Abundance Mentality, apakah itu?

3 Comments

 

Menjadi ‘kaya’ tidak hanya seputar memiliki materi, tetapi juga sejauh mana pola pikir atau mindset kita juga ‘kaya’. Ini yang sering disebut dengan abundance mentality — mentalitas yang berkelimpahan. Sering kali kita mendengar banyak orang yang ingin menjadi kaya, tetapi akhirnya sulit mendapatkan banyak kekayaan, karena pola pikirnya belum ikut kaya. Maksudnya apa?

Pola pikir itu apa? Pola pikir, atau yang sering disebut dengan mindset itu adalah cara kita menyikapi segala sesuatu yang dihasilkan dari kumpulan pemikiran dan kepercayaan. Artinya, semua pengalaman dan informasi yang telah kita kumpulkan secara sadar dan tidak sadar dari kecil itu membentuk pola pikir kita — yang akhirnya juga membentuk pemikiran, tindakan, persepsi dan respon terhadap segala hal. Tergantung dari apa yang kamu pikirkan, rasakan dan lakukan, pola pikir bisa berubah. (Duh berat!)

Intinya — kalau kita gak hati-hati, pola pikir/mindset kita itu ‘terbentuk’ dari lingkungan, dan bukan kita sendiri yang dengan sengaja embentuknya.
Gitu lho.

Abundance thinking vs. Scarcity thinking.

Abundance thinking = trust based thinking. Dimana kita percaya bahwa kita tidak pernah kekurangan, selalu hidup berkecukupan. Gak hitung-hitungan. Gak pamrih.

Kebalikannya…

Scarcity thinking = fear based thinking. Dimana rasa takut menjadi acuan pemikiran kita. Bahwa nanti bisa kehabisan. Bahwa gak akan cukup.

Contohnya scarcity thinking seperti apa?

  • Semua itu permanen: “Ya emang seperti ikut keadaannya, gak mungkin berubah.” 
  • Selalu menggunakan bahasa yang melimitasi diri: “Saya gak bisa, Saya gak punya cukup, Gue bokek, Gue tak tau mesti ngapain”
  • Sulit melihat orang lain sukses. Merasa kalau orang lain sukses, diri kita yang kalah. Cenderung iri. Padahal ketika kita iri, itu artinya kita percaya bahwa apa yang dicapai orang lain itu tidak bisa kita capai.
  • Semua dikumpulin. Sampai rumahnya penuh. Sulit menyisihkan barang. Semua menjadi sentimental.
  • Sulit menerima. Dari menerima pujian, hadiah, kebaikan, juga meremehkan achievement. Jadi kalau dipuji jawabnya, “Ah enggak kok, biasa aja…” “Duh gak usah repot-repot.”
  • Melakukan gestur yang menunjukkan rasa ‘kurang’. Ngasih tips dibawah standar. Mencuri. Menipu. Menutup- nutupi sesuatu. Termasuk pelit ilmu. Takut idenya dicuri orang lain. Takut orang lain lebih jago dari kita. Takut orang lain lebih diuntungkan dari kita. Takut kehabisan jadi pas ada buffet makanannya dibungkusin semua. Mencari jalan pintas.

*jleb* ternyata selama ini banyak pemikiran-pemikiran gue yang masih scarcity. Contohnya:

  • Teman mau pinjem buku aja gue suka gak rela, takut hilang. Karena beberapa kali memang hilang. Trus buku kan mahal. Ternyata gue masih hitung-hitungan ya….
  • Terkadang kesel kalo memesan sesuatu tetapi yang diinginkan gak ada. Di saat itu merasa dirugikan. Padahal kalau gak ada mungkin sebenarnya gue sedang diarahkan ke yang lebih baik, tapi gue malah kesyel.
  • Terkadang suka ada rasa negatif ketika membaca socmed orang-orang yang sedang menggemborkan nasib baiknya. Eh ternyata itu iri ya. Yang artinya gue sedang percaya bahwa gue gak bisa mencapai itu. Scarcity. Damn!!!!

Life will mirror the same beliefs back to you. Di sini kita diajak untuk mempertanyakan kembali apa yang kita percayai. Karena apa yang kita percaya akan kembali ke kita. Jadi, kalau kita percaya, “hidup itu susah” maka hidup kita akan susah terus. Kalau kita percaya “kita gak pantas dapat pujian” maka kita akan jarang dapat pujian.

What’s your habit? Sekarang pertanyaannya, dalam berfikir, yang mana yang sudah menjadi kebiasaan kita? Kalau kita sudah sadar kebiasaan yang mana yang melimitasi diri kita, maka kita bisa mengubah kebiasaan tersebut. Gak mudah. Gak dalam 1 hari berubah. Tetapi bisa.

Until a person can say deeply and honestly: “I am what I am today because of the choices I made yesterday” that person cannot say, “I choose otherwise.” – Steven Covey

Apa langkah pertama mengubah habit? Well, ngaku dulu ke diri sendiri bahwa semua yang telah terjadi dalam hidup gue itu sebenarnya karena hasil pilihan gue di masa lalu. Bukan malah menyalahkan situasi, keadaan dan orang lain. Selama kita masih menyalahkan orang lain, gak mungkin bisa berubah. Karena kontrol masih ada di tangan orang lain.

Mengapa Abundance Mentality menjadi penting? Karena pola pikir mempengaruhi pemikiran, pemikiran mempengaruhi emosi, emosi mempengaruhi tindakan, dan tindakan mempengaruhi hasil. Jadi, kalau kita tidak puas dengan hasil yang kita peroleh, yang kita ubah
adalah pola pikir kita. Biasanya yang kita ubah tindakannya. Tetapi apa gunanya melakukan sesuatu kalau kita tidak percaya hal tersebut? Akhirnya hasilnya toh juga tidak maksimal.

pola pikir kayaYou become what you believe. Apa yang kita percayai akhirnya menjadi kenyataan. Jadi tanyakan ke diri sendiri, belief kita itu limiting atau empowering? Dan abundance mentality didasari oleh empowering beliefs.

Selalu merasa diuntungkan. Kalau saya ditanya bagaimana menafsirkan ‘Abundance Mentality’ jawaban saya sederhana.. untuk selalu merasa diuntungkan apapun yang terjadi. Saya beruntung kalau orang lain lebih sukses dari saya, karena berarti saya juga bisa sukses. Saya beruntung kalau ada yang mencuri dari saya berarti saya memiliki sesuatu yang diinginkan orang lain. Lucunya, begitu selalu me-RASA diuntungkan, semakin banyak hal-hal yang datang yang memperkuat RASA untung ini.

Gue suka sekali konsep ini. Sederhana, tetapi POWERFUL. Akhirnya sekarang setiap kali memikirkan atau merasakan sesuatu gue berhenti dan bertanya: itu pemikiran Abundance atau Scarcity?

Pengalaman kamu seputar Abundance Mentality seperti apa?

 

 

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

3 Comments

  1. evi -  February 28, 2015 - 1:20 am

    Hallo Ika…. (Ini akan panjang..ikutan sharing yah) Ketika sedang mempertanyakan ‘sesuatu’, tiba-tiba saya ketemu topik ini. Dan merasa tersadar (yang semoga bukan cuma sesaat).

    “Abundance mentality” beberapa kali dari beberapa org, pernah sy dengar mengatakan sy memiliki hal tersebut. Ketika itu, boro2 perduli akan artinya, memikirkannya saja aku sulit.. eh….. Maksudnya ga pernah dipikirin atau ga perduli. Hanya menikmati dan menjalani segala sesuatunya saja…waktu itu…dulu..cuwawaan mulu. Kini…seringkali saya merasa kecewa, tidak puas, kesal, marah, dll, smua perasan dan pikiran negatif bikin muka macam pakaian kluar dari mesin cuci… Kusyutttt.

    Setelah capek sendiri sama semua rasa ngeselin itu, saya sampai ke tahap introspeksi ‘ada apa sama saya?’ dan kesimpulannya saya merasa tidak bahagia, walaupun dengan semua pencapaian saya hingga saat ini.. etapi…. Apaan? Ga ada ah pencapaian gw! Nah … Tuh kan, sy gak happy. Bodohnya .. Selama ini saya tidak sadar bahwa dulu itu saya sebenarnya bahagia dan paling tidak, selalu terlihat bahagia. Kata siapa? Kata introspeksi saya, kata mereka yg dulu kerap bertanya pada saya, kata dari kata-kata mereka tentang betapa beruntungnya saya, kata..itu..kata yg bilang bahwa saya punya abundance mentality itu. Ahh…. Dan saya baru memahami jelas maksud mentality itu dr blog ini aja dong…oh oh…Ayolah boleh GR, karna blog mu mengalahkan opa gugel hehe…

    Dan seketika itu jg saya menyadari bhw saya lbh banyak dikuasai scarcity tthinking saat ini. Disitu kadang saya merasa sedih…eh lha….

    Dengan pemahaman dan tersadar akan kedua hal ini, keadaan dulu dan sekarang, membawa saya pada (setidaknya) penerimaan diri-inilah saya dan kondisi saya saat ini. Untungnya sadar! klo gak, ya gila dong… Dan hasilnya adalah saya merasa harus kembali ke dulu lg meraih mentality yg membuat saya bahagia itu lagi. Tp gak mudah! Kekecewaan yg bertumpuk terakumulasi bikin berkarat mental negatif. Tapiiii benar dan semoga selalu akan terbukti bahwa pikiran postif akan berpengaruh positif termasuk tindakan positif menghasilkan hal positif/baik.

    Sekarang…. Gimana spy saya bisa balik spt dulu? Walaupun di atas sdh dikatakan bagaimana..uh sulitnya…bahkan sebenarnya mengatakan dan mengeluh sulit ini saja sudah salah dan mempersulit si sulit itu sendiri. Kadang ketika tersadar pun kembali ke positif sempat sejenak berpikir dan terlintas macam berkata: “eits gw lagi berusaha berpikir …pemikiran abundance atau malah sekedar pasrah n sok merasa beruntung?” eh halah….

    Tks anyway .. sdh memberi pencerahan…bahwa bahagia adalah pilihan dan diri sendiri yg harus memutuskan utk berbahagia atau meratapi ketidakbahagiaan yg ga bakal bikin bahagia sampai ‘cupet’ otaknya.

    Semua semua makhluk hidup berbahagia ya.. itu kata…..

    • The Unlearn Team -  March 4, 2015 - 1:01 pm

      Ah Evi,

      Ini keren sekali sharingnyaaaaaa……… Memang selalu berawal dari diri sendiri. Untuk bertanya “apa yang salah dengan saya?” dan bukan menyalahkan dunia saja sudah step yang keren banget. Saya saja masih bolak balik kok, kadang pun masih terjebak dalam scarcity thinking dan belajar ‘sadar’ untuk introspeksi lagi. Namanya juga latihan ya. #belajarhidup hari per hari.

      Thank you banget sudah shariiiinnnggg, ini akan bermanfaat sekali untuk pembaca2 yang lain untuk bareng-bareng introspeksi.

      Have a great day!

  2. Eman Rais -  July 3, 2016 - 3:36 am

    Terima kasih ya buat sharing yang manfaat banget buat dilaksanakan. Mohon ijin buat disebarkan ke anak anak saya untyuk bisa merubah dunianya ke dunia bersama. Sukses bersama. Abundance thinking

    http://www.facebook.com/abahgaby

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *