10 Kualitas Pria Yang Membanggakan

1 Comment
10 Kualitas Pria Yang Membanggakan

Sempat ada yang bertanya “Menurut loe, kualitas pria yang baik itu seperti apa ya?”

Cukup sulit saya menjawabnya. Toh, manusia kan punya standar masing-masing dalam kualitas ya.

Walaupun seperti itu, jujur membuat saya berfikir panjang dan betapa beruntungnya saya banyak dikelilingi pria-pria yang saya anggap hebat dan keren. Hebat dan keren bukan karena prestasi ataupun jabatannya, tetapi karakternya yang bagi saya menginspirasi.

Ijinkan saya bercerita tentang ayah saya. Perlu diketahui bahwa beliau rupanya seperti Prabowo, sampai sering dikira pensiunan Jendral, dan ditakuti polisi (hihihi). Beliau juga seorang yatim piatu dari usia 4 tahun, yang baru 10 tahun terakhir saya mendengar Ia mengucapkan “I love you.” Ia pun juga tidak bisa memberikan pelukan yang hangat, mungkin karena dia jarang dipeluk juga ya. Tampilannya memang keras, teriakannya juga keras, tetapi hatinya, oh hatinya itu menginspirasi saya. Itu yang membentuk karakternya. Hati dan pemikirian-pemikirannya.

Contohnya apa?

1. Hati yang selalu penuh kebaikan.

Di langganan bubur kita dari kecil, ternyata beliau diam-diam telah menyekolahkan salah satu anak yang selalu dia sebut “Ndut” sampai dia lulus SMP. Setiap ke sana, beliau selalu bertanya “Gimana sekolahmu Ndut? Kamu butuh apa? Tuh nyebrang sana beli alat-alat tulis. Kamu buth apa lagi?”

Setiap kali kita melewati pasangan atau bapak anak yang duduk di jalan, beliau langsung berhenti dan mengeluarkan dompetnya lalu menyuruh saya, “Tolong kamu turun dan berikan ini ke mereka.”

Saya jujur gak tahu apa motivasi dia melakukan semua ini. Tetapi hal-hal itu yang menurun ke saya. Dan mungkin ini yang menjadikan rejekinya dia baik sampai saat ini.

Mungkin bagi dia, kaya adalah sejauh mana kita bisa membuat orang lain merasa diuntungkan. Dan mungkin bagi dia, tidak ada “orang kecil,” semua itu berhak mendapatkan perhatian yang sama.

2. Selalu “ada” dan bisa diandalkan.

Seumur hidup, seingat saya, papa adalah orang yang selalu menepati janjinya. Selalu on-time. Selalu bisa diandalkan. Dia selalu “ada” setiap kali saya membutuhkannya.

Setiap kali saya memiliki masalah, setiap kali saya merasa terancam, setiap kali saya curhat sambil menangis pakai bahasa inggris pula yang dia kurang paham, dia selalu mendengarkan. Semua selalu diakhiri dengan “Apa yang papa bisa bantu?” Terkadang, memang gak ada dan gak perlu dibantu. Tetapi tiba-tiba ada kiriman makanan dari papa. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Pernah sekali saya sedang kerja di Bandung dan berantem dengan pacar sampai nangis-nangis. Yang dia lalukan sederhana. “Kamu dimana? Aku jemput ya.” Cukup. Dia selalu ada.

Dia akan selalu mencoba hadir ketika ada yang menikah dan meninggal. Itu peraturannya dia sendiri. Ia akan ada.

3. Tidak pernah mengeluh.

Papa itu sudah melewati operasi jantung bypass, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan fungsi ginjal juga sudah tidak 100% lagi sehingga Ia harus menjadi vegetarian dan rajin olahraga. Pernahkah saya sekalipun mendengar dia mengeluh? Gak tuh.

Saya pernah bertanya “Papa gak kangen makan sosis?” “Kangen, tapi ya gimana, dipikirin terus kan juga tidak menyelesaikan masalah.” Praktis. Selalu fokus ke apa yang bisa dilakukan.

4. Apa adanya. Gak basa-basi. Gak mencoba meng-impress orang lain.

Kalau dia suka dia akan bilang suka. Kalau dia tidak suka dia akan bilang tidak suka. Dia tidak akan menjanjikan hal yang tidak bisa dia lakukan. Gak ada agenda dibalik tindakannya. Ia tidak pernah menyembunyikan apapun. Tindakannya ke karyawan, teman dan anak-anaknya pun sama. Saya tidak pernah mempertanyakan integritasnya. Mungkin karena dia gak jago basa-basi sih 😛

Kalau ketemu orang, dia gak pernah tuh membangga-banggakan dirinya sendiri, bercerita tentang semua prestasinya (walau banyak banget). Mungkin dia tahu, bukan prestasinya yang mendefinisikan siapa dia.

Kalau saya ribet sendiri “Pa, pakai baju apa nanti ke kawinan?” Jawabannya sederhana, “Pakai apa saja asal rapih.”

“Pa, papa kecewa gak kalau aku berhenti dari pekerjaan ini?” “Asal kamu happy. Toh hidup-hidup kamu juga.”

Issshhhhh. Gemessshhh.

5. Berani minta maaf.

Di Indonesia, berapa banyak dari kita yang mendengar orang tua minta maaf ke anaknya? Apalagi seorang bapak. Seriously.

Saya lupa kejadiannya apa. Malah saya jadi lupa kejadiannya apa, karena yang saya ingat adalah ketika dia minta maaf ke saya. Terlepas siapa yang benar atau salah, mendengar ini tuh membuat rasa hormat saya berlipat ganda ke beliau.

Seorang pria yang bisa meng-adjust ego-nya itu wow sekali.

6. Menghargai apa yang kita hargai.

Pernah suatu kali, lagi ngobrol sama papa dan saya bilang, “Aku tuh respect banget lho sama orang yang ketika meminta sesuatu atau butuh bantuan bilang Terima Kasih duluan sebelum dijawab. Hal-hal kecil seperti itu tuh dampaknya besar banget.”

Dia sih gak bilang apa-apa ya. Diam saja.

Eh besoknya, dia whatsapp dan bilang gini, “Ka, kamu pakai mobil gak weekend, karena mobil papa mau masuk bengkel. Kalau tidak dipakai, aku pinjam ya. Thank You.”

Eh ya ampun, padahal sebelumnya dia ga sebegitunya.

7. Bisa diajak diskusi tanpa menghakimi.

Salah satu yang paling seru memang ngobrol sama papa. Karena bisa ngobrolin apa saja dari politik, industri, agama, gosip-gosip, dan lain-lain. Wawasannya luas, pemikirannya kritis dan praktis. Dan ini yang selalu membuat ingin bertanya ke papa “Menurut papa bagaimana?”

Ketika saya mabok untuk pertama kalinya, dan dia tahu karena dia yang menjemput saya (hihihi). Paginya, bukannya mendamprat anaknya, dia malah bertanya, “Gimana maboknya? Sudah sampai jackpot belum? Trus, minuman apa yang lagi trend sekarang?”

Orang gila! Tapi keren.

Karena ini yang saya sadar, yang membentuk rasa percaya. Dia memberikan saya ruang untuk berbuat salah dan belajar dari pengalaman itu, tanpa harus dikasih tahu apa yang benar dan apa yang salah. Akhirnya saya pun memiliki kualitas itu — bisa memilih sendiri yang benar dan yang salah.

8. Tidak ada tuntutan tertentu.

Sebagai pria dan egonya, biasanya banyak tuntutan bagi istri maupun anaknya, dari harus A, B, C, D, E sampai Z. Gak boleh A, cuman boleh B, dan selanjutnya.

Papa gak pernah tuh melarang mama bekerja. Papa gak pernah tuh melarang-larang saya melakukan sesuatu. Papa gak pernah minta untuk dilayani. Papa gak pernah menanyakan “Kapan kamu menikah?” seperti seluruh keluarga :p

Hanya satu nasehatnya, “Apapun yang kamu lakukan, apapun konsekuensinya, bertanggung jawablah.” Belajar mandiri.

9. Kuat, karena bisa membuat orang lain menjadi lebih kuat dan merasa aman.

Bagi banyak orang, kuat itu diartikan dengan fisik yang kuat maupun ‘power’ dari segi jabatan, posisi, status, dll. Bagi saya, ini belum kuat, karena kekuatan ini belum terasa manfaatnya oleh orang lain.

Untuk apa kuat kalau anak/istri takut dan merasa tidak nyaman?
Untuk apa kuat kalau digunakan untuk mengintimidasi orang lain?
Untuk apa kuat kalau lari/sembunyi dari masalah?

Secara fisik, papa bukan orang paling kuat sedunia. Ya iyalah, dia sudah semakin tua juga. Ia juga bukan orang yang memiliki jabatan, posisi, status yang ‘kuat’. Tetapi, Ia bisa membuat orang-orang di sekitarnya merasa aman dan lebih percaya diri. Itu bagi saya kuat yang sebenarnya.

10. Ia mencintai bukan dengan kata-kata atau harta, tetapi dengan tindakan.

Papa sangat tidak pandai dengan kata-kata, sampai sering sekali meminta saya untuk meng-edit kartu ucapan yang telah Ia siapkan untuk orang lain. Mungkin itu yang menjadikannya sangat kuat dengan tindakan. Tindakannya membuat saya merasa sangat dicintai, walau jarang mendengar “I love you.”

Kalau saya pergi lama, tiba-tiba pulang dan papa bilang “Mobil papa masukin bengkel pas kamu pergi. Semua aman.” Kalau saya sakit, papa ngirimin makanan. Kalau saya telpon dia jam 3 pagi pun, dia pasti mengangkat telponnya. Setiap janji pasti ditepati. Kalau saya bertanya “Pa, punya kenalan di Makassar ga?” Walau dia tidak punya, dia akan mencari dan mengirimkan saya nomor telpon semua koneksinya dia. Walau gak jago masak, ketika tidak ada pembantu di rumahnya, dia akan menawarkan, “Papa masakin breakfast besok mau?” Kalau menyeberang jalan, Ia akan selalu ada di depan melawan arah mobil memastikan saya aman.

Asli. Kalau mengingat semua ini rasanya makin terharu.

Jadi, kalau bertanya ke saya, apa kualitas pria yang hebat dan keren, lihat 2 hal:
– Sejauh mana Ia menunjukkan dalam tindakan apa yang menjadi prinsipnya.
– Sejauh mana Ia sudah bermanfaat untuk orang lain dan dirasakan oleh orang-orang tersebut.

Mungkin ini yang dimaksud Albert Einstein ketika Ia mengatakan “Jangan mencoba menjadi seseorang yang sukses, tetapi jadilah seseorang yang penuh nilai.”

Saya beruntung memiliki role-model dalam hal ini.

Titip pesan untuk segenap pria dan orang tua di luar sana, sejauh mana kita bisa terus membangkitkan kualitas-kualitas ini dalam diri kita dan orang lain? Karena memang ngangenin. Karena kalau lebih banyak lagi yang menampilkan hal-hal ini, masa depan kita akan jauh lebih indah. 🙂

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

1 Comment

  1. Bowo -  June 27, 2015 - 11:11 am

    Gilaaa asli kereeen banget contohnyaaa

    Poud to your father

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *