10 Hal Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menjadi Lebih Autentik

No Comment
10 Hal Yang Bisa Kita Lakukan Untuk Menjadi Lebih Autentik

BEING AUTHENTIC. Menjadi autentik. Apa artinya?

Saya mencoba identifikasi orang-orang yang di persepsi saya adalah orang-orang yang sangat autentik. Apa ciri-cirinya di mata saya? Mereka adalah orang-orang yang membuat saya merasa nyaman dengan diri saya sendiri. Orang-orang yang membuat kita merasa adem ketika berada di dekatnya. Mereka memiliki kemampuan untuk mengangkat spirit kita tanpa melakukan apapun juga. Mereka pun juga tidak takut untuk menyuarakan pendapat mereka, dimana kita pun nyaman mendengarnya. Jarang sekali bertemu dengan orang-orang seperti ini.

Orang-orang inilah yang menginspirasi saya. Mereka membuat saya semakin bisa seperti mereka.. semakin autentik.

Walau dalam perjalanannya, bertemu merekapun, saya jadi bertanya ke diri sendiri. Seberapa autentiknya kah saya?

Sering orang bilang “kita mesti menjadi lebih autentik.” Lebih asli. Lebih apa adanya. Well, pertanyaannya, bagaimana caranya?

Saya sadar kok ada momen-momen dimana saya merasa autentik. Lalu, ada momen-momen juga dimana saya berasa ‘fake’ dan jaim. Apakah mungkin kita bisa autentik 100% setiap saat? Mungkin, seperti nilai-nilai lain, ini adalah hal yang perlu dilatih dan bukan dipertanyakan.

Saya beruntung sih, saya memiliki beberapa teman baik yang menurut saya sangat autentik. Dan belajar dari mereka, berikut ciri-ciri orang autentik, yang saya coba latih setiap harinya. (Walau masih sering gagal, hihihi).

Menjadi lebih autentik, bagaimana caranya?

1. Tidak menghakimi diri sendiri ataupun orang lain.

Secara natural, otak kita memang mudah sekali untuk menghakimi diri kita sendiri dan orang lain. Untuk langsung beropini benar atau salah dari kacamata kita sendiri.

Orang-orang autentik, terlepas dari apa keyakinan yang Ia miliki, memiliki kemampuan untuk membuat orang-orang disekitarnya merasa diterima dan dimanusiakan. Dan ini yang akhirnya mentrigger ‘keaslian’ di orang lain.

Authenticity triggers authenticity in others.

2. Adanya integrasi antara nilai, hati dan tindakan.

Autentik ada hubungannya dengan integritas. Bahwa apa yang dilakukan seseorang itu memang benar-benar sejalan dengan nilai-nilai hidupnya, kata hatinya dan hati nuraninya. Bukan karena nilai-nilai, harapan atau peraturan orang lain.

Seorang yang otentik tidak tergoda dari hal-hal yang terjadi di eksternal, karena di dalamnya, akarnya sangat kokoh.

Ini bisa menjadi ambigu karena apa yang benar bagi kita belum tentu benar untuk orang lain.

Di lain hal, kita juga sering mencap seseorang itu ‘munafik’ karena Ia tidak menjalankan apa yang Ia katakan. Ah, seringkali kita juga munafik ke diri kita sendiri kok.

Memang tidak mudah untuk terus terjadi integrasi 100% setiap momen dan setiap hari. Ini mungkin sebabnya jangan sampai kita sudah merasa diri kita sudah 100% autentik. Ketika mobil saja butuh spooring, kita pun butuh juga di periksa alignmentnya sekali-kali.

3. Being present.

Hadir 100% dalam apapun yang kita lakukan. 100% ketika mendengarkan orang lain. 100% ketika mengerjakan sesuatu. Pikiran kita tidak ada di masa lalu ataupun masa depan. Kita tidak mengkhawatirkan masa lalu ataupun masa depan. Kita tidak terjebak dalam depresi ataupun kegelisahan.

Kita bisa benar-benar menikmati “saat ini” terlepas dari situasi dan kondisi yang ada.

4. Ada rasa adem.

Orang-orang yang autentik itu merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan dalam perjalanannya membuat nyaman orang-orang di sekitarnya.

Rasa nyaman di sini berbeda dengan ‘comfort zone’. Di sini rasa nyaman yang ditimbulkan adalah rasa nyaman yang menimbulkan hati yang adem dan membuat kita merasa relax.

Mungkin karena di dalam dirinya, orang-orang otentik ini, hatinya memang sudah adem, karena tidak ada konflik internal.

5. Tahu dan menerima kekuatan dan kelemahan diri.

Yang saya perhatikan, orang-orang autentik ini bukan orang yang minder. Malah mereka malah terlihat sangat percaya diri tanpa mencoba untuk membuktikannya.

Salah satunya, mereka ini sangat sadar tentang kekuatan dan kelemahan dirinya. Kekuatannya yang menjadi pegangannya. Dan tidak menjadikan kelemahannya sebuah alasan. Dan keseimbangan ini membuat mereka tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena mereka tahu bahwa setiap orang itu pasti memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri.

Ini kalau kata teman kita Ratih:

Autentik = asli, sesuai kenyataannya.
Ciri utama orang yang autentik = sudah mengenal konsep dirinya secara utuh, sehingga paham asalnya, di mana/bagaimana posisinya sekarang, serta mau ke mana ia melangkah.
Lalu, bagaimana caranya mengenal diri sendiri?
Cobalah bermeditasi/relaksasi setiap hari. Keadaan meditatif memungkinkan kita untuk menjelajah ke bawah sadar, di mana semua keinginan kita yang asli, hasrat, emosi, bahkan kemampuan menyelesaikan masalah secara intuitif. Dengan demikian, kita akan tahu mana yang asli kita banget, dan mana yang dipaksakan oleh lingkungan. Nah, kalau sudah kenal jati diri/konsep diri kita, masa masih bisa jadi KW?
Oya, keadaan meditatif juga bisa dicapai jika kita beribadah dengan khusyu’, terlepas apa pun agama kita.

6. Tidak mencoba untuk mengesankan orang lain atau membuktikan bahwa dirinya benar, tetapi selalu mencoba untuk terhubung.

Orang-orang yang autentik itu tidak mencoba membuktikan diri, mengesankan orang lain atau meyakinkan orang lain bahwa dirinya benar… tetapi, yang mereka lakukan adalah benar-benar untuk bisa terhubung (connect) dengan orang lain.

Bagi saya, orang-orang yang mengatakan “gue sih ga peduli apa kata orang lain” itu belum tentu autentik. Bukan artinya kita mesti peduli apa kata orang lain, tetapi sejauh mana kita bisa peduli apa yang kita lakukan itu berdampak negatif ke orang lain.

7. Memberikan 100%, melepaskan rasa khawatir.

Dari mana datangnya rasa khawatir atau takut? Dari terlalu banyak memikirkan masa lalu atau masa depan. Hebatnya orang-orang otentik ini, mereka bisa mentransfer rasa takutnya menjadi fokus untuk memberikan 100%.

Menjadi autentik artinya, terlepas apapun hasilnya, kita tahu bahwa kita sudah memberikan 100%.

Kalau dari sharing teman kita Kardina dari hasil membaca buku “Teach Your Children Well”:

Authentic success itu dimata buku ini, adalah TO BE THE BEST ME I CAN BE.

8. Transparent dan terbuka dari segi niat, agenda, pikiran dan juga emosi.

Ah ini mungkin yang paling berat. Sering kali saja kita tidak mengutarakan pendapat kita kalau berbeda dari orang lain. Sering kali, kita sendiri tidak sadar bahwa niat kita pun bukan yang paling mulia. Sering kali, kita mengabaikan perasaan kita agar bisa lebih ‘produktif’.

Menjadi ‘transparent’ dimana orang lain pun bisa merasakan bahwa kita tidak memiliki agenda tersembunyi itu memang tidak mudah.

Menjadi jujur memang dimulai dari sendiri. Ketika kitapun masih sulit jujur ke diri sendiri, bagaimana kita bisa dipercaya orang lain?

9. Tidak mencari untung dari orang lain.

Yang saya lihat, salah satu kekuatan orang-orang autentik itu, Ia tidak mencoba mencari untuk dari orang lain, tetapi malah membuat orang lain merasa diuntungkan.

Ini memang banyak hubungannya dengan #8.

10. Membiarkan dunia memberikan kritik dan judgement tanpa perlu sakit hati.

Apapun yang dilontarkan dunia ke orang-orang yang autentik, mereka tidak merasa goyah. Karena apapun kritikan dan judgement orang lain itu menjadi masukan yang berharga untuk terus meningkatkan ke-otentik-an dirinya, dan bukan sesuatu untuk yang diambil secara pribadi sehingga sakit hati sendiri.

——

Lalu, ini ada sharing menarik dari teman kita Putra:

Aku selalu inget satu scene dari komik Shoot.. komik ini tentang tim sepakbola..
Pada satu event, mereka mengumpulkan jagoan2 sepakbola dari setiap sma untuk bertanding menjadi tim propinsi..
Pada awalnya, karena ego masing2, mereka ga bisa bermain secara tim..
Kemudian, salah satu dari mereka, sang kiper, berkata kalimat yang sampai sekarang aku ingat..
Kurang lebih seperti ini..
Lakukanlah yang terbaik sesuai dengan porsi kita masing2,, berikan tekel yang terbaik, berikan passing yang terbaik, berikan tendangan yang terbaik,, Jangan terlalu dipusingkan dengan apa yang orang lain lakukan atau tidak lakukan..
Jadi menurut aku, jangan setengah2, kalo kamu gila matematik, jadilah gila matematik yang terbaik..
Jangan pengen keliatan bagus di semua bidang padahal ga bisa, nanti jadinya setengah2…
Kasar2nya,, jadi pencontek pun jadilah pencontek yang terbaik.. hahahha just kidding…

Sehari-harinya, dimana saya merasa kurang nyaman, merasa adanya konflik interal ataupun eksternal, daftar ini yang saya intip dan menjadi pengingat sejauh mana saya bisa mennyelaraskan diri saya kembali. Dan salah satunya, adalah selalu bertanya, “Apa yang jiwa saya akan lakukan?”

Untuk kamu, apa yang kamu lakukan untuk bisa menjadi lebih otentik?

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *