#100happydays

No Comment

 

Hello gorgeous people. Hari ini ada #suratpembaca dari teman kita Orissa yang sharing tentang pengalamannya melakukan tantangan #100HappyDays. Kalau kamu pernah ikutan, seru sebenarnya, karena kita jadi semacam peneliti untuk memperhatikan apa sih hal-hal yang membuat gue bahagia. Apakah gue bahagia? Apa yang membuat gue bahagia? Menurut gue kebahagiaan itu apa sih? Dan kesulitannya dimana sih? Coba deh baca insight yang dialami Orissa ya.

Thank you Orissa untuk sharingnya. Kalau kamu pernah mengikuti #100HappyDays challenge, share juga dong, apa yang kamu dapatkan?

—————————————-

100happydays_raanntPernah dengar ga soal tantangan #100HappyDays? Intinya, orang yang punya ide ini ingin nantangin siapa aja ‘Can you be happy for 100 Days in a row?’  Yang mau ikutan tinggal posting gambar yang certain kebahagiaan di hari itu, via socmed yang dipilih, terserah mau di twitter, path, instagram, atau path. Mau mulai kapan juga terserah. Tampaknya gampang ya.. gue sih awalnya mikir masa sih dalam 1 hari ga ada 1 kejadian pun yang bisa buat seneng? Gue pun ikutan. Tapi ternyata ga semudah itu.

Belum juga 10 hari, gue udah lupa post karena ngerasa hari itu datar-datar aja. Ga ada kejadian gimana-gimana yang ’pantas’ buat dijadiin post dengan hastag 100HappyDays. Tapi trus mikir ya mungkin memang itu maksud tantangan ini sebenarnya. Supaya gue bisa bersyukur setiap hari dan bisa mengapresiasi hal-hal kecil yang dengan mudahnya terlewatkan, kalau pikiran dan hati gue tidak ‘dilatih’ untuk mengenalinya. Jadi inget suatu quote ‘It is not happy people who are thankful, it is thankful people who are happy.’

It is not happy people who are thankful, it is thankful people who are happy.

Gue baca lagi link tantangan #100HappyDays itu, dan serasa jleb baca kalimat ini. ”It’s NOT a happiness competition or showing off contests. If you try to please/ make others jealous via your pictures, you lose without even starting.” Kalau gue tadi mikir, kejadian apa yang ‘pantas’ gue post, berarti gue sudah masuk kategori pamer dong ya? Ingin dilihat orang kalau hidup gue terdiri dari serangkaian pencapaian atau kejadian-kejadian ‘penting’ terkait diri gueataupun anak gue, semacem “ditawarin proyek baru”, “anak gue yg umurnya 13 bulan dah bisa ngomong dan tahu nama2 binatang, warna, dan anggota tubuh”, atau “pergi jalan2 ke Bandung dan nginep di hotel yang cozy banget”. Padahal, kalau orang lain lihat post gue, apa gue juga bisa jadi tambah bahagia? Apa gue bisa jadi tambah hebat? Ga lah.. Bahagia itu apa yang gue rasain sendiri dalam hati. Ga perlu pura-pura, ga perlu dibuat-buat, dan yang jelas, bukan ditujukan untuk orang lain dan juga bukan untuk ngebuat orang lain iri.

Gw pun belajar bahwa gue ga boleh merasa iri dengan kebahagiaan orang lain, karena pasti tiap orang dapet ‘jatah’nya masing-masing. Kadang suka terjebak dalam kesalahan berpikir bahwa orang yang bahagia itu ga punya masalah, hidupnya adem ayem, semua yang diinginkan terkabul. Padahal kan ga gitu ya? Gue yakin kalau gue bisa memilih untuk menjadi bahagia. Gue harus usaha untuk ga ngebiarin masalah-masalah yang gue alami sampai menyedot kemampuan gw untuk lihat hal-hal baik, indah, dan menyenangkan yang sebenarnya ada di sekeliling gue. Ibaratnya, dementor pun kalah dengan patronus yang isinya kumpulan rasa bahagia, iya toh?

Dipaksa. Terpaksa. Bisa. Biasa. Kebiasaan.

Kata orang, ubah kebiasaan (apapun itu) butuh waktu minimal antara 21-30 hari, supaya pikiran (atau tubuh) terbiasa dengan perubahan yang terjadi. Yang awalnya harus ‘dipaksa’ dan butuh usaha keras, sampai nantinya lama-lama udah otomatis aja gitu jalaninnya, udah kayak refleks. Kayak gue yang sedang coba lakukan ini. Awalnya rada susah mikirin hal yang buat happy, tapi trus.. pola pikir dan sikap gw tentang ’menjadi bahagia’ mulai berubah. Simple things can, do, and will make me happy! I am the controller of my own happiness. Kayak beli buku terbaru dari novelis favorit, cucian kering karena matahari terik, liat video klip lama dari boyband kesayangan jaman dulu, ditraktir makan siang sama kakak, macam-macam lagi.

Happiness is not a big thing; it’s a thousand of little things. And if, at the end of the day I still couldn’t think any happy thoughts, just be alive should be enough reason for me to be happy, right? 🙂

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *