Bagaimana “following your passion” bisa menjebakmu?

8 Comments
Bagaimana “following your passion” bisa menjebakmu?

 

Sering kita mendengar kalimat “follow your passion” akhir-akhir ini. And this is GREAT, karena kita mulai mempertanyakan apa yang membuat kita come alive.

However, di sisi satunya, mengikuti advise ini juga bisa menjerumuskan diri kita sendiri.  Terlebih ketika kita melakukan pekerjaan yang tidak sesuai passion kita, malah dijadikan alasan untuk tidak memberikan 100% effort. Sehingga banyak sekali mispersepsi yang terjadi, seperti:

  • Begitu mulai kerja, harus langsug kerja yang sesuai passion
  • Kalau tidak sesuai passion, tidak perlu ditekuni
  • Passion itu tergantung aktivitasnya, tidak tergantung effort dan impactnya.

Padahal… coba lihat orang-orang yang memang benar-benar mencintai apa yang mereka lakukan. Tanya deh, jarang sekali yang LANGSUNG menemukannya begitu mereka memulai karirnya. Kebanyakan ceritanya malah karena kejadian-kejadian yang tidak disengaja. Termasuk Steve Jobs —  dimana dia akhirnya tidak sengaja membentuk Apple ketika sedang asik-asiknya mendalami isu-isu filosofi dan Eastern Mysticism.

passion rayafahrezaSeperti kata kak @rayafahreza di twitternya: “Pekerjan sesuai ‘passion nggak menjamin hasil yang lebih baik juga. Sekedar “seenggaknya seneng lah.”” Dan seneng banget ketika beliau berkata “Paling utama sih sifat bersyukur dulu. Punya pekerjaan sudah satu berkah. :)”

Jangan sampai ketika kamu ingin mengikuti passionmu, jadinya kamu malah membatasi diri sendiri. Atau malah, ngrepotin orang lain. Karena saya cukup sering melihat kejadian diamana orang mengikuti passionnya, seperti membuat usaha baru tetapi malah pinjam uang ke orang tua, tetap ingin dapat pesangon setiap bulannya, dan belum bisa mandiri. Ini yang jadinya membuat orang tua kita itu sulit mendukung kita, karena following our passion tidak menjadikan kita mandiri dan dewaa juga.

Beberapa hal yang perlu diingat tentang Passion:

1. Passion without competence and hardwork is nothing.

Kamu bisa suka suatu bidang, tetapi tanpa dibekali Kompetensi, tidak banyak yang kamu bisa lakukan dengan passion kamu.

Banyak yang mengira memiliki Passion saja cukup. Not at all. Lebih banyak yang sukses karena kompetensi dan kerja keras dibandingkan karena Passion.

Contohnya, kalau kamu melakukan presentasi, bisa saja kamu semangat, antuasias dan berkobar-kobar, tetapi kalau presentasi itu tidak ada isinya dan tidak bermanfaat untuk audience untuk apa?

2. Passion develops slowly.

Kebanyakan orang yang menyukai apa yang mereka lakukan, passionnya pun tumbuh perlahan. (Seperti gue). Gue gak pernah menyangka gue akan punya passion di people development. Dan beneran bisa sampai ke sini bukan karena gue rencanakan, beneran gak sengaja.

Dan most people seperti itu, kebanyakan passion pun tumbuh unexpected melalui jalan yang berliku-liku juga. Seperti menemukan jodoh. #eaaaah

3. The better you are at something, the more passionate you become.

This is true. Kok bisa? Karena semakin kamu menjadi expert dalam suatu bidang, semakin kamu bisa memberikan dampak positif ke orang lain, kontribusi yang meaningful dan juga respect. Rasa fulfillment yang didapatkan ini membuat kita meningkatkan rasa passionate kita.

So sometimes, sebelum menemukan passion, be really passionate in something.. yang artinya, be really good at something.

4. First few years on the job to build skills necessary to make your passions come alive.

Banyak yang akhirnya punya ekspektasi besar terhadap pekerjaan pertama — yang harus sesuai passionnya. Yang perlu diingat adalah bukan hanya passionnya, tetapi apakah kita sudah memiliki semua skills yang kita butuhkan untuk menjadikan passion kita itu bermanfaat untuk orang lain?

Jadi, kita bisa mendedikasikan 3-5 tahun pertama kita untuk mengasah semua skill tersebut yang bisa mendukung passion kita.

Di situlah kamu berubah menjadi sosok yang passionate.

5. Real passion converts into contribution.

Tentunya, kalau kamu memang passionate terhadap sesuatu, passion itu bukan hanya menghabiskan waktumu, tetapi juga ada manfaatnya untuk orang lain.

Contoh, gue cinta banget sama excel. It’s soo geeky, I know. Tetapi akhirnya, gue bisa membuat berbagai macam template untuk orang lain — dari template weekly activities, database yang formulanya analisanya keluar sendiri, sampai template report untuk orang lain.

6. Finding passion in any activity, until you figure out exactly your own.

Yang bisa diasah juga hanya tidak menemukan 1 passion, tetapi sejauh mana kamu bisa menemukan passion dalam setiap aktivitas yang kamu lakukan. Sehingga kamu tidak hanya sekedar melakukan sebuah tugas, tetapi kamu juga memberikan hati-mu di situ. Tulus. 100% Effort.

Karena salah satu passion gue adalah ‘ngulik’, akhirnya agar gue bisa menikmati membuat laporan adalah mengulik laporan tersebut menjadi lebih efektif. Ha!

7. Instead of finding your passion, ask yourself “What do you want to see changed in this world?” And go do that!

Live for a cause. Karena dari keingingan untuk berkontribusi di dunia ini menjadi salah satu cara untuk menemukan passionmu juga.

 

passion<– ini juga diskusi yang sempat terjadi di twitter.

 

Yang mana yang kamu ingin perkuat dari 7 hal ini?
Atau ada insight lain yang kamu dapatkan dari terjebak dalam ‘following your passion’?

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

8 Comments

  1. theo -  August 7, 2014 - 12:36 pm

    Rasa dihargai karena keberhasilan gue fulfill something sering kali gue rasa menjadi motivasi besar untuk lebih dalam menggali potensi gue di bidang itu, menjadikan gue lebih passionate. Jadi inget masa kecil dulu, orang tua gue lebih banyak kasih pujian kalo gue berhasil mencapai sesuatu, meski hanya hal kecil sekali pun, seperti ketika nilai matematika gue cuma dapet 7 pas SD (meskipun yang lain ada yg dapet 8 atau 10, hehe). Penghargaan sekecil apa pun, it matters. Mantab artikel ini, two thumbs!

    • The Unlearn Team -  November 5, 2014 - 8:48 am

      iyaaa, banyak juga yang follow passion tapi akhirnya kereeeen. well, kita kan mesti belajar melihat dari semua sisi kan yaaa. supaya gak menerima nasehat mentah-mentah gituuu. thanks sudah mampir Tunsaaa. Salam kenaaaal 🙂 Eh, kalau ada ide-ide topik/artikel share dong. Atau siapa tahu kamu punya tulisan menarik yang bisa di share dengan kita semua. have a great day!

  2. hawadis -  November 5, 2014 - 3:08 am

    iya, setuju. passion kalo cuma suka doang gak punya kemampuan juga gak jadi apa-apa. ya, tapi memang bakal dapat kesenangan. tapi hidup kan bukan cuma tentang hal yg disenangi.

    http://howhaw.com
    • The Unlearn Team -  November 5, 2014 - 8:44 am

      memang kadang pemahaman kita juga belum utuh sih ya, berhenti di ‘follow your passion’ dan menjadikannya excuse saja. thanks sudah mampir Hawadis. Blog elo menyenangkan deh, teringat jaman2 baca ensiklopedi waktu kecil. jd penasaran knp kamu mulai bikin blog. well, salam kenal yaaa 🙂

  3. The Unlearn Team -  November 5, 2014 - 8:51 am

    Betul Theooooooo, kita itu parah banget kalo soal menghargai orang lain. Dan padahal itu yang memupuk diri kita juga. Salam untuk ortunya, keren banget 🙂

  4. Peggy -  December 4, 2014 - 5:16 pm

    Waa.. bener banget nih semua pointnya. thks for reminding lagi yaaaa
    Pengalamanku kaya gitu tuh.. lebih ke passionate melakukan sesuatu dan tidak membatasi diri. Lama-lama jadi ketahuan deh sebenarnya sukanya ke mana
    Point ke 3 itu bener banget… semakin kita good at something, kita makin passionate kalo ngerjainnya karena kita tau we’re good at it
    Point ke 5 n 7 aku agree buanggetttt…. we can make a difference in the world if we start with what we have and where we are. dan ini artinya bukan membuat perubahan yang luar biasa banget tapi dari yang kita bisa dan terus kita tularkan ke orang lain supaya setiap orang mengambil perannya untuk dunia yang lebih baik… jadi indah banget kan dunia yang kita tinggali :)…
    once again.. makasi yah buat artikelnyaaaaa….

    http://warnai-hidup.blogspot.com
  5. annisanadianeyla -  February 1, 2015 - 12:37 am

    Well, ada benernya juga..
    Huft, sering bgt jadi ga ngeluarin 100% effort di hal2 yg dianggap bkn passion.
    Untuk point 1, bukannya passion itu adalah hal yg membuat kita jadi ahli, kompeten, expert? Dan karena kita enjoy ngelakuinnya, kita bakal lebih sering ngelakuinnya, kata “kerja” akan hilang karena passion ngebuat kita terasa lagi ga kerja. Bukan begitu?

    http://tellyouaboutmusic.wordpress.com

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *