10 Hal Bagaimana Ramadhan Mengingatkan Kita Tentang Hidup

No Comment
10 Hal Bagaimana Ramadhan Mengingatkan Kita Tentang Hidup

Setiap tahun kita kembali menikmati Ramadhan. Ada yang menunggu-nunggu bulan penuh berkah ini, ada juga yang menanggapinya biasa saja. Seperti sebuah rutinitas. Kewajiban. Bagian dari tanggung jawab. Terlepas dari bagaimana kita masing-masing menyikapi Ramadhan ini, kesempatan apa yang bisa kita ambil di bulan penuh berkah ini?

1. Tidak sekedar melakukan sesuatu, tetapi bagaimana memaknai sesuatu.

“Elo puasa ga?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena gue gak tau niat gue apa.”

Jujur. I love that.

Alasan loe puasa apa? Karena ini bulan Ramadhan? Karena ini salah satu tanggung jawab umat Islam? Karena kebiasaan? Karena ingin dapat pahala? Ingin menghapus dosa? Gak ada jawaban yang benar atau salah. Lebih, kamu tahukah alasannya?

Ini bisa mengingatkan kita kepada pekerjaan, kehidupan ataupun aktivitas lain. Apakah kita melakukan hal tersebut karena memang hanya sebatas kewajiban, keharusan, rutinitas… atau apa makna yang kita dapatkan dari melakukan hal tersebut.

Niat-nya apa? Apa yang memberikan ‘nyawa’ di aktivitas kita?

ramadhan is the best time to make or break a habit2. Value apa tentang diri kamu yang ingin kamu perkuat?

Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengubah kebiasaan, karena kita memiliki 30 hari dimana kita melatih kedisiplinan kita untuk tidak makan minum di jam-jam tertentu… Well, bukankah ini kesempatan yang tepat juga untuk memperkuat VALUE kita?

Bulan Ramadhan itu seperti bulan “training.” Pertanyaannya, apa yang kita ingin LATIH setiap hari selama 30 hari selain… menahan emosi, lapar dan haus?

3. Sudahkah kamu mengisi hati?

Eits. Apa itu?
Perut boleh kosong, tetapi apakah hatimu terus penuh?

Hidup banget ya. Sering kali kita ingat untuk mengisi perut, tetapi kita lupa untuk mengisi hati. Dan tahukah kamu hal-hal yang bisa kamu lakukan untuk mengisi hati? Dan ini gak cuma untuk bulan puasa dimana kita mengisi hati dengan solat, sedekah, membaca al-quran dan berdzikir. Dalam keseharian, apa hal-hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengisi hati?

4. Bagaimana kamu bisa mengekspresikan KAMU?

Contohnya… sejauh mana bisa kreatif dalam posting di socmed?

Well, karena gak afdol untuk posting makanan, akhirnya gue melihat socmed jadi sepi. Hihihi, ternyata 80% hal yang kita posting itu ada hubungannya dengan makanan dan makan-makan yaaa.

Nah, maybe, this is a good opportunity juga untuk mengekspresikan dirimu. Kalau hidup itu adalah kanvas dan kamu adalah ‘art’, apa yang bisa kamu ekspresikan?

5. Bukan memaksa sabar atau menahan emosi, tetapi sejauh mana kita bisa bersahabat dengan emosi.

“Sabar dong, ini kan bulan puasa.”
“Ingaaat, gak boleh marah lho, ini bulan puasa.”

Kok gue gak setuju ya dengan statement-statement itu. Sejak kapan sabar itu dipaksakan? Sejak kapan marah itu menjadi sesuatu yang jelek? Padahal marah itu emosi dasar seperti kesedihan, kebahagiaan, ketentraman.

Maybe, ini waktu yang tepat untuk bersahabat dengan emosi-emosi tersebut, yang positif dan negatif. Belajar untuk tidak menolak atau menahan emosi, tetapi menyalurkannya dengan kreatif dan sehat. Bukankah itu yang dimaksud dengan proses pendewasaan?

6. Sudahkah kamu berterima kasih terhadap hidup?

“‘Thank you’ is the best prayer that anyone could say. I say that one a lot. Thank you expresses extreme gratitude, humility, understanding.” – Alice Walker

Dulu, ketika gue berdoa, isinya kebanyakan meminta sesuatu. Dan akhirnya gue sadar, gue egois banget ya, minta-minta mulu. Kalau ada persahabatan antara gue dengan YME, dimana win-win-nya?

So, setelah itu, gue mengubah cara berdoa gue. Yaitu dengan banyak berterima kasih.

Dan kalau kita mulai berhitung setiap harinya, gue yakin banget ada sedikitnya 10 hal yang bisa kita syukuri setiap harinya. Hanya terkadang kita lupa berhitung. Mungkin ini sebabnya dulu kita diajarkan berhitung.

7. Memaksimalkan waktu vs. Menghabiskan waktu.

“Puasa itu membosankan ya,” kata seorang teman.

Yes, bisa. Karena semua hal-hal yang ‘biasa’ kita lakukan akhirnya tidak bisa kita lakukan. Dan lalu kita bingung bagaimana “menghabiskan” waktu.

Fascinating. Karena alasan kita selalu SIBUK kan? Sekarang karena tiba-tiba merasa bosan, apa artinya ini? Apakah ‘sibuk’ kita selama ini hanya semu belaka? Apakah ini sebenarnya kita tidak seproduktif yang kita pikirkan? Karena sekarang jadi tidak punya alasan untuk buang-buang waktu, bisakah kita menjadi lebih produktif?

“Biasanya gue kalau kerja itu banyak alasannya. Mau bikin teh manis dulu ah. Cari cemilan dulu ah. Istirahat dulu ah. Tapi sekarang gue ga punya asalan-alasan itu lagi. Dan ternyata gue jadi lebih produktif.”

8. Di bulan yang penuh berkah, sudahkah kita menjadi berkah untuk orang lain?

#jleb

Memang bulan puasa itu mengingatkan kita untuk bersedekah dan berbagi. That is so great! Lebih dari itu, bulan puasa itu mengingatkan kita untuk menyebarkan kebaikan. Spreading kindness.

Ketika berbuka puasa di restoran misalnya, pas sibuk-sibuknya melayani orang-orang yang berbuka puasa, coba deh berhenti sejenak, tanya ke si waiter, “Mas Wahyu puasa kah hari ini?” Ketika gue bertanya itu ke Mas Wahyu, yang namanya gue baca di bajunya, wajahnya langsung tersenyum lebar. “Alhamdulillah,” katanya. As simple as that. Terkadang kita lupa untuk memanusiakan manusia.

9. Quantity vs. Quality.

Salah satu yang menyenangkan dari bulan puasa ini adalah kesempatan untuk sahur maupun berbuka puasa bersama. Meluangkan waktu kepada orang-orang yang kita sayangi, yang terkadang sulit untuk mendapatkan waktunya sepanjang tahun.

Pertanyaanya, dari mana gue tahu bahwa sesuatu itu sudah dilakukan dengan kualitas yang baik? Dari mana gue tahu itu sudah merupakan quality time?

Jawabannya mungkin ada di No.3. Ketika yang kamu lakukan itu mengisi hati. Hatimu dan hati orang lain.

10. Bagaimana kamu telah menjadi orang yang lebih baik dari proses ini?

How would you reinvent yourself? Tough question.

Sering kita melakukan sesuatu karena sekedar melakukan sesuatu atau karena tanggung jawab atau terpaksa (i.e pekerjaan yang kita tidak sukai). And that’s okay. Yang selalu gue coba jaga adalah, bagaimana gue telah tumbuh dari proses ini. Karena seperti kata Benjamin Franklin, “If we are not growing, we are dying.”

 

My love to all of you.
May you have the most beautiful Ramadhan yet.

xo

About the author

Kami di theUnlearn.com berkomitmen untuk membawakan hal-hal yang inspiratif, joyful, bermanfaat agar kita bisa fully live our lives, be the person that we want to be.

Leave A Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *