10 Kebiasaan Orang Indonesia Yang Menghambat Diri Kita Sendiri

7 Comments
10 Kebiasaan Orang Indonesia Yang Menghambat Diri Kita Sendiri

Ciyus? Miapah? Yes, terkadang kebiasaan kita sendiri yang menghambat diri kita. Dan sebagai orang Indonesia, ini 10 Kebiasaan Orang Indonesia Yang Menghambat Diri Kita Sendiri secara sadar maupun tidak sadar.

1. Tidak menaati peraturan.

@pritalauraSeperti yang diungkapkan oleh @Pritalaura, jujur ya, gue bingung ketika orang itu punya mobil mahal (bayangkan mobil diatas Rp. 600 juta), lalu hobinya buang sampah sembarangan di jalan, atau gak bisa milih jalur mau kanan apa kiri, jadinya nyetir di tengah-tengah.

Lalu, gemes juga melihat orang-orang yang maksa untuk jalan via jalur busway (Transjakarta), padahal sudah tahu kalau secara aturan gak boleh.

Dan oh, gue pernah dimarahin sama mbak-mbak ketika ngantri di Soetta, karena pas dia mau memotong antrian gue bilang supaya dia ikut mengantri. Lah yang salah siapa kok malah jadi dia yang marah..

Di salah satu perusahaan, sudah lebih dari 2 tahun gue mengajar di sana, belum pernah peserta bisa datang on-time, padahal jam mulai training  mereka yang menetapkan sendiri. Jujur gue bingung.

Bagi gue, ini bukan cuma semata-mata tidak mau menaati peraturan, sengaja melanggar peraturan, ada alasan emergency, ataupun tidak peduli dengan peraturan, tapi mempertanyakan self-respect. Bukan semata-mata menghormati peraturan ataupun orang lain, tetapi terlihat sejauh mana kita menghormati diri kita sendiri. Toh, akhirnya jadi terlihat karakter kita aslinya seperti apa setiap kali kita ‘melanggar’ peraturan tersebut. Tetapi mungkin selama ini kita tidak sadar saja.

Dan well, gue juga bukannya bersih sempurna dari dosa sih, gue juga pernah nyetir tanpa SIM. Naik motor gak pake helm.

Tapi satu hal yang perlu diingat setiap mau melanggar peraturan: sadari konsekuensinya. Apapun yang kamu lakukan, hal tersebut sebaiknya tidak merepotkan orang lain.

 

2. Asing terhadap sesama.

better strangers“I do desire we be better strangers.” – Shakespeare. Terima kasih untuk @sekott yang sudah menginspirasi 🙂

Kalau di mata orang asing kita itu dianggap orang paling ramah sedunia, kenapa gue justru sering merasa kita semakin asing untuk sesama orang Indonesia ya? Dari kasus yang paling ekstrim tentang toleransi beragama yang semakin minim, sampai yang paling sederhana seperti keinginan untuk saling menyapa dan senyum kepada orang yang tidak kita kenal… just to be kind.

Waktu itu gue sempat duduk di ruang tunggu sebuah perusahaan, dan ada 2 orang yang sedang menuju pintu. Yang satu adalah eksekutif asing yang mengenakan dasi, satu lagi seorang kurir. Sang kurir mencapai pintunya terlebih dahulu, tapi coba tebak siapa yang membukakan pintu? Si eksekutif bule itu. Sang kurir hanya menampilkan wajah bingung dan kemudian berlalu tanpa mengucapkan terima kasih.

Kejadian yang juga cukup sering terjadi di kendaraan umum yaitu ada ibu hamil yang berdiri. Ada kali sekitar 15 menit sebelum akhirnya ada orang tua lainnya yang berdiri dan memberikan tempat duduknya. Malah remaja-remaja yang dapat tempat duduk cuek aja tuh. Gak bergerak juga.

Sesulit itukah untuk menyapa orang lain di lift? Untuk membukakan pintu untuk orang lain? Mengucapkan terima kasih, baik ke OB maupun pak ojek? Berbicara tatap mata ke pelayan restoran ketika memesan sesuatu? Sejak kapan kita lupa untuk memanusiakan manusia?

3. Ikut-ikutan trend.

Gak salah kok untuk mengikuti trend. Yang bikin sedih adalah ikut-ikutan trend tanpa memahami manfaat dan konsekuensi dari mengikuti trend tersebut.

Seperti beli iPad walaupun sebenarnya belum mampu, yang akhirnya hutang kartu kredit pun semakin menumpuk. Beli iPad bukan karena butuh, tapi karena ingin kelihatan keren aja, alasannya mau dipakai untuk kerja, walaupun pakai excel saja belum tentu bisa. Jadi akhirnya cuma dipakai untuk social media dan main games saja.

Yes, mungkin gadget, barang, atau brand tersebut keren. Tetapi, apakah pribadimu memang sekeren barang tersebut atau karena kamu merasa kurang keren sehingga harus pakai barang tersebut dulu baru bisa merasa keren?

 

4. Galau. Lebay. Labil.

“aku tak ingin apapun
tidak juga aku, tidak juga kau…
ku hanya ingin sesaat denganmu”

“ini ruangku, kosong tanpa tepi
ini paradeku, hanya kusendiri
ini perlintasanku dalam perih”

“aku tak bisa hidup tanpamu…”
“aku rela jadi simpananmu asal tetap mendapatkan cintamu…”

Ciyus? Miapah?

Omg. *tepok jidat* Really? Apakah kamu benar-benar percaya dengan hal-hal ini?

Sedih itu boleh. Bingung pun gak salah. Bisa jujur terhadap perasaan dan mengekspresikan diri itu sehat loh. Tetapi, sejauh mana kita membiarkan diri kita tenggelam dalam kesedihan, kebingungan dan kepahitan itu sendiri? Tahu tidak konsekuensinya? Galau itu seperti mendorong diri sendiri kedalam jurang, berharap ada yang menolong padahal kita tahu jurang itu ada di tengah-tengah hutan amazon.

Ketika kita membiarkan galau menjadi trend dan kebiasaan, kita mengatakan ke diri sendiri bahwa “Gue itu adalah korban dari hidup ini. Jadi gue cuma bisa pasrah aja.” Gak heran kalau akhirnya orang Indonesia menjadi semakin pesimis, negatif, bitter, menye-menye, dan lemah di mental toughnessnya.

Sejak kapan galau itu menjadi trend? Sampai lagu-lagu yang paling hits adalah lagu-lagu galau. Galau kok bangga? Menyebarkan energi negatif kok malah bangga? Pertanyaannya adalah, ketika sadar kalau kita suka galau, bagaimana menjadikannya sebagai sebuah kekuatan untuk menghasilkan sesuatu yang positif?

 

5. Drama.

Abis galau terus drama. Drama itu kakaknya galau. Dimana hal yang kecil bisa menjadi besar banget banget banget. Drama adalah hal-hal yang kita lakukan atau terus ceritakan ke orang lain agar orang lain berempati dan mencurahkan perhatiannya ke diri kita.

Seperti berbohong agar orang tersebut tetap mau pacaran atau balikan sama kita. Seperti sengaja nyari ribut atau berantem dengan orang lain. Seperti merendahkan orang lain agar kita kelihatan keren. Seperti tiba-tiba marah membludak atau menangis terisak-isak hanya karena hal kecil.  Seperti cerita betapa mirisnya kehidupan yang gue alami. Seperti … apa lagi hayooo?

Eits, jangan salah. Gue pun pernah melakukan semua hal-hal tersebut, sampai gue sadar “Ya ampun, gue drama juga ya!” Karena kadang kita gak sadar kalau kita drama. Dan kalau ada orang yang bilang, “Elo drama banget sih” kita pun menjadi lebih dramatis lagi. Karena naturalnya kita memang langsung defensif kalau lagi drama.

Gue gak tau kita jadi drama karena kebanyakan nonton sinetron yang drama semua, atau karena memang kita kurang perhatian, atau memang kita sendiri saja yang manja dengan tidak mau mengambil tanggung jawab atas hal-hal yang terjadi dalam hidup kita.

 

6. Sok. Galak, tau, punya, kaya, bisa, bos, etc.

Pernah ketemu bos yang sok galak?
Pernah ketemu orang yang jabatannya hits tetapi sok tau?
Pernah ketemu orang yang kalau ditanya, walau gak tau jawabannya, malah ngarang bebas?
Pernah ketemu orang yang kelihatannya duitnya banyak tetapi sebenarnya banyak hutang?
Pernah ketemu orang yang posisinya masih biasa saja tetapi lagaknya sudah seperti bos besar?
Pernah ketemu orang yang bohong tentang pengalaman dan achievement-nya?
Pernah ketemu orang yang membanggakan hal-hal yang dia miliki ataupun network-nya (kenal si ini, kenal si itu..)?
Pernah ketemu … haruskah gue lanjutkan?

Sok. Sok galak. Sok tau. Sok punya. Sok kaya. Sok bisa. Sok bos. Tanpa disadari.

Seperti ada salah satu kenalan saya yang kerja di bank, dimana hutang kartu kreditnya adalah 5x dari gaji bulanannya. Seperti seorang Branch Manager yang selalu memulai meetingnya dengan galak dan marah-marah. Seperti orang yang membanggakan bisnis-bisnisnya padahal keuangannya berantakan dan belum menghasilkan profit. Ini semua nyata lho. Gue pernah ketemu. Why do we do this?

Memang kenapa kalau kamu adalah pimpinan yang memanusiakan orang lain? Memang kenapa kalau mengaku bahwa kamu tidak tahu jawabannya? Memang kenapa kalau kamu tidak memiliki mobil BMW seri terbaru? So what gitu loh? Segitu takutnyakah diri kita untuk dinilai ataupun terlihat ‘jelek’ oleh orang lain?

Menjadi seseorang yang genuine, otentik, real, apa adanya. Apparently, it’s easier said than done. Terutama di Indonesia, dimana kita dilatih untuk menjadi jaim (jaga image).

 

7. Gak kritis. Cenderung reaktif. Males mikir.

misshotrodqueenSeperti komplain terus menerus tetapi ketika ditanya punya ide atau solusi apa gak bisa jawab. Seperti RT hal-hal di twitter tanpa diperiksa terlebih dahulu kebenarannya, thank you @misshotrodqueen 🙂 . Seperti kalau ditanya ‘kenapa’ kamu ingin menjadi  ____, tetapi ga punya jawabannya. Kalau ditanya apa yang bagus/jelek/enak dari sesuatu, jawabannya sekedar “Ya… Bagus/jelek/enak saja.” Trus, elo maunya apa? Ga bisa jawab juga.

Yang mana yang paling enak? Semuanya enak.
Yang kamu paling suka yang mana? Semuanya.
Kenapa ingin kerja di sini? Ya ingin saja.
Apa pendapat kamu tentang ____? [Silent] [Lalu mengemukakan pendapat orang lain yang pernah dibaca/didengar] Katanya ….
Apa yang muncul di pikiranmu setelah nonton video TED? Bagus ya. Apa yang bagus? Ya semuanya.

Antara gak mau mikir. Malas mikir. Gak terlalu peduli. Atau karena selama ini memang gak pernah diajak mikir. Jadinya susah deh.

Bagaimana kita bisa menjadi diri kita sendiri yang lebih baik, bagaimana kita bisa mengekspresikan diri, bagaimana kita bisa berkontribusi kalau kita sendiri tidak bisa membentuk opini sendiri? Akhirnya kita sendiri yang memposisikan diri kita sebagai pengikut.

 

8. Social media addict.

Gue dong pernah ya diundang makan malam, ber-enam, dan 4 orang membuka iPadnya selama dinner sibuk bermain dengan gadgetnya masing-masing. Gue sibuk liat-liatan sama temen gue satu lagi. Karena agak mati gaya mesti ngapain 😀

Gak jarang juga melihat satu keluarga makan bersama, bapak, ibu, 2 anaknya semuanya memegang handphone atau iPadnya masing-masing dan sama sekali tidak berinteraksi.

Who am I to judge, really? Karena mungkin mereka seharian sudah quality time ya. Mungkin gue aja yang kurang gaul.

Tetapi ketika gue ada ditengah-tengah situasi tersebut, jujur sebel banget karena diajak makan bareng berharap bisa catch up saling cerita kabar masing-masing tetapi malah elo lebih banyak berinteraksi dengan gadget loe sendiri. Abis itu jadi males deh kalo diajak kumpul lagi 🙂

Gak salah kok untuk eksis di Media Sosial. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari berbagai media social. Tetapi selalu ada perbedaan antara socializing (bersosialisasi) dan connecting (terhubung). Punya banyak teman belum berarti kita teman yang baik. Punya banyak follower bukan berarti kita orang keren. Aktif di social media belum berarti kita sudah aktif berkontribusi dalam hidup. Atau segitu hausnya kita dengan perhatian sehingga harus eksis dimanapun?

9. Gak bisa menerima dan memberikan pujian.

everything has beautyGak tau kenapa, kita cenderung tidak bisa menerima pujian yang akhirnya kita juga tidak bisa (atau tidak terbiasa) memuji orang lain. Yang ada malah basa basi. Ini gue lihat konsisten dimanapun gue berada, apalagi kalau lagi ada latihan di kelas.

“Gue suka deh rambut loe, bisa tebel gitu.” “Ah, enggak kok, ini gak keliatan saja banyak yang pecah-pecah.”
“Sini biar gue yang bayar.” “Ah jangan dong, kan gue jadi gak enak.”
“Tasnya keren deh, gue suka gayanya, unik.” [Lirikan maut. Ngumpetin tas. Takut diambil.]
“Tempe gorengnya enak banget deh.” “Ah, ini mah biasa saja.”

….. Kayaknya susah sekali kalau dipuji terus tersenyum dan bilang Terima Kasih. Seperti kita tidak layak dipuji. Seperti menolak rejeki.

Lalu, kalau disuruh memuji orang, omg, pasti yang disebutin ga jauh dari faktor fisik atau hal yang umum banget.

“Kamu keren banget ya.” Sementara kalau ditanya apa yang keren, bingung jawabnya.
“Kurusan sepertinya ya?”
“Duh, luar biasa banget deh pokoknya!”

Rasanya seperti sulit melihat hal-hal yang indah dan positif di orang lain maupun di diri sendiri. Gak tau emang karena sulit, atau tidak mau, atau tidak peduli.

 

10. Mediocracy.

Terjebak pada sebatas ingin terlihat keren dan bukannya berusaha untuk menghasilkan sesuatu yang memang beneran keren. Menggampangkan sesuatu. Mencari jalan pintas.

Teman saya yang sedang kuliah S2 gemes melihat rekan-rekannya yang jabatannya di perusahaan sudah cukup tinggi terasa tidak begitu peduli terhadap kelas dan tugas-tugasnya. Malah minta sekretarisnya untuk mengerjakan tugasnya. Walaupun sebenarnya boleh terus mengirimkan tugas sampai dengan 3 kali sampai dapat nilai terbaik, tapi mereka merasa cukup mengirimkannya 1 kali saja, walau nilainya hanya dapat 17/100. Dalam pikiran gue, “Tapi, dia kan direktur sebuah perusahaan. Itukah kualitasnya?”

Sama juga halnya dengan meeting tapi orang yang datang terlihat tidak siap, belum membaca dokumen-dokumen yang telah diberikan. Seperti mengirimkan email ataupun mengumpulkan tugas yang penuh typo, salah ketik. Seperti pengen punya jabatan atau jadi artis agar kelihatan keren. Seperti kuliah antropologi di Belanda dan bilang  kalau budaya itu terlihat dari bahasanya, tetapi seumur-umur tinggal disana tidak pernah berusaha belajar bahasa Belanda. Seperti ikutan banyak lomba agar terlihat bagus di resume-nya. Seperti copy paste resume orang lain dari pada mikir, usaha sendiri, membuat yang unik dan berbeda. Seperti sekedar jualan tetapi tidak paham dan tahu produknya, malah menjelek-jelekkan produk orang lain. Sekedar bikin toko kue karena lagi tren tetapi gak tau apa yang unik dari kue-nya. Selalu datang terlambat. Selalu lupa.

Coba baca ini deh: 11 Cara Untuk Menjadi Sangat Biasa

——

Paling jahatnya, dari 10 kebiasaan ini, terkadang kita tidak sadar bahwa hal-hal tersebut ada dalam diri kita dan sudah menjadi kebiasaan. Dan bukan kebiasaan positif loh, tetapi menjadi sesuatu yang menghambat diri kita sendiri. Malah, reaksi paling mudah adalah bilang “Ih, gue mah sama sekali enggak seperti 10 hal tersebut.”

Dari 10 kebiasaan di atas, yang mana yang kamu ingin Unlearn?

About the author

Aristiwidya is a Facilitator, Coach and Consultant in People Development who believes that each person has a gift to share to the world to let each other shine. Through her writings, may it be in magazines or blogs, she continues to inspire people to see life from different perspectives.. to create our best life, our own miracles.

7 Comments

  1. Alfa -  November 6, 2014 - 12:12 am

    Setuju banget sama yg pertama. Aku sering merasa sedih tiap kali liat ada sampah yg meloncat keluar dari jendela mobil bagus (katakanlah mobil keluaran 2010 ke atas, kan msh pada kinclong2 tuh). Kayaknya sih banyak duit (makanya bisa beli mobil) tapi kenapa pikirannya ga ter-edukasi ya? Fisiknya aja yg udah kaya, mentalnya masih miskin

    http://alfaycn.blogspot.com
    • The Unlearn Team -  November 6, 2014 - 10:29 am

      Samaaaaaaa. Kita sering ingin jadi ‘orang kaya’ tetapi jarang banget untuk punya mental yang ‘kaya’. Kalo ada kelas bagaimana membentuk diri untuk memiliki mental yang kaya seru kali ya :p

  2. tiansss -  January 21, 2015 - 7:37 pm

    iya… slama ini saya pernah melakukan hal negatif di atas, dan saya akan terus belajar dan benahi diri.. thanks for the article 😀

    http://gravatar.com/tiansss
    • The Unlearn Team -  January 23, 2015 - 10:39 am

      Hai Tiaaaannnsss… awesome!!!! Daripada komenin orang lain kan mendingan benahin diri sendiri ya. 🙂

  3. Nin -  May 20, 2016 - 3:56 pm

    Bagus banget Kak tulisannya. Saya setujuuuu semua2nya. Terutama bagian nomor 9 tuh. Karena tinggal di LN, saya terbiasa menghargai hal-hal kecil. Kalo menurut saya bagus, ya saya bilang bagus walopun cuma peritilan kecil. Suatu kali bener2 pengen muji temen di Indonesia, malah dibilang saya ngatain dia. Pas saya bilang kalo rata2 masyarakat di LN muji emang dari dari dalam hati, temen saya malah bilang, “yaiyalah beda orang2 barat sama Indonesia”. Buset dah!

    https://plus.google.com/104234681633267461860

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *