7 Kebiasaan yang Membuat Kita Tidak Bahagia

,
7 Kebiasaan yang Membuat Kita Tidak Bahagia

Kehidupan yang bahagia tidak membutuhkan banyak hal; semuanya ada pada dirimu sendiri, yaitu melalui cara berpikirmu.” – Marcus Aurelius

Mari kita bersyukur dengan adanya orang-orang yang membuat kita bahagia, mereka bagaikan tukang kebun baik hati yang membuat jiwa kita bermekaran.” – Marcel Proust

 

Berbagai kondisi yang sedang dialami bisa membuat hidup kita terasa tidak bahagia. Tapi sebagian – dan seringkali sebagian besar – ketidakbahagiaan yang kita rasakan justru datang dari cara berpikir, perilaku, dan kebiasaan kita sendiri.

Dalam artikel ini, ada 7 kebiasaan buruk yang seringkali kita lakukan tanpa sadar, yang bisa membuat kita tidak bahagia. Tapi jangan khawatir, kami akan share juga cara untuk mengatasi kebiasaan-kebiasaan ini.

1.      Berusaha untuk selalu sempurna

Apakah hidup harus sempurna dulu baru kamu bisa bahagia? Apakah kamu harus selalu bertindak secara sempurna dan memperoleh hasil yang sempurna dulu baru bisa bahagia?

Yaah kalau kamu menganggap begitu sih kayaknya mau bahagia saja susah ya.. Kalau terbiasa menetapkan standar yang tinggi dan tidak masuk akal untuk segala hal, nanti malah jadinya kamu yang merasa rendah diri dan merasa tidak pernah cukup baik meskipun sebenarnya kamu sudah melakukan banyak hal yang luar biasa. Segala hal yang kamu lakukan terasa tidak memuaskan, kecuali mungkin ada momen tertentu dimana kamu pernah mengalami satu masa yang benar-benar sempurna.

Bagaimana cara mengatasinya?

Tiga hal yang bisa membantu mengatasi sifat perfeksionis dan membuat kita bisa lebih santai:

  • Berhenti mengejar kesempurnaan

Berusaha meraih kesempurnaan biasanya hanya berujung pada pekerjaan atau projek yang tidak selesai-selesai. Jadi tidak perlu sampai sempurna betul, asalkan hasilnya sudah cukup baik tidak masalah kok. Tapi jangan jadikan ini alasan untuk mengerjakan sesuatu secara asal-asalan ya. Karena intinya adalah kamu harus bisa melihat kapan hasil kerjanmu sudah cukup baik, sudah sesuai standar yang diharapkan atau bahkan sudah melebihinya. Berhenti berpikir hasil kerjamu harus menjadi sesuatu yang mencengangkan hebatnya. Tidak dosa kok berhenti di good enough instead of perfect J

  • Buat tenggat waktu

Saat bekerja tanpa deadline, tanpa disadari kita jadi suka menambahkan banyak hal ke dalam pekerjaan kita dengan maksud membuatnya menjadi sempurna. Selain membuat waktu selesai jadi lebih lama, kadang penambahan banyak hal membuat ide awal dari pekerjaan tersebut juga jadi berkembang kemana-mana dan malah bisa kehilangan fokusnya. Oleh karena itu tetapkan tenggat waktu dan patuhi jadwalnya, agar kamu terdorong untuk cepat menyelesaikan pekerjaan dan menekan keinginan untuk menambahkan banyak hal yang kurang penting.

  • Sadari kerugian yang bisa kamu alami kalau kamu sangat mengagungkan kesempurnaan

Ide mengenai kesempurnaan memang indah. Segala sesuatu tampak berjalan dengan teratur dan sesuai dengan keinginan kita. Rasanya dalam kondisi seperti itu hidup kita bisa bebas dari masalah. Mmm masa sih? Pada kenyataannya, saat kita berusaha agar segala sesuatu berjalan sempurna, yang ada justru terjadi banyak benturan dengan kenyataan di luar sana.

Misalnya kamu mengharapkan seorang pacar yang sempurna (ganteng, kaya, perhatian, setia, suka kucing, perut 6 packs, baik sama anak-anak, alim dan soleh, daaaann seterusnyaa…) dan ketika kenyataannya pacar kamu yang sekarang tidak seperti itu, kamu jadi banyak sebalnya karena dia tidak sesuai dengan ekspektasimu yang terlalu tinggi, dan ujung-ujungnya malah putus. Kamu membuat dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu menderita dan stress. Begitu pula saat kamu punya ekspektasi yang terlalu tinggi dan tidak realistis terhadap pekerjaanmu, projek yang sedang kamu kerjakan, dan banyak hal lainnya. Bisa-bisa kamu kerjanya gonta-ganti pekerjaan terus karena tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah kamu punya saat ini. Karena itu, sadari dan ingat resikonya, bahwa kesempurnaan tidak selalu membawa kebahagiaan.

 

2.      Hidup dalam lingkungan yang penuh dengan bisikan-bisikan negatif

Kita tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Dengan siapa kita bersosialisasi, apa yang kita baca, lihat, dan dengar memiliki pengaruh besar terhadap perasaan dan cara berpikir kita.

Sangat sulit untuk menjadi bahagia bila kamu membiarkan dirimu tenggelam dalam banyak bisikan negatif yang ada di sekitar kita. Bisikan-bisikan yang bilang bahwa sebagian besar hidupan terdiri dari masa-masa tidak bahagia, hal-hal yang berbahaya, dan dipenuhi banyak ketakutan dan keterbatasan. Bisikan-bisikan tersebut melihat hidup dengan sudut pandang yang negatif.

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengganti bisikan negatif tersebut dengan hal-hal yang positif bisa berdampak besar loh. Rasanya seperti ada dunia baru yang tertampil untukmu. Jadi mulailah luangkan waktu bersama orang-orang yang positif, baca buku dan dengarkan musik yang menginspirasi, nonton film dan acara tv yang bisa membuatmu tertawa dan melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Kamu bisa memulainya dengan cara yang sederhana. Lupakan dulu acara gosip selebriti pagi hari atau nonton tv yang penuh berita kekerasan. Besok pagi, coba sarapan sambil membaca buku atau blog yang inspiring. Share pada kami hasilnya yaa..

 

3.      Terlalu sering terjebak di masa lalu dan masa depan

Menghabiskan banyak waktu mengingat berbagai hal di masa lalu seperti memori dan pengalaman yang menyakitkan, konflik yang pernah terjadi, atau kesempatan bagus yang hilang cuma akan menambah rasa sakit saja. Selain itu, menghabiskan banyak waktu memikirkan masa depan secara negatif, misalnya cemas akan hal buruk yang mungkin terjadi di pekerjaanmu, paranoid takut hubunganmu dengan pasangan, keluarga atau teman tidak berjalan lancar, takut memikirkan masalah kesehatan juga bisa berujung pada berbagai skenario menyeramkan yang terus kita bayangkan dalam kepala. Tidak berada di masa kini, saat semuanya tengah terjadi, bisa membuat kita melewatkan banyak hal yang menakjubkan.

Dan ini kondisi yang tidak baik kalau kamu ingin bahagia.

Bagaimana cara mengatasinya?

Memang tidak mungkin sih kalau kita sama sekali tidak pernah memikirkan masa lalu maupun masa depan. Dan tentu saja belajar dari kesalahan masa lalu dan merencanakan masa depan adalah hal yang penting.

Tapi kalau terlalu tenggelam dan terus menerus berkutat di dalamnya itu yang tidak baik.

Pernah dengar tentang “mindfulness”? Dalam bahasa sederhana, mindfulness adalah konsep dimana kita memfokuskan perhatian kita pada hal-hal yang terjadi saat ini. Living in the now – kita hidup dan benar-benar berada di masa sekarang, saat ini, detik ini juga.

Contohnya, saat membaca tulisan ini, apakah kamu sedang benar-benar berada di sini? Seberapa fokusnya kamu membaca kata-kata yang ada di hadapanmu ini? Apa yang sedang kamu lakukan saat sedang membaca? Dimana kamu membacanya? Apakah ada suara-suara atau percakapan di sekitarmu yang terdengar saat kamu sedang membaca ini? Apakah kamu mencium bau tertentu di udara? Apa yang kamu rasakan saat ini?

Seringnya kita sulit untuk benar-benar fokus saat melakukan sesuatu. Saat sedang membaca ini mungkin kamu juga sempat kepikiran soal pekerjaan yang belum selesai. Kamu sambil gelisah menunggu temanmu yang tak kunjung datang. Atau kamu sambil mikirin orang yang sedang kamu taksir. Nah hal-hal seperti ini yang sering membuat kita kurang sadar dengan segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita. Kita hidup dan melakukan sesuatu tapi pikiran kita kemana-mana. Kapan terakhir kali kamu benar-benar hidup dengan mengaktifkan kesadaran dan menggunakan seluruh panca inderamu untuk menangkap segala sesuatu yang terjadi?

Saat sedang melakukan sesuatu, cobalah untuk memfokuskan pikiran kita agar tidak banyak memikirkan masa lalu dan masa depan. Saat kamu sadar kalau pikiranmu baru jalan-jalan lagi, coba duduk diam dan fokus pada nafasmu selama beberapa menit. Aktifkan panca indera dan rasakan segala hal yang sedang terjadi di sekelilingmu. Dengan cara itu, kamu bisa terhubung kembali dengan masa kini.

 

4.      Membandingkan diri dan kehidupanmu dengan milik orang lain

Satu kebiasaan yang paling umum dan cenderung merusak adalah terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Kamu membandingkan mobil, rumah, pekerjaan, sepatu, tas, kekayaan, percintaan, kehidupan sosial, popularitas, dll. Dan ujung-ujungnya jadi ga pede dan kamu jadi banyak merasa negatif.

Bagaimana cara mengatasinya?

Ganti kebiasaan jelek ini dengan dua kebiasaan lain, yaitu:

  • Bandingkan dirimu dengan dirimu sendiri

Daripada kamu terus membandingkan diri dengan orang lain, buat kebiasaan membandingkan dirimu dengan dirimu sendiri saja. Lihat sejauh mana kamu sudah tumbuh dan berkembang, apa saja yang sudah kamu raih, dan apakah kamu sudah semakin dekat dengan tujuan hidupmu. Kebiasaan baru ini bisa membuatmu lebih banyak bersyukur dan menghargai dirimu sendiri dengan melihat berbagai pencapaian yang sudah kamu raih dan berbagai rintangan yang sudah berhasil kamu lalui. Kamu merasa bahagia dengan dirimu sendiri tanpa perlu banyak berpikir tentang hal-hal yang dimiliki orang lain.

  • Berbaik hati dengan diri sendiri dan orang lain

Caramu berpikir dan memperlakukan orang lain memiliki pengaruh yang sangat besar pada caramu berpikir dan memperlakukan diri sendiri. Kalau kamu banyak menilai dan mengkritik orang lain, tanpa disadari kamu juga banyak menilai dan mengkritik dirimu sendiri. Kalau kamu bersikap baik dan banyak menolong orang lain, kamu sebenarnya juga sedang bersikap baik dan menolong dirimu sendiri loh. Fokus dan hargailah hal-hal positif di dirimu dan orang-orang di sekitarmu.  Daripada kamu membuat peringkat atau kasta antara orang lain dan dirimu, dengan cara ini kamu justru bisa merasa lebih baik dan memposisikan diri setara dengan orang lain.

Dan ingatlah, kamu tidak akan pernah bisa menang kalau terus-menerus melakukan perbandingan. Dengan kamu menyadari hal ini saja sebenarnya sudah cukup membantu kok. Karena apapun yang terjadi, akan selalu ada orang di dunia ini yang memiliki sesuatu yang lebih keren atau lebih jago dalam suatu hal dibanding dirimu. Jadi santai dan pede saja, kamu juga punya banyak hal positif yang bisa ditampilkan kok.

 

5.      Terlalu memikirkan detil negatif yang terjadi dalam hidupmu

Selalu melihat aspek negatif dari hal-hal yang terjadi padamu dan berkutat di dalamnya akan membuatmu tidak bahagia dan bisa membuat mood orang-orang di sekitarmu juga menjadi jelek.

Bagaimana cara mengatasinya?

Salah satu hal yang bisa dicoba adalah menghilangkan kebiasaan perfeksionis seperti yang sudah kita bahas di awal. Kamu perlu menerima bahwa setiap hal dan kejadian punya sisi baik dan buruknya, tidak cuma berpikir bahwa semuanya akan selalu baik dan lancar-lancar saja. Kamu hanya membuang-buang energi kalau terlalu membesar-besarkan hal remeh yang tidak berjalan dengan semestinya. Kamu perlu menerima sesuatu secara apa adanya agar bisa melepaskan hal-hal negatif dan merasa lega secara mental dan emosional.

Hal lain yang juga bisa membantu adalah dengan berpikir konstruktif. Kamu bisa mencobanya dengan mengajukan pertanyaan berikut:

-    Bagaimana saya bisa mengubah kejadian negatif ini menjadi sesuatu yang positif?

-    Bagaimana saya bisa memecahkan masalah ini?

Dan terakhir, kalau sedang berhadapan dengan suatu kejadian yang awalnya kita pikir bisa berpotensi jadi masalah, daripada langsung panik dan kesal, bagaimana kalau coba tenang dan cuek saja dulu. Seringkali hal yang terasa sebagai masalah saat ini ternyata tidak penting-penting amat dan dalam jangka panjang ternyata tidak menjadi masalah sama sekali.

 

6.      Membatasi hidup karena kamu menganggap bahwa dunia berpusat pada dirimu

Kalau kamu berpikir bahwa jalannya dunia bergantung dan berpusat padamu, dan makanya kamu jadi banyak menahan diri karena takut akan perkataan orang lain terhadapmu saat kamu mencoba hal-hal yang berbeda atau baru, well itu artinya kamu sedang membatasi hidupmu sendiri. Kenapa? Karena kalau hal tersebut membuatmu jadi lebih tidak berani mencoba hal baru atau melakukan hal-hal yang sebenarnya selama ini sangat kamu inginkan, artinya ada yang salah.

Saat orang lain menyampaikan kritik atau hal negatif terhadapmu, jangan berpikir bahwa itu selalu berarti kamu telah melakukan kesalahan (karena bisa saja orang tersebut yang sedang mengalami hari yang menyebalkan, atau kamu sendiri yang ternyata mengasumsikan bahwa orang lain menyalahkanmu atas suatu hal). Apalagi kalau kita orang yang cenderung pemalu, biasanya terbiasa berpikir kalau orang lain selalu memperhatikan segala tindak-tanduk dan perkataan kita.

Bagaimana cara mengatasinya?

  • Sadari bahwa orang-orang tidak segitu pedulinya dengan apa yang kamu lakukan

Pada dasarnya setiap orang sudah pusing memikirkan hidupnya masing-masing dan perkataan orang lain pada mereka. Di satu sisi berarti mereka sama saja dengan dirimu, sama-sama khawatir juga dengan pandangan orang lain terhadap diri mereka. Tapi di sisi lain, berarti mereka juga tidak selalu memperhatikan gerak-gerikmu, jadi kamu bisa merasa sedikit bebas dan lega karenanya.

  • Fokus pada lingkungan sekitar

Daripada terlalu banyak memikirkan diri sendiri dan pendapat orang lain terhadapmu, bagaimana kalau alihkan perhatian pada orang-orang di sekitar kita. Dengarkan dan cari tahu kebutuhan mereka, lalu bantu mereka sesuai kemampuanmu. Ini bisa membantumu meningkatkan harga diri dan sekaligus membantu mengurangi kecemasan berlebihan pada dirimu sendiri.

 

7.      Terlalu mempersulit hidup

Hidup bisa menjadi sangat rumit hingga menyebabkan stress dan ketidakbahagiaan. Tapi seringnya hal ini terjadi karena kelakuan kita sendiri. Yup dunia memang semakin lama makin kompleks, tapi bukan berarti kita tidak bisa membuat kebiasaan baru yang membuat hidup lebih sederhana.

Bagaimana cara mengatasinya?

Hobi mempersulit hidup atau merepotkan diri sendiri biasanya bersumber dari banyak kebiasaan kita yang kurang efektif. Oleh karena itu kita perlu mengganti kebiasaan ini dengan yang baru, misalnya:

  • Sehari-hari fokus perhatian kita terpecah ke berbagai masalah sekaligus

Kebiasaan yang ribet ini bisa diganti dengan membiasakan diri untuk fokus mengerjakan 1 hal saja dalam satu waktu. Buat to-do list yang berisi 2 – 3 hal penting yang kamu targetkan harus selesai di hari itu. Tempel atau tuliskan daftarnya di tempat yang selalu terlihat olehmu untuk menjadi pengingat.

  • Memiliki terlalu banyak barang

Merasa kamar atau rumahmu berantakan, penuh berbagai barang yang tidak jelas punya siapa, fungsinya apa, dan bikin sulit saat kita ingin mencari barang yang benar-benar kita butuhkan? Yak berarti sudah saatnya kita beres-beres dan menginventaris semua barang yang kita miliki. Saat memilah barang, ajukan pertanyaan “apakah saya masih menggunakan barang ini dalam setahun terakhir?” Kalau tidak, barangnya bisa disumbangkan atau dibuang saja.

  • Menciptakan dan membayangkan banyak masalah yang mungkin terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain

Kita tidak akan mungkin bisa membaca pikiran orang lain. Jadi daripada berasumsi, menduga-duga, atau menuduh atas sesuatu yang belum pasti, berkomunikasilah dengan lebih baik. Tidak ada salahnya kok bertanya langsung, asal gunakan cara yang tepat ya. Bertanya untuk mengklarifikasi, bukan menginterogasi. Ini bisa meminimalkan terjadinya konflik dan kesalahpahaman yang tidak perlu, dan tidak buang-buang waktu dan energimu juga dengan mempermasalahkan hal-hal yang tidak penting.

  • Pusing dengan banyaknya email di inbox

Kalau merasa setiap hari banyak sekali email yang masuk untukmu, tidak perlu reaktif harus langsung membalas semuanya saat itu juga. Coba atur waktu atau buat penjadwalan kapan kamu mau cek dan membalas email, misalnya sekali di pagi, siang, dan sore hari sehingga sisa waktumu bisa digunakan untuk fokus mengerjakan hal yang lain, tidak selalu terinterupsi oleh email-email yang masuk. Selain itu, balaslah email dengan seefisien mungkin, gunakan kalimat yang singkat, padat, jelas agar kamu tidak menghabiskan waktu terlalu lama hanya untuk membalas email.

  • Merasa stress dan kewalahan

Saat sedang stress, atau pikiranmu sedang terpaku pada satu masalah, pada masa lalu, atau pada masa depanmu – seperti yang sudah kita singgung di atas – ambil waktu tenang dan lakukan pernapasan perut (bagian perut yang mengembang dan mengempis, bukan dada) selama 2 menit. Fokuskan perhatian pada udara yang masuk dan keluar untuk membuat tubuhmu lebih tenang dan santai, serta mengembalikan perhatianmu kembali ke masa kini. Kemudian mulai fokus kembali untuk mengerjakan hal penting yang harus kamu selesaikan saat ini.

—–

Secara sadar ataupun tidak sadar, kita masing-masing pernah terjebak di salah satu kebiasaan ini. Yang mana yang kamu sadari di dirimu sendiri?

Sumber: positivityblog.com


2 Comments

  1. comment-avatar
    PoraApril 23, 2013 - 11:26 pm

    pernapasan perutnya mirip dengan yoga ;)

    • comment-avatar
      The Unlearn TeamMay 2, 2013 - 4:27 pm

      Pora, iya betul :D

Leave your comment