Belajar dari orang-orang yang tidak kita sukai

3 Comments

 

Adakah orang-orang yang kamu tidak sukai dalam dunia ini? Gue ada. Dan terkadang, mengganggu sekali. Gak cuma ganggu, terus jadi pikiran juga, dan akhirnya gue kebawa negatif. Serba salah kan.

Sampai gue ingat, setiap kali ada sms/pesan masuk dari dia ataupun melihat fotonya dimana, gue langsung berasa negatif dan mikir “Duh, apa lagi nih.” Gak sehat banget kan. Bagaimana mengatasinya?

difficult peopleTeringat pernah post ini di Facebook, untuk kembali mengingatkan gue:

“Yes, people can break our hearts, toy with our trusts, make us question integrity and intent. But the moment we judge them, aren’t we just judging ourselves? The moment we blame them, aren’t we giving them power over us? The moment we hate them, aren’t we just drinking our own poison? Gotta love these experiences. #reminder”

… bahwa, sebaiknaya gue banyak berterima kasih dengan mereka, karena gue jadi belajar sesuatu. Yaitu.

1. Don’t be like them.

Semoga orang-orang ini terus menjadi pengingat bahwa semoga suatu saat ini gue tidak menjadi seperti mereka. Lalu kita balik, tanya ke diri sendiri. Gue ingin jadi orang yang seperti apa? Dan VALUE itu yang menjadi PR kita untuk kita perkuat saat ini.

2. They are our own reflection.

Pernah dengar ini gak:

“The quality in others that bothers you so much is actually a quality that exists in you.”

Kita bisa melihat kualitas itu di orang lain, karena sebenarnya kita memilikinya di diri kita sendiri. Kita SEBEL banget melihatnya di orang lain, karena sebenarnya kita sebel dengan adanya kualitas itu di diri kita sendiri. Hanya kita gak sadar saja.

Contohnya, gue dari dulu emang paling gak suka melihat orang yang bermuka dua ataupun gak walk the talk. Di depan orang manis, di belakangnya berbeda. Trus gue bertanya, berarti gue FAKE dong, kalo orang-orang ini ganggu banget buat gue? Truth is, YES. Dalam skala tertentu gue memang bisa fake — contohnya ketika menghadapi orang-orang yang gue gak suka, gue suka pura-pura mendengarkan mereka. And I don’t like that about me.

Ini sebabnya, belajar dari #1, akhirnya Authenticity menjadi penting untuk gue, bagaimana setiap hari gue mencoba untuk terus jujur, terutama ke diri sendiri.

3. What people do is a reflection of THEM, what we do is a reflection of US.

Orang lain boleh jahat, semena-mena, bodoh, ngeselin. Apapun yang kamu ‘label’kan. Pertanyaannya, apakah karena DIA kamupun akan memberikan reaksi yang sama atau lebih jahat lagi?

This is not easy. Kalau ada orang ngeselin, terus kita kesel, reaksi yang paling mudah adalah membuat kesal orang itu kembali. (Eits, sering banget gue kepancing) Untuk memilih reaksi yang berbeda itu dimana kita menunjukkan VALUE diri kita sendiri.

Akhirnya gue punya prinsip, kalau gue kepancing, itu gue yang kalah. Itu artinya gue memberikan power ke orang tersebut. Cih, males deh 🙂

4. It’s okay not to like them.

Kita gak perlu suka semua orang dan disukai semua orang. Kita juga tidak perlu berteman dengan mereka. Terkadang mereka adalah atasan kita, rekan kerja ataupun saudara, sehingga kita harus lebih bisa menjaga jarak, memanaj emosi dan bermain pintar.

Ada rekan kerja gue dulu yang sukanya membolak balikan fakta, akhirnya semua percakapan dengannya pasti gue hitam putihkan dengan email sehingga ga ada lagi yang bisa diputar balikkan.

Ingat #3 🙂

5. The moment we learn to accept and bless them, it is the moment we learn to accept and bless that same insecurity within us. And it bothers us less.

Setiap kali kita menghakimi orang lain, kita juga sedang menghakimi diri kita sendiri. Dan biasanya kita cenderung fokus ke ORANGnya dan bukan ke SITUASInya.

Tidak hanya itu, kita lupa bahwa ada sebabnya orang itu datang ke dunia kita, memberikan situasi yang ada.

“When you meet anyone, remember that it’s a holy encounter. As you see him you will see yourself. As you treat him you will treat yourself. As you think of him you will think of yourself. You can change your relationship with anyone by simply sending them good thoughts.”

Karena kita akan mendapatkan apa yang kita kirimkan kan? 😉

6. It’s not about changing them, it’s about changing me.

Gue merasa, orang-orang yang ‘difficult’ ini ada dalam diri gue untuk terus mengingatkan diri gue untuk mengubah diri gue untuk menjadi lebih baik lagi. Because the world is only a reflection of us.

Kalau kita berubah, maka dunia akan berubah. Dan orang-orang ini pun akan berubah dengan sendirinya, karena cara kita melihat mereka berubah.

… So, untuk semua orang yang telah push my buttons. Thank YOU and Bless YOU!

 

Kalau kamu belajar apa dari orang-orang yang kamu tidak sukai?

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

3 Comments

  1. yohanna -  February 19, 2014 - 10:19 am

    Wah jujur, abis baca artikel ini rasanya saya digetok… hahaa… Well, sering banget hidup dikelilingi orang yang gak kt sukai. Dan gue baru sadar sama tulisan di blog ini bahwa orang-orang yang seringkali gak kita sukai itu adalah our own reflection. Gue setuju ama point ini, sometimes gue juga ngerasa palsu karena harus pura-pura baik dan setuju, padahal gue menolak mentah-mentah dan gak suka di belakang.

    Well, sebelum baca penjelasan di blog ini gue selalu menekankan dalam hidup gue, bahwa biarlah orang berbuat “yang menurut gue tidak baik” asal gue gak ikut-ikutan. Dan yang pasti kita tetap memperlakukan mereka dengan baik, karena memang benar kita akan mendapatkan apa yang kita ‘kirimkan’

    Nice posting and thank you so much buat Mba Ika yang selalu posting artikel keren seperti ini. Gbu 🙂

    http://yohannayang.wordpress.com/
    • The Unlearn Team -  February 19, 2014 - 3:20 pm

      Yohanna!

      Aiiih, thank you sudah meninggalkan komennya. Dan gak cuma kamu yang ketampar. Pas pertama kali menemukan wisdom “the world is our own reflection” juga ikut ketampar-tampar, hahaha. But yes, sekarang jadi bisa lebih punya ‘kontrol’ terhadap realita kita.

      By the way. LOVE your writing di blog kamu juga. Interest untuk kontribusi tulisan di theunlearn.com kah? Email kami di mail@theunlearn.com ya.

      Dan, tulisan kamu tentang TheUnlearn, ijin nanti share dengan teman-teman di #theUnlearn juga ya Yo.

      Thank you untuk sharingnya. Mampir-mampir terus ya and please, kalau ada ide atau pertanyaan seputar hidup, lempar ke sini, nanti kita bahas bersama. And GBU too dear!

  2. yohanna -  February 19, 2014 - 3:44 pm

    Wah, thank you theunlearn udah stoping by ke blog saya… Hehehe, saya sempat menulis mengenai “To Unlearn”, tapi masih banyakan ngeshare apa yang saya baca dari theunlearn.com . Tentu saja boleh di share. 🙂 hoho… Sejak nemu blog theunlearn.com ini saya ngerasa punya teman yang sama-sama menjawab pertanyaan yang ada di benak saya selama ini. Tentunya jawaban yang menurut saya bisa dipertanggungjawabkan ‘kebenarannya’.

    Btw, dengan senang hati bisa berkontribusi untuk blog ini, nanti jika ada tulisan baru yg berhubungan dengan all about life, saya akan kirim ke email theunlearn. Thank you so much… 🙂

    http://yohannayang.wordpress.com/

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *