10 Hal Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menjadi Lebih Positif

No Comment
10 Hal Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menjadi Lebih Positif

Dari artikel “10 tanda-tanda kamu orang yang negatif (tetapi gak sadar)” ternyata jadi banyak pertanyaan. Salah satunya adalah, “Kalau sudah sadar memang “negatif” lalu mau mengubahnya, mulai dari mana?” Ah, itu keren banget pertanyaannya, karena bukan malah fokus ke hal-hal yang negatif tetapi mulai memikirkan arah perubahan.

Saya jadi ikutan mikir. Apa sih hal-hal yang saya lakukan ketika mencoba untuk mengalahkan pikiran dan diri yang negatif? Toh akhirnya, perjalanan menjadi positif bukan perjalanan melawan dunia tetapi perjalanan menantang diri sendiri.

Ini 10 hal yang saya aplikasikan setiap kali hawa ‘negatif’ muncul di pikiran dan diri saya sendiri.

1. Mengurangi penggunaan kata “tapi” ketika merespon pertama kali.

Saya pernah sedang meeting dengan teman dan setiap kali saya melontarkan ide, responnya selalu “Tapi kan itu susah.” “Tapi kan itu belum tentu diterima.” “Tapi kan…”

Oh ya ampun. Bukan penggunakan kata “tapi” sih sebenarnya. Tetapi sejauh mana kita langsung melemahkan atau menghakimi sebuah ide atau opini. Yang ada kita sekedar melawan tanpa mendukung.

Dari “Tapi kan..” “Ngapain sih ribet-ribet” sampai “Ih, dia gitu banget sih orangnya.”

2. Senyum tanpa alasan.

Ketika seorang bijak ditanya, “Anda terlihat selalu bahagia. Apa yang membuat Anda selalu tersenyum?”

Jawabanya, “Saya tersenyum bukan karena saya bahagia, tetapi saya bahagia karena saya tersenyum.”

Yang kita belum pelajari adalah kaitannya tubuh dengan otak. Bahwa ketika kita tersenyum, itu mentrigger bagian emosi bahagia di otak. Seperti ketika kita ngrenyit (seperti ketika silau) itu bisa mentrigger bagian emosi marah di otak.

3. Ketika terjadi hal yang ‘negatif’ langsung bersyukur.

Gimana caranya? Untuk apa bersyukur untuk sesuatu yang ‘negatif’.

Sering kali, ini ‘negatif’ dari kacamata kita sendiri, tetapi belum tentu dari kacamata Tuhan (misalnya). Toh, kalau kita percaya apa yang terjadi ke diri kita itu ‘negatif’ maka dampaknya akan itu negatif.

Kita terkadang juga sangat pilih-pilih dalam hidup. Selalu ingin dapat semua yang bagus-bagus saja. Itupun bagus dalam kacamata kita sendiri. Egois kan?

Jadi, lain kali, ketika ada orang yang marah-marah ke kamu tanpa alasan, ucapkan dalam hati “Terima kasih Tuhan atas pengalaman ini. Saya tahu ini ada berkahnya.” Ini membuat diri kita selalu merasa diuntungkan apapun yang terjadi.

4. Tangkap hal-hal ‘negatif’ yang kamu lakukan. Lalu ubah jadi sesuatu yang positif.

Ada hari-hari dimana saya tidak merasa positif. Tahu dari mana? Pas lihat social media, membaca status orang lagi liburan, yang muncul di kepala saya adalah “Ah, dia mah cuman bisa bahagia ketika liburan saja.” Pas nonton kompetisi dansa di TV, komen yang keluar dari mulut saya adalah, “Ih dia biasa banget padahal ya.”

Oh ya ampuuuun, sejak kapan gue nyinyir gini?

Langsunglah begitu sadar, mencoba menjadikannya sesuatu yang positif. Di socmed langsung ‘Like’ status orang yang lagi liburan tersebut dan bilang “Gue seneng banget liat loe seneng!! Semoga bahagianya bertahan sampai 3 bulan ke depan ya.” Di depan TV lansung mengubah komen ke penari tersebut “Gila ya, gue pun gak bisa nari seperti dia berani bilang dia biasa aja. Maaf yaaaaa….”

Ini banyak hubungannya dengan abundance mentality.

5. Sadar bahwa apa yang kita pikirkan itu bukan kita.

Akhirnya seperti ada pembicaraan tersendiri di kepala kita.
“Ih gila, dia sombong banget sih!”
“Ya ampun, itu gue apa ego gue yang ngomong?”

“Rese banget sih dia kaya yang punya jalan. Egois banget.”
“Oh, mungkin dia sedang terburu-buru mau ke RS ya.”

“Gue gak ngerti kok dia bisa munafik banget. Gak sadar pula.”
“Mungkin dia kecilnya memiliki banyak pressure kali ya.”

Berasa agak gila ketika pertama kali mulai ‘sadar’ bahwa kita bisa menantang pemikiran kita sendiri.

6. Apresiasi setiap situasi/pribadi.

Sebagai orang Indonesia itu kita gak pandai memuji dan dipuji. Contoh kita memuji itu hanya seputar “Elo keren banget deh!” Udah. Dan ketika dipuji, jawaban kita adalah “Ah masa siiiih, elo lebih keren padahal.” (Rolling eyes).

Apresiasi itu tindakan menyebarkan kebaikan. Dan ketika kita menyebarkan kebaikan, dunia pun akan baik pada kita. Kuncinya hanya satu, benar-benar bisa melihat sesuatu yang BAIK pada sebuah situasi dan seseorang.

Ke Asisten Rumah Tangga saja contohnya. Setiap kali saya mencium cucian yang wangi itu saya di dalam hati mengatakan, “Duh beruntung banget ya ada yang mencucikan baju ini, langsung bersih dan wangi, belum tentu saya pun bisa melakukan ini lebih baik dari dia.” Dari rasa itu saya langsung menelepon mbak Ati dan bilang “Mbak Ati, terima kasih ya sudah dikirimkan cuciannya. Aku seneng banget pulang gak perlu stress mikirin cucian.”

Coba deh hitung berapa kali kamu melontarkan kata “Terima Kasih” setiap harinya. 😉

7. Melakukan kebaikan.

Saya punya teman yang sudah 10 tahun terakhir selalu mengalami tantangan. Punya bisnis gagal terus. Terlibat hutang. Kehilangan teman-teman. Waktu terakhir kita ngobrol, saya bilang ke dia “Mungkin selama ini kamu gagal karena kamu selalu mencari untung, bukan mencoba menguntungkan orang lain.”

Matanya langsung berkaca-kaca.

Lalu dia terinspirasi untuk 1 bulan ke depan, setiap hari, dia hanya akan melakukan hal-hal yang menguntungkan/membantu orang lain. Dari mengajak makan anak jalanan, membantu nenek-nenek belanja, masak untuk keluarganya, dll.

Terkadang, saya merasa, kita perlu me’ruwat’ diri kita sendiri. Mengkaji ulang niat kita. Memastikan apa yang di dalam itu selaras dengan yang kita inginkan di luar.

8. Bersahabat dengan ketidaknyamanan.

Mendapatkan kritik itu terasa tidak nyaman. Direndahkan orang lain memang tidak nyaman. Ditiban tantangan pun bisa tidak nyaman. Eh macet dan banjir pun bisa tidak nyaman.

Pertanyaanya bukan “Bagaimana saya bisa menjauhkan diri dari hal-hal tersebut?” tetapi “Bagaimana saya bisa bersahabat dengan hal-hal tersebut?”

Bersahabat dengan kemacetan? Dengan banjir? Dengan kritik? Yes.

Caranya? Jangan dilawan. Coba lihat lagi #3. Semakin kita menantang sesuatu semakin hal tersebut akan menantang kita. Rangkullah.

Coba baca bagaimana Mbak Ike bersahabat dengan ketidaknyamanan.

9. Ubah tantangan jadi kesempatan. Ubah musibah menjadi berkah.

Sering sekali kita mendengar ini tetapi gak tahu caranya. Memang akhirnya harus belajar dari hal-hal yang kecil.

Contohnya, ketika macet, itu menjadi kesempatan untuk meditasi atau menjawab email-email yang pending. Ketika banjir, kesempatan untuk membantu orang lain juga. Ketika dikritik, ubah menjadi masukan diri dan latihan memanaj ego.

Sudah pernah membaca tentang bagaimana Dea mengubah musibah menjadi berkah belum?

10. Bergeraklah.

Kucing itu, ketika stress, dia akhirnya mengkibaskan seluruh badannya untuk mengeluarkan semua energi negatif yang ada di tubuhnya. Keren ya.

Saya belajar dari kucing, setiap kali saya stress atau anxious, saya langsung melakukan jummpin jack 30 kali atau jalan-jalan keliling komplek menyerap matahari. Gak tau kenapa memang membantu.

Ini ada infographis juga: Cara Menghilangkan Pikiran Negatif

Siapa tahu teman-teman memiliki jurus jitu lain untuk menjadi lebih positif. Monggo kalau mau share ya 🙂

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *