Apa bedanya empati dengan simpati?

Posted at : 28 - 11

- 2014

Ketika kita dihadapi dengan situasi ataupun pembicaraan yang sulit, kita cenderung untuk mengambil jalan keluar yang lebih mudah — jalan yang tidak menunjukkan kerentanan (vulnerability) kita. Yang kita tidak sadari, hal ini sama dengan menghindari penyembuhan diri (healing) dan hubungan (bonding connection) dengan orang lain.

“Empati itu pilihan, dan itu adalah pilihan yang rentan, karena agar saya bisa terhubung dengan orang lain, saya harus bisa terhubung dengan sesuatu dalam diri saya yang memahami hal tersebut,” kata Dr. Brené Brown, profesor dari University of Houston, di pidatonya.Empati, kata Dr. Brown, pilihan yang lebih kuat dibandingkan simpati. Empati membuaat kita bisa memahami dan menenangkan orang-orang di sekitar kita. Sedangkan simpati menjauhkan kita dari orang lain.

Apa bedanya empati dengan simpati? Coba deh tonton video ini.

Minggu lalu, salah satu teman baru kehilangan Ibunya. Gue bertanya, “Dari respon yang elo dapatkan, bagaimana elo membedakan antara yang simpati dan empati.”

“Gue seneng banget banyak mendapatkan jawaban empati seperti ‘Are you okay? How can I help?’ Itu terasa lebih tulus saja. Jawaban simpati ada sih, seperti ‘Turut berduka cita ya. Sabar ya. Yang kuat ya.’ Tetapi memang mendapatkan jawaban empati itu lebih menyenangkan.”

Gak berarti simpati itu salah. Dalam hal-hal tertentu empati lebih memberikan rasa nyaman dan ‘healing’ bagi orang lain. Ketulusannya lebih terasa.

Bedanya sebenarnya apa? Well, yang paling gampang adalah kira-kira seperti ini:
– Simpati itu menunjukkan dukungan, rasa kasihan ataupun persetujuan. Menunjukkan sisi positif dari sesuatu kejadian.
– Empati itu bukan tentang setuju atau tidak setuju, tetapi tentang mengakui perasaan, pandangan atau kepercayaan seseorang. Tentang membuat koneksi emosional.

Contohnya…

Simpati:
– Gue turut berduka cita ya
– Gue setuju
– Ya ampun, kasihan banget sih loe
– Yang sabar ya
– Yang kuat ya
– Sini gue bantu
– Iya, kita sepaham
– Gue dengernya sedih banget
– I’m so sorry to hear that
– Untung aja _____

Empati:
– Menanyakan kondisi: “Kamu apa kabar? Apakah kamu baik-baik saja?”
– Merangkum penjelasan: “Jadi, yang elo maksudkan adalah…”
– Melihat maknanya: “Kelihatan bahwa elo sudah banyak memikirkan tentang hal ini ya.”
– Meminta lebih banyak informasi: “Agar gue bisa lebih paham, mengapa….?”
– Menawarkan bantuan: “Apa yang bisa gue bantu?”
– Merasakan hal yang sama: “I’ve done that too,” “I totally get what you’re saying,” or “I had the exact same thoughts”

Yang paling penting adalah untuk kita tahu kapan waktu yang tepat untuk menunjukkan simpati dan/atau empati.

Jujur selama ini gue pun terjebak hanya sampai Simpati. Ternyata menunjukkan empati itu tidak semudah itu ya…. Sama seperti mendengarkan, kita merasa sudah mendengarkan, padahal belum.

Ada lagi contoh-contoh kalimat empati yang kamu temukan?

 

 

Beberapa resources yang bisa berguna:
Comparison of Sympathy with Empathy

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

4 Comments

  1. Dita -  December 3, 2014 - 11:08 am

    Memberi dukungan, “aku yakin kamu bisa”.

    • The Unlearn Team -  December 3, 2014 - 12:23 pm

      Thank you Dita 🙂
      Kamu pernah mendapat respon simpati padahal yang dibutuhkan empati gak? Yang maksudnya baik tetapi terasanya gak pas aja gitu.

  2. dita -  December 3, 2014 - 12:37 pm

    Pernah… Pas gue habis putus sm cowok gue, sahabat gue bilang “jodoh udah ada yg ngatur, ga bakal tertukar kok, sabar ya” .
    Padahal gue cuma pengen dipeluk… Karena pada saat yang kaya gitu, pastinya yang ada dipikiran gue cuma satu “gue ga mau berjodoh sama orang lain, yang gue mau cuma dia” 😀

  3. adhaningrum -  December 5, 2014 - 12:33 pm

    Hello..

    Memang agak tipis bedanya, nih.. Umum sekal kalau yang keluar duluan adalah bentuk simpati, padahal mungkin aja yang dibutuhkan empati. Atau bisa saja sebaliknya, ya..

    Kayaknya dibutuhkan kepekaan kita membaca situasi sih.. Nggak gampang memang, kadang bingung ‘mau ngomong apa, ya?’ Kalau gitu, mungkin the best language is body language.. Seperti menepuk-nepuk punggung, memeluk, memegang tangan, etc. Atau diem aja juga nggak salah, lho..

    Peristiwa paling menyedihkan buat saya adalah saat ayah saya meninggal tahun 2001. Simpati dan empati banyak berdatangan. Turut berduka cita adalah respons umum yang saya terima, dan menurut saya itu tidak apa-apa.

    Jadi, karena punya pengalaman kayak gitu, saya merasa jadi lebih mudah berempati sama orang yang mengalami kejadian sama. Biasanya saya akan bilang, “I know exactly how you feel, so if you need someone to talk to, you can count on me..” Terserah apakah abis itu orang itu ajak saya curhat atau enggak, yang penting dia sudah tahu bahwa ada orang lain yang mau menemani dia menjalani masa sulit.

    Kalau untuk peristiwa lain, biasanya saya akan bilang.. “kalau mau cerita, ada gue yaa..” Intinya sih sama, menyediakan waktu kita untuk mendampingi teman.

    Have a nice day!

    http://gravatar.com/adhaningrum

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *