7 Hal Yang Bisa Kita Pelajari dari Pilpres 2014

No Comment
7 Hal Yang Bisa Kita Pelajari dari Pilpres 2014

Wow, tahun ini seru sekali ya!
Kalau buka berita ataupun social media, kita tidak luput dari kegemparan pilpres. Emosinya campur aduk, dari excited sampai juga khawatir. Sampai terkadang bingung sendiri bagaimana bisa menyikapinya. Walau mesti diakui, bahwa kita sebagai bangsa, belum pernah seaktif ini menanggapi pilpres.

Terlepas dari kita mendukung kubu yang mana, atau masih swing voters ataupun golput, sebagai observer setia percakapan-perkacapan yang terjadi online maupun offline, ada beberapa hal yang bisa kita tangkap ataupun pelajari dari kejadian ini.

1. Apa yang kita katakan adalah cermin dari diri kita sendiri.

Yes, kita suka lupa bahwa, apa yang kita katakan itu bukan menunjukkan pribadi ataupun karakter orang lain, tetapi malah menunjukkan karakter kita sendiri. Bukankah setiap kali kita menghakimi orang lain itu kita sedang menghakimi diri kita sendiri?

Bahwa, setiap kali kita memberikan advise/opini ke orang lain, advise/opini itu sebenarnya malah menunjukkan values/prinsip/karakter diri kita… yang sebenarnya.

2. Semua niat itu ujung-ujungnya baik, tapi….

… terkadang caranya yang menjadi kurang baik.

Malah cenderung jahat. Dan bukan saja tentang menyebarkan kebohongan samapai membuat website baru berisi hal-hal yang memprovokasi. Tetapi juga komentar-komentar yang sudah terjadi di luar konteks.

Pernah saya sedang membaca tulisan tentang seseorang yang memiliki perbedaan calon dengan ayahnya. Terlepas saya pun banyak hal yang saya tidak setujui dengan tulisannya, gemes juga melihat ada orang yang me-reply tulisannya dengan:

“Anak durhaka… Tdk menghargai pilihan orang tua yang lebih berpengalaman… Sok tau… mau menang sendiri bukan nanya ama ayahnya.”

WOW. Sejak kapan menyuarakan pendapat ataupun isi hati menjadikan seseorang itu anak durhaka?

Ada tulisan satu lagi, yang menurut saya sudah ditulis dengan sangat sopan, respectful juga dengan logika. Again, terlepas dari saya setuju atau tidak setuju dengan isinya, ada juga yang mengkomentari dengan:

“Penulis ini gendut dan jelek!”

Lho, apa hubungannya?

Menghakimi. Menyakiti. Kejam. Itukah karakter asli bangsa kita ketika kita merasa ego kita terserang?

3. Kita hanya melihat apa yang kita ingin lihat; Kita hanya mendengar apa yang kita ingin dengar.

Memang tidak mudah membuka mata, pikiran dan tentunya hati. It’s always easier said than done. Serunya, pilpres 2014 ini menjadi ajang latihan yang seru sekali untuk bisa membuka mata, pikiran dan hati — tentunya ini pilihan ya.

Mudah untuk merasa ‘terserang’ ketika mendengarkan orang lain yang pola pikir dan pendapatnya sangat berbeda dengan kita. Mudah merasa sakit hati, walau tidak ada hubungannya langsung dengan kita. Dan ketika hal-hal yang kita lihat/dengar tidak sesuai dengan apa yang kita percayai…. bagaimana reaksi kita?

Kadang kita memang benar. Kadang kita salah. Tetapi, untuk SELALU MERASA BENAR? Itu benar-benar gak benar kan? (Maaf, agak jayus di sini.)

Sedih ketika melihat semua orang merasa benar, karena yang kita hadapi bukan sekedar benar atau salah, bukan siapa yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi sejauh mana proses pilpres ini juga membuat kita menjadi pribadi atau warga negara yang lebih baik.

4. Masih perlukah merendahkan orang lain untuk meninggikan diri?

Black campaign banyak terjadi, gak cuma di Indonesia. Saya hanya tidak menyangka bisa terjadi SEBANYAK itu di Indonesia. Bangsa yang dianggap dunia sebagai bangsa yang ramah, baik hati dan suka menolong.

Bukankah ketika kita merendahkan orang lain itu kita merendahkan diri kita sendiri?

Lucu saja, mungkin karena terkadang kita tidak sadar bahwa apa yang kita lakukan itu sedang merendahkan orang lain. Karena kita suka lupa, kalau hal itu sedang dilakukan ke kita, kitapun juga tidak nyaman.

Pilpres ini menjadi pengingat yang baik.

5. Belajar membedakan antara Kebohongan, Opini dan Fakta.

Yes, ada bedanya. Walau terkadang kita sulit membedakannya.

Mungkin alasan mengapa kebohongan itu banyak sekali tersebar karena kita mudah dibohongi, karena kita sulit juga mendapatkan fakta-faktanya. Toh fakta pun dari sumber yang berbeda-beda. Jadi sebenarnya, percaya sama yang mana?

“Tell a lie once, and all your truths become questionable.”

Sedikitnya yang bisa kita lakukan ya menjadi lebih KRITIS, sedikit, supaya tidak langsung percaya apapun yang dikatakan orang lain, mencoba mendalami sejarah kembali, dan memperkuat logika kita. Periksa kembali sumbernya, membaca beberapa sumber yang berbeda, melihat perspektif yang berbeda-beda. Bukankah itu yang akhirnya membuat kita menjadi lebih KAYA? Karena bisa melihat dari perspektif yang berbeda? Dan kemudian merayakannya?

Yang keren sih, semakin banyak yang memiliki OPINI dan bebas menyuarakannya. That is GREAT! Terlepas dari opininya masuk akal atau tidak sih ya. Karena beruntunglah kita masih tinggal di negara dimana kita bebas bersuara. Tinggal pertanyaannya, ketika kita bebas bersuara, bagaimana kita bisa menggunakan suara kita untuk kebaikan? Tanpa menghakimi, menyakiti, menjatuhkan.

6. Apakah kita masih semudah itu untuk di-adu-domba?

Dan, ternyata kita di-adu-domba oleh diri kita sendiri. Kita sendiri yang membiarkan diri kita dipecah belah. Hanya karena perbedaan pendapat, kita terancam kehilangan teman ataupun saudara. Saya gak tahu ini sedih atau lucu.

Dan, lalu sibuk mencari kambing hitam.
Dan, gak sabar untuk bisa bilang, “I told you so!”

Whatever happens to sportsmanship? Apa yang terjadi dengan toleransi? Fascinating.

Terasanya seperti sedang memiliki orang tua yang menjalani perceraian, dan kita sebagai anaknya, dipaksa harus memilih salah satu — seperti anak itu adalah ASET orang tua. Setahu saya, anak itu bukan untuk dibagi-bagi. Indonesia bukan untuk dibagi-bagi.

7. Menyikapi konflik dengan humor.

Banyak teman-teman saya yang juga agak patah hati melihat reaksi beberapa rakyat Indonesia yang menjadikan proses pilpres ini menjadi pengalaman yang menyakitkan dan bukan menyenangkan.

Tetapi, banyak juga teman-teman saya yang masih hopeful, karena toh, kita belum pernah mengalami pilpres se-exciting ini!

At least, kita masih bisa terhibur dengan sejumlah meme yang tersebar di social media. Kita masih bisa tersenyum dan tertawa. Sometimes, itu cukup.

Toh, negara tidak hanya dilihat dari Presidennya, tetapi juga rakyatnya. Dan kita, rakyat seperti apa sih?

Saya hanya berharap…
Pilpres kali ini tetap bisa mengeluarkan hal-hal baik dari diri kita masing-masing dan bukan saja hal-hal yang tidak baik.
Pilpres kali ini kita menjadi lebih terbuka perspektifnya, bisa menerima perbedaan dan menjadi kaya secara kepribadian dan pengetahuan.
Pilpres kali ini kita ikut mengambil peran menjadi warga negara, terlepas siapa pilihan kita.

Gak salah untuk jadi GolPut, karena tidak memilih pun juga pilihan, dan pilihannya memang tidak mudah. Terkadang, kita memang lari dari memutuskan sesuatu karena memutuskan sesuatu itu lebih sulit dari tidak memutuskan sesuatu. Saya hanya ingin berterima kasih karena sudah diberikan hak suara, di negara yang masih menghargai suara…

Sampai bertemu di tanggal 9 Juli 🙂
May God Bless This Country Always.

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *