5 Pembelajaran dari Quarter Life Crisis

2 Comments
5 Pembelajaran dari Quarter Life Crisis

Sampai sekarang, saya tidak benar-benar yakin kalau saya sudah ‘sembuh’ atau belum dari QLC. Tetapi, kalau ada 5 hal yang saya pelajari dari melalui masa-masa di usia 20-an dan 30-an, hal tersebut adalah …

1.  QLC happens to the best of us, because we were never taught how to face adulthood.

 

Terutama di Indonesia, kita seperti dibesarkan berdasarkan daftar yang sama. Sekolah dari TK, SD, SMP, SMA lalu kuliah diharapkan untuk menjadi nomor 1. Setelah itu mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan yang prestis atau terkenal, dengan gaji dan posisi yang bonafide. Lalu, menikah dengan seseorang yang memiliki bibit, bebet, bobot. Jangan lupa untuk memiliki 2 anak, 1 laki dan 1 perempuan. Dan kalau ada 1 yang tidak terpenuhi dari checklist ini sebelum kita berusia 30 tahun, maka kita sudah gagal dalam hidup. We are a failure! Masa sih?

Selama ini kita diberikan checklist, tetapi tidak pernah diajarkan bagaimana caranya untuk menjadi dewasa. To grow up. To live life. Yang ada, malah hidup berdasarkan checklist yang telah dibuatkan orang lain. Tetapi salah siapa ini? Gak bisa juga menyalahkan orang tua ataupun orang lain. Karena itu pun yang kita ketahui selama ini.

Yang ada, ketika kita lulus, bekerja di perusahaan yang prestis, lalu menikah, baru kita bertanya “Kok gue gak happy ya?” Kenapa walau checklist ini terpenuhi kita malah semakin bingung dan cemas? Seperti ada yang hilang. Sekolah 20 tahun, kita diajarkan tentang ilmu pasti, sejarah, matematika, tetapi hampir tidak pernah diajarkan tentang hidup. How to really live. Bagaimana mengasah life skills agar tidak hanya sekedar survive tetapi juga bisa berkembang. Jadilah sekarang di usia 20an ini kita baru mulai pembelajarannya. Langsung dicemplungin. Welcome to the school of life 🙂

Phewh. Nafas dulu. It’s okay. At least, kamu tidak sendirian.

2. The life that we thought was ideal, apparently not so much.

 

Selesai kuliah saya mendapatkan kerja di sebuah perusahaan multinational. Keren. Saya pun bangga kalau ditanya kerja dimana. It was something I wanted. Tetapi, 2 tahun kemudian, saya berubah pikiran. Saya tidak ingin berada disitu sama sekali, mengerjakan pekerjaan tersebut. Apa yang salah dengan saya? Kok saya tidak mau pekerjaan yang orang lain berebut ingin mendapatkannya?

Sekarang saya paham bahwa waktu itu saya sedang menjalankan hidup yang telah diwariskan ke saya. Kehidupan yang saya ketahui dan kenal, karena dari orang tua sampai om tante dan teman-teman pun memiliki kerjaan di perusahaan yang bonafide. Itu satu-satunya kehidupan yang saya ketahui. Kehidupan yang telah diajarkan dan dikondisikan ke saya, tanpa saya sadari.

Tetapi, menariknya, di saat saya merasa ‘kosong’, saya mulai bertanya: Apa yang sebenarnya saya inginkan? Apa yang bisa membuat saya tidak hanya sekedar happy tetapi juga fulfilled?

3. We don’t have to have things all figured out NOW.

 

Siapa sih yang tahu pasti tentang hidupnya? Terutama di usia 20-an. Siapa yang pernah bilang bahwa kita sudah harus tahu semuanya ketika usia 30 tahun? Saya ingat salah satu teman kerja saya yang baru saja berulang tahun ke 24 tiba-tiba bilang “OMG, gue sudah 24 tahun dan gue belum tahu mau ngapain.” Oh darling, saya 34 tahun dan kalau ditanya apakah saya tahu pasti apa yang saya inginkan dalam hidup, saya juga tidak tahu. Tetapi, saya memiliki arah. I have a sense of direction. Itu yang saya butuhkan.

Teman saya bercerita tentang sebuah poster yang Ia lihat. Ada sebuah tangga yang menuju ke suatu tempat, tetapi tidak kelihatan ujungnya. Seperti hidup, sering kali kita tidak bisa melihat ujungnya, tetapi kita bisa mengambil beberapa langkah agar semakin dekat ke tujuan tersebut. Kadang, kita terlalu banyak berfikir dan akhirnya malah tidak melakukan apapun. Watch that trap.

4. Stick it out. Work at it. Get out of the crisis or you’ll stuck in it and be a grumpy old man, or woman.

 

Ada sebabnya disebut krisis, untuk melihat apakah kita akan melakukan sesuatu atau tidak. Coba perhatikan, kalau kamu mulai sering komplain, atau menggerutu, atau ngeselin teman-teman kamu, mungkin saatnya untuk melakukan sesuatu. Apapun selain komplain melulu. Cari mentor. Baca buku. Cari ide ke teman-teman. Coba bertanya. Jawab beberapa pertanyaan penting di bawah ini. Buat rencana.

Tidak ada yang bisa membantu kita kecuali diri kita sendiri. Are you ready to work on you?

Kamu bisa memulai dengan menjawab 10  pertanyaan ini.

5. Is it really QLC or just merely lazy and unmotivated?

 

Hati-hati dengan salah satu jebakan maut ini. Jangan jadikan QLC sebagai alasan kalau sebenarnya diri kita sendiri yang malas dan kurang termotivasi. Terlalu manja untuk mengerjakan pe-er dan inginnya semuanya serba mudah dan instan, tanpa harus berusaha.

Salah satu yang saya lakukan untuk mengetes diri saya apakah saya memang malas atau tidak adalah bertanya:

  • “What have I done today that will get me 1 step closer to the life I want?” – Apa yang sudah saya lakukan hari ini yang mendekatkan saya ke kehidupan yang saya inginkan?
  • “What have I done today that give me a sense of accomplishment?” – Apa yang sudah saya lakukan hari ini yang memberikan saya rasa bangga terhadap diri?

—-

Bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu pelajari dari QLC kamu?

About the author

Aristiwidya is a Facilitator, Coach and Consultant in People Development who believes that each person has a gift to share to the world to let each other shine. Through her writings, may it be in magazines or blogs, she continues to inspire people to see life from different perspectives.. to create our best life, our own miracles.

2 Comments

  1. Rinda -  September 26, 2014 - 9:44 am

    Salam Kenal mbak Ika, materi The Unlearn inspiring nih
    kalau mau menghubungi by phone ke no berapa ya ?

    • The Unlearn Team -  September 26, 2014 - 10:16 am

      Hi Rinda, thank you. Kalau mau menghubungi mbak Ika bisa via line, idnya “aristiwidya” 🙂 atau bisa via email jg di mail@theunlearn.com

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *