru kita tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan?

Kadang sulit untuk bersikap objektif pada diri sendiri, maka kamu juga bisa bertanya pada orang-orang disekitarmu dan minta pendapat mereka. Tidak perlu malu dan tidak ada yang salah dengan hal ini. Bahkan di perusahaan yang sedang mengalami masalah biasa meminta bantuan konsultan untuk memberikan pendapat dan usulan solusi. Kamu pun juga bisa memilih orang yang kamu percaya dan bisa jujur terhadapmu untuk memberikan umpan baliknya. Perspektif dari orang lain bisa memberikan gambaran baru terhadap cara pandang kita terhadap diri sendiri.

To figure out what went wrong, we often need an outside perspective.

Tapi langkah kedua belum selesai sampai disini.

LANGKAH 3Listen

Setelah meminta pendapat, yang harus kita lakukan adalah MENDENGARKAN. Umpan balik akan percuma bila kita bertindak defensif dan terus menyangkal apa yang kita dengar, sebelum benar-benar memahaminya.

Defensiveness is a natural response — it’s our ego’s way to protect itself.

Sekali lagi, ini hal normal karena sikap defensif merupakan cara ego kita melindungi diri sendiri. Tidak ada orang yang senang ketika mengetahui kekurangannya. Tapi yang membedakan seorang pembelajar yang ingin terus berkembang dengan orang yang cepat puas dan ingin terus berada di zona nyamannya adalah  seberapa jauh ia mau menerima umpan balik, dan bila memang kita mengakui kita memiliki kekurangan di satu hal tertentu, mengambil tindakan untuk mau berubah.

LANGKAH 4 – Begin the process of undoing. Mulai menghilangkan kebiasaan lama

For any of us to pick up anything new, we have to be willing to drop some old baggage.

Sebelum menciptakan kebiasaan baru maka kita perlu menghilangkan dulu kebiasaan yang lama. Cobalah keluar dari zona nyaman dan kesampingkan dulu cara-cara lama yang biasanya kita gunakan untuk mengerjakan sesuatu. Nah masalahnya kadang kita pun tak paham dengan apa yang sebenarnya menjadi masalah kita. Hal-hal yang sudah kita pelajari selama ini terakumulasi menjadi tacit knowledge (pemahaman), jadi kita tinggal menjalankan sesuatu secara otomatis sesuai pengalaman kita selama ini. Contohnya, saat kita sudah bisa mengendarai sepeda, maka kecil kemungkinan untuk suatu saat kita melupakan caranya.

Lalu bagaimana cara mengidentifikasi tacit knowledge ini? Karena pemahaman yang kita miliki kadang sudah berujung menjadi sebuah belief atau kepercayaan, maka kita harus bisa mengidentifikasinya dan memberinya sebuah label. Berikut contoh kasusnya:

Misalnya selama ini kita sadar bahwa cara kerja kita kurang efisien atau membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan sesuatu. Coba pilah-pilah apa yang membuat cara kerja kita menjadi lama? Pada kasus saya, setelah disadari ternyata saat sedang mengerjakan perhitungan dalam format Microsoft Excel saya tetap melakukan perhitungan secara manual karena tidak terbiasa menggunakan rumus atau formula. Saya menganggap butuh waktu lama dan lebih ribet untuk belajar menggunakan formula dibandingkan langsung bekerja dan menghitung secara manual. Saat menyadari hal ini, maka saya tahu bahwa yang perlu saya perbaiki adalah pandangan saya mengenai ‘formula = ribet’. Pilihannya kemudian ada pada saya apakah saya ingin tetap mempertahankan cara lama melakukan perhitungan secara manual, atau meluangkan waktu untuk belajar menggunakan formula baru dan di kemudian hari saya dapat menghemat waktu kerja saya.

Bila kita belum bisa memberi label atas satu hal yang ingin kita ubah, biasanya kita lebih kesulitan karena tindakan apapun yang kita ambil mungkin belum menyasar masalah utamanya. Untuk masalah efisiensi cara kerja tadi misalnya, saya baru memberi satu contoh mengenai kemampuan penggunaan Excel saya. Saya belum membicarakan tentang sifat perfeksionis saya dalam bekerja. Dan itu masalah lain lagi. Intinya, uraikan satu-persatu kondisi yang kamu miliki, dan bersabarlah. Tidak perlu terlalu ambisius ingin mencoba mengubah banyak kebiasaan kita dalam satu waktu, tapi mulailah dengan membuat prioritas. Berhasil mengubah satu kebiasaan kecil menjadi kebiasaan baru yang efektif terasa lebih bermakna dibandingkan mencoba mengubah banyak hal namun akhirnya berhenti di tengah jalan.

LANGKAH 5 – It is actually easy to learn about doing. It is harder to learn about being.

Sesungguhnya lebih mudah untuk belajar “melakukan” sesuatu dibandingkan belajar “menjadi” sesuatu

Nope, ini bukan tips dari Syahrini. Tapi maksudnya begini. Biasanya saat kita mempelajari suatu hal yang baru, kita menginginkan cara yang mudah dan cepat untuk mempelajarinya. Kita enggan untuk mempelajarinya dari awal, dan ingin orang lain langsung mengajari kita apa yang ingin kita ketahui. Padahal melalui proses belajar itulah kita juga bisa sekaligus belajar mengenai diri kita sendiri – dan kita ingin menjadi pribadi yang seperti apa.

Selama hidup sebenarnya kita terus belajar untuk menjadi diri sendiri, dan belajar “menjadi sesuatu” membutuhkan kemampuan kita untuk bisa mengidentifikasikan hal-hal yang selama ini kita percayai dan kita anggap benar. “Apakah benar saya orang yang cara kerjanya lama?” “Apakah benar memulai bisnis sendiri akan terlalu besar resikonya dan saya tidak akan berhasil menjalaninya?” “Apakah benar saya tidak akan berhasil bila terus menekuni keinginan saya menjadi penari?” Apapun itu, teruslah mempertanyakan hal-hal yang selama ini tanpa sadar telah kamu percayai.

Unlearning is harder than learning, but it’s crucial to do … because innovation and creativity are rarely about doing more of the same.

Melakukan Unlearn memang lebih sulit dibandingkan proses belajarnya itu sendiri, karena kita melakukan pendobrakan atas hal-hal yang sudah kita percayai selama ini. Namun percayalah bahwa ini hal yang penting untuk dilakukan. Cuma dengan cara ini kreatifitas dan inovasi bisa terwujud. Yaitu saat kita menolak menjadi pribadi yang dibentuk oleh keinginan orang lain. Dan saat kita berani mencoba melakukan sesuatu dengan cara yang baru.

Inspirasi: blog.hbr.org

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *