Bagaimana Dea mengubah tragedi menjadi berkah

No Comment
Bagaimana Dea mengubah tragedi menjadi berkah

 

Ketika musibah datang, apa sikap yang kamu ambil? Bisakah kamu mengubah musibah menjadi berkah?

Ini cerita dari teman kita Paulina Pungky (@paulinapungky), pendiri @DreamLabID, ketika pergi ke Semarang dan bertemu dengan Dea. Dea yang masih berusia 20 tahun yang memulai usaha Batik Kultur Dea. Sederhana, tetapi dari ceritanya akhirnya kita bisa belajar bahwa:
– Cara kita menyikapi musibah itu menentukan nasib kita
– Bahwa usia tidak ada hubungannya dengan kesuksesan
– Bagaimana sukses tidak hanya melibatkan diri sendiri, tetapi juga mengubah hidup orang banyak

—-

Olrait. Trip ke Semarang turned out to be a jaw-dropping one. Siap-siap terbelalak & kaget melihat apa yang akan di share abis ini tentang bisnis seorang anak umur 20 tahun, dengan omzet bisnis 500 juta/bulan.

I’ll give a head’s up: What you will see is something you would NEVER expect to see.

So here we go….

Dea 1

Dea menjaga komposisi wokshop dengan 80% yang non-disabled, 20% disabled. Untuk jaga kelancaran produksinya, karena memang awalnya pun dimulai dengan bisnis normal.

Mbak yang satu ini yang jadi mata seribu. QC utk semua kain dan baju. Jebolan pabrik, jadi mata pun terlatih.

Yang menarik, walau 80-20, semua terlihat nyatu. Dan tidak ada perlakuan khusus yang membuat bikin iba, semua merasa NORMAL. Dan semua diperlakukan normal. Dan itu yang membuat mereka semua semangat, dan merasa bangga. Karena mereka tidak dikasihani dengan kekurangannya, tapi diapresiasi dengan hasil kerja nya, despite kekurangannya.

Dea 2 - Mbak Wulan

Mbak Wulan. Tangannya tidak sempurna. Yet, she’s a seamstress.

Dea 3 - Mbak Yuli

Mbak Yuli, badannya berukuran tidak normal dengan punuk di pundaknya. She’s smiling and sewing.

Dea 8 - Tim

Stock room angels: notice none of them have legs. And one of them have no hands.

Mbak yg baju merah yg pertama kali masuk ke workshop ini. Lalu dia yg kasih tau temen2nya, dan akhirnya pada pingin kerja. Mba ini ibunya anak2. Malem saat makan bareng Dea, mereka berdua ikutan. Amazed ngeliat rasa percaya diri mereka berdua. Diliatin orang tetep PD.

Terus dia bilang:

“Aku sih biarin aja diliatin orang. Cita2ku masuk TV mbak. Pokoknya aku mau berusaha. Aku semua bisa mbak. SMS-an pun bisa.

Dgn gini aku jadi selalu terpicu utk mikir mbak. Kalo mau ambil barang gak nyampe, hrs pake kursi. Kalau nggak bisa juga harus mikir lagi. Jadi otak ku terlatih utk mikir, mikir, mikir.

Ada temen ku pernah ngajak ngemis di jalan, penghasilannya besar katanya. Tapi aku nggak mau. Pokoknya 2 hal yg aku gak mau: minta2 & nyolong. Yang penting aku berusaha mbak.

Yang aku nggak bisa cuma nguncir rambut sendiri hehe. Makanya ada dia nih yg ngikut terus untuk nguncirin rambutku”

And they both laugh.

Dea 4 - Sms

Si mbak lagi sms-an.

Dea 6 - Mas Yang Jatuh

Mas yang ini jatoh saat bayi, akibatnya dia tumbuh dengan jalan jongkok. Kakinya lengkap, tapi dengan posisi seperti orangĀ  jongkok. Dia dari Tasik denger di Semarang ada workshop yg memperkerjakan disabled people, bela-belain sendirian naik bus dan sampe daerah sana muter-muter sendiri nanya-nanya org di mana tempatnya. Awal kaget ada orang jongkok di depan rumah ngapain. Ternyata pingin kerja. Dan sekarang sedang dalam tahap dilatih untuk bisa menjahit.

Dea 7 - buku produktifitas

Satu hal yang keren lagi, setiap orang punya buku produktivitas. Tiap hari mereka mencatat apa yg mereka lakukan dan hasilnya. Selalu di check dan dijadikan ukuran untuk perkembangan mereka.

Dea 9 - Mas Prayitno

Khusus untuk Mas Prayitno & Mas Sinun, buku nya digabung. Mas Prayitno tidak bertangan tapi pinter dan sangat cepat, Mas Sinun berbadan lengkap tapi cacat mental. Mereka berdua harus berkolaborasi untuk pekerjaanya. The dynamic duo.

 

Dea, 20 tahun. Dengan beberapa team workshop.

Anak orang berada yang saat kecil & remaja dia ngaku sendiri anak manja. Kerjaannya ke salon, gym sehari bisa 2x, dan hang out sana sini.

Ditanya, tipping point apa De yg bikin kamu berubah?

“Umur 16 usaha papa ku bangkrut. Di tahun yang sama kakakku cerai. Di Semarang semua orang tau apa yg terjadi antara satu sama lain. Aku sempet terpuruk. Di situ aku mikir, aku musti usaha. Aku mau buktiin ke orang-orang keluarga ku bukan keluarga gagal. Aku musti fight.”

Dari situ, orang-orang pun bilang Dea berubah 180 derajat. Sangat considerate dengan orang, jiwa sosial nya tinggi, pekerja keras.

Sempet nanya ke salah satu mbak yg tanpa tangan & kaki, mbak happy nggak?

“Mbak astaga.. Aku alhamdulillah banget mbak. Sangat-sangat seneng. Sangat-sangat bersyukur punya kerja dan boss nya baikk & pinter kaya mbak Dea.”

So I guess….

In every tragedy, there’s a tipping point into something amazing. Like a bounce ball, it will only bounce very very high, after hitting a very hard floor.

I feel blessed to see all these.

Jadi kalo sekarang dia bisa punya omzet 500 juta/bulan, dan itupun masih belum bisa memenuhi antrian pesenan masih panjang, bener2 karena semangat, kerja keras, pantang nyerah, dan tangan Tuhan.

Tangan Tuhan yg memberi musibah, dan disikapi dengan semangat positif untuk maju lagi. Bukan mengeluh, tapi berusaha.

Sambil jalan, membantu orang yg membutuhkan. Tangan Tuhan pun semakin membantu.

Ini semua, dilakukan anak 20 tahun.

Bangga. Sangat bangga.

 

Ini beberapa link untuk mengenal Dea lebih lanjut:

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *