Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat?

1 Comment
Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat?

Dalam seminggu terakhir ini banyak sekali dari teman-teman yang merasa kecewa. Kecewa terhadap pemerintahan tentang adanya larangan untuk transportasi berbasis on-line. Kecewa terhadap atasan tentang hasil performance review yang dirasa tidak adil. Kecewa karena orang lain mengambil keputusan tetapi tidak melibatkan dirinya. Kecewa karena kita tidak mendapatkan penjelasan atau reaksi yang sesuai dengan yang kita harapkan. Sampai ada beberapa pembaca kami di @theUnlearn pun kecewa. Tapi, Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat?

Yang paling menarik adalah ketika ada situasi dimana kekecewaan ini seperti pisau bermata dua. Bahwa tidak hanya satu pihak yang merasa kecewa, tetapi pihak-pihak yang terkait.

Ini cukup membuat gue kembali berfikir tentang apa yang bisa gue pelajari ketika kecewa.

Gue paham bahwa bagaimanapun dalam hidup, sebagai manusia, kita akan mengalami kekecewaan.

Mungkin pertanyaan pertamanya adalah:

1. Apa yang menyebabkan kita kecewa?

Ketika gue kecewa, gue sadar, ada 2 hal utama:

a. EKSPEKTASI – Gue tidak mendapatkan apa yang gue harapkan.
b. KETIDAKADILAN – Gue merasakan ketidakadilan terhadap suatu situasi.

Nah, ini lucu, karena sering kali pun, ketika gue kecewa, reaksi pertama gue adalah MENYALAHKAN ORANG LAIN.

a. EKSPEKTASI – Orang lain tidak melakukan hal yang sebaiknya/seharusnya dia lakukan.
b. KETIDAKADILAN – Orang lain melakukan hal yang tidak adil.

Ini cukup membuat gue mikir, ketika kecewa, apakah gue masih masuk dalam mentalitas VICTIM, atau gue bisa menempatkan diri untuk membangun mentalitas HERO?

Ini membawa gue ke pertanyaan ke dua.

2. Bagaimana kita bereaksi terhadap kekecewaan?

Hasil ngobrol sama pengemudi ojek, dia akhirnya pesimis tentang masa depan Indonesia. “Kalau pemerintahannya saja masih bermental seperti itu, gimana saya bisa optimis mbak?”

Hasil ngobrol sama teman, “Semua udah capek kerja di sini, udah pada ingin keluar semua, gue pun mencari kerjaan-kerjaan baru.”

Reaksi gue? Sedih. Tetapi bukan kecewa. Karena gue paham banget rasanya kecewa ataupun dikecewakan.

Rasanya emang KZL banget. (Mengikuti gaya bahasa anak masa kini).

Yang akhirnya gue mencoba menjaga, dan mengingatkan diri gue adalah. Apakah akhirnya bereaksi karena kecewa atau bisa merespon walaupun kecewa? Gue ikutan reaktif, atau berusaha memecahkan masalahnya?

Berkali-kali kecewa akhirnya tidak hanya bisa membuat kita pesimis, tetapi juga bisa membuat kita merasa tidak peduli lagi, apatis ataupun dendam dan benci.

Dan gue belajar, setiap kali kita merasa apatis, dendam atau benci, lebih banyak dampak negatifnya ke diri gue sendiri dibandingin ke orang lain. Secara gak sadar, gue pun meracuni diri gue sendiri. Akhirnya gue membunuh diri gue sendiri perlahan-lahan dengan mengumpulkan kekecewaan. Hmpppfff..

3. Tetapi, bolehkah gue kecewa?

Boleh banget lah. Namanya juga perasaan.

Toh di sisi lain, kita juga akan sering mengecewakan orang lain. Karena mau gak mau, kita tidak bisa memenuhi ekspektasi dan keinginan semua orang. Jadi pasti akan ada yang kecewa.

Kembali lagi ke pertanyaan no 2, sejauh mana kita akan membiarkan kekecewaan ini menghantui kita?

Oke, kita boleh kecewa, lalu so what?

Walaupun kecewa, apakah gue akan memilih bertindak karena kesal dan benci? Atau gue tetap bisa bertindak karena rasa sayang dan peduli?

Gue sangat ingat momen dimana teman gue marahnya setengah mati karena tidak mendapatkan rating yang diingikannya. Gue ingat ada deh 2 jam dia curhat ke gue sampai gue ikutan lelah.

Kerennya, setelah Ia bisa menenangkan diri, akhirnya Ia bisa berfikir lebih jernih dan strategis. Yes memang keputusan itu memang bisa terasa tidak adil, karena hidup pun sering terasa tidak adil. Tetapi, dia akhirnya menggunakan ini menjadi kesempatan untuk mengubah situasinya.

Ia kemudian bertanya ke atasannya, “Kalau saya ingin mendapatkan rating tertinggi, apa hal-hal yang bisa atau harus saya lakukan? Bagaimana kesempatan saya? Apa ukurannya?”

Akhirnya…
Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat dan benar?
Bisakah kita mengubah kekecewaan itu menjadi pembelajaran dan kebaikan?
Bisakah kita akhirnya tidak malah memperburuk keadaan, tetapi bisa menurunkan ego dan mencari jalan terbaik?

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

1 Comment

  1. Marfa -  December 23, 2015 - 6:16 pm

    Kecewa karena orang lain mengambil keputusan tetapi tidak melibatkan dirinya. Kecewa karena kita tidak mendapatkan penjelasan atau reaksi yang sesuai dengan yang kita harapkan. Dan, takut kecewa. Aha

    http://umimarfa.web.id

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *