5 Penyesalan Terumum, Apakah Kamu Memiliki Salah Satunya?

2 Comments

 

Tidak perlu menunggu sampai ‘tua’ untuk mulai meng-asses hidup kita, atau yang lebih tepatnya, apa yang kita sudah atau belum lakukan dalam hidup ini. Sering kita mengukur sukses, tetapi sejauh mana kita juga mengukur penyesalan?

Bronnie Ware dalam pengalamannya sebagai suster paliatif yang menkounsel orang-orang yang menunggu ajalnya dan menemukan 5 penyesalan terumum yang dialami di akhir hidup kita. Dia mengumpulkan pengalamannya dalam blognya Inspiration and Chai yang kemudian dituliskan dalam buku The Top Five Regrets of the Dying.

Apakah 5 hal tersebut?

top-5-regrets-of-dying

1. I wish I’d had the courage to live a life true to myself, not the life others expected of me.

“Andaikan saya memiliki keberanian untuk hidup yang benar-benar mencerminkan diri saya, bukan hidup yang diharapkan orang lain terhadap saya.”

Di akhir hidup, kita malah lebih banyak menyesali hal-hal yang tidak kita lakukan dibandingkan hal-hal yang kita lakukan. Saat ini saja, sering kali kita mengatakan “Andaikan saya bisa ____” lalu kita menunda, menunda dan menunda karena “life gets in the way.”

Coba tanyakan ke diri kamu sendiri, apa hal yang kamu selalu ingin lakukan tetapi sampai saat ini ‘belum sempat’ untuk melakukannya. Apakah itu?

Coba tanyakan ke diri kamu sendiri, sejauh mana kamu sudah mengerjakan apa yang diinginkan orang tua, kakak, situasi, tetapi malah mengabaikan impian diri?

2. I wish I hadn’t worked so hard.

“Andaikan saya tidak bekerja terlalu keras.”

Ini disampaikan oleh setiap pasien pria, karena banyak wanita yang bukan wanita karir. Kebanyakan karena akhirnya menginginkan lebih banyak menyaksikan anak mereka tumbuh dewasa, meluangkan waktu bukan karena terpaksa dan sudah lelah, tetapi benar-benar waktu yang berkualitas.

Kita sudah mendapatkan contoh dari teman kita Mita Diran yang meninggal di usia 24 tahun karena bekerja terlalu keras. Perlukah kita menunggu tua untuk menyadari hal ini?

3. I wish I’d had the courage to express my feelings.

“Andaikan saya memiliki keberanian untuk mengekspresikan perasaan saya.”

Pernah saya ditanyakan oleh temannya adik saya, “Mbak, saya suka dengan orang ini. Menurut mbak, sebaiknya saya beritahu dirinya gak ya?

Baik di rumah, dengan kekasih ataupun keluarga, kecenderungan orang Indonesia adalah tidak enakan, yang akhirnya kita memendam semuanya, yang akhirnya kepikiran terus. Efek yang dihasilkan sebenarnya adalah hidup mediocre – tidak menjadi seseorang yang hidup dengan seluruh potensinya. Akhirnya banyak yang sakit karena memendam amarah dan kekesalan.

Apa amarah, kekesalan, kekecewaan yang kamu pendam selama ini, terlepas kamu sadar atau tidak?

4. I wish I had stayed in touch with my friends.

“Andaikan saya telah menjaga komunikasi/hubungan dengan teman-teman saya.”

Terkadang kita tidak merasakan manfaat utama dari menjaga hubungan terutama dengan teman lama sampai akhirnya kita sudah di ujung usia. Kita akhirnya akan merindukan teman-teman kita ketika kita sudah tinggal menunggu waktu.

Banyak alasannya, dari kerjaaan, keluarga, kesibukan lain. Di saat sulit, kita merindukan teman-teman untuk mendukung kita, tetapi apa yang kita lakukan untuk mendukung mereka terlepas mereka sedang melalui masa sulit atau tidak?

Tanyakan ke dirimu sendiri, apa yang sudah kamu lakukan untuk menginvestasikan persahabatanmu?

5. I wish that I had let myself be happier.

“Andaikan saya telah mengijinkan diri saya untuk lebih menikmati hidup dan bahagia.”

Lucunya ini sangat umum. Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa kebahagiaan itu pilihan. Kita terjebak dalam kebiasaan lama, terutama merasa sangat ‘nyaman.’ Terjebak dalam zona nyaman dan ketakutan untuk berubah telah menjadikan kita pribadi yang semu, jaim, kaku – pura-pura menjadi orang lain. Padahal di dalam diri, kita kangen sekali untuk bermain seperti anak kecil dan lebih merasa bebas.

Lucunya juga, kalau orang jaim ditanya “Apakah kamu termasuk orang yang jaim?” Jawabannya pasti “Tidak.” Kalau orang ditanya “Apakah kamu bahagia?” kebanyakan menjawabnya “Yah, gitu deh, it’s okay.” Tetapi, tidak terasa kebahagiaannya di raut wajah dan bahasa tubuhnya.

Kalau kamu masih suka menangkap diri kamu mengatakan “Enak ya jadi ____” atau “Andaikan gue bisa _____” atau malah gossip/ngomongin orang lain, itu beberapa tanda-tandanya. Seberapa kamu telah ‘jaim’ selama ini?

Apakah kamu punya salah satu penyesalan dari 5 hal ini? Atau ada yang lain?

Kalau kamu mengatakan “Saya sih gak punya penyesalan apapun sampai saat ini.” Well, mari kita ubah pertanyaannya. Yaitu,

“Kalau ada hal yang tidak ingin kamu sesali satu hari nanti, apakah itu?”
“Apa hal yang tidak kamu lakukan di tahun ini dan ingin sekali dilakukan tahun depan?”

Apa yang bisa kamu lakukan mulai sekarang untuk menjaganya?

Share with us ya J

Xo.

 

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

2 Comments

  1. Annisa -  February 2, 2014 - 1:13 am

    Apakah kamu punya salah satu penyesalan dari 5 hal ini? Atau ada yang lain?

    PUNYA ! ada di nomer 1.
    jujur saja saya masih belum punya keberanian untukitu, saya masih memikirkan matang-matang, belum lagi menampung harapan-harapan dan keinginan orang yang ada di sekitar saya.

    • The Unlearn Team -  February 3, 2014 - 5:13 pm

      Annisa,

      Yes, yang #1 itu memang yang paling susah. Makanya jadi regret #1. Gak mudah jadi diri sendiri ketika dikelilingin ekspektasi dan ingin menyenangkan orang lain. BUT, untuk kamu sudah sadar itu sudah keren banget. Nanti tinggal bareng-bareng bagaimana cari jalan tengahnya yuk, bisa tetap jadi diri sendiri yang kita sukai tetapi juga bisa membanggakan orang lain 🙂

      Thanks sudah komen ya Annisa!

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *