Bersahabat Dengan Kegagalan

No Comment

 

Siapa sih yang senang gagal? Saya sih tidak. Malah saking takut gagal ujung-ujungnya saya malah jadi perfeksionis. Ingin segala hal berjalan sempurna supaya meminimalisir kemungkinan gagal. Di satu sisi bagus sih karena saya jadi fokus mempersiapkan segala hal agar berjalan lancar. Tapiii saat sudah berupaya maksimal dan ternyata masih gagal juga, sakitnya itu loh… Ouch!

Setelah beberapa kali gagal, mulai deh saya berpikir kenapa sih mengalami kegagalan itu tidak enak. Rasanya sedih, kecewa, kesal, dan kadang-kadang sampai bikin depresi. Ternyata saat gagal saya merasa kalah. Saya merasa tidak berdaya, merasa mengalami ketidakadilan, merasa segala upaya sia-sia.

Tapi benarkah demikian?

bersahabat dengan kegagalanSaya belajar dari teman saya Bona Sardo (@bonasardo) yang juga pernah mengalami kegagalan. Bona bercerita di salah satu media sosial, dan saya mengambil beberapa pelajaran dari pengalamannya. Hal yang kemudian saya pegang betul antara lain:

1. Gagal di satu bidang bisa saja mengarahkanmu ke bidang lain yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

2. Kadang, kegagalan berarti kamu belum siap untuk melakukan sesuatu, jadi gunakan kesempatan tersebut untuk mengasah kemampuanmu. Saat telah siap, kesempatan akan terbuka kembali dan perjalananmu akan dimudahkan.

Penasaran dengan pengalaman Bona seperti apa? Berikut kutipan ceritanya.

 

“Satu setengah tahun yang lalu masih fresh graduate S2. Jadi artis ga laku-laku amat, akhirnya ngelamar kerja sana-sini demi masa depan lebih terjamin (kata babeh gue) dan udah yakin banget bakal gampang diterima. Lulusan UI, S2, cum laude, public speaking oke, walaupun ga ada pengalaman kerja kantor.

Dari ngelamar ke kantor konsultan, oil & gas company, sekolah internasional, sampai ke kampus sendiri. Eh “syukurlah” ga ada yang diterima.

Sedih? He eh! Nangis? Iyeh! Drama deh.

Pelan-pelan terima diri apa adanya, mulai jalani karir sebagai freelancer. Awalnya maruk semua kerjaan diambil karena takut miskin. Berhubung penghasilan ga tetap kalau jadi freelancer. Lama-lama capek sendiri dan mulai atur keseimbangan hidup.

Waktu berlalu, belajar lebih bersyukur, menikmati hidup, menjadikan uang nomor kesekian saat terima kerjaan.. Hasilnya? Ya Tuhan kerjaan ga berhenti-berhenti!

Bahkan konsultan yang sempat nolak gue, kantor-kantor yang sempat nolak gue, kampus yang sempat nolak gue,nawarin gue untuk kerja disana. Dan semalam baru saja dosen gue merekomendasikan gue untuk jadi pengajar di sebuah sekolah internasional..

It’s not a rejection indeed. It’s just a way for something better. Much much better!!

 

Yup! Setuju banget sama Bona. Terima kasih banyak ya Bona karena sudah bersedia sharing dengan kita.

Bagaimana denganmu? Pernah mengalami kegagalan? Apa artinya bagimu dan bagaimana caramu mengatasinya? Sharing dengan kami disini yaa…

 

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *