Berbagi

1 Comment
Berbagi

 

Kalau gue bisa memberikan semua yang gue punya, gue akan melakukannya. Menurut gue, salah satu dari tujuan hidup kita yang paling mendasar adalah untuk berbagi. Untuk berbagi mengenai semua hal yang bisa kita bagi. Tidak hanya dalam bentuk uang atau barang, tapi juga senyum, pelukan, darah, atau hidup kita. Eh tunggu, bukan maksudnya harus nyerahin nyawa kita demi orang lain ya, tapi berbagi hidup bisa ditunjukkan lewat setiap detik waktu yang berikan untuk orang lain. Dengerin curhat temen, nemenin ibu ke arisan geng-nya, atau kerja sukarela.. Itu semua cara untuk kita bisa berbagi hidup dengan orang lain.

Tapi, kadang gue juga masih suka merasakan keengganan untuk berbagi. Gue merasa masih sulit untuk bersikap konsisten dalam hal ini. Contohnya gini, gue ga pernah keberatan untuk donor darah, gue akan langsung melakukannya tanpa pikir panjang. Tapiii gue malah merasa sulit sekali untuk mendonasikan baju-baju lama gue. Nah masalahnya gini, kalo dipikir-pikir darah itu kan sesuatu yang penting banget untuk hidup kita, sementara pakaian, yaa sebenarnya asal kita punya beberapa potong saja juga tidak masalah kan. Jadi kenapa ya, gue lebih mudah untuk memberikan sesuatu yang sifatnya sangat penting, dan malah lebih sulit melepaskan sesuatu yang sebenarnya mudah tergantikan?

Kadang kita lebih mudah untuk percaya pada kemampuan diri sendiri, daripada percaya pada orang lain atau faktor “nasib”

Jadi, ini hasil pemikiran gue. Kadang kita lebih mudah untuk percaya pada kemampuan diri sendiri, daripada percaya pada orang lain atau faktor “nasib”. Bahwa sampai derajat tertentu, kita begitu takut untuk kehilangan kontrol atas hal-hal yang berada di luar pemahaman kita.

Bingung? Oke begini maksudnya: saat donor darah, pada dasarnya gue percaya bahwa tubuh gue memiliki kapasitas untuk menggantikan apa yang hilang dalam hitungan beberapa minggu. Itu fakta berdasarkan sains, dan gue tidak ragu akan hal tersebut. Di sisi lain, saat gue hendak mendonasikan pakaian, bakal banyak banget hal yang gue pikirin seperti: gimana kalo gue tiba-tiba butuh gaun itu? (padahal sih selama 2 tahun terakhir ga pernah dipake); atau ini kan kaus dari mantan jadi ada nilai historisnya nih.. (padahal gue gak suka-suka banget sama warnanya), atau ini kan sepatu branded bok!! (padahal mah bikin lecet doang). Yaa gitu deh segala macam pikiran yang bisa muncul dan bikin gue ragu untuk nyumbangin satu-potong-kaus-aja.

Lalu apa yang terjadi sih sebenarnya? Jadi gini, gue baru sadar kalau gue sangat takut akan ketidakpastian. Pernah dengar istilah ‘semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima?’ Secara pribadi gue sangat mempercayai hal tersebut, karena terbukti dari pengalaman bahwa ada saja hal-hal baik yang terjadi setelah gue memberikan sesuatu. Tapi.. ada tapinya. 1. Kita ga akan pernah tau kapan terjadinya; 2. Kita ga akan pernah tau hal baik itu akan datang dalam wujud apa.

Ketidakpastian seperti itu membuat gue gelisah ketakutan. Dan sekali lagi membuat sadar bahwa ternyata gue bukan seorang yang memiliki kepercayaan kuat, bertentangan dengan apa yang gue bilang sebelumnya. Gue masih memiliki keraguan, takut gimana kalau hal baik itu tidak juga terjadi? Gimana kalau gue dikecewakan? Gimana kalau ternyata apa yang gue lakukan itu sia-sia? Karena hal yang diinginkan tersebut bisa saja datangnya besok, 3 minggu lagi, atau masih 6 bulan dari sekarang dalam bentuk yang juga bisa bervariasi seperti: dapat baju baru sebagai hadiah ulang tahun, voucher belanja untuk beli stiletto merah yang keren itu, atau periode diskon dimana gue bisa beli banyak baju baru dengan harga lebih murah (dan ajaibnya gue bisa menemukan model dan warna yang disuka, dalam ukuran yang pas!!)

Masa-masa menunggu dalam ketidakpastian tersebut tentu saja terasa berat. Dan disini gue belajar mengenai hal lain lagi, yaitu kesabaran. Saat gue tidak memiliki kesabaran, berarti gue belum memiliki kepercayaan yang kuat. Oke contohnya begini, jangan bilang kalo kamu percaya ‘tiap orang punya jodohnya masing-masing’ kalau kamu masih galau setiap hari. Jangan bilang kamu benar-benar mencintai seseorang, kalau perhatianmu dicuekin sama  doi lalu kamu ngambek-putus-asa-udahan-ah-mau-lupain-dia-aja. Yaah, apa kabar sama yang namanya unconditional love alias cinta tanpa syarat? Cinta seperti itu membutuhkan banyak kesabaran, dan makanya gue pikir belum tentu semua orang bisa melakukannya.

Kita menjadi terlalu takut untuk berbagi hal (yang menurut kita) membuat kita vulnerable – rentan. Karena hal tersebut mengandung ketidakpastian, dan kita belum cukup percaya untuk bisa bersabar bahwa hal tersebut akan berkembang menjadi hal yang indah, pada waktunya.

Sebagai hasilnya, kita takut untuk menjadi terlalu baik untuk orang lain karena khawatir suatu saat mereka akan menusuk kita dari belakang. Kita takut untuk menunjukkan betapa besarnya rasa sayang kita ke orang lain, khawatir mereka akan memberi penolakan. Kita takut jujur kepada diri sendiri, khawatir kita tidak sanggup menghadapi kebenaran. Kita memutuskan untuk menyimpan semua hal untuk diri kita sendiri, dan lupa untuk berbagi. Melupakan takdir kita yang sesungguhnya sebagai makhluk sosial, yaitu untuk berbagi.

– @astra1304

1 Comment

  1. Ima -  February 25, 2016 - 5:20 pm

    Hai Kak Ayu
    Terimakasih telah menulis artikel ini. Karena aku dg sengaja mencari pencerahan menggunakan keyword yg ternyata mengarah pada artikel ini. Sedikit tersadarkan.. iya.. aku pun yg bbrp kali merasa krisis kemurahan hati utk berbagi, berpikir benar karena ketidakpastianlah yg menyebabkanku mjd seperti ini..
    Sedihnya.

    Terimakasih telah sharing Kak.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *