10 Life Lessons You Should Unlearn

No Comment
10 Life Lessons You Should Unlearn

Tanpa disadari, budaya kita banyak dipenuhi dengan hal-hal yang menjauhkan kita dari kebahagiaan. Apa saja yang bisa kita Unlearn dari apa yang sudah kita pelajari selama ini? Berikut adalah 10 pembelajaran yang perlu di Unlearn dari Martha Beck.

1. Masalah = jelek.

Selama sekolah kita selalu diberikan berbagai test, permasalahan untuk dipecahkan. Tetapi kebanyakan test yang diberikan membosankan, yang akhirnya kita percaya bahwa masalah itu jelek.

Tetapi, orang yang memiliki real problems malah menjadi kreatif.

Real problems are wonderful. Setiap masalah membawa benih-benih dari solusinya itu sendiri. Bosan dengan pekerjaan? Itu bisa mengarahkan kita ke karir yang kita tunggu-tunggu. Relationship yang bikin frustrasi? Hal itu sebenarnya sedang mengajarkan pada kita apa arti cinta dan kasih yang sebenarnya. Bingung membuat pelaporan pajak? Ini artinya, cari akuntan untuk mengerjakan pajakmu sehingga kamu bisa lebih fokus ke pekerjaan yang lebih menarik, seperti melihat matahari terbenam. Menemukan solusi maupun opportunity dari problem itu sendiri yang menjadikan hidup lebih menarik.

2. Sangat penting untuk selalu bahagia.

Penting untuk selalu happy? Well, memecahkan masalah bisa membuat kita happy, tetapi kita tidak harus selalu happy untuk merasa baik – to feel good.

Coba deh, pikirkan sesuatu yang membuat kamu merana. Lalu langsung berfikir, “Saya harus terus bahagia!” Bikin stress kan? Coba bilang, “It’s okay kok untuk sedih.” Mengijinkan diri untuk merasakan apa yang kita rasakan — bukan selalu bahagia — adalah fondasi dari well-being.

3. Saya selalu dihantui masa lalu.

Kejadian yang menyakitkan tentu meninggalkan luka, tapi ternyata luka-luka emosional tersebut dapat disembuhkan. Jill Bolte Taylor, seorang neuroanatomist yang mengalami stroke dan kehilangan seluruh ingatannya menggambarkan kejadian tersebut sebagai “kehilangan 37 tahun beban emosional”. Taylor kemudian berhasil membangun kembali otak dan kehidupannya, tanpa berbagai drama yang menyertainya.

Sekarang kita juga bisa mengalami efek yang sama, tanpa perlu mengalami kerusakan otak dulu tentunya. Caranya dengan mulai mempertanyakan pikiran-pikiran penghambat yang sering muncul tanpa kita sadari.

Contohnya, pikirkan satu hal yang paling sering membuatmu cemas (misalnya “saya harus bekerja lebih keras!”) dan pikirkan tiga alasan mengapa pikiran tersebut mungkin tidak benar. Selanjutnya, otak akan mulai melepaskan pikiran tersebut dan kamu bisa mulai merasa lega.

4. Kerja keras membawa kesuksesan.

Kita dilahirkan untuk bermain, bukan bekerja. Sejak bayi, manusia tumbuh dan belajar melalui kegiatan bermain. Anak-anak yang menghabiskan banyak waktunya mencari cara dan menyusun strategi untuk bersenang-senang cenderung memperoleh kemampuan alami untuk menghadapi berbagai situasi dunia nyata dengan lebih kreatif.

Jadi, bebaskan dirimu dan bermainlah seperti yang kamu lakukan ketika kecil, dengan menyerap seluruh pengalaman dan sensasi yang dirasakan.

Perhatikan bagaimana kemampuan bermain masa kecil kita mampu menyelesaikan permasalahan. Karena kunci kesuksesan adalah bermain, bukan bekerja.

5. Sukses adalah kebalikan dari kegagalan.

Punya pengalaman berhenti merokok atau berhasil move on dari sebuah hubungan yang buruk? Bagaimana prosesnya, lancar jaya atau sempat mengalami jatuh bangun dulu?

Kesuksesan kita datang dari serangkaian pengalaman mencoba, menemui kegagalan, dan kita belajar dari situ.

Hasil studi menunjukkan orang-orang yang terlalu cemas saat melakukan kesalahan cenderung menutup diri, namun mereka yang bersikap santai saat menemui kegagalan bisa segera belajar untuk menjadi lebih baik. Kesuksesan dibangun dari rangkaian kegagalan, jadi jangan cepat menyerah.

6. Pendapat orang lain tentang kita itu penting.

“Tapi kalau saya gagal, nanti orang lain akan berpikiran buruk terhadap saya!” mungkin kamu akan bilang begitu. Pola pikir seperti inilah yang biasanya menyebabkan kita mudah stress, depresi, bahkan bisa sampai bunuh diri.

Seringkali, bayangan pendapat orang lain terhadap diri kita berasal dari ketakutan kita sendiri yang belum terbukti. Kita menjadi paranoid, mudah curiga, dan menduga orang lain berpikiran negatif terhadap diri kita, padahal belum tentu demikian.

Bila tetap mempertahankan pola pikir seperti ini, kita hanya menyengsarakan diri sendiri karena menganggap apa yang dikatakan atau dipikirkan orang lain sangat berpengaruh dan menjadi penentu hidup kita. Akhirnya kita bertindak dan terbiasa melakukan hal-hal yang seakan-akan menyenangkan dan memenuhi harapan orang lain, dan bila gagal akhirnya malah diri sendiri yang merasa terbebani.

Sekarang bisakah kamu membayangkan apa saja yang ingin kamu lakukan bila tidak perlu memperhatikan pendapat orang lain? Bayangkan apa rasanya bila akhirnya kamu sudah berhasil melakukan hal-hal tersebut, dan mulailah mewujudkannya sekarang juga.

7. Kita harus selalu berfikir rasional ketika mengambil keputusan.

Apa yang biasanya kamu lakukan ketika hendak membuat suatu keputusan penting? Membuat daftar keuntungan dan kerugian dari masing-masing opsi? Apakah hal tersebut sudah cukup memecahkan masalahmu atau kadang masih terasa ada yang mengganjal saat siap memilih?

Seringkali, permasalahan kompleks bisa diselesaikan dengan lebih baik saat kita menggunakan insting dasar kita dan mengesampingkan rasio untuk sementara.

Coba ingat pilihan-pilihan apa saja yang perlu kamu buat selama ini – apapun dari memilih film apa yang mau ditonton, sampai rumah mana yang mau dibeli. Nah daripada terlalu memikirkan pro dan kontra dari setiap pilihan, coba perhatikan respon fisik kita terhadap masing-masing pilihan. Perhatikan kapan tubuh kita terasa tegang atau santai saat dihadapkan pada salah satu opsi. Secara tidak sadar, tubuhmu bisa membantumu membuat pilihan, karena insting bisa menjadi penerjemah dari kata hati yang kadang kita abaikan.

8. Wanita-wanita yang cantik selalu mendapatkan kemudahan.

Well, hal ini tidak sepenuhnya benar. Martha Beck menceritakan pengalamannya saat menangani klien-klien cantiknya. Ia mengatakan para wanita cantik tersebut mungkin memang pernah menerima perlakuan tertentu atau diberikan banyak kemudahan semasa hidup mereka. Namun ada kondisi lainnya: saat banyak orang melihat mereka, tak jarang yang sebenarnya terjadi adalah tidak ada yang benar-benar ‘melihat’ mereka.

Kenyataan menyedihkan yang terjadi, hampir setiap klien cantik itu memiliki suami yang hanya menikahi penampilan fisik mereka, tanpa menyadari dan menghargai jiwa dan pribadi mereka yang sesungguhnya.

9. Kalau seluruh keinginan saya dikabulkan, hidup saya akan sempurna.

Perhatikan hal ini: orang-orang yang seakan-akan memiliki segalanya tetap bisa mengalami ketidakbahagiaan. Tak sedikit di antara mereka yang kemudian berakhir di pusat rehabilitasi, pengadilan perceraian, dan penjara. Efek samping karena mereka tak mampu memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya dengan bijak.

Pada dasarnya, setiap hal eksternal (materi, harta benda) yang bisa membuat kita merasa senang, juga memiliki kekuatan untuk membuat kita merasa buruk.

Dan anehnya, saat kita berhenti bergantung pada hal-hal tersebut, seringkali apa yang kita inginkan justru terwujud. Untuk menarik hal-hal yang kamu inginkan, bergembiralah seakan-akan kamu sudah memiliki hal tersebut. Rasa gembiralah yang terpenting, bukan bendanya.

10. Kehilangan sesuatu adalah hal yang mengerikan.

Kadang kita memiliki kecenderungan sangat takut kehilangan sesuatu hingga sanggup mengabaikan diri sendiri demi menjaga segala sesuatu tetap stabil. Contohnya, demi menjaga perasaan orang-orang di sekitar kita dan menghindari konflik, kita tetap tersenyum saat perlakuan orang lain sebenarnya menyakiti kita, atau berpura-pura menyukai orang lain yang sesungguhnya tidak terlalu kita sukai.

Mengalami situasi kehilangan sesuatu atau seseorang bukanlah bencana, karena hal tersebut justru mengajarkan hati dan jiwa kita mengenai rasanya patah hati, mengalami keterpurukan, dan proses penyembuhan kembali. Hal yang sesungguhnya sangat alami dan justru melatih kita untuk bisa lebih tegar dan kuat.

Tragedi yang sesungguhnya adalah saat kita kehilangan hati dan jiwa itu sendiri. Kalau kamu mengabaikan kebahagiaan dan kesejahteraan dirimu sendiri hanya untuk mengikat orang atau hal-hal lain agar tidak pergi darimu, segera perbaiki keadaan itu. Jujurlah pada diri sendiri dan ikhlaskan mereka yang pergi dari kita. Dengan demikian, jiwamu akan kembali utuh.

 

Inspirasi: Martha Beck from O, The Oprah Magazine © 2010

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *