Life without make up

Life without make up – Ah, ketika ada yang bertanya ke saya tentang “kepribadian wanita di usia 20 tahunan” sayapun tersenyum. Oalah, kalau saya ada kesempatan untuk kembali duduk bersama diri saya di awal usia 20 tahunan, apa yang akan saya katakan ke dia ya? Mungkin sebelum saya mengatakan apapun, saya akan peluk dulu. (Emang suka agak sentimental aja anaknya).

Peluk, bukan karena kasihan, tetapi karena bangga. Bangga atas perjalanan melalui semua drama, gila, sulit, ketidakjelasan dan ketidaknyamanan, juga atas semua usaha untuk tetap membuatnya menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Bangga atas perjalanan mencoba berbagai hal untuk melihat apa yang paling cocok di diri.

Tetapi, dibalik semua itu usia 20tahunan itu memang usia-usia puncak kegalauan, drama dan baper (terutama untuk saya ya). Gak heran sih, karena kalau selama ini kita tidak diharapkan untuk memiliki “kejelasan” dan “tanggung jawab” dalam hidup dan kemudian DARRRRR tiba-tiba datanglah semua itu. Kita diharapkan untuk tahu mau kerja apa, mau melakukan apa, kapan nikah, dan lain sebagainya tanpa tahu mulai dari mana. Belum lagi dihantui semua ekspektasi dari orang tua, saudara, sekeliling dan juga society.

Jadi, kalau saya boleh bertemu dengan versi diri saya di usia 20 tahunan, ini hal-hal yang bisa saya bagi dengan dia:

1. Bring down the noise.

Kecilkan suara-suara yang ada dari luar. Karena akan banyak yang akan mencoba menasehati, ini yang benar, ini yang salah. Karena akan banyak posting-postingan di social media yang secara langsung dan tidak langsung mencuci otak kita. Butuh suatu kekuatan tersendiri untuk mulai mendengarkan dan percaya ke diri sendiri. Walau terkadang sering salah.

2. Redefine everything.

Definisikan kembali apa arti Career, Beauty, Success, Life, Confidence dan apapun lainnya untuk diri sendiri. Ini yang akan membantu kamu membentuk jati diri.

3. Extract value in everything.

Apa artinya? Mencoba mendapatkan value dari apapun/siapapun yang kita temui dan lakukan. Untuk tidak sok tahu, tetapi mendapatkan pembelajaran/insight dari semuanya. Untuk tidak merasa paling benar dan semua salah. Dan kemudian mengeluarkan value-value itu dari diri sendiri untuk orang lain.

4. Be so good at making mistakes.

Dari mengambil keputusan yang salah, memacari orang yang salah, mengatakan hal yang membuat kita menyesal…. ini waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa kita lakukan, dan kemudian belajar menghargai setiap kesalahan yang kita lakukan. Ya, asal sadar aja kita salah dan gak sok tau. Terkadang itu yang paling sulit. Sadar diri.

5. Learn to take off your masks little by little and love who you are.

Sadar atau tidak sadar, kita senantiasa menggunakan topeng-topeng dalam keseharian. Ingin terlihat sebagai kepribadian yang A, B, C, Z apapun itu. Ingin terlihat cantik, sukses, pintar dan lain sebagainya. Takut kelihatan bodoh, gak kompeten, cupu. Atau kebalikannya, selalu mengatakan “gue gak peduli orang mau ngomong apa tentang gue”. Well, biasanya yang ngomong gitu juga peduli kok.

Mungkin pertanyaan yang paling penting adalah, kalau kamu melihat diri kamu di cermin atau di tv, apakah kamu akan menyukai, mengidolakan dan menyayangi orang tersebut?

Jujur, di usia 20an, saya merasa lebih banyak mengkritik atau merendahkan diri sendiri dibandingkan menyayangi diri sendiri. Mungkin perjalanan itu dibutuhkan. Malah saya harus banyak berterimakasih ke diri saja di usia 20an untuk sudah melalui semua masa-masa tersebut sehingga saya bisa lebih menikmati yang sekarang. Menikmati masa-masa tanpa harus memasang wajah atau topeng. Menikmati life without make-up.

Learn more »
No Comment

How are you?

how are you“how are you?”

Apakah saya pernah memberitahu tentang teman saya yang selalu mengatakan “alright” saat tiap kali saya bertanya how he’s doing? dan itu adalah jawaban yang konsisten darinya. It is never good, great or even meh. Saya selalu bertanya-tanya kenapa ya? tapi sekarang mungkin saya lebih mengerti.

Learn more »
No Comment

Me-reset Preferensi Hidup

Sahabat, tahukah Anda bahwa sebenarnya kita hidup di masa kini, mencipta masa depan, dengan mengulang masa lalu?

Salah satu tujuan utama belajar adalah untuk menjadi kenal (familiar), tahu, dan kuasai pengetahuan atau keterampilan tertentu. Di tahap awal belajar butuh upaya gigih. Setelah berhasil dikuasai, keterampilan ini menjadi otomatis. Yang diperlukan hanyalah pengulangan pola.

Saat kita hidup berdasar pengulangan pola, yang terjadi sebenarnya kita mengulang masa lalu, di masa kini, dan mencipta masa depan yang tak jauh beda dengan masa lalu. Dengan demikian kita sibuk jalan di tempat sambil merasa telah bergerak maju. Kita mencipta realita mengikuti cetakan perspektif dan kepercayaan masa lalu.

Untuk lebih mengerti penjelasan di atas, berikut saya beri contoh sederhana. Misal Anda ke resto yang menyediakan beraneka ragam makanan. Saat Anda masuk dan duduk, pelayan memberi Anda menu berisi daftar makanan. Apa yang Anda lakukan? Dengan cepat Anda pasti membaca, lebih tepatnya memindai (scanning) daftar makanan yang tersedia.

Apa yang Anda cari? Yang paling utama adalah mencari makanan yang Anda kenal, yang disuka, yang pernah atau sering Anda makan dan Anda tahu rasanya.

Bagaimana dengan makanan lain dalam daftar? Anda hanya membaca namun tidak berpikir untuk mencobanya.

Mari kita analisis dua hal di atas. Pertama, Anda mengenal makanan tertentu sebagai enak atau tidak enak, suka atau tidak suka, pasti berdasar pengalaman di masa lalu. Benar, kan? Di masa lalu Anda pasti pernah makan makanan tertentu dan memutuskan, berdasar pengalaman ini, bahwa makanan ini (sangat) enak. Pengalaman yang berkesan ini tentu akan diulang di masa depan karena memang demikianlah sifat dasar manusia, mencari kesenangan dan menjauhi ketidaknyamanan. Keyakinan bahwa makanan tertentu enak dan tidak enak selanjutnya memengaruhi persepsi dan menentukan jumlah pilihan. Demikian pula dengan makanan yang dirasa atau diyakini tidak enak. Anda pasti akan menghindarinya.

Di menu makanan terdapat puluhan macam masakan. Namun yang Anda pilih biasanya tidak akan lebih dari lima jenis. Sisanya, Anda tidak pernah coba. Bagaimana dengan minuman? Yang paling sering dipesan biasanya es teh manis. Benar?

Demikian halnya dengan hidup. Sebenarnya terdapat begitu banyak pilihan dalam hidup. Namun sayangnya kita, karena telah terkondisi, hanya dapat memandang dalam lingkup sempit dan hanya mampu “melihat” beberapa pilihan. Inilah yang membuat hidup menjadi begitu sulit karena praktis opsi kita sangat terbatas.

Kembali ke contoh di atas. Bagaimana bila saat Anda masuk depot, Anda me-reset preferensi Anda kembali ke titik nol? Artinya, Anda tidak masuk dengan membawa keyakinan bahwa makanan ini enak, itu tidak enak, ini yang disuka, itu tidak disuka, namun Anda membuka diri terhadap pengalaman baru, apapun itu, melalui makanan yang akan Anda pilih.

Bila ini bisa Anda lakukan, pilihan Anda menjadi sebanyak jumlah makanan dalam menu, tidak lagi hanya terbatas pada beberapa saja.

Bagaimana menurut Anda?

 

 

 

Source : Adi W Gunawan

Learn more »
No Comment

Menghadapi Tantangan Hidup

Menghadapi Tantangan Hidup, Hidup tidak lepas dari berbagai macam tantangan. Sering kita dengar, “apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita lebih kuat.” Sayangnya, seringkali kita juga melihat bahwa banyak orang yang yang dihadapi tantangan, secara fisik memang masih hidup, tetapi mereka tidak menjadi BETTER, tetapi menjadi BITTER — dimana jiwa pun seperti telah ‘mati’.

Tantangan dan pressure bisa mengubah kita menjadi batu atau berlian. Apa yang dilakukan berbeda oleh orang-orang yang akhirnya bisa menjadi berlian? Apa yang membuat mereka kuat?

Salah satunya adalah adanya sebuah belief/kepercayaan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa saya selalu dilindungi. Bahwa akan ada sesuatu positif yang akan terjadi dari hal ini. Bahwa saya tidak pernah sendiri. Bahwa saya bisa melalui semua ini. Bahwa there is good in everything. Bahwa diri kita hanya sebagian kecil dari dunia yang sangat luas, dan kejadian yang kita alami adalah bagian dari sebuah ‘master plan’.

1

2345

 

Dan kamu bisa mengubah keadaan yang buruk menjadi sesuatu yang baik!

Source : Colleen Butters

Learn more »
No Comment

Time management yang efektif dan efisien?

Bagaimana sih cara membuat time management yang efektif dan efisien? Pertanyaan yang diajukan oleh salah satu teman kita. Ada memang dimana kita merasa waktu dalam sehari itu kurang, entah karena pekerjaan yang terlalu banyak sehingga kita ingin melahap semuanya dalam satu waktu, tapi ternyata bisa juga karena kita yang kurang pandai mengatur waktunya.

Pertanyaannya :

assalamu’alaikum wr wb .. izinkan member newbie ini bertanya ya 🙂

saya sering baca baca dan menerapkan cara “to do list” atau “kerjakan yang utama dahulu”
namun dalam seiringnya waktu dan implementasinya … saya kok merasa ada yang kurang..
seperti waktu 1 hari itu kurang..

Pertanyaannya adalah gimana sih manage waktu yang efektif dan efisien ? Berikan contoh , dan serta step stepnya langsung .
…Terima kasih ..

Dan seperti biasa, teman-teman pun selalu menanggapi, jadi apa tanggapannya? berikut…

Aristiwidya :

Wow. Banyak pertanyaan time mgmt skrg ya.

Instead of sharing cara memanage-nya, itu nnt yg lain aja, aku share hal yg menurutku membuat kita gagal dalam time management ya. Dari hal-hal yg suka gue lakukan, hehe.

1. Terlalu ambisius ingin menyelesaikan SEMUA dalam satu hari. Yang akhirnya gue terapkan adalah bertanya “Apa 1-3 hal yg kudu dilakukan hari ini?” Karena kalau kita melihat to do list kita ada 15 lalu yg kita lakukan cm 3, trus kita akan merasa bersalah. Mendingan list gue hari ini cuma 3 and I do them all. Nanti kalau ada waktu tambahan, gue bisa menambahkan di to do listnya

2. Terlalu ambisius menjadwalkan waktunya.
Oh, bikin laporan 2 jam selesai kok. Yakin?!!!!! Oh ini mah satu hari selesai. Yakiiinnn??!!
Ada tipe2 pekerjaan yg memang ga bisa dilakukan sekali lgsg selesai. Apalagi kaya gue yg attention to quality and detailnya tinggi. Jd kadang kerjaan gue cicil jd 4 hari. Setiap hari 1-2 jam. Jd gue tenang. Dan ga berasa terburu2.

3. Tidak menjadwalkan waktu administratif.
Kaya reply email dll. Gue skrg jawab2 email itu cuma 2x sehari. Maksimum 2 jam. Kalo ga kelamaan. Hahha.

4. Ga menjadwalkan utk hal2 emergency.
Gue semakin pinter sekarang. Setiap hari menjadwalkan 2 jam utk hal2 yg sifatnya mendadak. Karena selalu ada dan bikin gue kesyel. Kalau pun ada hal yg mendadak gue bisa lbh tenang menghadapinya. Kalau ga ada gue bisa pakai itu utk mengerjakan apa pr gue besok. Yay!!

5. Ga take a real break.
Namanya manusia ya. Bukan mesin juga. Jadi in between tasks gue beneran leyeh2. Jalan2. Ketawa2. Atau tidur sejenak. (Keliatan bgt gue suka tidur ya)

6. Ga enak nolak orang lain.
Ini niiiih. Semua di iya in. Trus kalau ada yg telat gpp. Kalau meeting molor gpp. Gue semakin kesini semakin asertif. Di awal meeting gue akan bilang jam brp gue harus pergi spy gue ga telat ke selanjutnya. Toh kita jadi terpaksa mjd lbh efektif jg.

7. Ga paham sama diri sendiri atau cara kerja diri sendiri.
Gue tau gue itu morning person. Gue tau kerjaan2 yg gue senangi dan bisa cepet. Gue tau kerjaan yg gue sangat ga suka dan cenderung gue tunda2. Akhirnya gue adjust jadwal gue berdasarkan hal tsb.

8. Ga ada yg fun di to do list nya.
Hihihi. Ini spy gue excited aja sih untuk mencentang hal2 di to do list. Kadang gue masukin “hug someone” atau “send xx a birthday email” atau “eat chocolate cake”

9. Ga membentuk kebiasaan sendiri yg menunjang produktifitas.
Skrg gue py kebiasaan pagi sbb:
– bikin kopi
– membaca sktr 20 min
– look over to do list
– look over at my goals
– nyalain komputer
– menyelesaikan yg plg penting di pagi itu jg. No distraction. No socmed.

10. Ga membuat suasana kerja menyenangkan dan inspiring.
Eh apah? I love my desk. Gue suka bgt duduk di situ. Apalagi kalau pasang musik. Isssh. Lgsg fokus 300%.

Nahloh. Kok jd banyak. Itu sih yg kepikiran. Semoga membantu. Gue ga tau apakah ini menjawab pertanyaaannya. Toh, gaya tiap org beda2. Jd kita sendiri yg mesti menemukan ritme diri kita.

Have a great daaaaay!!

Andriy :

wa’alaikum salam, kalo masalah manajemen waktu, mungkin waktu shalat bisa sbg patokan..
sblum shubuh (terbit fajar)>> bagun
*terbit matahari >> mulai kerja..
dzuhur (matahari diatas ubun2)>> istirahat
selepas ashar (posisi matahari >45 drajat di arah barat) >> pulang kerja
magrib (senja) >> dirumah kumpul sma kluarga, baca2, etc
selepas isya (senja berakhir)>> tidur

jarak antara isya ke shubuh lebih dari 9 jam, masih enak la utk tidur 8 jam 🙂

Mona :

sukaaakk banget poin-poin dari Mba Ika. dan sekarang gw udah mulai bisa menolak tugas dari bos gw yang mana menurut gw kebanyakan dan tidak realistis kalau melihat kondisi kerjaan gw yang lagi padet berisi. memang awalnya gak enak, tapi gw beranikan diri untuk bilang “i cannot do it now and i wish i can do all my job at the same time”.

surprisenya, ketika hal itu dikomunikasikan ternyata si bos baru ngeh klo iya emg kerjaan gw lagi menumpuk berat, dan beliau bahkan bersedia menunggu dan bantu menyelesaikan sedikit porsi kerjaan gw. yang penting buat gw, klo gw gak punya intensi sama sekali untuk tidak mengerjakannya. klo menurut gw, time management terlihat gk efektif dan 1 hari kurang itu krn rasa ambisius gw yg pengen kerjain semuanya seharian. tapi yaaa ketika gw kerja terus-terusan yg ada badan gw lelah dan besoknya malah gk bisa kerja efektif. Alhasil klo badan lelah, mau ngapa-ngapain pun males.

Btw, thanks to Mba Ika, itu beneran tipsnya ciamik banget!

 

Hhihi, selalu menarik ya. Kalau dari kamu, ada yang mau di tambahkan gak? ada pertanyaan atau tips-tips? langsung di komentar saja ya.

thank you! 😀

Learn more »
No Comment

Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat?

Dalam seminggu terakhir ini banyak sekali dari teman-teman yang merasa kecewa. Kecewa terhadap pemerintahan tentang adanya larangan untuk transportasi berbasis on-line. Kecewa terhadap atasan tentang hasil performance review yang dirasa tidak adil. Kecewa karena orang lain mengambil keputusan tetapi tidak melibatkan dirinya. Kecewa karena kita tidak mendapatkan penjelasan atau reaksi yang sesuai dengan yang kita harapkan. Sampai ada beberapa pembaca kami di @theUnlearn pun kecewa. Tapi, Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat?

Yang paling menarik adalah ketika ada situasi dimana kekecewaan ini seperti pisau bermata dua. Bahwa tidak hanya satu pihak yang merasa kecewa, tetapi pihak-pihak yang terkait.

Ini cukup membuat gue kembali berfikir tentang apa yang bisa gue pelajari ketika kecewa.

Gue paham bahwa bagaimanapun dalam hidup, sebagai manusia, kita akan mengalami kekecewaan.

Mungkin pertanyaan pertamanya adalah:

1. Apa yang menyebabkan kita kecewa?

Ketika gue kecewa, gue sadar, ada 2 hal utama:

a. EKSPEKTASI – Gue tidak mendapatkan apa yang gue harapkan.
b. KETIDAKADILAN – Gue merasakan ketidakadilan terhadap suatu situasi.

Nah, ini lucu, karena sering kali pun, ketika gue kecewa, reaksi pertama gue adalah MENYALAHKAN ORANG LAIN.

a. EKSPEKTASI – Orang lain tidak melakukan hal yang sebaiknya/seharusnya dia lakukan.
b. KETIDAKADILAN – Orang lain melakukan hal yang tidak adil.

Ini cukup membuat gue mikir, ketika kecewa, apakah gue masih masuk dalam mentalitas VICTIM, atau gue bisa menempatkan diri untuk membangun mentalitas HERO?

Ini membawa gue ke pertanyaan ke dua.

2. Bagaimana kita bereaksi terhadap kekecewaan?

Hasil ngobrol sama pengemudi ojek, dia akhirnya pesimis tentang masa depan Indonesia. “Kalau pemerintahannya saja masih bermental seperti itu, gimana saya bisa optimis mbak?”

Hasil ngobrol sama teman, “Semua udah capek kerja di sini, udah pada ingin keluar semua, gue pun mencari kerjaan-kerjaan baru.”

Reaksi gue? Sedih. Tetapi bukan kecewa. Karena gue paham banget rasanya kecewa ataupun dikecewakan.

Rasanya emang KZL banget. (Mengikuti gaya bahasa anak masa kini).

Yang akhirnya gue mencoba menjaga, dan mengingatkan diri gue adalah. Apakah akhirnya bereaksi karena kecewa atau bisa merespon walaupun kecewa? Gue ikutan reaktif, atau berusaha memecahkan masalahnya?

Berkali-kali kecewa akhirnya tidak hanya bisa membuat kita pesimis, tetapi juga bisa membuat kita merasa tidak peduli lagi, apatis ataupun dendam dan benci.

Dan gue belajar, setiap kali kita merasa apatis, dendam atau benci, lebih banyak dampak negatifnya ke diri gue sendiri dibandingin ke orang lain. Secara gak sadar, gue pun meracuni diri gue sendiri. Akhirnya gue membunuh diri gue sendiri perlahan-lahan dengan mengumpulkan kekecewaan. Hmpppfff..

3. Tetapi, bolehkah gue kecewa?

Boleh banget lah. Namanya juga perasaan.

Toh di sisi lain, kita juga akan sering mengecewakan orang lain. Karena mau gak mau, kita tidak bisa memenuhi ekspektasi dan keinginan semua orang. Jadi pasti akan ada yang kecewa.

Kembali lagi ke pertanyaan no 2, sejauh mana kita akan membiarkan kekecewaan ini menghantui kita?

Oke, kita boleh kecewa, lalu so what?

Walaupun kecewa, apakah gue akan memilih bertindak karena kesal dan benci? Atau gue tetap bisa bertindak karena rasa sayang dan peduli?

Gue sangat ingat momen dimana teman gue marahnya setengah mati karena tidak mendapatkan rating yang diingikannya. Gue ingat ada deh 2 jam dia curhat ke gue sampai gue ikutan lelah.

Kerennya, setelah Ia bisa menenangkan diri, akhirnya Ia bisa berfikir lebih jernih dan strategis. Yes memang keputusan itu memang bisa terasa tidak adil, karena hidup pun sering terasa tidak adil. Tetapi, dia akhirnya menggunakan ini menjadi kesempatan untuk mengubah situasinya.

Ia kemudian bertanya ke atasannya, “Kalau saya ingin mendapatkan rating tertinggi, apa hal-hal yang bisa atau harus saya lakukan? Bagaimana kesempatan saya? Apa ukurannya?”

Akhirnya…
Bisakah kita mengekspresikan kekecewaan dengan sehat dan benar?
Bisakah kita mengubah kekecewaan itu menjadi pembelajaran dan kebaikan?
Bisakah kita akhirnya tidak malah memperburuk keadaan, tetapi bisa menurunkan ego dan mencari jalan terbaik?

Learn more »
1 Comment

Bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat sekitar kita?

Hello Unlearners,

Post kali ini ulasan pertanyaan dari teman kita, berikut pertanyaannya :

Hai teman-teman unlearn…
Salam kenal ya?
Btw, aku ada pertanyaan nih ? . . gimana sih supaya terkenal di masyarakat (minimal di RT aku dulu) .. Cause, aku orangnya pemalu banget. Untuk sekedar say hi sama tetangga aja blank mau ngomong apa lagi…
Makasih sebelumnya 🙂

Yikes, gampang-gampang susah ya memang untuk bersosialisasi dengan masyarakat di lingkungan sekitar rumah kita. daaaann teman kita ini juga menambahkan… Kalau Ia masih remaja (usia sekolah) yang baru pindah ke tempat baru. Gue sendiri suka salut sama orang yang mau belajar untuk bersosialisasi, karena setidaknya dia mau berusaha untuk belajar mengenal dan perduli dengan lingkungan terdekatnya. Lalu Bagaimana cara bersosialisasi dengan masyarakat sekitar kita? Ada beberapa tanggapan dari teman-teman unlearn, berikut :

Khoirina :

Gimana sih supaya terkenal di masyarakat?
Yang paling gampang sih ya menyapa. Sekedar senyum atau permisi kalau lewat, bisa? gak harus ngobrol panjang lebar sih kalau gak ada kepentingan juga.
Kalau punya kepentingan (mau tanya sesuatu ke masyarakat) tapi gak bisa ngomong gimana? itu bukan malu, itu males.
Gak masalah sih kalau kamu orangnya pemalu, tapi jangan sampe itu kita jadikan alasan yang akhirnya membatasi diri untuk bergaul dan bersosialisasi di masyarakat.

Rizal :

Kamu kyaknya introvert, dan itu gak masalah !
saya juga gitu. cuma pas kebantu sama kegiatan Karang Taruna. pas giliran ada acara 17 agustusan RT / RW, ya masih bisa ikut gaul walaupun jadinya setaun sekali hhe. daerahmu masih ada lah kayaknya kegiatan Pemuda / Pemudi macem gini.
tapi saya walaupun pendiem masih berani ngomong kalau waktu rapat / hal penting / hal yang menarik. ngomongin berbau nerd / geek, tapi kalau ngomongin motor atau sepak bola kayak anak cowok lain, I don’t give a shit.
tapi ya gitu kalau dipaksa, energi orang introvert bakal cepet abis di situasi pas bareng banyak orang.
jadi kalau sosialisai yang gak mutu juga males, kayak nongkrong atau ngobrol gak jelas. mending pulang aja. internetan / baca buku / denger musik.
kalau emang pingin bisa sosialisasi, cari temen aja yang bisa bantu kamu yang secara sosialnya emang sehat, bukan tukang gosip.
tapi, kalau niat kamu pingin terkenal lebih cepet, cari sensasi. kayak pura pura jadi anak salah gaul :v << yang terakhir jokes ajaa :p

Ari :

Gw juga dulunya pemalu banget dan masih sampe sekarang. sodara sendiri aja sampe gak kenal padahal masih satu lingkungan. :’) tips dari gw sih, pelan2 coba say hi.. emang awalnya rasanya gak enak manis asem asin gimana gitu, tp cuek aja. klo udah kebiasa pindah kelevel berikutnya, iseng nanya “lagi ngapain”, mulai-mulai perhatiin sekitar, klo lagi ngejemur becandain dikit “wah cuciannya banyak nih”. so asik aja. lama-lama kebiasa dan jadi karakter lu berubah doing by the time. ya sisanya improvisasi ya, bisa nyontek temen, atau film dll. G’luck 🙂

Selalu keren dan mendukung untuk kita bisa jadi manusia yang lebih baik lagi ya. Seru-seru! 🙂

Kalau ada yang mau menambahkan jawaban, boleh banget! Langsung di komentar ya. Kalau ada pertanyaan yang kamu mau sampaikan juga bisa melalui email kami, atau Kalau ada yang mau ikut gabung diskusi langsung, klik join disini ya!! Thank youuu. 🙂

Learn more »
No Comment

24 Kebiasaan Yang Bisa Membuatmu Semakin Cerdas

Mendapat kiriaman dari teman theUnlearn, Fickry. Dari Business Insider, 24 kebiasaan yang bisa membuatmu semakin cerdas. Yes, Kalau ada kebiasaan-kebiasaan baru yang bisa kita bentuk dari sekarang dan bisa membuat kita semakin cerdas, kenapa tidak? Lalu apa aja sih kebiasaan-kebiasaan tersebut?

Kebiasaan yang membuatmu semakin cerdas

Kalau ada hal-hal yang bisa dibentuk menjadi kebiasaan yang langsung gue pilih untuk diterapkan adalah

2. Follow your question

Kadang gemes sendiri sih, kalau ingin tau sesuatu tapi gak tau-tau. Akhirnya setelah gak berhasil tanya ke buku ataupun google, gue jadi tanya ke banyak orang. Termasuk di theUnlean, yang seringkali berisi pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk di dapatkan jawabannya. Kenapa? Harus apa? Harus bagaimana? oh, oke.

8. Share what you learn with people

Yes, salah satunya dengan membuat posting ini. Teman gue sudah share hal ini, dan gue share lagi agar semakin banyak orang yang tau. Sesederhana itu kan? Ya. Lalu kalau dalam hal lain bagaimana? Ya di share juga pembelajarannya. Ada teman gue yang gak mau sharing karena takut, takut sharingnya dia gak diterima teman-temannya. Takut ketika sharing, dia jadi kelihatan keren. Padahal, urusan orang lain terima atau nggak. Tentang terlihat keren atau nggak, itu urusan belakangan. Share aja dulu. Tapi ingat, memang ada hal-hal yang perlu di share dan gak perlu di share. Selagi hal itu bisa bermanfaat untuk orang lain dan positif kalau mau share ya boleh bangeeettt:)

19. Do something scary

Yang benar-benar tau diri kita itu adalah diri kita sendiri. Gue tau, gue takut untuk ada di ketinggian dan melompat kebawah. Tapi ada keyakinan yang di lontarkan teman-teman gue, “gue bisa, masa lo gak bisa sih…” dan wussshhh~ gue lompat dari ketinggian 10 meter, terjun bebas dan mendarat di air. Oh, god. Gue masih baik-baik aja tuh sampai sekarang, dan rasanya lucu memang, kadang kita cuma takut dan sudah. Gak mencoba melakukan sesuatu untuk melawan rasa takut tersebut. Ah, cobain deh. Melakukan hal yang menakutkan.

Kalau ada hal-hal lain yang bisa kamu jadikan kebiasaan Yang Bisa Membuatmu Semakin Cerdas, apa aja sih? atau dari list di atas, kamu mau menambahkan apa? share dengan kami yaa!! thank you 🙂

 

Learn more »
No Comment

Bagaimana cara melatih Life Skills?

Unlearners, ada pertanyaan masuk lagi nih!! Bantu jawab yuk! 😀

Pertanyaannya :

Saya masih binggung klo ditanya hobbi. tapi lebih sering memikirkan sesuatu dan membaca. sering-sering tentang diri sendiri spt ada yang salah dalam hidupku dan bacaan saya lebih ke masalah hidup terutama pengembangan diri.

mungkin ada saran bagaimana agar saya bisa berlatih “life skill” atau kecerdasan sosial?

Seperti biasa, teman-teman di theUnlearn Community selalu memberi tanggapan, jadi apa sih tanggapan dari teman-teman kita?

Jawabannya :

Irma Widyaningsih :

Waahh punya hobbi membaca dan pemikir sudah sesuatu yang yang bagus.. Ga ada yang salah, karena apa yang dibaca belum tentu orang lain baca juga.. Ada ilmu di sana. Ada yang (mungkin) nantinya bisa di share ke orang lain.

Suka bacaan mengenai pengembangan diri.. Saya jujur juga suka jenis bacaan seperti ini. Membaca buku jenis ini seperti membawa saya utk bisa kenal dengan orang lain lebih baik.

Dua poin sudah anda punya, bagaimana menjadikan lebih bermanfaat? Mulai terbuka terhadap sosial. Cari wadah yang sesuai dengan minat anda atau yang menurut anda dapat membantu orang lain dengan cara men-sharing apa sudah di baca, berbagi cerita mungkin. hehehehe

Sandra Anggagita :

kalo menurut ane sih belajar life skill tuh bisa darimana aja, mungkin kalo orang nya ekstrovert bisa coba untuk bersosoialisasi dan mencari lingkungan yang baru
kalo orang nya introvert belajar life skill bisa dari film , buku, atau ngobrol dengan temen. ga harus serius juga ngobrol nya yang penting bisa sharing.

Roni Nasrul Huda :

Life skill ya, contoh kecilnya kita bisa cmn hanya sekedar duduk dan “mendengarkan” di satu warkop dan warkop lain.. Klo mau dan ingin bicara ya bicara aja.. Dan klo setelah itu kita berpikir apa yg kita ucapkan td salah, its okay.. Lain kali kita harus menemukan kata yg tepat..

“Make mistake and try to be better”.

CMIIW

Dimastya Yonathan P. :

Mslahny mgkn saya alami jg. Bngung nentuin apa sh hobby saya. Dan mgkn hobbyny beda ama yang lain. Kl yg lain, hobbyny Futsal, mendaki gunung, dgerin musik, blabla.

hobbynya memikirkan sesuatu dan membaca.
Btw, membaca tuh bner2 py kekuatan. Slain kita mnambah ilmu, tp ngbuat kita smkin bnyak ga taunya.
Dan mgkn org yg bnyak membaca suatu buku motivasi dan dpkirin mndalam, mkin ngbuat diriny smkin bnyak kekurangan sana sini. Dan mempengaruhi dlm khidupanny shari2 seh..

Sbnerny gada yg salah dlm hidup, hnya mgkn trlalu dpkirin mndalam.

Umpamanya.. klo kita bli barang harga 1800, lalu kita bayar pake 2000, teorinya kmbaliannya hrusny 200 perak.
Tapi kadang kita dkasi malah 1 permen rasa mangga (hahahhaa)

Jd memang buku brisi pngtahuan2 yg kita ga tau, tp tetep ngjalanin hidup scra santai. Krn hidup bkal ajarin sndri sih life skill dan kcrdasan sosial spti yg diri kita butuhn. Dan Kdang menyimpang dr teorinya.

Itu sih yaa.. Hehhee maaf ya kl ga brbobot, perdana ekspresiin pndapat d Dunia maya ni.
🙂

Bambang F. Indarto :

Kalau gabungan membaca dan berpikir menurut sy malah bagus ya. Sy malah sedang berkebalikan, membaca sudah mulai berkurang dan lbh sering berpikir praktis. Entah karena terpengaruh pekerjaan yg menuntut sy untuk seperti itu. Jd … untuk lbh sering membaca posisinya skr jd cita2… hehehe.. keep on reading 🙂 🙂

Tony Setyawan :

nambahin dikit ya,aku pikir yang dialami si penanya ini lumrah dan pasti terjadi diantara kita,cuman bedanya kita ambil pusing apa tidak.
menggali tentang pengembangan diri itu sangat bagus,tapi jangan terlalu jadi kecil hati bahwa kita ini ternyata tidak bisa apa apa,selalu salah atau whatever.
setiap kita pasti ada kemampuan dan kelebihannya

saya percaya bahwa manusia tidak bisa dirumuskan. introvert ekstrovert hanya sekadar istilah yang muncul dari menganalisa kesamaan beberapa manusia saja.

intinya,kenali diri,terima,dan syukuri dulu diri kita sendiri. seiring dengan itu, pandangan sinis terhadap diri sendiri harusnya berkurang dan berangsur hilang
keep on reading 🙂

Muhammad Wildan :

Saya sependapat sama jawaban mas Roni Nasrul Huda menurut saya kalo kita pengen belajar mengenai life skill pastinya kita harus berani terjun langsung ke masyarakat agar kita bisa interaksi lebih banyak, buat cari ilmunya yaa bisa ikut seminar, pelatihan dll atau di internet banyak hehe.

Khoirina :

Ngomongin life skills ya, theUnlearn sempat buat survei deh. Teman-teman bisa lihat hasil surveinya setelah isi survei tersebut >> http://theunlearn.com/survey-life-skills/

Kalau dari gue, saran untuk melatih life skills itu dengan mengenali diri kita dulu, Kurangnya dimana nih, atau apa yang mau di perbaiki. Contonya ya, gue itu suka mengeluarkan pendapat dan kasih komen atau kritikan gitu. dan sering kali gue gak di dengarkan, jadi supaya bisa lebih di dengar gue mau belajar buat memperbaiki komunikasi supaya lebih efektif. Caranya? ya belajar berkomunikasilah dan terus mengeluarkan pendapat.

Aristiwidya :

Aku ikut menambahkan yaaaa.

Kalau aku belajar life skills dari bbrp hal ini:


1. Berani mencoba hal baru, termasuk berani membuat kesalahan dan kemudian bertanya “Bagaimana agar bisa lebih baik lagi next time ya?” Selalu mencoba keluar dari comfort zone.

2. Self-awareness
Paham apa kekuatan, kelemahan dan tidak menjadikan kelemahan itu penghambat/alasan. Paham values, prinsip, keinginan diri. Jadi memang sering2 reflektif. Rajin2 bertanya ke diri sendiri utk lbh mengenal diri sendiri.

3. Keinginan untuk selalu belajar hal2 baru dan kemudian mempraktekkannya. Karena jangan sampai kita hanya sekedar tahu tetapi tidak pernah melakukannya, sehingga wisdom tdk terjadi. Sampai gue berusaha bertanya ke diri gue sendiri setiap hari “Apa yg gue pelajari hari ini?” Karena gue bisa selalu belajar dari segala situasi dan setiap orang yang gue temui.

4. Paham apa yang dimaksud dengan life skills. Hihihi. Ini pun gue telat tahunya. Khoirina makasih sudah di share link surveynya karena dari situ jd lbh tahu hal2 yg termasuk dalam life skills.

5. Bertanya “bagaimana saya telah menjadi manusia yang lebih baik?” Ah, ini juga yang ga selalu bisa gue jawab. Apakah gue hari ini sudah bermanfaat bagi orang lain? Apakah hari ini gue sudah mengalahkan ego gue? Apakah hari ini gue sudah mencoba mengalahkan rasa takut/malas/benci?

Serunya hidup ya. Setiap hari dan setiap momen itu kita diberi kesempatan untuk “naik kelas”. Dan akhirnya tergantung apakah gue melihatnya dan mengambil kesempatan itu.

Makasih yaaa sudah kembali mengingatkan gue 🙂

Senangnya ada di komunitas ini memang ketika kita bertanya mengenai apapun itu tentang hidup, selalu ada yang menanggapi. Positif dan tidak adanya jugement. The Unlearn juga masih melakukan survey life skills hingga sekarang, kalau kamu mau mengisinya bisa klik disini! 🙂

Teman-teman pembaca, kalau ada yang ingin menambahkan jawaban untuk teman kita boleh banget lho. Melalui kolom komentar ya! Terimakasih 🙂

Learn more »
No Comment

#KopdarTheUnlearn, Enjoy the conversation with new friends

Masih teringat di kepala ketika #KopdarTheUnlearn kemarin, 60% diantaranya adalah wajah baru yang pertama kali bertemu saat itu dan sisanya adalah alumni peserta kopdar sebelumnya. Apa yang terjadi saat manusia yang terinspirasi hal yang sama berkumpul bersama? dan 90% diantaranya karena bertemu melalui internet ini? Ngobrol 7 jam lamanya dengan teman-teman lama dan baru  itu menyenangkan sekali (at least untuk Tim Unlearn sendiri.) Lalu apa sih yang kita obrolin kemarin?

Kopdar4

1. Jangan sampai otak kita karatan.

“Karena kalau gue gak belajar sesuatu yang baru, kasihan nanitu otak gue karatan. Jadi gue perlu nekat belajar hal baru, biar otak gue gak karatan.” Sharing dari Maria, yang saat itu telah bekerja 5 tahun di bagian finance dan kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan pindah ke bagian product. Karena ingin belajar hal baru, karena ingin terus mengasah otaknya agar gak karatan.

2. Kalaupun jadi kacung kampret, jadilah kacung kampret yang paling keren.

Sedang bicara tentang internship,  Kalau lagi internship, seringkali hal-hal yang di kerjakan itu gak sesuai dengan apa yang di pelajari saat sekolah/kuliah. Ini dia yang di sebut kacung kampret. Eits, tapi sebenarnya meski saat internship itu jadi kacung kampret, jadilah kacung kampret yang paling keren. Karena siapa tau setelah selesai magang dan lulus kuliah, akan langsung diterima kerja di tempat tersebut.

3. Keberuntungan akan datang ketika hati loe dalam kondisi genuine happiness dan disertai keinginan yang tulus.

Ngomongin genuine happiness, jadi kalau keberntungan mau datang coba untuk ada di posisi genuine happiness yang disertai dengan ketulusan. “Kalau gue mengukurnya dengan penggaris gue (+5 – 0 – -5) genuine happiness gue ada dimana nih hari ini, itu sendiri kan gue yang tau. Pernah sih dompet gue hilang dan perasaan gue biasa aja saat itu. atau ketika gue ada di posisi -2 apa nih yang bisa gue lakukan biar paling tidak genuine happiness itu ada di posisi 0.” kata Astra menanggapi. Genuine happiness dan ketulusan itu sebenarnya kita sendiri yang mengetahuinya.

4. Bedakan antara curhat sehat dan curhat yang ngerepotin

Curhat yang ngerepotin itu yang isinya curhat negatif, complain, dan gak jelas tujuannya apa. Mungkin hanya butuh di dengarkan dan seperti mencari pembenaran. Yikes, ada banget ya yang kayak gini, “Kalau gue, gue jadi lebih banyak menghindar sih kalau udah tau orang yang sering curhat ngerepotin gitu.” kata Ika. “kalau gue, karena gak bisa menghindar yaudah gue dengarkan aja sambil mengerjakan hal yang lain.” kata Inez. Karena terkadang orang curhat itu memang hanya ingin mencari pembenaran saja, kalau dia gak benar apa kita mau benarkan juga? Daaaann akhirnya curtahan tersebut malah merepotkan orang lain.

5. Sudah bukan jamannya gak enakan dan menjadi “yes man”. Tanggalkan minder dan gak enakan.

“Saat gue kerja ada bule India bilang kalau kerjaan gue itu keren, tapi terlalu ‘yes-man'” Kata Irwan. Pengalaman tersebut Ia share dan responnya banyak juga, jadi yes-man karena gak enakan, jadi yes-man karena sulit untuk mengungkapkan sesuatu, jadi yes-man karena keterbatasan bahasa.

6. Tentang buku The Secret dan The Four Agreements.

“Mbak Sebenarnya buku the secret itu benar gak sih?” tanya Fickry. “Sebenarnya itu benar kok, tapi ada prosesnya juga. Kalo lo berpikiran pengen punya mobil, gak langsung punya juga kan? ada proses dan perlu usaha juga. Tapi gue sendiri pernah ngalamin, gue lagi mikir pengen banget sate, eh sorenya ada tukang sate lewat depan rumah gue. Kejadian kan?” Dan itu juga terjadi ketika tidak ada lagi drama dalam hidup lo, tenang. Ketenangan yang sesungguhnya ya, seperti saat menditasi ataupun sholat yang beneran khusyu, bukan sekedar gerakan sholat aja. Doa atau keinginan lo bukan gak mungkin kan bisa terwujud.

7. Tentang toleransi, belajar antri, menempatkan sesuatu pada tempatnya.

“Seperti saat mau masuk lift atau gerbong kereta, seperti biasa ada seruan ‘dahulukan penumpang turun’ nah itu gunanya supaya yang mau masuk juga bisa lebih leluasa nantinya kalau penumpangnya udah turun. Gue banyak nemu yang kayak gitu, takut kehabisan. jadi orang belum turun main masuk aje.” kata Astra. “Gue ngalamin itu juga, sebenarnya kalau ada toleransi gak ada tuh sikut-sikutan di gerbong kereta. Karena gue pun sering alamin saat naik kereta.” Amanda menanggapi. “Pas gue lagi di lampu merah, ada motor yang di tempelin sticker ‘bike to work’ jelas kan itu motor bukannya sepeda, terus ada orang yang turun dan permisi buat copotin sticker itu. asli, gue salut banget sama itu orang.” kata Andri. Terus hubungannya apa? Banyak dari kita yang belum bisa antri, belum bisa bertoleransi, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya. Kalau mau menegur pun kadang ada rasa gak enakan, padahal kalau salah ya di tegur saja supaya gak berulang.

Seru berbagi 7 jam lamanya dengan orang-orang keren. Ah kita ngomongin apalagi sih? Banyak banget! andai bisa di ceritakan semuanya disini, gak kelar 5 jam loe bacaya nanti. Menyenangkan. Bertukar tawa dan cerita dengan orang yang sebelumnya bahkan gue belum pernah ketemu, atau alumni yang masih setia hadir di kopdar. Yang kemarin datang, boleh lho share pengalaman, kesan, pesan atau belajar apa saat kopdar kemarin.

Terimakasih untuk makanan-makanan yang enak dan banyak dan terimakasih sudah meluangkan waktu, berbagi hati dan saling menghidupkan satu sama lain. You are all so beautiful.

 

Cheers,

The Unlearn Team.

Learn more »
No Comment

Kerja

Kali ini mau share kultweet dari Pak Handry Satriago (@HandryGE), CEO GE Indonesia, Tentang “kerja”, pandangan sederhananya mengenai kerja.

Well, langsung saja dibaca deh ya…

==================================

1. Got a time to share…ingin ngomongin soal sederhana saja…tentang #kerja.  Tentang pemilu atau memilih siapa sudah banyak yang bicara

2. Pertanyaan sederhana, kenapa harus kerja, kerja apa yang baik, gimana cara kerja, kerja di mana enaknya, dst…pertanyaan umum tentang #kerja

3. Tentunya semua orang bermimpi untuk bisa “do what you love, love what you do”…tapi kadang jalan tak selalu mulus. #kerja

4. Saat lulus S1, saya ingin sekali jadi ilmuwan…kerja di lab, hasilkan temuan-temuan berguna…tapi ada tuntutan biaya yang tak kecil. #kerja

5. Mencari #kerja bermula dari sebuah keputusan tentang kapan dan kenapa. Saya memutuskan harus cepat kerja karena ingin punya uang sendiri

6. Ada sih kesempatan untuk santai dulu, cari yang cocok, dst…toh ada orang tua waktu itu yang dengan sukarela mau tetap menafkahi saya. #kerja

7. But I think harus ada titik awal…dan titik awal itu harus sekarang. Saya memutuskan #kerja agar mulai bertanggung jawab pada diri sendiri

8. Pastinya tak bisa semua biaya langsung tercover dengan uang pertama hasil #kerja…tapi kalau tak dimulai, kapan belajarnya?

9. Menunggu #kerja yang sesuai harapan dengan tak bekerja seakan memberikan excuse pada diri sendiri untuk memulai bertanggung jawab

10. Buat saya waktu itu, at least pertanyaan pertama terjawab sudah…kapan mulai #kerja nya? sekarang!

11. Habis lulus kuliah itu, saya mendefine #kerja sebagai ada aktifitas rutin, dan menghasilkan pendapatan yang rutin…

12. Saya butuh rutinitas #kerja itu saat awal…agar ada perubahan ritme kehidupan..agar ada proses pembelajaran baru

13. So, temukan jawabanmu sendiri, kapan harus #kerja, dan kenapa…baru first step bisa dilakukan…tanpa itu, kita bermimpi terus..

14. Mindset #kerja harus dibuat dari awal…profesional! selama duit upah diambil, do the best! harus itu! walau kerjaan tak menyenangkan

15. Mindset profesional itu penting untuk perjalanan #kerja selanjutnya.  Kalau kerja dimulai dengan malas-malasan & banyak excuse, ancur lah nanti

16. “Ah, gue ga bisa #kerja maksimal nih karena kerjaan gue ga enak, tempat kerja ga asik, boss gue belekan, dst” Selalu ada excuse untuk do the best

17. Mentalitas “excuse” itu lah yang bikin orang tak kuat berjuang, tak tahan banting, tak kreatif, dan tak maju-maju. ..#kerja

18. Sama dengan mentalitas “cepat berbahagia” karena tak mau bertanding lebih keras. #kerja memerlukan “Fire” dalam diri untuk bisa jadi lebih baik

19. “cepat berbahagia” tak apa…kalau tak menginginkan hidup seperti orang lain…kalau tak membandingkan hidup dengan hidup orang lain. #kerja

20. Yang ribet adalah “merasa sudah segini aja”, tapi tak henti ngedumel karena ngerasa hidup tak adil.. #kerja

21. Berserah diri serta bersabar adalah proses yang aktif..bukan passive menerima tanpa berusaha. #kerja

22. Jangan takut memulai #kerja dari bawah, dengan pendapatan rendah…Karena selama distrategikan dengan baik, selalu ada jalan untuk bertumbuh

23. Saya memulai #kerja dengan goal 1) punya pendapatan sendiri, 2) bangun network, dan 3) belajar bekerja

24. Dan sadar bahwa untuk goal #kerja tersebut, akan ada “trade off” nya…uang tak cukup, tak trendy, tak langsung mentereng.  Tak apa.

25. Saya memulai #kerja dengan pemikiran harus merusak comfort zone” saya..cari teman-teman baru, cari rhythm baru.  Creative Destruction istilahnya

26. Di awal #kerja itulah masa depan mulai dibangun. Dua kunci yang harus dipegang adalah Profesionalisme dan Integritas.

27. Saat sudah #kerja, tantangan baru muncul…terlena pada rutinitas…dan cita-cita untuk maju pun tergilas pada kelelahan 8 jam bekerja

28. Apalagi kalau kebetulan dapat #kerja yang uangnya cukup bagus…konsumtif mulai menyerang…dan proses growing self mulai terlupakan

29. Selalu sediakan waktu untuk bertemu orang baru, belajar sesuatu yang baru, dan berpikir “what’s next” sesudah menjalani rutinitas #kerja

30. Game berikutnya adalah mencari “do what you love and love what you do tapi kebutuhan biaya tercukupi”. #kerja

31. Selalu ingat tak semua ideal tersebut bisa dicapai.  Kadang “do what you love nya” belum dapet…”love what you do” nya bisa di push. #kerja

32. At the end of the day, “kebutuhan biaya tercukupi” itu yang harus disiasati dengan baik…Standard kehidupan itu kita yang tentukan. #kerja

33. Standard, tak bisa dimulai dengan tinggi-tinggi. Juga tak perlu ikut-ikutan orang lain.  Bisa-bisa terjerat kredit yang tak kunjung selesai. #kerja

34. Kalau saya, dari dulu tak suka berhutang.  Tak perlu naikkan standard dengan cara ambil hutang. #kerja

35. Agak terlalu ekstrem barangkali…tapi saya memulai hidup sendiri denan “operationally tak kekurangan but assetless”. #kerja

36. Saya tak mau terburu-buru punya asset (rumah, mobil, dsb) tapi nanti operationally mreki. :).  Hidup ini perlu dinikmati. #kerja

37. Ketika sudah punya uang sendiri hasil #kerja, jangan ragu untuk memberi pada orang lain…terutama pada orang tua sendiri.

38. Uang itu bukan milik kita…dia bisa diambil kapan saja oleh Tuhan dengan cara apa saja…So, jangan ragu untuk share uang hasil #kerja ..

39. Nasehat orang tua saya ini berguna buat saya..”Jangan #kerja untuk cari uang, Han..tapi untuk ibadah…uang bisa hilang taip ibadahnya enggak”

40. #Kerja itu melibatkan orang lain…seperti saya pernah twitkan, “never make enemies..you may have opponents..but not enemies in work”

41. Values, itu yang perlu dibangun dalam #kerja.  Great values seperti profesional, integrity, vision, dst yang akan membangun karir kita.

42. If you have great values dalam bekerja, great result will come dengan sendirinya…sekarang ataupun nanti. #kerja

43. Kalau yang dibangun adalah mindset mencapai target #kerja selesai dengan segala cara, ada jurang yang siap mencelakakan. Sekarang atau nanti

44. Segitu deh, sharing tentang #kerja nya malam ini.  Semoga berguna dan bisa jd pelipur kalau bosan dengan cerita pemilu terus-terusan.  🙂

Learn more »
No Comment

Kesalahan yang sering dibuat saat usia 20an

Kesalahan yang sering dibuat saat usia 20an,- Kebanyakan orang menggunakan usia 20-an mereka untuk mencari tahu apa artinya menjadi dewasa, dan proses ini tentu tidak mudah bagi semua orang. Gak jarang juga akhirnya kita membuat kesalahan-kesalahan di usia 20an ini, apa aja sih yang sebenarnya hal yang sering kita lakukan han itu jadi kesalahan?

1. Berpikir bahwa pendidikan dan bakat yang cukup untuk menjadi sukses.

Kecerdasan saat di bangku sekolah, bakat yang dimiliki, ditambah gelar akademis dari universitas itu hal yang baik yang bisa kita miliki, tetapi hal ini gak menjamin kesuksesan jika tidak di sertai dengan kerja keras dan ke konsistenan.

Yang menjadi pendukungnya juga adalah social skills, kalau hanya sekedar pintar dan berbakat tapi komunikasinya lemah atau attitude nya gak bagus, bagaimana bisa berinteraksi dengan baik dan terlihat value yang dimiliki?!

2. Menyamakan uang dengan kebahagiaan.

Berpikir bahwa memiliki gaji yang besar, uang yang banyak kita pun akan bahagia. Uang memang bisa membantu kita untuk memenuhi kebutuhan hidup, tapi kebahagiaan sebenarnya kita bisa ciptakan sendiri dan gak harus dengan memiliki banyak uang. Pandai-pandai bersyukur deh, teman saya yang bebrapa waktu yang lalu berbaring sakit karena bekerja lupa waktu akhirnya pun sedih sendiri, punya uang banyak tapi berujung dengan berbaring di rumah sakit.

3. Tidak memperhatikan kesehatan diri

“Ah masih muda, gue bisa ngelakuin apa aja kok.” Gak masalah kok kamu mau melakukan apa saja, yang penting tetap bertanggung jawab dan menerima segala resiko yang dapat di timbulkan. Mau mabuk sampai jackpot, kerja 3×24 jam nonstop, atau bahkan diet ‘gak’ sehat yang membuat kamu gak makan berhari-hari. daaannn, pada hal ini gak sedikit kejadian yang menimbulkan penyakit ataupun kematian. Yuk deh, mulai menyayangi diri sendiri. Mulai sekarang ya!! 🙂

4. Menunda melakukan sesuatu

Untuk hal apapun itu yang bisa di tunda, sering kali kita menundanya. Yes, selalu menunda mengerjakan segala sesuatu dengan segera mungkin, lalu seringkali kejadian ternyata waktunya udah mepet akhirnya gak dikerjain. Lari dari tanggung jawab, yang akhirnya kita bikin susah diri kita sendiri. dalam hati bilang “ya ampun, selama ini gue kemana aja? gue ngapain aja sih? duh..”

5. Mencoba menyenangkan semua orang

Ingin menyenangkan semua orang, bersahabat dengan semuanya, teman lama, bos, klien, rekan kerja. Yes,  Gak salah kok melakukan hal ini, yang perlu di persiapkan adalah penerimaan bahwa ketika kamu mencoba menyenangkan semua orang belum tentu semua orang itu akan senang atau menyukaimu. Jadi, gak harus tuh berusaha selalu menyenangkan semua orang. Coba mulai menyengkan diri sendiri atau orang terdekad dulu deh, bukan semua orang ya.

6. Berpikir bahwa persahabatan akan bertahan selamanya

Pas jaman masih kuliah deket banget sama si A, kemana-mana bareng, setelah lulus, kerja, masih sering menyapa, lalu punya pekerjaan, pindah kota atau negara dan sibuk hingga akhirnya menghilang dan gak tau kapan bisa bertemu lagi. Kita kadang masih berpikir tentang ini kok, punya janji masing-masing bahwa akan jadi sahabat selamanya, dan ternyata hal ini gak selalu benar. Ada sahabat yang masih sering ngobrol tapi gak pernah bertemu karena tinggal di kota yang beda, atau teman yang tinggal di kota yang sama tapi gak pernah menyapa karena kesibukannya. Untuk sekarang, kita hanya perlu mempertahankan perssahabatan yang sudah ada kok, atau keluar dan membuat teman baru.

7. Berpikir pindah tempat baru akan memecahkan masalah

Dalam hidup kadang ada saja masalah yang datang, Kalau sudah bingung dan gak tau harus apa bisa saja kita berpikir untuk meninggalkan semuanya dan pindah ke tempat baru.  Pindah ke tempat baru padahal belum tentu juga masalah dapat menyelesaikan masalah, kalau masalahnya ada karena pekerjaan atau lingkungan yang tidak menyenangkan mungkin iya, tetapi kalau masalahnya karena diri kita, karena sikap kita, bagaimana bisa kita memecahkan masalah tersebut?!

“You can only be young once. But you can always be immature.”
― Pat Monahan

Buat kesalahan sebanyak-banyaknya, belajar, dan perbaiki agar tidak terulang lagi. Karena hari ini hanya ada sekali dalam hidup kita!

7 Kesalahan yang sering dibuat saat usia 20an, kamu melakukan kesalahan yang disebutkan diatas gak? atau ada kesalahan yang kamu buat secara sadar saat usia 20an? coba share di komentar dong, thank you!! 🙂

 

Inspirasi : Business Insider

Learn more »
1 Comment

Untuk merasa damai dengan diri sendiri

“He who lives in harmony with himself lives in harmony with the world.”
~ Marcus Aurelius~

“Bagaimana saya bisa menemukan ketenangan dalam pikiran? Bagaimana saya bisa berdamai dengan diri sendiri?” Pertanyaan-pertanyaan ini rasanya sering ditanyakan, tapi jarang dapat jawaban yang memuaskan.

Di theUnlearn, kami juga mendapatkan pertanyaan-pertanyaan ini. Ada yang berkata bahwa berdamai dengan diri sendiri itu ketika kita bisa melakukan yang terbaik, menerima semuanya dan melepaskan beban kiat. Ada yang bilang ketika gue bisa approve of my self and love myself. Terlepas dari penerimaan dan melepaskan, kalau ada tips-tips yang bisa membuat kita merasa damai dengan diri sendiri, apa sajakah itu?

1. Mengenali diri sendiri.

Dalam mengenali diri sendiri kita perlu tau apa yang kita inginkan dan tau apa yang ingin kita perbaiki. Mungkin kita bisa pintar di sekolah, pandai dalam pelajaran, tapi apakah social skill kita sudah bagus? bagaimana cara kita berkomunikasinya? atau bagaimana kita bisa lebih kreatif. Coba deh, catat dan buat daftarnya, apa yang ingin di perbaiki. Seperti ingin lebih sabar, ingin lebih ramah dan banyak tersenyum, atau ingin belajar apa arti memanusiakan manusia.

2. Do the next good thing

Sadar gak sadar sih, biasanya kita mulai mempertanyakan “bagaimana gue bisa damai dengan diri sendiri?” itu ketika kita sedang ada di situasi yang gak mengenakan dan bingung harus apa, lihat orang lain bisa damai dengan diri mereka, tapi kok gue gak bisa?! Yes, kita memang kadang dipaksa mikirnya itu ketika ada di situasi yang gak kita inginkan sih. Jadi apa yang harus dilakukan? Setelah kita sadar tentang apa yang kita lakukan dan apa yang perlu di perbaiki, selanjutnya lakukan hal yang baik. Kenapa hal yang baik? karena gue rasa gak ada hal yang benar atau salah, yang ada itu hal yang belum baik dan perlu di perbaiki. Setuju?! Selain bisa membuat kita merasa damai dengan diri sendiri ini juga dilakukan untuk menghilangkan ‘beban’ dalam diri, karena umumnya kita pasti punya rasa bersalah.

3. Gak apa untuk gak selalu perfect

Kalau ada yang bilang “hilangkan perfeksionis dalam diri lo” gue rasanya aneh juga sih, tapi memang kita harus bisa menerima, bahwa kita gak bisa selalu perfect. Kalau melakukan hal yang terbaik, ini memang perlu dilakukan ‘kan?! Bagi gue mungkin yang bilang ‘jangan terlalu prefect‘ itu maksudnya karena takut. Takut tersakiti kalau hasilnya gak sesuai dengan yang diharapkan. Takut gak bisa terima keadaan yang sebenarnya, yang akhirnya malah menyakiti diri sendiri. Yes, ini dia. Jadi memang perlu untuk menerima dan mengenali diri, supaya kita gak menyakiti diri kita sendiri.

4. Practice patience

Kita mungkin gak bisa mengendalikan keadaan, karena keadaan itu adalah dampak dari hal-hal yang dilakukan oleh kita dan orang lain. Tapiiii, kita bisa mengontrol diri kita. Salah satunya ya dengan bersabar. Gak susah kok, tapi gak gampang juga. Akui saja, bahwa hal-hal yang terjadi dalam hidup kita ini karena sikap kita juga. Terima, sabar dan lakukan hal yang bisa mengubah situasi jadi lebih baik.

5. Jangan lupa berpikir panjang, karena pasti akan ada sebab-akibat

Sah-sah aja kok kalau mau marah ataupun kesal pada situasi, tapi yang perlu di ingat bahwa kita dapat terdefinisikan oleh tindakan dan emosi kita. Kalau sudah terdefinisi oleh emosi, bagaimana kita bisa berdamai dengan diri sendiri? Rasa bersalah yang muncul, sedih yang bisa datang kapan saja, dan hal lain yang disebabkan oleh tindakan ataupin sikap yang kita ambil. Jadi, kalau mau berdamai dengan diri sendiri, jangan lupa berpikir panjang ya.

6. Berpikir panjang bukan berarti berpikir lama

Ada perbedaan antara berpikir panjang dengan berpikir lama. Berpikir panjang itu memikirkan sebab-akibat yang bisa ditimbulkan dari sikap yang di ambil, sedangkan berpikir lama itu terus memikirkan hal-hal yang isinya itu-itu saja, gak mengambil tindakan, yang akhirnya malah membuat bingung diri sendiri. Kalau sudah bingung harus apa dan bagaimana, itu berarti kita belum merasakan damai dalam diri sendiri. Gak masalah kok untuk berpikir, tapi jangan kelamaan. Kalau kelamaan yang ada waktu kita habis untuk memikirkan hal yang itu-itu saja tanpa ada tindakan.

7. Practice patience. Always do your best. Approve of myself and love myself.

Yes. Dari diskusi bareng teman-teman theUnlearn, tips ini yang diberikan mereka untuk meraa berdamai dengan diri sendiri. Jadi kalau bertemu dengan situasi yang tidak kita inginkan kita bisa ‘practice patience’. Situasi yang kita inginkan itu biasanya karena ada hal yang gak sesuai dengan keinginan kita, jadi always do your best ya! Approve of my self & Love my self itu ketika kita bisa mencintai diri kita dengan segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Kita melakukan sesuatu sesuai dengan apa value yang kita percayai dan bukan karena value/ekspektasi/influence orang lain. Ah, teman-teman di theUnlearn ini memang selalu keren ya!! 🙂

“Peace cannot be kept by force; it can only be achieved by understanding.”
― Albert Einstein

7 Tips agar kita bisa merasa damai dengan diri sendiri. Kalau kamu yang sedang membaca post ini, ada lagi gak yang ingin di tambahkan dalam daftar diatas. Kalau ada yang ingin ditambahakan, share di komentar ya. Thank you!! 🙂

Inspirasi : tiny buddha

Learn more »
No Comment

Bagaimana cara kita berdamai dengan diri kita sendiri?

Hello Unlearners!! 🙂

Di International Day of Peace beberapa waktu yang lalu theUnlearn mendapatkan sebuah pertanyaan tentang berdamai. Langsung saja ya, berikut pertanyaannya :

Kalau gw marah ataupun kesal untuk sesaat apakah itu disebut belum berdamai dengan diri sendiri? bukankah marah dan kesal itu juga sifat manusiawi yang gak mungkin kita hilangkan tapi bisa kita kendalikan. Intinya sih gue cuma mau tanya bagaimana cara kita berdamai dengan diri kita sendiri?

#Jawaban dari teman-teman theUnlearn;

Kardina :

wah pertanyaannya bagus sekalii. berdamai dengan diri sendiri itu yang paling sulit, apalagi mengakui bahwa kita itu manusia yang ga sempurna & ga perfect2 amat. mungkin artikel ini bisa membantu >>> http://tinybuddha.com/blog/8-tips-to-feel-at-peace-with-yourself/

Chairunnisa :

Coba jawab dikit yaa berdasarkan hasil pengalaman pribadi hehe… dan yg pasti kita semua juga mengalaminya sepanjang hidup. Menurut saya respon marah dan kesal, yup itu alami. Buuut… we must control it biar bisa merasakan yg namanya “berdamai dengan diri sendiri”. Untuk bisa “berdamai” kita harus practice practice and practice mengontrolnya.
Kalau kita marah ataupun kesal untuk sesaat apakah itu disebut belum berdamai dengan diri sendiri? Marah atau kesalnya disalurkan gimana dulu? Kalo marahnya sekedar kesal dalam hati terus tiba-tiba sadar harusnya kita ga kesel, saya bilangnya it’s the thing we feel when we practice the first step to experience “inner peace”. So… Kalo masih marah sesaat, practice moreeeee control marahnya. Bcs anger is a choice, as well as a habit. It is a learned reaction. If you want peace, you can choose good reaction. Like “do the next right thing” yang disebut di “8 Tips to Feel at Peace with Yourself”
Cigitu aja hihi semoga bisa mencerahkan
😀

Rama :

setuju banget jawabannya (Chairunnisa) udah komplit, mau nambahin dikit , juga harus dikenali sebab dari kemarahan kita sendiri. Juga harus disalurkan, pengalaman semakin kita repress diri, semakin terakumulasi kemarahannya sehingga suat saat bisa meledak seperti fenomena gunung meletus. note* belajar dari teman yg kuliah psikologi. CMIIW 🙂

Khoirina :

Dan kalo ngomongin marah atau kzl, kadang kita marah itu karena hasil gak sesuai dengan harapan, dan dalam banyak hal hasil itu terjadi karena kita melakukan sesuatu. Kalau kita melakukan yang terbaik maka hasilnya pun akan baik. Meski gak selalu gitu sik. yaks, tambah satu lagi ya berarti. always do your best.

Aristiwidya :

Pertanyaannya keren. Bikin mikir juga siiih. Contoh2 dari kakak2 bagus baguuuuuusss b

Bagi gue, berdamai dengan diri sendiri itu artinya gue approve of myself. Gue bisa mencintai diri gue dengan segala kekuatan dan kelemahan. Gue melakukan sesuatu ses
uai dengan apa value yang gue percayai dan bukan krn value/ekspektasi/influence orang lain. Dan akhirnya setiap malam gue bisa tidur tenang, hehehe.

Marah dan sedih itu ada fungsinya masing2. Sehat untuk bisa merasakan dan mengekspresikan emosi dengan baik. Hanya sejauh mana kita akhirnya terdefinisi oleh emosi tersebut.

Yaaa gitu dulu deh yaaaa.

Dian :

simple sih kalo menurut saya kalo mau berdamai yaa harus mau memaafkan hahaha

 

Itu dia tanggapan dari teman-teman theUnlearn, menarik ya! Kamu mau menambahkan jawabannya gak? yuk share di komentar.

 

Thank youuu!! 🙂

Learn more »
No Comment

Kalau mau mendapatkan hal yang berbeda, lakukan sesuatu yang berbeda. Lalu kenapa kita takut untuk mencoba?

Kalau mau mendapatkan hal yang berbeda, lakukan sesuatu yang berbeda. Lalu kenapa kita takut untuk mencoba?

Jika kamu menginginkan sesuatu yang belum pernah kamu miliki sebelumnya, maka kamu harus melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Apa pun itu bisa menjadi mungkin, dengan latihan dan kesabaran. Karena sebenarnya kamu punya kekuatan yang lebih besar daripada yang kamu tau.

Kamu dapat melakukan apapun, tapi kamu tidak akan pernah tahu sampai kamu mencobanya.

Satu-satunya hal yang dapat menghentiknamu adalah ketakutan. Ketakutan dapat ditemukan dalam keraguan diri kita, dan ketakutan dapat hadir melalui keraguan dari orang lain, Sehingga kamu takut dan tidak berani mencobanya.

Tetapi ingat, kamu ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda jadi lakukanlah hal berbeda, lakukan. Langan melihat ke belakang, jangan lihat keraguan yang ada pada dirimu. Start. Go. and you’ll find yourself!

ketika kita punya kemauan untuk mencoba. Kadang-kadang kita menginginkan hasil yang baik sesegera mungkin. ya terkadang. Namun pasti ada sedikit kesalahan dan pasti ada ruang untuk memperbaikinya, gak apa.

Kadang-kadang, hal yang di inginkan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang di rencanakan. Tapi bukankan mereka itu tidak selalu berhasil pada percobaan pertama.

Orang lain mungkin akan berhasil lebih cepat, tapi itu bukan berarti kamu gagal. Melalui percobaan dan pengulangan, kamu akan mendapatkan pengetahuan.

Great achievements akan didapatkan oleh orang-orang yang terus berjalan, terus mencoba.

Kamu dapat melakukan apapun, tapi kamu tidak akan pernah tahu sampai kamu mencobanya sendiri.

Mencoba1Mencoba2Mencoba3Mencoba4Mencoba5Mencoba6Mencoba7Mencoba8Mencoba9Mencoba10

Source : Solar Citrus

 

Learn more »
No Comment
1 Comment

Apa itu ‘The Missing Tile Syndrome’?

Menemukan thread keren di kaskus, sayang kalau gak di share disini…

Apa itu ‘The Missing Tile Syndrome’? Yuk cari tahu disini!! Lihat videonya dan baca penjelasannya ya… Enjoy!

Sebenernya yang dijelasin bang Dennis Prager tentang The Missing Tile Syndrome di video ini udah cukup mewakili sih, tapi gue bakal nyoba ngebabar video diatas sesuai yang ada di kehidupan kita sehari hari.

Misal, kita ada di suatu ruangan. Dan di dalam ruangan tersebut ada plafon yang bolong. Kira kira, perhatian kita lebih condong kemana? Yap. Pasti ke satu plafon yang bolong tersebut.
Atau gini deh, misal kita mau pake baju, tapi ternyata ada bercak kuning di bagian baju tersebut. Pasti kita perhatiin banget sama bagian kecil tersebut.

Untuk kasus diatas, tentu saja gampang dong ya buat memperbaiki masalah tersebut. Tinggal panggil tukang suruh benerin tuh plafon dan tambal yang hilang, atau baju tinggal pake bayklin biar putih lagi, masalah selesai toh? Sayangnya, dalam hidup, itu tidak mungkin dilakukan. Menyelesaikan masalah hidup tidak sesederhana itu.

the missing tile syndrome 2Sadar nggak, kalo kita itu lebih aware sama hal-hal yang ada kurangnya. Maksudnya gini, pas kita lagi jerawatan, pasti tingkat pede kita sedikit banyak berkurang. Ya itu tadi, pikiran kita terfokus sama satu jerawat kecil di dahi.

Memang benar para nenek moyang kita bikin peribahasa ‘nila setitik, rusak susu sebelangga’ karena memang itulah adanya. Persepsi yang emang udah natural manusia kayak gitu. Mana mungkin kan ‘susu setitik, bersih nila sebelangga’

Fakta yang harus kita terima dalam hidup adalah, di dalam diri kita pasti ada kekurangan. Bisa bermacam-macam, tergantung apa yang agan merasa kurang. KURANG – Tinggi, Putih, Pinter, Kaya, Langsing, Cakep, Sociable, Lovable, etc

Coba bayangin di komplek elo ada kondangan. Datanglah berbagai tamu undangan dengan masing-masing ‘missing tile’-nya.

– Orang yang botak bilang gini : Waah.. gue perhatiin semua orang pada punya rambut yaah.. Cuma gue deh yang botak kayak gini. Seandainya gue punya rambut kayak mereka..
– Orang yang jerawatan bilang gini : duh duh, enak banget sih muka orang pada bersih-bersih. Kenapa harus akuuuhhh yang selalu menderitaaa??
– Orang yang pendek bilang gini : beuuh, gue cebol sendiri euy..
– Orang yang single bilang gini : orang-orang pada punya gandengan sih.. kok gue doang yang gapunya hiks.
– Orang yang jomblo bilang gini : kenapa ya, kok gue ngerasa yang paling ganteng diantara orang orang disini yaah *abaikansajaini*

 

Ada lagi, ada percakapan menarik antara dua orang, sebut saja A dan B. Nah si A ini tukang gonta ganti pacar. Mereka ngomongin tentang kriteria utama wanita idaman *ceileh

A: bro, sekarang gue tau tipe cewek yang gue pengen itu yang kayak gimana
B: Hmmm, emang tipe kamu yang kayak gimana tong?
A : Cewek Smart, nggak tulalit!
Dan keesokan harinya, si A nelpon lagi sama B
A: hey Bro, ternyata gue salah, sekarang gue yakin tipe cewek idaman yang gue butuhkan
B : Hmmm.. emang jadinya yang kayak gimana tong?
A : Face imut imut lucu, ngga jutek. Itu sudah
Dan keesokan harinya, si A nelpon lagi si B, dan mengganti sifat yang ia pengenin. Tampangnya, Kepribadiannya, Kebaikkannya, Kecerdasannya. Hingga pada suatu ketika……….
A : hey Bro, ternyata setelah gue timbang-timbang lagi, sekarang gue yakinn banget nih tipe cewek yang gue bu…
B : Hmmm… gue udah tau kok jawabannya apa.
A : Hah?Mana elo bisa tau? Elo kan belum kenal sama cewe yang baru gue deketin
B : Halah gue ga perlu tau cewe mana yang kamu deketin. Intinya, apapun sifat/karakter yang ga ada di dalam diri cewe yang elo deketin, itulah sifat yang elo ngerasa paling penting yang harus ada di dalam diri cewe.
A : …..

Hal ini kalo dibiarin terus bakal nggak baik jadinya. Memperhatikan satu kekurangan kecil diantara semua yang sudah ada. Minor. Padahal sebenarnya ada hal positif di dalam diri kita yang lebih layak dijadikan perhatian utama.

the missing tile syndrome 3

Dampak negatif dari sindrom ini banyak gan. Dan dari sekian banyak itu, membuat diri ini ga bakalan berkembang, ga pernah maju, melangkah ke depan.

Cara ngilangin sindrom ini? Berhubung kita adalah makhluk yang unik, makhluk yang diberi kesempatan memilih, atau ‘free will’ (banyak-banyak bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa karena ini), maka ada dua jalan yang bisa dipilih. Itu tergantung masing-masing agan. Pilihannya adalaaaaah:

– Fokus ke semua petak yang tersisa (segala hal yang kita punya)

– Fokus ke satu petak yang hilang tadi.

the missing tile syndrome 4

Jadi, manakah yang menjadi pilihan kamu?

Deciding, Have You?

Source : Kaskus
*dengan penyuntingan seperlunya.

Learn more »
No Comment

Pembelajaran hidup dari film “Battle of Surabaya”

Battle of Surabaya

“There is no glory in war”

Kalau kamu sudah menonton film animasi 2D karya anak bangsa ini, mungkin kamu akan bangga seperti gue. Gue sering menonton film animasi, namun film animasi yang saya tonton adalah film produksi luar negeri. Dan setelah menontonnya, gue kira wajar banget jika film ini dilirik disney.

Film Battle of Surabaya adalah film fiksi yang memiliki latarbelakang sejarah Surabaya. Menceritakan petualangan MUSA, anak laki-laki yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu yang menjadi kurir bagi arek-arek Suroboyo dan TKR dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.

Kalau ditanya apa pembelajaran yang didapat dari film ini, mungkin banyak tapi gue mau share beberapa yang paling ngena.

1. Betapa bersyukurnya gue bisa dengan mudah mendapatkan berbagai hal sulit untuk didapatkan dulu.

“Aku hanya ingin makan kenyang dan tidur nyenyak.” – Musa

Kata-kata itu tidak hanya sekali diucapkan Musa, gue jadi inget terus gitu.Saat Indonesia merdeka karena Jepang menyerah, Surabaya kembali memanas karena sekutu datang bersama Belanda. Hal ini membuat harga bahan makanan naik. Untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan Ia dan ibunya yang sakit, Musa harus bekerja keras dengan menjadi tukang semir sepatu sekaligus kurir pengantar surat.

Ini yang sepele banget, gue gak jarang denger orang yang makan gak enak dikit komplain. Tidur kegerahan, komplain. dikit-dikit komplain. duh… meski gak bisa menyamakan sekarang dan dulu, ya ada aja yang bisa disyukuri. Untungnya gue hidup dijaman sekarang, bisa makan kenyang dan tidur nyenyak.

2. Untuk mempertanyakan kebenaran yang sebenarnya.

Saat Musa melihat Yumna memiliki tato kipas hitam, ia sempat marah karena mengira Yumna adalah pengkhianat. Sampai akhirnya ia bertanya langsung, mengapa Yumna memiliki tato kipas hitam?

Sadar gak sadar kita sering gitu, menebak-nebak, mengira-ngira, dan gak mempertanyakan kebenaran yang sesungguhnya. Pantes ya kalau di pertemanan atau relationship kita kadang berantakan. Karena kita suka menebak-nebak yang belum tentu akurat kebenarannya.

3. Tentang keberanian, semangat dan cinta Indonesia.

Di film Battle of Surabaya, Yumna adalah gadis keturunan jepang yang awalnya anggota kipas hitam berubah jadi mencintai Indonesia, Ia menginginkan kedamaian untuk Indonesia. Kemudian Yumna bergabung dengan pasukan wanita di selatan dan menolong korban perang. Hingga pada akhirnya Yumna mati karena menyelamatkan Musa.

Yess, Film ini memang diangkat dari sejarah Indonesia. Kita tau sebagai orang Indonesia kita mengcintai tanah air kita, namun apa yang bisa kita lakukan sekarang untuk bisa membuatnya lebih baik lagi? Tentang keberanian yang Yumna lakukan, kalau kamu jadi Yumna bagaimana? atau sekarang deh, kita kadang takut melakukan sesuatu. Takut gagal, takut kalah, yang lebih parah itu kalau sudah takut untuk mencoba.

4. Tentang kesalahan yang bisa diperbaiki.

Danu adalah prajurit yang dipimpin oleh Sudirman yang ternyata adalah anggota kipas hitam. Musa mengetahui hal tersebut ketika melihat tato saat Danu tersungkur jatuh karena dimasukan kedalam penjara yang sama. Danu jugalah yang memberitahu Belanda tentang Musa, Bocah kurir yang mengetahui kode-kode yang dikirimkan untuk Bung Tomo. Yumna sempat mengajak Danu untuk tidak lagi membela belanda bersama kipas hitam, namun Danu bersikeras pada pendiriannya. Pada akhirnya saat Yumna mati Danu sadar dan menebus kesalahan itu dengan membantu Musa menyelesaikan tugasnya.

“Kamu tidak akan pernah tahu keputusan kamu benar atau salah. Tapi selama kamu bisa mengubah itu menjadi sesuatu yang baik, itu tidak pernah jadi sebuah kesalahan.”

Karena mseki kita sudah membuat kesalahan, kita masih punya kesempatan untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik. Sadar gak sadar sih, kita kadang membuat kesalahan dan membiarkan itu tetap menjadi kesalahan. Padahal kita punya kesempatan untuk mengubahnya menjadi lebih baik.

5. There is no glory in war.

Pesan yang ingin disampaikan memang begitu terasa. Kalau perang tidak terjadi, Musa akan tetap dikelilingi orang-orang yang Ia cintai. Ribuan korban berjatuhan, saat perang sudah berakhir ini bukan kemenangan karena kita tetap kehilangan. Meski dengan perang juga bisa memunculkan pahlawan. Seperti Musa, Arek-arek Suroboyo jadi sosok pahlawan yang tidak kita kenali walaupun jasanya begitu besar untuk kemerdekaan Indonesia.

Seperti indahnya hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki perbedaan suku ataupun bangsa. Kalau kita bisa berdamai mengapa harus ada perang? termasuk berdamai dengan keadaan dalam hidup ya :p

Ending Battle of Surabaya

Setelah menunggu 3 tahun proses pembuatan, dikerjakan oleh 180 animator yang semuanya adalah anak Indonesia, akhirnya kemarin (20/8) film ini mulai tayang. Ah, keren ya!!

Well, mungkin itu saja yang bisa gue ceritakan disini. Untuk lebih jelasnya dan supaya bisa dapat pembelajaran tersendiri kamu nonton langsung di bioskop ya! Gak akan kecewa nonton film ini, gue recomended film ini kok!! 😀

Kalau kamu sudah nonton film ini, apa pembelajaran yang bisa kamu dapatkan? share di komentar ya. Thank youuu!! 🙂

Learn more »
3 Comments